Make your own free website on Tripod.com
                                                                                                                                                                     
                       Tafsir Suroh An-Nur ayat 19 - 25
 
                                                                           

                                                                      


(19) إِنَّ الَّذينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشيعَ الْفاحِشَةُ فِي الَّذينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذابٌ أَليمٌ فِي الدُّنْيا وَ الْآخِرَةِ وَ اللهُ يَعْلَمُ وَ أَنْتُمْ لا تَعْلَمُون

Sesungguhnya orang-orang yang suka sekali supaya tersebar berita-berita keji dalam kalangan orang-orang yang beriman, me­reka akan mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Allahlah yang Maha Tahu dan kamu semua tidaklah menge­tahui.


(20)                                                   وَلَوْلا فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَتُهُ وَ أَنَّ اللهَ رَؤُوفٌ رَحيمٌ

Dan sekiranya tidaklah karena Kumia Tuhan Allah atas kamu beserta rahmatNya, dan kalau sekiranya tidaklah Tuhan Allah itu Penyantun dan Penyayang (binasalah kamu)


(21) يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا لا تَتَّبِعُوا خُطُواتِ الشَّيْطانِ وَ مَنْ يَتَّبِعْ خُطُواتِ الشَّيْطانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشاءِ وَ الْمُنْكَرِ وَلَوْلا فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَتُهُ ما زَكى‏ مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَداً وَ لكِنَّ اللهَ يُزَكِّي مَنْ يَشاءُ وَ اللهُ سَميعٌ عَليمٌ

Wahai orang-orang yang ber­iman, janganlah engkau turuti jejak langkah syaitan, karena syaitan hanya menyuruhmu berbuat kejelekan dan kemungkaran. Kalau bukanlah Kurnia Allah kepada kamu dan rahmat­Nya, tidak seorang jua pun di antara kamu yang bersih (dari dosa), tetapi Tuhan Allah mem­bersihkan siapa yang dikehen­dakiNya. Dan Allah Maha Men­dengar dan Mengetahui.


(22) وَلا يَأْتَلِ أُولُوا الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَ السَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبى‏ وَ الْمَساكينَ وَ الْمُهاجِرينَ في‏ سَبيلِ اللهِ وَ لْيَعْفُوا وَ لْيَصْفَحُوا أَلا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللهُ لَكُمْ وَ اللهُ غَفُورٌ رَحيمٌ

Dan janganiah bersumpah kaum yang mampu dan berkelapangan, bahwa mereka tidak akan membantu lagi kaum kerabat yang hampir dan yang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Tetapi hendaklah mereka memberi maaf dan ulurkan tangan. Tidak­kah kamu suka jika Allah mem­beri ampun kepada kamu? Dan Allah adalah Maha Pemberi Ampun dan Maha Penyayang.


(23)                    إِنَّ الَّذينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَناتِ الْغافِلاتِ الْمُؤْمِناتِ لُعِنُوا فِي الدُّنْيا وَ الْآخِرَةِ وَ لَهُمْ عَذابٌ عَظيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang menuduh-nuduh perem­puan yang terbenteng budinya dan jujur hatinya tagi beriman, dikutuk Tuhan mereka di dunia dan di akhirat, dan bagi mereka adalah azab yang besar.


(24)                                  يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَ أَيْديهِمْ وَ أَرْجُلُهُمْ بِما كانُوا يَعْمَلُونَ

Pada hari itu lidah mereka, dan tangan-tangan mereka dan kaki­ kaki mereka akan menjadi saksi atas apa yang telah mereka kerjakan.


(25)                                   يَوْمَئِذٍ يُوَفِّيهِمُ اللهُ دينَهُمُ الْحَقَّ وَ يَعْلَمُونَ أَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ الْمُبينُ

Pada hari itu Tuhan Allah akan menyempumakan balasan se­benamya. Waktu itulah mereka akan tahu bahwa Tuhan Allah itu sungguhlah Benar dan cukup memberi Kenyataan.



Ancaman Terhadap Penyebar Berita Dusta

Di dalam ayat 19 sudah dinyatakan bahwa menyebut-nyebut khabar bohong dan dusta dalam kalangan orang-orang yang beriman bukanlah pekertinya orang yang beriman sejati. Seorang Mu'min tidaklah mempunyai masa terluang buat menyebarkan khabar berita keji. Sedangkan jika benar berita itu lagi, disuruh menutupnya, apalagi jika hanya semacam propokasi belaka untuk menambah kekacauan.Tukang siarkan berita bohong akan di­siksa Tuhan di dunia dan di akhirat. Di dunia ialah hilangnya nilai perkhabaran, sehingga karena sekali lancung keujian, orang yang berakal budi tidak percaya lagi kepada berita yang datang di belakang, walaupun benar. Masyarakat yang demikian menjadi tersiksa sebab percaya-mempercayai tidak ada lagi. Masya­rakat yang adil dan makmur ialah masyarakat yang percaya-mempercayai. Jika hanya khabar berita bohong yang tersiar dalam masyarakat, maka keamanan jiwa raga dan perasaan tak ada lagi.

Betapa pun besamya kekayaan benda, tidaklah lagi memberikan keamanan. Apabila orang luar masuk ke dalam masyarakat yang demikian, jiwanya rasa tertekan, dan apabila dia keluar kembaii dadanya terasa lapang. Lantas Tuhan Allah menerangkan pula ancaman azab siksa di akhirat, dalam neraka jahannam bagi orang-orang yang berbuat demikian. Neraka jahannam adalah tempat bagi orang yang tidak menegakkan maksud-maksud yang mulia dalam kehidupan dunia ini. Di akhir ayat Tuhan menyatakan hak mutlakNya yang tertinggi, pengetahuan sejati hanya ada di tanganNya, dan manusia tidak tahu apa-apa .

Kemudian di ayat 20 Tuhan menyatakan 1agi, bahwa kumia clan rahmat Allah jualah lain tidak, yang dapat melepaskan manusia ini dari kesulitan.Kasih-sayang dan pemurahNya, santunNya kepada kelemahan hambaNya, hanya semata itulah yang akan dapat melepaskan manusia tuntutan Ilahi. Maka kalau demikian halnya, manusia sendiri jualah yang harus berusaha memper­baiki budinya dan akhlaknya.

Pada ayat 21 dijelaskan lagi perjuangan hidup di dunia ini. Bahwasanya Tuhan ingin agar kita manusia menempuh'jalan yang baik dan lurus.Jalan lurus menuju keridhaan Tuhan itu senantiasa terganggu. Sebab syaitan pun mempunyai jalan sendiri dan merayu insan supaya menuruti jalan itu. Supaya martabat insan jatuh ke bawah. Apabila martabatnya telah jatuh, kekejian dan kemungkaranlah yang menjadi kesukaannya. Bertambah lurus jalan yang ditempuh, bertambah besar godaan syaitan agar manusia meninggalkan jalan yang lurus itu, lalu menuruti ajakannya. Maka terjadilah peperangan yang hebat dalam hati sanubari manusia, antara kehendak baik dan nafsu jahat.

Siapa yang diharapkan memberikan perlindungan? Tidak ada yang lain, melainkan Tuhan Allah sendiri. Lantaran itu tetap kanlah tujuan hidup, dirikanlah Allah dalam hati, sebab hanya Allah saja yang sanggup mem­bersihkan peribadi kita daripada kekotorannya. Tuhan mengatakan bahwa Dia akan memberikan kebersihan kepada barangsiapa yang dikehendakiNya. Per­kuatlah budi dan perindahlah ibadat dan hubungan dengan Tuhan, supaya kita termasuk dalam daftar orang yang dikehendaki Tuhan akan dibersihkanNya itu. Kehidupan di dunia bukanlah semata-mata menunggu ketentuan Tuhan, melainkan sebaliknya. Tuhan pun akan menilik usaha kita sendiri buat mem­perbaiki diri. Segala seruan kita didengarNya, segala perbuatan kita diketahui­Nya.

Ayat 22 memberi ingat kepada orang-orang yang beriman supaya jangan meninggalkan sikap yang adil karena kemurkaan kepada seseorang. Niscaya sebagai manusia, tersinggunglah sangat hati Abu Bakar setelah diketahuinya bahwa di antara orang-orang yang turut terlibat di dalam memfitnah puterinya ialah orang yang selama ini dibantunya hidupnya karena miskinnya, dan dari kalangan keluarganya sendiri. Hiba hati beliau melihat perbuatan yang tiada patut itu. Belanja hidup mereka sejak pindah ke Madinah beliau yang menang­gung, datang dari kantong beliau sendiri. Karena perasaan yang tersinggung itu beliau bersumpah tidak lagi akan memberi belanja mereka, perbantuan yang diberikan selama ini hendak dihentikannya buat selamanya.

Maka datanglah ayat ini memberi teguran kepada Abu Bakar.

  وَلا يَأْتَلِ أُولُوا الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَ السَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبى‏ وَ الْمَساكينَ وَ الْمُهاجِرينَ في‏ سَبيلِ اللهِ  ٌ

"Janganlah orang yang mampu dan berkecukupan bersumpah tidak akan membantu kerabatnya, atau orang-orang yang miskin yang selama ini ditanggungnya, atau orang Muhajirin, berpindah ke Madinah karena turut menjunjung tinggi perjuangan menegakkan agama Allah."

Memang mereka telah bersalah turut menyebarkan khabar berita bohong. Tetapi sebagai orang yang beriman yang luas dada, hendaklah dikenangkan kembali siapa yang menyebabkan mereka bersalah.

Bukankah mereka hanya terbawa-bawa oleh gelombang orang banyak? Pada saat-saat yang pertimbangan akal sendiri terhenti karena ombak gelombang khabar beracun? Satu kesalahan, tidaklah boleh dihukum dengan dua hukuman. Dan suatu hukuman janganlah bermaksud membinasakan, melain­kan bermaksud mendidik. Beberapa orang di antara mereka telah menerima hukumannya, dipukul dengan 80 kali cemeti.

Hukuman itu telah berkesan banyak sekali dalam jiwa mereka. Berbuat jahat bukanlah garis yang asal dalam jiwa mereka. Buktinya ialah bahwa mereka telah turut berjuang, turut meninggalkan kampung halaman Makkah, dan berpindah ke Madinah dan telah turut dalam segala perjuangan menegak­kan agama Allah dan turut menderita. Banyak orang yang terlanjur berbuat salah, tetapi kemudian mereka menyesal dan taubat. Mereka dapat lagi berbuat baik sehingga kesalahan yang terlanjur itu dapat ditimbuni oleh kebaikan yang dibina di belakang. Sisa umur dapat dipergunakan buat memperbaiki diri. Agama Islam memberi kesempatan kepada sekalian insan tidak mengajarkan rasa dendam kepada orang yang pernah bersalah.

Setiap orang harus berusaha memperbaiki jalan hidupnya. Kalau rasa dendam telah dipergunakan kepada orang yang bersalah, seakan-akan mereka tidak diberi kesempatan lagi akan berbuat baik, maka pendendam itu tidak dengan disadari adalah kesalahan yang lebih besar lagi. Orang berbuat ke­salahan satu kali lalu taubat, tetapi orang yang mendendam senantiasa berdosa selama dia masih berdendam.

Apakah yang lebih baik bagi seorang yang beriman? Yang lebih baik ialah memberi maaf. Menculurkan tangan kepada yang bersalah dan menghabiskan yang lama dari ingatan. Dan sikap yang seperti ini sangatlah besar kesannya bagi jiwa sendiri. Sebab itu Tuhan bersabda di ujung ayat 22 itu:

وَ لْيَعْفُوا وَ لْيَصْفَحُوا أَلا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللهُ لَكُمْ وَ اللهُ غَفُورٌ رَحيم

"Tidakkah engkau suka jika Tuhan memberi ampun kepada kamu? Bukan­kah Tuhan itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang?"

Perhatikanlah ayat ini baik-baik. Terdapatlah di dalamnya ilmu pendidikan yang amat mendalam, baik untuk orang yang memimpin kaumnya dalam ukuran kecil atau ukuran besar. Apabila seorang pemimpin lekas merasa ter singgung karena kehormatan dirinya diganggu dan tidak pandai menahan hati niscaya pimpinan akan lepas dari tangannya. Rasa cintanya akan bertukar dengan rasa benci, jiwanya tidak naik melainkan menurun. Pandangan hidup­nya yang tadinya berpangkal tolak dari iman, dengan tidak disadarinya ber­tukar menjadi titik tolak dari kesyaitanan. Pemimpin adalah "pamong" menanai mendukung. Membawa naik bukan menganjurkan turun.

Mendengar ayat yang amat mendalam ini, tersebut dalam riwayat bahwa Saiyidina Abu Bakar sadar akan kesalahan dan keterburu-nafsunya hendak menghentikan perbantuan yang biasa diberikannya kepada orang-orang yang ditolongnya itu. Sumpahnya dicabut kembali dengan membayar kaffarah, clan bantuan-bantuan yang diberikannya diteruskannya, sehingga kaum kerabatnya yang ditolongnya itu terpelihara kembali jiwanya.

Hukuman yang demikianlah yang menambah keinsafan mereka dan memperdalam rasa kesadaran: Dan pintu buat beramal yang shalih masih terbuka bagi mereka. Dan bagi Abu Bakar sendiri, penderitaan batin karena anaknya tertuduh itu, yang telah di­bersihkan oleh Tuhan Allah sendiri dengan serba kemuliaan adalah menjadi salah satu pembina dari peribadi besar Saiyidina Abu Bakar as-Shiddiq. Khalifah pertama dari Rasulullah s.a.w. Ujian-ujian perasaan yang berat apabila dapat diatasi akan menjadi jaminan atas kenaikan mutu peribadi.

Kemudian itu di ayat 23 dijelaskan Tuhan lagi bahwasanya orang-orang yang tuduh-menuduh perempuan-perempuan yang terbenteng jiwanya oleh budinya, jujur clan memandang dunia dengan kejujuran pula, dipatrikan oleh iman yang tulus kepada Allah. Orang-orang yang menuduh wanita demikian, akan mendapat kutuk dari Allah di dunia dan di akhirat, ditambah pula dengan siksa. Ayat ini adalah penjelasan berulang-ulang atas beratnya hukuman menuduh-nuduh itu.

Di ayat 24 dijelaskan lagi bahwasanya lidah yang menyebarkan fitnah, tangan yang menjembatani mencari khabar buruk, kaki yang melangkah me­nyebar berita bohong, semuanya akan menjadi saksi atas perbuatan yang buruk itu di hadapan Allah. Dan di hari akhirat itu kelak demikian kata ayat yang ke25. Tuhan akan membayar kontan segala perbuatan yang dilakukan itu, akan mendapat balasan yang benar. Pada waktu itulah kelak mereka akan mengetahui Allah sebagai Kebenaran dan Allah sebagai Kenyataan. 


01  02  03  04  05  06   07   08   09  10  11 12  13  14  15     Main Page .... >>>>