Tafsir Suroh Maryam ayat 59 - 63         

                                                                   


 فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضاعُوا الصَّلاةَ وَ اتَّبَعُوا الشَّهَواتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
(59)
Tetapi datang sesudah mereka suatu keturunan yang mereka telah melalaikan sembahyang dan memperturutkan syahwat; maka mereka itu akan bertemu kesesatan.


إِلاَّ مَنْ تابَ وَ آمَنَ وَ عَمِلَ صالِحاً فَأُولئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلا يُظْلَمُونَ شَيْئاً
(60)
Kecuali barangsiapa yang taubat dan beriman dan beramal yang shalih; maka mereka itulah yang akan masuk ke syurga dan tidak­lah mereka akan dianiaya sedikit pun.


جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتي‏ وَعَدَ الرَّحْمٰنُ عِبادَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّهُ كانَ وَعْدُهُ مَأْتِيًّا َ
(61)
(Yaitu) syurga-syurga yang kekal. yang telah dijanjikan oleh Tuhan Pengasih kepada hamba hambaNya dengan secara ghaib. Sesungguhnya adalah janjiNya itu akan ditemui.


لا يَسْمَعُونَ فيها لَغْواً إِلاَّ سَلاماً وَ لَهُمْ رِزْقُهُمْ فيها بُكْرَةً وَ عَشِيًّ
(62)
Tidaklah mereka akan men­dengar di dalamnya kata-kata yang sia-sia, melainkan kata yang baik belaka. Dan untuk mereka di dalam syurga itu rezeki mereka, pagi dan petang.


تِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتي‏ نُورِثُ مِنْ عِبادِنا مَنْ كانَ تَقِيًّا َ
(63)
Itulah dia syurga, yang akan Kami wariskan kepada hamba­hamba Kami, barangsiapa yang bertakwa.


Keturunan Yang Di Belakang

Biasanya sesudah meninggal nenek-moyang tinggallah keturunan atau cucu yang hanya berbangga dengan keharuman nama neneknya. tetapi tidak tahu lagi intisari apa yang diperjuangkan nenek-moyang::ya itu. Dern:kian juga rupanya terjadi pada Nabi-nabi itu:

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضاعُوا الصَّلاةَ
"Tetapi datanglah sesudah mereka suatu keturunan yang mereka telah melalaikan sembahyang." (pangkal ayat 59).

Bahaya melalaikan sembahyang inilah yang diperingatkan benar-benar oleh Nabi kita Muhammad s.a.w. di kala beliau akan meninggal dunia. Adalah dua perkara yang sangat beliau pesan­kan. Pertama sembahyang, kedua darihal urusan perempuan.
Menurut riwayat dari Abu Ubaidah, yang diterimanya dari Hajjaj, dia menerima dari Ibnu Juraij, dan dia ini menerima dari Mujahid. Mujahid men­tafsirkan ayat ini: "Bahwa hal demikian, yaitu melalaikan sembahyang akan kejadian bila kiamat telah dekat clan bila ummat Muhammad yang shalih sudah sama meninggal, yang satu mengelakkan diri dari yang lain dan pergi ke lorong-lorong tempat berzina."

Kemudian ayat ini bersambung:

وَ اتَّبَعُوا الشَّهَواتِ
"Dan memperturutkan syahwat."

Tentu saja apabila sembahyang telah mulai dilalaikan orang tidak sanggup lagi menguasai syahwatnya. Sebab sembahyang itu adalah laksana benteng untuk memagar din dari kejahatan. Sebagai tersebut dengan jelas dalam sabda Tuhan di Surat 29, al-Ankabut:  "Dan dirikanlah olehmu sembahyang; sesungguhnya sembahyang itu akan mencegah daripada yang keji-keji dan yang munkar."

Kalau sembahyang telah dilalaikan, bocorlah pertahanan jiwa dan mulai­lah lemah mengekang nafsu clan syahwat. Dan kalau sembahyang telah mulai lalai, dan syahwat sudah diperturutkan, niscayalah mereka akan sampai kepada akibat yang buruk:

فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
"Maka mereka itu akan bertemu kesesatan. " (ujung ayat 59).
Tersesatlah daripada jalan yang lurus, terperosok kepada hidup yang gelap. Dalam ayat ini nyatalah bahwa sembahyanglah yang menjadi tiang dari agama. Semata-mata percaya bahwa Allah itu ada, belumlah cukup, kalau jiwa tidak selalu mendekatiNya menurut jalan yang dibimbingkanNya dengan per­antaraan Nabi-nabi. Maka janganlah kita menyangka bahwa ancaman ini hanya kepada ummat daripada Nabi-nabi yang terdahulu. Malahan Mujahid, sebagai yang diriwayatkan di atas tadi, demikian juga Ka'ab Qurazhi dan `Atha' menekankan bahwa yang diberi isyarat dengan ayat ini bukan semata-mata ummat Yahudi clan Nashara, melainkan ummat Muhammad sendiri. Tentang pengertian melalaikan sembahyang, pun banyak penafsiran tentang itu. Al-Qurazhi mengatakan yaitu orang yang mengakui juga bahwa sembahyang itu memang tiang agama, tetapi dia tidak mengerjakannya lagi.

Abdullah bin Mas'ud dan al-Qasim bin Mukahimarah menafsirkan: "Yaitu yang melalaikan waktu-waktunya dan tidak mendirikan kewajiban-kewajiban sembahyang itu dengan benar, dan bahwa jika pun engkau kerjakan sembah­yang padahal rukun syaratnya itu tidak engkau penuhi tidaklah sah sembahyangmu itu dan tidaklah diberi pahala." Dan kepada orang yang mengerjakan sembahyang seperti itu Nabi pernah mengatakan: "Kembali dan sembahyang! Karena tadi engkau belum sembahyang." Beliau peringatkan itu kepada orang tersebut sampai tiga kali. Demikian menurut sebuah Hadits yang dirawikan oleh Muslim. Huzaifah pernah bertemu orang sembahyang semacam itu. Yaitu sembah­yang secara kilat saja, banyak yang patut-patut yang dia tinggalkan. Lalu beliau bertanya: "Sudah berapa lama engkau sembahyang semacam ini?" Orang itu menjawab: "Sudah 40 tahun!" Maka berkatalah beliau: "Engkau belum pemah sembahyang dan kalau engkau mati dengan sembahyang seperti ini, engkau mati bukan dalam agama Muhammad." Hadits ini dirawikan Bukhari, lapalnya pun ada pada an-Nasa'i.
Dan menurut sebuah Hadis yang dirawikan oleh Termidzi yang diterima dari Abu Mas'ud al-Anshari, berkata Rasulullah s.a.w.:

"Tidak diberi pahala sembahyang yang tidak didirikan oleh orang itu."

Artinya tidak sempurna ruku'nya dan sujudnya.
Imam asy-Syafi'i, Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Ishaq bin Ruaihi berpendapat bahwa sembahyang yang tidak disempurnakan ruku'nya dan sujudnya ltu tidaklah sah.
Di dalam Hadits pun tersebut ketika orang bertanya kepada Rasulullah s.a.w. apakah amalan yang paling baik? Beliau menjawab: "Sembahyang di awal waktunya."

Maka termasuklah pula dalam golongan orang yang melalai kan sembahyang, orang yang selalu sembahyang seketika waktu telah hampir habis. Dengan kebiasaan yang demikian, ditakutilah kemantapan dalam jiwa orang yang demikian akan hilang.

Tersebut dalam sebuah Hadits yang dirawikan oleh an-Nasa'i, diterimanya dengan sanadnya dari Abu Hurairah. Bersabda Nabi s.i.w.:
          

"Yang mula-mula akan diperhitungkan pada seorang hamba di hari kiamat ialah sembahyangnya. Kalau sembahyangnya itu disempurnakannya, ber­untunglah dia. Tetapi kalau tidak, maka Allah `Azzawajalla bersabda: Perhatikanlah pada hambaKu ini kalau-kalau dia rnengerjakan sembahyang yang tathawwu` (sembahyang-sembahyang sunnat). Kalau ada didapati dia me­ngerjakan sembahyang-sembahyang yang tathawwu` itu, maka sempumakan­lah sembahyangnya yang fardhu dengan yang tathawwu` itu."

Ketika menjelaskan Hadits ini berkatalah Abu `Amer bin `Abdil Barr di dalam Kitabnya yang bernama "At-Tamhid": "Adapun menyempurnakan yang fardhu dengan yang tathawwu` itu ialah - tetapi Tuhan lebih tahu - bagi orang Yang ada kelupaan dalam bahagian-bahagian yang fardhu, atau kurang bagus ruku'nya dan sujudnya, dan dia tidak tahu hingganya yang demikian. Tetapi barangsiapa yang meninggalkannya, atau mulanya dia lupa kemudian dia ingat, lalu dengan sengaja tidak disempurnakannya, dan dia kerjakan saja yang tathawwu` lebih penting dari yang fardhu, padahal dia sadar, maka dalam hal yang demikian tidaklah dapat yang fardhu disempurnakan dengan yang tathawwu'."

Dari keterangan yang luas ini dapatlah kita mencamkan bagaimana pentingnya sembahyang sebagai tiang agama, dan bagaimana pula akibatnya, baik bagi jiwa orang seorang ataupun bagi masyarakat Kaum Muslimin kalau sembahyang sudah mulai dipandang enteng. Saya pernah berkeliling pada kota-kota besar Negeri-negeri Islam dan ber­gaul dengan orang-orang terkemukanya. Banyak dibicarakan soal agama; nampak teguh hati mereka mempertahankan keyakinan Islam. Tetapi bila datang waktu sembahyang hati mereka tidak tergerak. Dan di Indonesia sendiri pun banyak orang berkumpul, musyawarat memperbincangkan soal-soal yang berkenaan dengan agama, tetapi bila datang waktu sembahyang, bila bang sudah kedengaran, musyawarat itu tidak dihentikan.

Maka bertemulah sekarang apa yang ditafsirkan oleh seorang Tabi'in yang besar di atas tadi, Syaikh Mujahid, bahwa ayat ini bukanlah semata-mata untuk khalfun (keturunan) dari Nabi-nabi yang dahulu, tetapi telah bertemu pada Ummat Muhammad di akhir zaman ini.

إِلاَّ مَنْ تابَ
"Kecuali barangsiapa yang taubat."
(pangkal ayat 60).

Taubat sudah kita ketahui artinya, yaitu kembali kepada jalan yang benar. Karena apalah ke­istimewaannya orang Islam kalau sembahyang telah mulai dilalaikan. Sebagai mana pernah dikatakan oleh al-Hasan al-Bishri: "Mesjid-mesjid mereka telah mereka kosongkan. Hari mereka dihabiskan untuk urusan yang lain dan sebab-­sebab yang lain belaka."
Ketika orang Thaif mengirim utusannya'kepada Nabi s.a.w. di Madinah buat berdamai, dan mereka telah mau memeluk Islam, tetapi mereka menge­mukakan beberapa syarat. Di antaranya, bahwa mereka mau masuk Islam, tetapi supaya perintah sembahyang tidak berlaku bagi mereka, maka Nabi s.a.w. telah menolak persyaratan itu. Beliau berkata: "Tidak ada artinya masuk Islam kalau tidak sembahyang."

Maka akan terbangkitlah ummat ini dari kesesatan asal mereka telah taubat. Yaitu kembali kepada pangkalan kebenaran. Insaf lalu menegakkan kembali sembahyang dengan sesungguhnya, sempurnakan ruku` dan sujud nya, bukan semata-mata sebagai sembahyang cotok ayam.

وَ آمَنَ
"Dan beriman,"
yaitu sebagai kelanjutan daripada taubat, daripada turut kepada jalan yang benar lalu mendirikan sembahyang hendaklah pula ditegakkan Iman kembali. Percaya kepada Allah disertai kasih, ikhlas dan tawakkal. Dikuatkan.kembali akidah kepada Ilahi: " Dan berarnal yang

وَ عَمِلَ صالِحاً
"shalih. " Taubat niscaya disempurnakan dengan kembali menegakkan Iman dan Iman belum pula ada artinya kalau tidak diikuti oleh amal yang shalih, perbuatan yang baik, atau pekerjaan yang ada faedahnya:

فَأُولئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلا يُظْلَمُونَ شَيْئاً
"Maka mereka itulah orang yang akan masuk ke syurga dan tidaklah mereka akan dianiaya sedikit pun." (ujung ayat 60).

Kalau kita fikirkan ayat-ayat ini lebih mendalam, akan insaflah kita bahwa kita manusia ini tidaklah akan sunyi daripada alpa dan lalai. Akan ada saja kekhilafan kita dalam hidup ini; namanya manusia. Oleh sebab itu maka pada tiap-tiap sesudah mengerjakan sembahyang yang lima waktu pun kita disuruh­kan Allah mengucapkan doa-doa taubat. Setiap hari kita dianjurkan taubat. Nabi s.a.w. sendiri pun setelah selesai tugas Risalatnya, setelah melihat manusia berbondong-bondong datang menyatakan diri memeluk Agama Allah, pun disuruhkan Allah supaya mengucapkan tasbih pujian kepada Allah dan memohon ampun:

"Sesungguhnya Tuhan itu adalah amat suka memberikan taubat."

جَنَّاتِ عَدْنٍَ
"(Yaitu) syurga-syurga yang kekal."(pangkal ayat 61).
Bukan jannatin (satu syurga saja), bahkan jannaatin (dengan panjang na nya), berarti jama`, yaitu banyak syurga;

الَّتي‏ وَعَدَ الرَّحْمٰنُ عِبادَهُ بِالْغَيْبِ
"Yang telah dijanjikan oleh Tuhan Pengasih kepada hamba hambaNya dengan secara ghaib."

Artinya, meskipun dia masih ghaib sekarang ini, belum nyata oleh pancaindera, tegasnya penglihatan dan pendengaran, namun dia sudah pasti ada. Sebab mustahillah berdusta Tuhan Rabbul `Alamin dan mustahil berbohong Nabi yang menyampaikannya.

إِنَّهُ كانَ وَعْدُهُ مَأْتِيًّا
"Sesungguhnya ada­lah janjiNya itu akan ditemui." (ujung ayat 61).

Artinya, bahwa janji dari Tuhan yang bersifat dan bernama Pengasih (Ar-Rahman) pastilah akan ditemui den;an sempurna oleh hamba-hambaNya yang telah diberinya janji itu.

Ingatlah, bahwa di dalam kesempatan-kesempatan seperti ini, Allah lebih banyak menyebut salah satu dari sifatNya Yang Utama, atau salah satu dari­pada Asmaul-husna; Nama-namanya yang baik. Maka di sini Dia menyebut diriNya Tuhan Pengasih ; Ar-Rahman ! Sebab yang akan dianugerahkannya kepada hambaNya yang taat itu ialah syurga-syurga yang kekal (`Adnin) sampai selama-lamanya.

لا يَسْمَعُونَ فيها لَغْواً
"Tidaklah mereka akan mendengar di dafamnya kata-kata yang sia-sia." (pangkal ayat 62).

Syarat mutlak dari nikmat kekal yang akan diterima ialah sunyi samasekali, tidak terdengar samasekali kata-kata yang sia-sia, yang laghaa. Lihatlah keadaan dunia ini. Betapa pun mewah hidup orang, namun jiwa selalu gelisah, karena selalu juga, tidak sunyi-sunyinya mendengar kata-kata yang sia-sia, kata-kata yang tidak berfaedah, kata-kata yang penuh berisi fitnah dan sakit hati. Yang kaya mengeluh tak puas, yang miskin dengki. Mulut orang penuh dengan membicarakan aib orang lain dan melupakan aib yang ada pada diri­nya sendiri. Atau mengomel kalau kekurangan, atau mencerca atas barang yang telah diberikan, atau berbangga atas kelebihan din sendiri dan mencela atas kekurangan orang lain. Atau berebut kekuasaan dengan memfitnah. Atau berkata bohong untuk mencari keuntungan. Dan banyak lagi yang lain. Di dalam syurga tidak akan ada kata-kata sia-sia semacam itu:

إِلاَّ سَلاماً
"Melainkan kata yang baik belaka."

kata yang penuh berisi kedamaian dan kesyukuran memuji nikmat yang diberikan Ilahi.

وَ لَهُمْ رِزْقُهُمْ فيها بُكْرَةً وَ عَشِيًّ
"Dan untuk mereka di dalam syurga itu rezeki mereka, pagi dan petang." (ujung ayat 62).

Berkata Ibnu Jarir: "Telah menyarnpaikan kepada kami Ali bin Sahal, dia menerimanya dari al-Walid bin Muslim. Berkata dia: "Aku bertanya kepada Zuhair bin Muhammad tentang tafsir ayat yang mengatakan "untuk mereka di dalam syurga itu, rezeki mereka, pagi dan petang," apakah maksudnya? Beliau menjawab: "Di dalam syurga itu tidak ada malam. Mereka selalu diliputi cahaya, dan malam dan siang hanyalah perhinggaan saja. Mereka mengetahui telah malam karena tabir-tabir telah diturunkan dan pintu-pintu ditutup. Dan mereka mengetahui telah siang kalau tabi-tabir diangkatkan kembali dan pintu-pintu dibuka."

Dan satu isnad lagi dari al-Walid bin Muslim dan Khulaid, dia terima dari al-Hasan al-Bishri tentang pintu-pintu syurga. Berkata beliau al-Hasan al-­Bishri: "Pintu-pintu, yang orang yang di dalam dapat mengetahui apa yang di luar. Orang berkata-kata di luar, meskipun jauh, dapat juga difahamkan. Pintu itu bisa diberi isyarat saja, disuruh terbuka, dia pun terbuka sendirinya. Disuruh tertutup, dia pun tertutup sendirinya."

Qatadah mentafsirkan pula: "Di sana ada saat-saat seperti pagi dan seperti petang, tetapi di sana tidak ada hitungan malam dan siang. Sebab selalu ber­sinar dan selalu bercahaya." Kata Mujahid: "Tidak ada apa yang kita namai pagi, tidak ada apa yang kita namai petang. Tetapi kepada mereka dibawakan apa saja yang mereka ingini di dunia ini."
Menurut keterangan al-Hasan al-Bishri dan Qatadah pula: "Karena ke­biasaan orang Arab hidup bersenang-senang dengan makanan pagi dan makanan malam, maka diturunkanlah al-Quran memberikan penjelasan menurut apa yang mereka kenangkan, tentang nikmat dalam syurga itu."

تِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتي‏ نُورِثُ مِنْ عِبادِنا مَنْ كانَ تَقِيًّا َ
"Itulah dia syurga, yang akan Kami wariskan kepada Hamba-hamba Kami, barangsiapa yang bertakwa. " (ayat 63).

Artinya, bahwasanya syurga yang telah dijelaskan setengah dari sifat-sifat dan keadaannya yang agung itu akan Kami wariskan kepada hamba Kami yang bertakwa, yaitu yang taat dengan tidak separuh hati, yang percaya dengan bulat, yang menyerah dengan ridha, baik di waktu senang atau di waktu susah. Hamba-hamba Kami yang dapat menahan marahnya, yang suka memberi maaf kepada sesamanya manusia, "yang sembahyang dengan khusyu`, yang menolak segala perbuatan sia-sia, yang mengeluarkan zakat, yang memelihara kemaluan atau farajnya, kecuali terhadap isteri atau sahaya yang halal, yang memegang amanat meneguhi janji, yang memelihara baik-baik waktu sembah­yang." (Yang memakai tanda kutip ini tersebut di permulaan Surat 23, al­Mu'minun dari ayat 2 sampai 9) yang ditutup dengan ayat 10 dan 11:

ٱلَّذينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فيها خالِدُونَ َ
"Itulah orang-orang yang akan mewarisi. Yaitu mewarisi Firdaus, yang mereka di dalamnya itu akan kekal."

Dan inilah warisan sejati yang kekal dan tidak akan pindah lagi ke tangan lain buat selama-lamanya. Karena persediaan untuk itu telah ada sejak dari masa hidup di dalam dunia.
 


 01 02  03  04  05  06  07  08  09  10   11  12  13  14  15  16   17  18  19  20  21   Back To MainPage  >>>>