TAFSIR AYAT 34 39

                                                                         


وَ إِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوْا لِآدَمَ فَسَجَدُوْا إِلاَّ إِبْلِيْسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَ كَانَ مِنَ الْكَافِرِيْنَ

(34) Dan (ingatlah) tatkala Kami berkata kepada Malaikat : Sujudlah kamu kepada Adam! Maka sujudlahmereka,kecuali iblis enggan dia dan me­nyombong, karena adalah d i a d a r i golongan makhluk yang kafir.

وَ قُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنتَ وَ زَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَ كُلاَ مِنْهَا رَغَداً حَيْثُ شِئْتُمَا وَلاَ تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الْظَّالِمِيْنَ

(35) Dan berkata Kami : Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istri engkau di taman ini, dan makanlah berdua daripadanya dengan senang sesuka-sukamu berdua, dan janganlah kamu mendekat ke pohon ini, karena (kalau mendekat) akan jadilah kamu berdua dari orang-orang yang aniaya.

فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيْهِ وَ قُلْنَا اهْبِطُوْا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَ لَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَ مَتَاعٌ إِلَى حِيْنٍ

(36) Maka digelincirkanlah kedua­nya oleh setan dari (larangan) itu , maka dikeluarkan nyalah keduanya dari keadaan yang sudah ada mereka padanya. Dan berkatalah Kami : Turunlah kamu ! Dalam ke­adaan yang setengah kamu terhadap yang setengah ber­musuh-musuhan dan untuk kamu di bumi; adalah tempat ketetapan dan bekal, sehingga sampai satu masa.

فَتَلَقَّى آدَمُ مِن رَّبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

(37 ) Setelah itu, menerimalah Adam dari Tuhannya beberapa kalimat, maka diampuniNya akan dia; sesungguhnya Dia adalah Pemberi ampun, lagi Maha Penyayang.

قُلْنَا اهْبِطُوْا مِنْهَا جَمِيْعاً فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِّنِّيْ هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَ

(38) Kami firmankan : Turunlah kamu sekalian dari (taman) ini, kemudian jika ada datang pada kamu satu petunjuk daripada­Ku, maka barangsiapa yang menuruti petunjukKu itu, tidak lah ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berdukacita.

وَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَ كَذَّبُوْا بِآيَاتِنَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ

(39) Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan kepada ayat ­ayat Kami, mereka itulah penghuni-penghuni neraka, yang mereka di dalamnya akan kekal.


وَ إِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوْا لِآدَمَ فَسَجَدُوْا إِلاَّ إِبْلِيْسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَ كَانَ مِنَ الْكَافِرِيْن
"Dan (ingatlah) tatkala Kami berkata kepada Malaikat : Sujudlah kamu kepada Adam! Maka sujudlah mereka, kecuali iblis, enggan dia dan menyombong, karena adalah dia dari golongan makhluk yang kafir. " (ayat 34).

Inilah kelanjutan dari pelaksanaan keputusan Allah mengangkat Khalifah di bumi itu. Adam telah dijadikan dan telah diajarkan kepadanya berbagai nama, dan banyak ilmu yang diberikan kepadanya, yang tidak diberikan kepada Malaikat. Kemudian diperintahkan Tuhanlah Malaikat-malaikat itu menyatakan hormat kepada Adam, dengan bersujud.

Sudah lama kita maklumi, sebagai tersebut di dalam beberapa Surat dalam al-Qur'an. Misalnya dalam Surat al Haj (Surat 22) ayat 18, atau an- Nahl (Surat 16) ayat 49, atau ar-Ra'ad (Surat 13) ayat 16, atau surat ar- Rahman (Surat 55) ayat 6, bahwa seluruh makhluk bersujud kepada Tuhan, sejak dari Malaikat, atau isi semua langit dan bum, bahkan kayu-kayuan, bahkan bintang di langitpun sujud kepada Tuhan.

Kita manusiapun sujud dan diperintahkan sujud kepada Tuhan. Bagi kita manusia yang dikatakan sujud itu ialah mencecahkan kening ke bumi, lengkap dengan anggota yang tujuh, yaitu kedua telapak tangan, kedua lutut dan kedua telapak kaki ditambah kepala.

Tetapi bagaimana sujudnya pohon-pohon ? Bagaimana sujudnya Malaikat ? Niscaya tidaklah sampai pengetahuan kita ke sana. Yang terang dengan sujud itu terkandunglah sikap hormat dan memuliakan.

Maka diperintahlah Malaikat memulia.kan Adam dan bersujud, yaitu sujud cara Malaikat, yang kita tidak tahu, dan tidak perlu dikarek­ korek lagi buat tahu. Malaikatpun melaksanakan perintah itu kecuali satu makhluk, yaitu iblis. Dia enggan menjalankan perintah Tuhan itu dan dia menyombong.

Mengapa dia enggan dan menyombong ? Di ujung ayat sudah ada penjelasannya, yaitu karena memang dia telah mempunyai dasar buat kufur. Dan dalam ayat-ayat yang lain sampai dia menyatakan sebab kesombongan itu, yaitu karena Tuhan menjadikannya dari api, sedangkan manusia Adam yang disuruh dia bersujud kepadanya itu dijadikan Tuhan dari tanah"

Dengan sikap iblis yang menyombong sendiri itu, mulailah kita mendapat pelajaran bahwasanya Allah mentakdirkan di dalam iradatNya bahwasanya tanda kekayaan Tuhan itu bukanlah jika Dia menjadikan roh yang baik saja.

Disamping yang baikpun dijadikanNya yang buruk. Di samping yang patuh dijadikanNya pula yang durhaka. Ini sudah ada sejak dari permulaan. Sehingga bagi Nabi kita Muhammad s.a.w sendiri yang tengah berjuang menyampaikan seruan Allah seketika ayat ini diturunkan, menjadi pengertian lebih mendalamlah bahwa keingkaran dan kekufuran penentang-penentang beliau, baik waktu di Mekkah atau waktu di Madinah, sudahlah suatu kenyataan yang tidak dapat dielakkan. Kalau dasar telah ada kufur, Tuhan Allahpun mereka tentang sebagai yang dilakukan oleh iblis itu.

وَ قُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنتَ وَ زَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَ كُلاَ مِنْهَا رَغَداً حَيْثُ شِئْتُمَا وَلاَ تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الْظَّالِمِيْنَ
"Dan berkata Kami : Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istri engkau ditaman ini, dan makanlah berdua daripadanya dengan senang sesuka­ sukamu berdua; dan janganlah kamu berdua mendekat pohon ini, karena (kalau mendekat) akan jadilah kamu berdua dari orang-orang yang aniaya (ayat 35).

Setelah lepas dari ujian tentang nama-nama ilmu yang diajarkan Allah, dan lulus dari ujian ini melebihi Malaikat, setelah lepas dari ujian kepada Malaikat yang diperintahkan sujud, dan sujud semua kecuali Iblis, barulah Adam disuruh berdiam di dalam taman itu bersama istrinya.

Nyatalah sekarang dalam ayat ini bahwa sementara itu istri beliau telah dijadikan Allah. Ialah yang telah diketahui namanya oleh pemeluk ketiga agama: Islam, Yahudi dan Nasrani, yang bernama Hawa, dan dalam ejaan orang Eropa disebut Eva.

Tidaklah dijelaskan dalam ayat ini asal kejadian itu dan tidak pula diterangkan pada ayat yang lain. Orang Yahudi dan Nasrani, berdasar kepada Kitab Perjanjian Lama (kejadian, pasal 2 ayat 20 sampai 24) mempunyai kepercayaan bahwa Hawa itu dijadikan Tuhan daripada tulang rusuk Nabi Adam; dicabut tulang rusuknya sedang dia tidur, lalu diciptakan menjadi perempuan dijadikan istrinya.

Di dalam Islam kepercayaan yang umum tentang Hawa terjadi dari tulang rusuk Nabi Adam itu, bukanlah karena percaya kepada kitab kejadian pasal 2 tersebut, karena Nabi s.a.w telah memberi ingat bahwa Kitab-kitab Taurat yang sekarang ini tidaklah asli lagi, sudah banyak catatan manusia dan manusianya itu tidak terang siapa orangnya.

Bahkan naskah aslinya sampai sekarang tidak ada. Hal ini diakui sendiri oleh orang Yahudi dan Nasrani. Tetapi Nabi s.a.w sendiri pernah bersabda, ketika beliau memberi ingat kepada orang laki-laki tentang perangai dan tabiat perempuan supaya pandai-pandai membimbingnya. Maka tersebutlah dalam sebuah Hadits yang dirawikan oleh Imam Bukhari dan Muslim daripada Abu Hurairah, demikian sabda beliau :

"Peliharalah perempuan perempuan itu sebaik-baikraya, karena sesungguhnya perempuan dijadikan dari tulang rusuk, Dan sesungguhnya yang paling bengkok pada tulang rusuk itu, ialah yang sebelah atasnya. Maka jika engkau coba meluruskannya niscaya engkau patahkan dia. Dan jika engkau tinggalkan saja dia akan tetap bengkok. Sebab itu peliharalah perempuan­ perempuan baik-baik. "

Hadits ini Muttafaq `alaihi, artinya sesuai riwayat Bukhari dengan riwayat Muslim.
Apabila kita perhatikan bunyi Hadits ini dengan seksama, tidaklah dia dapat dijadikan alasan untuk mengatakan bahwa perempuan, atau terutam Siti Hawa, terjadi daripada tulang rusuk Nabi Adam.

Tidak ada tersebut sama sekali dalam Hadits ini dari hal tulang rusuk Nabi Adam. Yang terang maksud hadits ini ialah membuat perumpamaan dari hal bengkok atau bengkoknya jiwa orang perempuan, sehingga payah membentuknya, sama keadaanya dengan tulang rusuk, tulang rusuk tidaklah dapat diluruskan dengan paksa. Kalau dipaksa-paksa meluruskannya, diapun patah. Kalau dibiarkan saja, tidak dihadapi dengan sabar, bengkoknya itu akan terus.
Apatah lagi Hadits ini dituruti oleh Hadits lain di dalam Shahih Bukhari dan Muslim juga, demikian bunyinya.

Bukhari dan Muslim.


"Perempuan itu adalah seperti tulang rusuk; jika engkau coba meluruskannya diapun patuh. Dan jika engkau bersuka sukaan dengan dia, maka bersuka-suka juga engkau, namun dia tetap bengkok. "

Dan pada satu riwayat lagi dengan Muslim:
 

"Sesungguhnya perempuan itu dijadikan dari tulang rusuk. Dia tidak akan dapat lurus untuk engkau atas suatu jalan. Jika engkau mengambil kesenangan dengan dia, namun dia tetap bengkok. Dan jika engkau coba meluruskannya, niscaya engkau mematahkannya. Patahnya itu talaknya. "

Ada lagi Hadits lain dengan makna yang serupa, diriwayatkan oleh ahli hadits yang lain pula.
Pada Hadits pertama sudah nyata tidak ada tersebut bahwa Hawa terjadi dari tulang rusuk Adam. Pada Hadits yang kedua sudah jelas lagi bahwa itu hanya perumpamaan. Hadits yang ketiga menjadi lebih jelas karena telah ada Hadits yang kedua, bahwa itu adalah perumpamaan. Hadits yang ketiga menambah jelas lagi, bahwa kalau laki-laki tidak hati-hati membimbing istrinya kalau terus bersikap keras saja, talaklah yang terjadi dan patah aranglah rumah tangga.

Maka teranglah sekarang bahwa yang dimaksud disini ialah jiwa atau bawaan segala perempuan dalam dunia ini. Pertimbangannya tidak lurus, kata orang sekarang, tidak objektif. Perempuan di dalam mempertimbangkan sesuatu lebih banyak memperturutkan hawanya, yang cara sekarang kita namai sentimen.

Hadits-hadits ini telah memberi petunjuk bagi seorang laki-laki terutama bagi seorang suami, bagaimana caranya menggauli istrinya dan mendidik anak-anaknya yang perempuan. Supaya terjadi rumah tangga yang bahagia, hendaklah seorang laki-laki mengenal kelemahan jiwa perempuan ini, yaitu laksana tulang rusuk yang bengkok.

Seorang suami yang berpengalaman, dapat mengerti dan memahami apa maksud Hadits-hadits ini. Kelemahan perempuan yang seperti ini, pada hakikatnya, kalau laki-laki pandai membawakannya, inilah yang menjadi salah satu dasar penguatan satu rumah tangga.

Jiwa perempuan itu akan nampak bengkoknya di dalam mempertimbangkan sesuatu keuntungan dan muslihat yang umum, jika bertentangan dengan muslihat rumah tangga. Seorang suami yang sedang kesusahan belanja, tidaklah boleh meminta dengan kekerasan supaya istrinya meminjami perhiasan gelang dan subang emasnya untuk digadaikan sementara untuk dijadikan modal, meskipun menurut akal yang waras, sudahlah patut dia menyerahkan pada waktu itu, sebab barang itupun digunakan untuk pertahanan di waktu sangat susah.

Kalau diminta dengan keras, dia akan bertahan. Kalau sama­ sama keras cerailah yang akan timbul. Tapi kalau laki-laki mengenal rahasia jiwa perempuan yag bengkok itu, dia mesti menjauhi jalan kekerasan.

Setengah dari sifat bengkoknya jiwa perempuan, ialah jelas hiba kepada orang yang sedang susah. Kalau kelihatan nyata oleh istrinya bahwa dia susah, dan kalau ditanyai oleh istri, tidak lekas­ lekas menyatakan kesusahan itu, dia akan gelisah melihat kesusahan suaminya.

Dia tidak akan enak makan dan tidak akan terpicing matanya tidur karena melihat kesusahan yang menimpa suaminya, yang sangat dicintainya itu. Kalau si suami pandai, dia sendiri yang akan menanggalkan gelang atau subangnya itu, untuk dikurbankannya bagi kepentingan suaminya. Inilah satu contohi .

Contoh yang lain ialah keinginannya akan perhiasan. Kalau si laki-laki tidak pandai membimbing , berapa saja belanja tidaklah akan cukup untuk memenuhi keinginannya akan perhiasan. Kalau si suami keras, bakhil, cerailah yang akan timbul.

Tetapi kalau si suami memperturutkan saja keinginan-keinginan istrinya itu, akan sangsailah (sengsaralah) mereka dalam rumah tangga, sehingga berapapun persediaan belanja tidaklah akan sedang menyedang.

Kalau laki-laki tidak mengenal bengkoknya jiwa istri ini, lalu bersikap keras, akan terjadilah perceraian. Atau kalau diperturutkan saja, akhirnya karena tidak terpikul, cerai juga yang akan timbul. Sebab itu hadits ini memberikan tuntunan yang sangat mendalam, agar laki-laki jangan lekas-lekas menjatuhkan talak.

Kalau tidak puas dengan perangai istrinya Orang Minangkabau mempunyai pepatah: "Tidak ada lesung yang tidak berdetak", artinya tidak ada perempuan seorangpun yang sunyi dari pada kelemahan jiwa yang demikian. Tetapi laki-laki yang memegang ketiga-tiga Hadits ini akan sanggup hidup rukun dengan istrinya, dalam irama rumah tangga, yang kadang-kadang gembira dan kadang-kadang muram.

Kembali kepada hadits-hadits tadi, memang ada sebuah riwayat pula yang dikeluarkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, al Baihaqi dan Tbnu `Asakir, yaitu perkataan dari Ibnu Abbas , Ibnu Mas'ud dan beberapa orang dari kalangan sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w. Mereka berkata:

"Tatkala Adam telah berdiam di dalam surga itu, berjalanlah dia seorang diri dalam kesepian, tidak ada pasangan (istri) yang akan menenteramkannya. maka tidurlah dia, lalu dia bangun. Tiba-tiba disisi kepalanya seorang perempuan sedang duduk, yang telah dijadikan Allah daripada tulang rusuknya. "

Riwayat ini sudah terang bukanlah dari Sabda Rasulullah s.a.w melainkan perkataan Abdullah bin Abbas dan Abdullah bin Masud. Oleh karena riwayat ini adalah perkataan Sahabi, bukan sabda Rasul, niscaya nilainya untuk dipegang sebagai suatu akidah tidak sama lagi dengan Hadits yang shahih dari Nabi, apatah lagi dengan al-Qur°an.

Mungkin sekali, bahkan besar sekali kemungkinan itu, bahwa pernyataan kedua sahabat itu terpengaruh oleh berita-berita orang Yahudi yang ada di Madinah ketika itu, yang berpegang kepada isi kitab "Kejadian",pasal 2, ayat 21:

"Maka didatangkan Tuhan Allah kepada Adam itu tidur yang lelap, lalu tertidurlah Ia. Maka diambil Allah tulang ditutupkannya pula dengan daging. Maka daripada tulang yang telah dikeluarkannya dari dalam Adam itu, diperbuat Tuhan seorang perempuan, lalu dibawanya akan dia kepada Adam."

Sebagaimana telah kita beri penerangan di mukaddimah tafsir ini. Rasulullah s.a.w telah memberikan pedoman kepada sahabat­ sahabat beliau dalam hal menilai.laerita-berita yang disampaikan oleh Ahlul-Kitab.
 

"Dan telah mengeluarkan Bukhari daripada Hadits Abu Hurairah. Kata Abu Hurairah itu : Adalah ahlul-kitab itu membaca Taurat dengan bahasa Ibrani dan mereka tafsfrkan dia ke dalam bahasa Arab untuk orang-orang Islam. Maka berkatalah Rasulullah s.a.w.: Janganlah kamu langsung membenarkan ahlul kitab itu dan jangan pula langsung kamu dustakan, tetapi katakanlah: Kami beriman kepada Allah. "

Berdasar kepada hadits ini jadi besarlah kemungkinan bahwa riwayat Siti hawa terjadi dari tulang rusuk Adam yang diberikan oleh Ibnu Abbas dan Ibnu Mas'ud ini didengar mereka dari Taurat yang dibacakan oleh ahlul kitab itu, lalu mereka terima saja bagaimana adanya sebagai satu fakta yang mereka terima, yang boleh diolah dan diselidiki pula oleh orang lain.

Lantaran itu pula maka tidaklah salah pada pendapat penafsir yang dha'if ini kalau ada orang yang tidak memegang teguh i'tikad bahwasanya Hawa terjadi daripada tulang rusuk Nabi Adam, sebab tidak ada firman Tuhan menyebutkan di dalam al-Qur'an, dan tidak pula ada sabda Nabi yang tepat menerangkan itu. Yang ada hanya berita atau penafsiran dari Abdullah bin Abbas dan Abdullah bin Mas'ud dan beberapa sahabat yang lain yang besar kemungkinan bahwa cerita ini mereka dengar dari orang Yahudi yang membaca kitab "Kejadian"salah satu dari kitab catatan Yahudi yang mereka sebut Taurat itu.

Dan Hadits-hadits Bukhari dan Muslim yang tiga buah di atas tadi, kita terima dan kita amalkan dengan segala kerendahan hati,untuk pedoman hidup menghadapi kaum perempuan , sebagai teman hidup laki-laki dalam dunia ini. Apatah lagi setelah datang Hadits lain yang menguatkan nasehat bagi kaum laki-laki di dalam bergaul baik-baik dengan perempuan, yang dirawikan oleh Imam Bukhari dan Muslim juga :

"Peliharalah perempuan perempuan itu sebaik-baiknya, karena kamu telah mengambilnya dengan amanat dari Allah, dan kamu halalkan kehormatan mereka dengan kalimat-kalimat Allah. "

Syaikh Muhammad Abduh di dalam pelajaran tafsirnya, yang dicatat oleh muridnya Sayid Muhammad Rasyid Ridha di dalam tafsirnya al-Manar menyatakan pula pendapat bahwa Hadits mengatakan perempuan terjadi dari tulang rusuk itu bukanlah benar-benar tulang rusuk, melainkan suatu kias perumpamaan belaka, sebagai ada juga contoh demikian di dalam Surat 21, Surat al-Anbiya ayat 37 :

خُلِقَ الْإِنْسانُ مِنْ عَجَلٍ
"Telah diijadikan manusia itu dari sifat terburu buru. "

Dalam segala urusan dia mau lekas saja. Padahal kesanggupannnya terbatas. Mungkin tidak juga ada salahnya kalau kita berpaham tentang arti Hadits yang mengatakan bahwa kaum perempuan terjadi dari tulang rusuk itu, selain dari satu perumpamaan tentang keadaan jiwanya ialah pula satu perlambang tentang kehidupan manusia di atas dunia ini .

Seorang laki-laki yang telah patut kawin, adalah seumpama orang yang masih belum ada tulang rusuknya, sebab istri itupun disebut dalam kata lain dengan teman hidup. Seorang duda adalah seorang yang goyah jiwanya, karena tidak ada sandaran.

Demikian juga seorang perempuan, kalau belum juga dia bersuami padahal sudah patut bersuami, samalah keadaannya dengan sebuah tulang rusuk yang terlepas dari perlindungan. Bila dia telah bersuami, dia telah diletakkan ke tempatnya semula, dan dia telah terlindung oleh kulit pembungkus rusuk itu, yaitu perlindungan suaminya.

Sebab, benar atau tidaknya riwayat Siti Hawa terjadi daripada tulang rusuk nabi Adam itu, namun sekalian istri tidaklah terjadi dari tulang rusuk suaminya !

Sekarang kita kembali kepada 'Tafsir.

Maka disuruhlah Adam dan istrinya duduk di dalam taman indah berseri itu. Mereka keduanya diberi kebebasan, makan dan minum, memetik buah-buahan yang lezat ranum., yang hanya tinggal memetik. Artinya bebas merdeka.

Tetapi di dalam ayat ini kita bertemu lagi satu pelajaran tentang filsafat merdeka. Kemerdekaan ialah kebebasan membatasi diri ! Semua bebas dimakan, kecuali buah daripada pohon yang terlarang: "Jangan kamu berdua mendekat kepada pohon ini". Sama juga dengan beberapa larangan dalam al-Qur'an:"Jangan kamu mendekati zina!"Karena kalau sudah mendekat ke sana, niscaya termakan juga kelaknya buah itu. Kalau dia kamu makan, niscaya kamu merugi.

Orang yang tidak sanggup memelihara kemerdekaannya, niscaya akan kehilangan kemerdekaan itu. Dan jika kemerdekaan telah hilang, kerugianlah yang akan berjumpa.
Penafsir tidak hendak menyalinkan buah pohon apakah yang dilarang mereka memakan itu?

Ada orang yang mengatakan buah khuldi, atau buah kekal. Penafsiran ini niscaya salah. Sebab yang menamainya syajaratul-khuldi, pohon kekal siapa yang memakannya tidak mati-mati, bukanlah Tuhan, tetaapi setan sendiri seketika merayu Adam (lihat Surat 20, Thaha ayat 120).

Padahal kita bertemu sabda Tuhan yang lain untuk mendekatkan kita memahamkan syajarah atau pohon apakah yang dilarang Adam dan Hawa memakannya itu. Di dalam Surat Ibrahim (surat 14, ayat 24 sampai 26), Tuhan mengambil perumpamaan tentang dua pohon; pohon yang baik dan yang buruk. Pohon yang baik ialah kalimat yang baik. Kalimat yang baik ialah "La Ilaha Illallah." Dan pohon yang jahat ialah perumpamaan dari kalimat yang buruk. Kalimat yang buruk adalah segala macam kedurhakaan kepada Allah. Dan yang paling buruk ialah "syirik", mempersekutukan Tuhan dengan yang lain.

Maka pelanggaran kepada larangan saja, sudahlah namanya mulai memakan buah pohon yang buruk. Adam dan Hawa dilarang mendekati pohon yang terlarang itu.

فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيْهِ
"Maka digelincirkanlah keduanya oleh setan dari (larangan) itu, dan dtkeluarkanlah keduanya dari keadaan yang sudah ada mereka padanya. " (pangkal ayat 36).

Artinya masuklah setan ke tempat mereka, lalu merayu dan memperdayakan mereka, supaya mereka makan juga buah pohon yang terlarang itu, sampai setan mengatakan bahwa itulah pohon kekal, siapa yang memakan tidak akan mati-mati.

Sampai karena pandainya setan merayu keduanya tergelincir, termakan juga akhirnya buah pohon terlarang itu. Demi mereka makan, keadaan mereka menjadi berubah, ternyata terbukalah aurat mereka. (al-A'raf, Surat 27, ayat 22), bertukarlah keadaan, insaflah mereka bahwa mereka telah bertelanjang, alangkah malunya.

Maka tahulah Tuhan bahwa laranganNya telah dilanggar:

وَ قُلْنَا اهْبِطُوْا
"Dan berkatalah Kami : Turunlah semua ! "

Adalah tiga pribadi yang dimaksud oleh ayat itu, yaitu Adam dan Hawa dan setan yang menggelincirkan keduanya itu. Semua disuruh turun dari tempat yang mulia itu, tidak boleh tinggal di sana lagi; yang berdua karena melanggar larangan, yang satu lagi karena menjadi si langkanas* memperdayakan orang.

بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ
"Yang setengah kamu dengan yang setengah jadi bermusuh! "

Karena dasar permusuhan sudah nampak sejak semula si Tblis atau setan tidak mau sujud karena sombong merasa diri lebih, tetapi menanam dendam dalambatin untuk mencelakakan manusia. Rupanya sudah ditakdirkan Allahlah bahwa permusuhan ini akan terus menerus dibawa kemuka bumi.

وَ لَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَ مَتَاعٌ إِلَى حِيْنٍ
"Dan untuk kamu di bumi adalah tempat berdiam, dan perbekalan, sampai satu waktu. " (ujung ayat 36).

Disuruhnya mereka, semuanya, ketiganya, meninggalkan tempat itu, pindah ke bumi. Di sanalah ditentukan tempat kediaman mereka; tetapi hanya buat sementara, tidak akan kekal disana. Di bumi itulah mereka menyediakan bekal yang akan mereka bawa kembali menghadap Tuhan apabila waktu yang tertentu bagi hidup itu sudah habis.

Niscaya menyesallah Adam atas kesalahan yang telah diperbuamya, telah dilanggarnya larangan, karena tidak tahan dia oleh rayuan setan iblis. Lalu memohon ampunlah dia kepada Allah:

فَتَلَقَّى آدَمُ مِن رَّبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
"Maka menerimalah Adam daripada Tuhannya beberapa kalimat, maka diampunilah akan dia : sesungguhnya Dia adalah Pemberi ampun, lagi Maha Penyayang. " (ayat 37).

Menyesallah Adam akan nasibnya. Dia yang bertanggung jawab, sehingga istrinyapun telah turut tergelincir karena rayuan setan itu. Dia memohonkan kepada Tuhan agar mereka diampuni, diberi maaf, diberi taubat atas kesalahan itu. Kesalahan yang timbul karena belum ada pengalaman atau karena kurang awas atas perdayaan musuh yang selalu mengintai kelemahan dan kelalaian. Tetapi Adampun tidak tahu dengan cara apa menyusun kata yang berkenan kepada Tuhan. Yang pantas buat diucapkannya agar permohonannya diterima.
Maka tersebutlah di dalam Hadits Qudsi:

"RahmatKu, kasih-sayangKu, mengalahkan murkaKu. "

Tuhan ajarkanlah kepada Adam betapa cara memohonkan ampun itu, itulah beberapa kalimat yang disebutkan dalam ayat ini. Dalam Surat al-A'raf ( Surat 7, ayat 23), bertemulah kalimat yang diajarkan Tuhan itu:

رَبَّنا ظَلَمْنا أَنْفُسَنا وَ إِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنا وَ تَرْحَمْنا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخاسِرينَ
"Ya Tuhan kami !Kami telah menganiaya diri kami, maka jika tidaklah Engkau beri ampun kami, dan Engkau beri rahmat kami, sesungguhnya jadilah kami orang-orang yang rugi. "

HambaNya Adam dan Hawa merasa menyesal, tetapi tidak tahu dengan susun kata apa untuk menyampaikan permohonan ampun, lalu diajarkanNya. Dan merninta ampun dan diampuniNya. Adakah lagi satu kasih yang melebihi ini ? Sungguh, Dia sedia selalu mernberi ampun, Dia kasih selalu dan sayang selalu.

Setelah Adam dan istrinya diberi ampun, barulah mereka disuruh berangkat:

قُلْنَا اهْبِطُوْا مِنْهَا جَمِيْعاً
"Kami firmankan: Turunlah kamu sekalian dari taman ini, " (pangkal ayat 38).

Berangkatlah dan tinggalkanlah tempat ini. Pergilah ke bumi yang telah Aku sediakan buat kamu itu. Setelah kamu sampai di sana kelak, tidaklah akan Aku biarkan saja kamu, melainkan akan Aku kirimkan kepada kamu petunjukKu kelak.

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِّنِّيْ هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَ
"Maka barangsiapa yang menurut petunjukKu, tidaklah akan ada ketakutan atas mereka dan tidaklah rnereka akan berduka-cita. " (ujung ayat 38).

Sungguh terharu kita membaca ayat ini, apatah lagi kalau dalam asli bahasa al-Qur'an.

Benar Adam telah salah melanggar larangan, tetapi karena rayuan, bujuk dan cumbu iblis. Dan dia menyesal, lalu memohonkan ampun. Oleh Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang telah diberi ampun. Maksud pertama dari Adam bukanlah berbuat salah, dasar isi jiwa manusia adalah baik,bukan jahat.

Dia disuruh pindah ke bumi, karena akan diberi tugas yaitu apapun kesenangan di tempat itu, di taman atau di surga, namun tidak layak lagi baginya. Dan disuruh pindah ke bumi, karena akan diberi tugas, yaitu menurunkan umat manusia. Mengumpulkan bekal di bumi, yang akan dibawa kembali menghadap Allah.

Memang dia telah berdosa, tetapi dosanya telah diampuni. Sekarang dia harus berani menempuh hidup di bumi itu. Jangan kesana dengan hati iba dan duka-cita. Hidup di bumi berketurunan beranak cucu. Tuhan berjanji akan selalu mengiriminya tuntunan, petunjuk dan bimbingan. Lantaran itu, betapapun hebat permusuhannya dengan setan iblis, dengan adanya tuntunan Tuhan itu, asal dipegangnya teguh, dipegang teguh pula oleh anak-cucu di belakang hari, mereka akan selamat dari rayuan setan iblis. Mereka tidak akan di serang oleh rasa takut dan tidak pula akan ditimpa penyakit duka-cita.

Apabila saudara-saudara kaum Muslimin telah merenungkan ayat-ayat ini dapatlah saudara-saudara melihat perbedaan dan persimpangan jalan di antara kepercayaan kita kaum muslimin dengan pemeluk agama Nasrani. Keduanya sama mengaku bahwa Adam telah berdosa melanggar larangan.

Tetapi kita kaum muslimin percaya bahwa dosa itu telah diampuni. Dia tidak usah takut dan duka- cita lagi. Adam bukanlah diusir dari surga, tetapi diberi tugas menegakkan kebenaran dalam bumi dan diberi tuntunan. Orang Nasrani mengatakan bahwa dosa Adam itu telah menjadi dosa waris turun­ temurun kepada segala anak-cucunya, dan naiknya Isa al-Masih ke atas kayu saliblah yang menebus dosa warisan Adam itu. Kita mengakui bahwa kejadian dari manusia, gabungan akal dan nafsu, pertentangan cita-cita mulia dengan kehendak-kehendak kebinatangan berperang dalam diri kita.

Kalau kita berbuat dosa, bukanlah itu karena dosa yang kita warisi dari Adam, dan kita sendiri, bisa rneminta ampun dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan, niscaya akan diampuni, karena Tuhan itu Pengasih dan Penyayang.

Tidak masuk dalam akal murni kita bahwa Allah menurunkan dosa warisan Adam kepada anak­cucunya dan mengutus Isa al-Masih ke dunia untuk naik ke atas kayu palang, buat mati di sana bagi menebus dosa waris manusia tadi.

Padahal dikatakan pula bahwa Isa Almasih itu adalah Allah sendiri menjelma ke dalam tubuh Gadis Suci Maryam, kemudian menjelma menjadi putra. Inilah yang dijadikan dasar kepercayaan, yaitu Allah Ta'ala sendiri menjelma menjadi anakNya, yaitu Kristus.

Islam mengajarkan bahwa dosa bukanlah timbul karena warisan, melainkan karena gejala-gejala pertentangan yang ada dalam batin manusia itu sendiri. Adam sendiri terlanjur memakan buah yang terlarang, karena pertentangan hebat yang ada dalam jiwa, sehingga ciri mulia kalah oleh hawa-nafsu keinginan.

Tetapi, sebagai terdapat pada tiap-tiap manusia kemudiannya, bila telah lepas dari berbuat dosa itu, sesalpun timbul. Adam memohon ampun kepada Tuhan dengan sunguh-sungguh lalu dia diampuni. Lalu dian)urkan tiap-tiap manusia mengikuti imannya kepada Allah dengan. amal shalih. Sehingga kalahlah timbangan yang jahat oleh timbangan yang baik. Dengan tidak perlu membuat gelisah jiwa sendiri, dengan merasa berdosa terus menerus, karena dosa itu diwarisi.

Alamat kasih Tuhan akan hambaNya, bukanlah dengan cara dia sendiri menjelrna ke dalam tubuh perawan suci, lalu lahir ke dunia menjadi anak. Melainkan T'uhan dari masa ke masa mengutus Rasul rasulNya, yaitu di antara manusia-manusia sendiri yang Dia pilih, untuk menyampaikan wahyunya kepada seluruh manusia. Barangsiapa yang menurut tuntunan wahyu itu selamatlah dia dalam perjalanan hidupnya, dan barang siapa yang tidak memperdulikannya, celakalah dia. Di antara Rasul yang diutus itu, termasuklah Isa al­Masih sendiri.

Ada juga perbincangan di antara IJlama-ulama Tafsir tentang jannah tempat kediaman Adam dan Hawa itu. Sebagaimana dimaklumi, arti yang asal dari jannah ialah taman atau kebun, yang disana terdapat kembang-kembang, bunga-bunga, air mengalir dan penuh keindahan. Dan diberi arti dalam bahasa kita Indonesia, dengan suarga atau syurga. Yang menjadi perbincangan, apakah ini sudah jannah yang selalu dijanjikan akan menjadi tempat istirahatnya orang­orang yang beriman dan beramal shalih di hari akhirat ? Apakah ini sudah Darul Qarar (negeri tempat menetap) dan Darul Jaza' (negeri tempat menerima balas jasa). Ataukah Jannah yang dimaksud disini baru menurut artinya yang asli saja, yaitu suatu taman yang indah di dalam dunia ini ?

Kata setengah ahli tafsir, memang ini sudah surga yang dijanjikan itu terletak di luar dunia ini, di suatu tempat yang tinggi. Oleh sebab itu setelah Adam, Hawa dan Iblis disuruh keluar dari dalamnya, disebut Ihbithu, yang berarti turunlah ! Atau ke bawahlah !

Tetapi setengah penafsir lagi mengatakan bahwa tempat itu bukanlah surga yang dijanjikan di akhirat esok. Salah seorang yang berpendapat demikian ialah Abu Manshur al-Maturidi, pelopor ilmu kalam yang terkenal. Beliau berkata di dalam Tafsirnya at- Ta'wilaat :

"Kami mempunyai kepercayaan bahwasanya jannah yang dimaksud di sini ialah suatu taman di antara berbagai taman yang ada di dunia ini, yang di sana Adam dan Istrinya mengecap nikmat Ilahi. Tetapi tidaklah ada perlunya atas kita menyelidiki dan mencari kejelasan di mana letaknya taman itu. Inilah Mazhab Salaf. Dan tidakluh ada dalil yang kuat, bagi orang-orang yang menentukan di mana tempatnya itu, baik dari Ahlus Sunnah atau dari yang lain-lain."

Inipun dapat kita pahamkan, sebagaimana dikemukakan oleh setengah ahli tafsir. Kata mereka bagi menguatkan bahwa itu belum surga yang dijanjikan di hari depan ialah karena di surga yang disebutkan ini masih ada lagi makanan yang dilarang memakannya, sebagaimana dapat kita lihat pada ayat-ayat yang menyatakan sifat­sifat dan keadaan surga; malahan khamar yang istimewa dari pabrik surgapun boleh diminum di sana.

Yang kedua, kalau itu sudah surga yang dijanjikan, tidaklah mungkin roh jahat sebagai iblis itu dapat masuk ke dalamnya.

Maka mengkaji di mana letak jannah itu, jannah duniakah atau jannah yang telah dijanjikan, demikian halnya. Menunjukkan betapa bebasnya Ulama-ulama dahulu berpikir. Dan kita tidak mendapat alasan kuat pula buat mengatakan bahwa yang satu lebih kuat dari yang lain.

Kemudian itu tersebut pula dalam riwayat yang dibawakan oleh Ibmi Jarir dalam tafsirnya, dan dibawakan pula oleh Ibmi Abi Hatim yang katanya diterima dari sahabat Rasulullah s.a.w, Abdullah bin Mas'ud dan beberapa sahabat yang lain, bahwa iblis hendak masuk ke dalam surga itu, tetapi di pintu dihambat oleh Khazanahnya.

Yaitu Malaikat pengawal surga, akhirnya dia tak dapat masuk, lalu dirayunya seekor ular, dimintanya menumpang dalam mulut ular itu. Disebut pula di situ bahwa ular pada masa itu masih berkaki empat. Ular itu tidak keberatan, maka masuklah iblis ke dalam mulutnya dan menyelundup masuk ke dalam surga, tidak diketahui oleh Malaikat pengawal tadi, sehingga dia leluasa dapat bertemu dengan Nabi Adam.

Dengan bercakap melalui mulut ular, sehingga oleh Nabi Adam dikira bahwa ular itulah yang berbicara, mulailah iblis melakukan rayu dan cumbunya, agar Adam dan Hawa memakan buah yang terlarang itu. Tetapi Adam tidak mau percaya, lalu Iblis keluar dari persembunyiannya, lalu merayu dengan berterus-terang sampai Hawa tertipu, dan kemudian Adam menurut.

Riwayat semacam ini bolehlah kita masukkan juga ke dalam Israiliyat, kisah Taurat yang didengar oleh Abdullah bin Mas'ud dan beberapa sahabat lain dari orang Yahudi, dikutipnya dari dalam Taurat, sebagaimana diingatkan oleh Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhari yang telah kita salinkan di atas tadi, yang tidak boleh lekas ditelan, dibenarkan semuanya dan tidak boleh didustakan semuanya.

Yang penting ialah bahwa di dalam al-Qur'an sendiri tidak ada cerita iblis numpang dalam mulut ular itu, yang bagaimana kita membacanya mestilah meninggalkan kesan bahwa Malaikat Khazanah surga telah dapat ditipu oleh Iblis, sehingga derajat Malaikat sudah sama saja dengan manusia biasa, dapat dikicuh.

Mempercayai cerita semacam ini agaknya sama saja dengan mempercayai bahwa kalau ada perempuan dalam bunting (hamil), hendaklah dipakukan ladam kuda di muka pintu rumah, supaya hantu-hantu jahat jangan berani masuk , sebab ada ladam itu.

Menurut satu riwayat dari Ibnu Abi Hatim, yang katanya diterimanya dari Abdullah bin Umar, bahwa Adam turun ke dunia di Bukit Shafa dan Hawa turun di Bukit Marwah. Dan riwayat lain dari Ibnu Abi Hatim juga, katanya diterimanya dari Ibnu Umar juga, Adam turun di bumi di antara negeri Mekkah dengan Thaif

Ada pula riwayat Tbnu Asakir yang katanya diceritakan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi Adam turun di Hindustan dan Hawa turun di Jeddah.

Kata orang itulah sebabnya maka Jiddah bernama Jeddah (Jiddah), karena arti Jiddah ialah nenek-perempuan.

Dan ada pula satu riwayat yang mengatakan bahwa tempat turunnya Nabi Adam bukan di Mekkah, bukan di Hindustan, tetapi di Pulau Serendib.

Di mana Pulau Serendib ?
Syaikh Yusuf Tajul Khalwati dalam surat-suratnya yang di­kirimkan dari Sailan (Ceylon) kepada murid-muridnya di Makasar dan Banten pada akhir abad ketujuhbelas, sebelum beliau dipindahkan ke Afrika Selatan, selalu menyebutkan bahwa beliau bersyukur karena di pulau pengasingan ini, pulau Serendib, tempat turunnya nenek kita Nabi Adam, dan beliau masih dapat beribadat kepada Tuhan. Maka Syaikh Yusuf dengan demikian memegang pendapat yang umum pada waktu itu bahwa Pulau Serendib ialah Pulau Ceylon (sekarang Sri Langka).

Tetapi dalam penyelidikan ahli-ahli terakhir menunjukkan bukti­ bukti pula bahwa Pulau Serendib bukanlah Ceylon, melainkan Pulau Sumatera. Sebab nama Serendib adalah bahasa Sansekerta yang ditulis dengan huruf Arab. Aslinya ialah pulau Swarna Dwipa, yaitu nama Sumatera di jaman dahulu, sebagai juga Jawa Dwipa nama dari Pulau Jawa.

Kita salinkan segala riwayat ini, sudahlah nyata bahwa kita tidak berpegang kepada salah satu daripadanya. Sedangkan yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Umar, lagi dua macam, yang mengatakan Adam turun di Bukit Shafa dan yang satu lagi mengatakan Nabi Adam turun di antara Mekkah dengan Thaif. Ditambah lagi dengan riwayat yang mengatakan turun di Hidustan, ditambah lagi dengan riwayat yang mengatakan turun di pulau Ceylon, dan Sumatera, sehingga penafsir ini bisa pula berbangga, bahwa asal seluruh manusia yang ada di atas dunia ini adalah dari Pulau Sumatera, sebab Serendib adalah Swarnadwipa dan Swarnadwipa adalah Sumatera; semuanya itu tidaklah ada sebuah juga yang dapat dipertanggungjawabkan menurut bahan-bahan sejarah. Dan riwayat-riwayat semacam inipun tidak ada yang dikuatkan oleh hadits yang shahih, walaupun sebuah.

Dahulu kalau kita naik haji, seorang penunjuk jalan akan membawa kita ziarah ke kuburan yang dinamai kuburan Siti Hawa di Jiddah itu, panjangnya sampai seperempat kilometer atau lebih. Dan di Ceylon pun kita bisa dibawa orang ke atas puncak gunung yang dinamai "Talapak Nabi Adam"

Semuanya ini adalah cerita bagus-bagus untuk khayal, tetapi akal yang terlatih di bawah bimbingan al-Qur'an dan hadits Rasulullah tidaklah akan dapat menelan saja cerita-cerita semacam ini walaupun ada disuntingkan pada setengah tafsir.

Sebagai kunci dari sabda-sabda mengenai Adam clan istrinya ini, maka berfirmanlah Tuhan selanjutnya.

وَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَ كَذَّبُوْا بِآيَاتِنَا
"Dan orang-orang yang kafir, dan mendustakan ayat-ayat Kami. " (pangkal ayat 39).

Yaitu yang tidak mau memperdulikan pesan-pesan yang telah diberikan Allah kepada Adam dan istrinya seketika mereka dilepas dari Jannah itu ke dalam dunia ini, sehingga orang-orang itu jatuh ke dalam perangkap setan iblis yang menjadi musuhnya turun ­temurun.

أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ
"Mereka itulah penghuni neraka, yang mereka di dalarnnya akan kekal. " (ujung ayat 39).

Dengan ayat ini sebagai pengunci kisah, terbentanglah dihadapan kita suatu petunjuk bahwa kita tidak akan berhenti berjihad, besungguh-sungguh, bekerja keras, bersemangat di dalam dunia ini. Kita sebagai turunan Adam telah diangkat menjadi khalifah Allah, menyambung tugas nenek moyang kita. Dan kita menghadapi satu kenyataan, yaitu di dalam melaksanakan tugas itu kita selalu diganggu dan diperdayakan oleh setan iblis.

Di sini pula kita mendapat suatu kesan yang mendalam tentang ajaran agama di dalam menentukan musuh kita. Kaum yang tidak bertuhan, atau kaum yang hendak mempertahankan kekuasaan kezaliman, selalu membesar-besarkan bahaya musuh dari luar, supaya rakyat lupa atau dipalingkan perhatian mereka dari kelemahan pemerintahnya.

Lalu dikatakan bahwa musuh yang besar itu ialah Kapitalis, Imperialis dan Kolonialis. Sampai-sampai kalau rakyat tadi telah lapar, habis dihisap darahnya oleh pemerintahnya sendiri, dikatakan juga bahwa sebab-sebab kesengsaraan itulah kaum Kapitalis dari luar.

Tetapi di dalam kehidupan beragama, diajarkan dan dititik beratkan sejak jaman dahulu bahwa musuh besar turun-temurun itu ialah iblis, atau setan. Yang kadang-kadang menjalar atau mengalir di dalam tubuh anak Adam, sebagaimana menjalar dan mengalirnya darahnya sendiri.

Oleh sebab itu di dalam agama orang diperintahkan menilik musuh terlebih dahulu di dalam dirinya sendiri, sebelum mengadakan propaganda besar-besaran menipu orang banyak, supaya menghadapkan perhatian ke luar diri.
 


01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21  22  23 24 25 26 27 28 29  To Main Menu