Make your own free website on Tripod.com
                                                       
                                                Tafsir Surat An-Nur Ayat 11-18
 
                                                                           

                                                         


(11) إِنَّ الَّذينَ جاؤُو بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَ الَّذي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذابٌ عَظيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang datang membawa berita bohong itu adalah golongan kamu juga. Janganlah kamu kata bahwa perbuatan mereka itu membawa akibat buruk bagi kamu, bahkan itu adalah mem­baikkan. Setiap orang akan men­dapat hukuman dari sebab dosa yang dibuatnya itu. Dan orang yang mengambil bagian terbesar akan mendapat siksaan yang besar pula.


(12) لَوْلا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَ الْمُؤْمِناتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْراً وَ قالُوا هذا إِفْكٌ مُبين

Mengapa setelah mendengar berita-berita bohong itu orang­orang yang beriman, baik laki laki ataupun perempuan, tidak meletakkan sangka yang baik terhadap dirinya, mengapa tidak mereka katakan bahwa berita itu adalah bohong belaka?


(13) لَوْلا جاؤُو عَلَيْهِ بِأَرْبَعَةِ شُهَداءَ فَإِذْ لَمْ يَأْتُوا بِالشُّهَداءِ فَأُولئِكَ عِنْدَ اللهِ هُمُ الْكاذِبُون

Mengapa mereka menuduh tetapi tidak mengemukakan empat orang saksi; kalau mereka tidak mengemukakan saksi-saksi itu, mereka adalah pembohong belaka dalam pandangan Allah


(14) وَلَوْلا فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَتُهُ فِي الدُّنْيا وَ الْآخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فيما أَفَضْتُمْ فيهِ عَذابٌ عَظيمٌ

Kalau bukanlah kemurahan Tuhan Allah dan kasih rahmat­Nya kepada kamu di atas dunia ini dan di akhirat kelak, niscaya kamu akan ditimpa oleh azab yang amat besar karena berita yang kamu siarkan itu.


(15) إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَ تَقُولُونَ بِأَفْواهِكُمْ ما لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَ تَحْسَبُونَهُ هَيِّناً وَ هُوَ عِنْدَ
اللهِ عَظيمٌ

Ketika kamu sambut berita itu dari lidah ke lidah, kamu katakan dengan mulutmu perkara yang samasekali tidak kamu ketahui; kamu sangka bahwa cakap­cakap demikian perkara kecil saja, padahal dia adalah perkara besar pada pandangan Allah


(16)        وَلَوْلا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ ما يَكُونُ لَنا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهذا سُبْحانَكَ هذا بُهْتانٌ عَظيم

Alangkah baiknya ketika kamu mendengar berita itu kamu kata­kan saja: Tidak sepatutnya kami membicarakan berita bohong ini. Amat Suci Engkau ya Tuhan, berita ini adalah bohong besar belaka !


(17)         يَعِظُكُمُ اللهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَداً إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنينَ

Tuhan memberi pengajaran bagi kamu, supaya jangan meng­ulangi lagi perbuatan seperti itu buat selama-selamanya. Kalau betul kamu mengakui beriman.


(18)         وَ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمُ الْآياتِ وَ اللهُ عَليمٌ حَكيمٌ

Dan telah dijelaskan oleh Tuhan ayat-ayatNya kepada kamu! Dan Tuhan Allah adalah Maha Me­ngetahui dan Maha Bijaksana.


                              Propokasi

Kemenangan-kemenangan dan kejayaan perjuangan Nabi Muhammad s.a.w. menegakkan masyarakat Islam di Madinah, adalah tegak di atas kesetia­an sahabat-sahabatnya dan kebencian musuh-musuhnya. Orang besar selalu diuji oleh pujaan dan celaan. Di samping orang-orang sebagai Abu Bakar as-Shiddiq, Umar bin Khathab, Usman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib yang menyediakan jiwa-raganya dan harta benda biar sama hilang sama timbul dengan Nabi, ada juga musuh-musuh besar yang dalam memusuhi itu pun mereka "besar" pula.

Musuh demikian dihadapi Nabi ketika beliau di Makkah, di antaranya ialah Abu Jahal yang terkenal menentang Nabi terang-terangan secara jantan. Tetapi setelah Nabi s.a.w. pindah ke Madinah, dan masyarakat Islam mulai berdiri, beliau menghadapi musuh yang bukan satria, orang ber­jiwa kecil yang hanya berani membuat fitnah, menghasut, menggunjing, ber­bicara di belakang, sedang pada lahirnya dia bermulut manis menyatakan setuju. Dan apabila ada jalan buat memasukkan jarum dengki dan bencinya, dimulainyalah memainkan jarum itu, walaupun di balik pembelakangan. Itulah yang dinamai golongan munafiqin yang dipimpin oleh seorang yang mengaku kawan padahal lawan, yaitu Abdullah bin Ubay.

Kalau ada musuh hendak melawan Islam, dibantunya dari belakang secara diam-diam tetapi kalau musuh itu sudah dapat dikalahkan oleh Nabi, dia pun mencuci tangan dan musuh yang kalah itu ditinggalkannya, dan dia pergi mengambil muka kepada Muslimin yang menang. Kalau dia menampak agak sedikit pintu hasutan, untuk memecahkan front Muslimin di antara Muhajirin dengan Anshar, dilaluinyalah lobang yang kecil itu, sehingga kalau kurang hati-hati pimpinan, pesatuan Islam bisa pecah berantakan. Tetapi Nabi s.a.w. dan sahabat-sahabatnya tetap waspada, sehingga segala usahanya tetap tidak pemah berhasil.

Akhirnya dicobakannyalah senjata penghabisan, sebagai "climax" atau puncak dari segala usahanya yang gagal selama ini, dan yang menjadikan sebab dari kejatuhannya buat selamanya dan dia tidak dapat mengangkat mukanya lagi. Tetapi perbuatannya ini boleh dicatat sebagai suatu perbuatan "pengecut yang sangat berani". Dia telah mencoba menunggu ketenteraman jiwa Nabi s.a.w. sendiri dan jiwa orang yang paling dekat kepada Nabi, orang yang kedua dalam pembangunan Islam, yaitu Abu Bakar, ayah Aisyah.

Demikianlah, pada suatu hari seketika Rasulullah s.a.w. bersama sahabat­sahabatnya dan tentaranya pulang dari peperangan dengan Yahudi Bani Musthaliq dengan kemenangan gilang-gemilang.

Sudah menjadi kebiasaan Nabi s.a.w. apabila beliau pergi keluar kota memimpin suatu peperangan, beliau undi isterinya dan mana yang keluar undiannya, dialah yang ikut pergi. Dalam peperangan Bani Musthaliq ini, Siti Aisyah lah yang menang undian dan turut pergi. Dia diangkat dengan Haudaj, semacam tandu kenaikan diletakkan di atas punggung seekor unta. Usia Aisyah ketika itu barulah 14 tahun, sebab dalam usia 9 tahun dia mulai diserumahkan oleh ayahnya dengan Nabi seketika mulai pindah ke Madinah, sesudah di­nikahkan di Makkah setahun terlebih dahulu. Badannya ringan dan kecil.

Seketika berhenti pada suatu pemberhentian, haudaj itu diturunkan orang dari punggung unta. Aisyah meraba lehernya, rupanya kalung yang di lehernya sudah tidak ada lagi, entah tercecer di tengah jalan. Lalu dia turun dari haudaj nya dan dia pergi ke tempat yang telah dilalui tadi, mencari kalungnya yang hilang. Rupanya setelah agak lama mencari tak bertemu, lalu dia kembali ke tempat haudajnya terletak.

Tetapi sayang, rombongan telah berangkat lebih dahulu karena tidak ada orang yang tahu bahwa beliau telah turun dari dalam­nya, dan tidak pula ada orang yang memeriksanya, karena beliau memakai hijab dan badan beliau amat ringan, sehingga sama saja berat haudaj itu baik beliau ada di dalam ataupun tidak ada.

Maka berhentilah beliau duduk melepaskan lelahnya di perhentian yang telah ditinggalkan itu, dengan kepercayaan apabila orang mengetahui nanti bahwa beliau tidak ada, niscaya orang akan kembali menjemputnya. Sebab kalau berjalan pula mengejar rombongan itu pada padang pasir yang demikian teriknya, agaknya tidaklah akan terkejar.

Dalam beliau termenung seorang diri­nya itu sambil menyelimutkan selendang ke badannya, tiba-tiba datanglah seorang pemuda, sahabat Nabi juga, bernama Shafwan Ibnu Mu'aththil Assulami, yang kebetulan berjalan terkemudian dari rombongan, karena ada keperluan yang diurusnya. Demi dilihatnya Aisyah, yang dikenalnya sebelum turun ayat hijab, dia pun terkejut lalu mengucapkan "Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji'un" dan segera menanyakan mengapa beliau terkemudian. Aisyah tidak menjawab. Kemudian Shafwan membawa untanya ke muka beliau, dan diper­silakannya beliau naik, lalu beliau pun naik dan Shafwan berjalan menuntun unta tersebut, sampai dapat tersusul rombongan yang telah berangkat itu.

Cepat sebagai kilat, tersebar berita dari mulut ke mulut, Aisyah telah ber­laku serong dengan Shafwan, mereka telah berjalan berdua-dua, mereka rupanya telah berjanji akan mengkhianati Rasulullah, dan sebagainya. Diatur berita itu demikian rupa, diterima dari satu mulut dan pindah ke mulut lain, bisik berantai sehingga "menjadi rahasia umum". Yang menyebarkan berita ini diketahui kemudian, yaitu Abdullah bin Ubay.

Sebagaimana melawan penjajahan, kerapkali pihak musuh menyebarkan berita bisik berantai seperti demikian, untuk menimbulkan kekacauan fikiran. Dan dalam saat yang demikian, orang tidak sempat mengadakan penyelidikan atau mempertimbangkan dengan akal sihat. Inilah yang dalam bahasa sekarang disebut "propokasi". Khabar berita ini telah tersiar, cepat sebagai api memakan lalang. Jarang orang yang dapat memikirkan benar atau tidaknya. Yang tadinya masih dapat menimbang pun boleh menjadi ragu karena di kiri­kanan orang telah membicarakannya. "Siti Aisyah, isteri kesayangan Rasulullah yang masih muda belia, berjahat dengan seorang sahabat muda."

Adakah orang yang sempat berfikir bahwa berita itu harus diselidiki kebenarannya? Karena ini adalah soal besar? Soal rumahtangga Nabi? Soal terganggukah ataia tidak perasaan beliau? Betapakah agaknya Abu Bakar, sahabat karib Nabi sejak agama ini dibangunkan dan dida'wahkan, selalu di dekat Nabi? Bagaimana dia mendidik anak perempuannya? Hat itu tidaklah sempat difikirkan orang lagi. Propokasi itu kadang-kadang amat berpengaruh sehingga orang tidak sempat berfikir.

Dalam tafsir ini hendak kita sarikan isi riwayat nasib penanggungan batin yang dirasai Aisyah karena malapetaka tuduhan yang amat besar itu yaitu menurut Hadis yang dirawikan oleh Bukhari clan lain-lain dari `Urwah bin Zubair, dari Makciknya Aisyah sendiri.

Aisyah sendiri bercerita bahwa setelah dia turun dari atas unta itu dan kembali ke haudajnya disangkanya tidak ada apa-apa: Bahwasanya bisik-desus telah menjadi-jadi dan dia telah menjadi buah mulut orang, samasekali dia tidak tahu. Dan perjalanan pulang ke Madinah dilanjutkan dengan selamat. Aisyah berkata selanjutnya bahwa sesampai di Madinah, beliau ditimpa demam; mungkin karena penatnya dalam perjalanan jauh itu. Khabar berita propokasi itu telah tersiar luas dan merata, namun dia belum juga tahu-menahu bahwa dia telah menjadi buah mulut orang. Dan berita itu pun rupanya telah sampai ke telinga Rasulullah s.a.w. sendiri, bahkan telah sampai kepada ayah­bundanya, Saiyidina Abu Bakar dan isterinya , tetapi tidak seorang jua pun di antara mereka, Rasulullah, Abu Bakar, dan ibunya, yang membayang-bayang-kan hal itu kepada Aisyah.

Cuma fikiran saya menjadi bertanya-tanya melihat sikap lemah-lembutnya menanyakan kepadaku tentang badanku yang sedang kurang sihat itu, sehingga menimbulkan kurang puasku, ada apa. Karena kalau beliau masuk melihatku, sedang ibuku duduk dekatku merawatku, beliau ber­tanya: " Bagaimana keadaanmu ? " Tidak lebih dari itu, beliau pun keluar. Karena melihat sikap beliau yang demikian, timbullah jengkelku. Lalu aku ber­kata kepadanya: "Kalau engkau izinkan, saya hendak pulang saja ke rumah ibu." Beliau menjawab: "Baiklah." Karena telah mendapat izin itu, saya pun pulanglah ke rumah ibuku, dan di sana sampai saya sembuh, setelah menderita demam lebih dari 20 hari.

Aisyah berkata seterusnya: "Kami orang Arab pada masa itu tidaklah mem­punyai tempat buang air dalam rumah, sebagai orang Ajam, kami benci dan jijik dengan dia. Kalau kami hendak buang hajat, kami keluar ke tengah padang malam-malam, terutama kami kaum perempuan. Pada suatu malam, saya pun keluarlah ditemani oleh Mak si Misthah. Tiba-tiba sedang kami melangkah itu, teracung kaki Ummi Misthah, lalu dia menyumpah: "Barang dicelakakan Tuhanlah si Misthah." Saya terkejut mendengar dia menyumpah, lalu saya berkata: "Mengapa disumpahi seorang pejuang yang telah turut dalam pe­perangan Sadar?"

Lalu berkatalah Ummi Misthah: "Tidakkah engkau mendengar khabar hai anak Abu Bakar?" "Khabar apa?" tanyaku pula. Lalu diceritakannyalah berita yang telah tersiar tentang diriku itu."Betulkah demikian?" tanyaku. Ummi Misthah menjawab: "Betul!"

Berkata Aisyah selanjutnya: "Demi mendengar apa yang dikatakan oleh Ummi Misthah itu , demi Allah ( lemah rasanya segala persendianku ), sehingga tidak upaya aku lagi melepaskan hajatku selain aku segera pulang. Demi Allah, aku menangis sehingga rasanya jantungku akan pecah karena tersangat tangis­ku. Lalu aku berkata kepada ibuku: "Tuhan moga-moga memeliharamu, ibuku, sudah demikian kata orang tentang diriku, namun ibu tak menyebut-nyebutnya kepadaku sedikit jua." Ibuku dengan tenangnya menjawab: "Anakku sayang, tenangkan hatimu. Demi Allah, jaranglah perempuan cantik yang mempunyai suami yang amat dicintainya dan mempunyai pula banyak sembayan (madu), yang tidak terlepas dari buah mulut orang, dan aku banyaklah cerita orang atas dirinya."

Dalam keadaan saya demikian itu, rupanya di luar pengetahuan saya juga, Rasulullah telah berdiri di hadapan sahabat-sahabatnya berpidato.

Setelah beliau memuji Allah, beliau berkata:
"Wahai sekalian manusia! Mengapa orang orang telah menyakiti diriku dari hal isteriku? Dia dituduh dengan tuduhan yang tidak-tidak ? Demi Allah, yang aku ketahui tentang ahliku adalah baik belaka. Dan disebut-sebut pula nama seorang laki-laki yang demi Allah dia pun saya kenal seorang yang baik. Dia belum pemah masuk ke daiam rumahku, kecuali bersama aku."

Perkataan Rasulullah itu rupanya diambil berat oleh Abdullah bin Ubay, berhubungan dengan beberapa orang sahabat dari Bani Khazraj. Dan bersamaan pula dengan itu tersangkut pula nama Misthah dan seorang perem­puan bernama Hammah binti Jahasy, ini adalah maduku pula, kata Aisyah selanjutnya, yang penghargaan Rasulullah terhadap dirinya hampir sama juga dengan penghargaannya terhadap diriku. Adapun Zainab sendiri dipelihara Tuhanlah daripada menuduh-nuduh. Perkataannya tentang diriku adalah baik. Tetapi Hammah menyebarkan berita bohong itu, untuk menyakiti hatiku karena benci dan cemburu tersebab saudaranya.

Setelah Rasulullah s.a.w. selesai berpidato itu berkatalah Ussaid bin Hudhair (dari Bani Aus): "Ya Rasulullah, kalau yang menyiarkan berita bohong itu dari kaumku Aus, serahkan sajalah penyelesaiannya kepada kami, niscaya akan kami bereskan. Tetapi kalau dari saudara kami Bani Khazraj, perintahkan­lah kepada kami apa yang diperintahkan Allah. Demi Allah, memang mereka itu pantas dipotong leher belaka." Mendengar ucapan itu, berdirilah Saad bin 'Ubbadah (dari Bani Khazraj), yang selama ini terkenal seorang yang shalih, dia berkata: "Engkau bohong. Demi Allah. Tidaklah engkau sanggup memotong leher mereka. Engkau berkata begitu lantaran engkau tahu bahwa mereka dari Khazraj. Kalau begitu kaummu sendiri, engkau tidak akan bercakap sekeras itu " Usaid menyambut lagi: "Engkaulah yang bohong, demi Allah, bahkan engkau munafik, engkau membela orang-orang yang munafik."

Maka ributlah orang bertengkaran, terutama di antara kedua kaum ini, sehingga nyarislah terjadi hal yang tidak diingini. Maka Rasulullah pun turunlah dari mimbar, dalam pada itu masuklah Ali bin Abu Thalib. Rasulullah memanggil Ali dan Usamah bin Zayid dan mengajak keduanya musyawarah. Adapun Usamah memberikan pujian yang baik terhadapku dan berkata: "Ya Rasulullah, ahli rumah engkau, tidak ada yang kami ketahui tentang dirinya hanyalah yang baik saja." Tetapi Ali menjawab: "Ya Rasulullah, perempuan banyak, tuan sanggup menggantinya dengan yang lain. Mintalah gadis mana yang engkau suka, niscaya dialah yang akan membayar maskawin kepada engkau." Setelah itu Ali minta panggil seorang perempuan nama Burairah untuk ditanya.

Rasulullah memanggil pula Burairah, lalu menanyainya. Lalu Ali berdiri, dipukulnya Burairah seraya berkata dengan kerasnya: "Katakan apa yang se­benamya kepada Rasulullah!" Lalu Burairah menjawab: "Demi Allah, yang saya ketahui adalah baik saja. Cuma celaanku kepada Aisyah hanya satu saja, yaitu bahwa saya menumbuk tepung, saya minta tolong kepadanya menjaga tepung itu, lalu dia tertidur. Datang kambing, lalu dimakannya tepung itu." Aisyah meneruskan cerita lagi: "Kemudian itu masuklah Rasulullah ke rumah, sedang saya tengah duduk dengan kedua orang ayah-bundaku. Waktu itu ada pula tetamu seorang perempuan Anshar, saya tengah menangis dan perempuan itu menangis pula, karena kasihan kepadaku. Lalu Rasulullah duduk, dipujinya Allah dan dimuliakanNya, kemudian beliau berkata: "Hai Aisyah, sudah banyak kata orang tentang dirimu, takwa sajalah kepada Allah. Kalau benar-benar engkau telah berbuat salah sebagai dikatakan orang-orang itu. Taubat sajalah kepada Allah, sesungguhnya Allah menerima taubat hambaNya."

Berkata Aisyah: "Demi Allah, Rasulullah telah berkata demikian pula, sehingga tersenak airmataku, sehingga tak ada perasaanku lagi. Aku tunggu sajalah moga-moga kedua ayah-bundaku dapat menyambut perkataan beliau, namun tidak ada yang menyahut!"
Berkata Aisyah: "Demi Allah, aku merasa diriku ini kecil, sehingga tiadalah kelayakan bagiku akan diturunkan Tuhan al-Quran karenaku, dalam mimpinya itu Tuhan membuktikan bohongnya tuduhan-tuduhan itu, sehingga beliau tahu bahwa aku bersih.

Adapun akan turun al-Quran, belumlah terlintas di anganku, aku adalah merasa sangat kecil buat menerima kehormatan setinggi itu." Kedua ayah-bundaku tidak juga bercakap. Lalu aku tegur: "Jawablah wahai ayah dan bunda perkataan Rasulullah itu." Ayah-bundaku menjawab: "Demi Allah, kami tak tahu apa yang akan kami jawabkan kepada beliau." Demi Allah, seru sekalian alam, belumlah saya mengetahui ada rumahtangga lain yang menderita batin sehebat yang diderita oleh rumahtangga Abu Bakar di hari itu.

Setelah kedua ayah-bundaku ternyata bingung hendak menyambut ucapanku itu, aku menangis kembali, kemudian aku berkata: "Demi Allah, saya tidak akan taubat kepada Allah, selama-lamanya saya tidak akan taubat tentang hal ini. Demi Allah, saya lebih mengetahui, kalau saya mengakui apa yang diperkatakan orang-orang itu. Allah lebih mengetahuinya bahwa saya tidak bersalah. Niscaya saya mengatakan apa yang tidak pernah terjadi. Sebaliknya kalau saya ingkari tuduhan mereka itu, namun ayah-bunda dan suami tidak juga percaya."
Dalam pada itu teringatlah olehku nama Nabi Ya'kub ketika dia kehilangan puteranya Yusuf, lalu aku ulangkan ucapan yang pernah diucapkannya :

"Aku sabar, yang mulia indah, Allah tempatku memohon pertolongan pada yang kamu sifatkan itu."

Demi Allah, tidak lama antaranya, beliau, Rasulullah yang duduk pada tempat duduknya itu, tiba-tiba beliau mulai pingsan, yaitu pingsan yang selalu kejadian alamat Wahyu akan datang, lalu beliau diselimuti dan aku letakkan bantal di kalangan hulu beliau.

Adapun saya sendiri - kata Aisyah - setelah saya lihat hal itu, demi Allah, tidaklah saya merasa gentar dan tidaklah saya merasa cemas, saya yakin bahwa saya bersih dari tuduhan, dan Tuhan tidak akan menganiayaku. Adapun kedua ayah-bundaku, setelah mereka melihat yang demikian itu, kelihatan beliau­beliau pucat seakan-akan nafas beliau akan keluar dari badan, kalau-kalau Wahyu yang akan turun itu membenarkan apa yang dipercakapkan orang selama ini. Sesaat kemudian Rasulullah yang mengalir keringat di dahinya itu berkata: "Gembirakan hatimu Aisyah. Tuhan Allah telah menurunkan kesaksian bahwa engkau suci!" Aku jawab perkataan Rasulullah itu dengan pendek, "Alhamdulillah."

Bukan main gembiranya ayah-bundaku karena datangnya Wahyu itu, lalu bundaku berkata: "Tegaklah Aisyah, ucapkanlah terimakasihmu kepada Rasulullah!" Aku jawab: "Saya tidak akan berdiri untuk itu dan tidak ada yang akan saya puji, melainkan Allah, sebab Allahlah yang menurunkan Wahyu tentang kesucianku."

Setelah itu Rasulullah keluarlah kembali kepada orang banyak, lalu beliau berpidato dan dibacanyalah:

إِنَّ الَّذينَ جاؤُو بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَ الَّذي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذابٌ عَظيمٌ

"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu, adalah golongan kamu juga. Janganlah kamu sangka berita bohong itu membawa akibat buruk bagi kamu, tetapi adalah itu membaikkan. Setiap orang akan mendapat hukuman tersebab dosa yang diperbuatnya, dan bagi yang meng­ambil bagian terbesar (dalam penyebaran berita bohong itu), akan ditimpakan azab siksa yang besar." (ayat 11).

Maka terpeliharalah Aisyah dari tuduhan nista dan rendah itu, dilakukan hukuman dera dengan rotan 80 kali, kepada orang-orang yang tersangkut, termasuk Hasan bin Tsabit dan Hammah sendiri. Adapun Abdullah bin Ubay yang "lempar batu sembunyi tangan", tidaklah diapa-apakan oleh Rasulullah. Barangkali beliau tidak menuntutnya adalah dengan maksud terlebih tinggi, yaitu hukuman batin yang lebih hebat atas dirinya bukanlah karena didera, me­lainkan dengan kebencian orang banyak atas dirinya. Kemana-mana akan di­sorokkannya mukanya. Bahkan seketika beberapa tahun di belakang Abdullah bin Ubay mati, Rasulullah s.a.w. pun masih bersedia menyembahyang­kan jenazahnya, meskipun Saiyidina Umar bin Khathab kurang setuju atas "toleransi" yang terlalu itu. Yang penting rupanya bagi Rasulullah sebagai seorang pembangun ummat bukan kepuasan batin karena dapat membalaskan kesakitan yang ditimpakan Abdullah bin Ubay itu. Yang penting bagi Rasulul­lah ialah menunjukkan kepada Abdullah bin Ubay bahwa segala usahanya betapa pun curang dan nistanya, tidak akan dapat menghambat dan meng­halangi terbit memancarnya matahari Islam.

Seorang perawi Hadits yang masyhur, yaitu Masruq, apabila membawakan Hadis dari Aisyah selalu berkata:

       

"Telah memberitakan kepadaku "shiddiqah anak Shiddiq (si jujur anak si jujur), kecintaan Rasulullah s.a.w. yang dijamin kesuciannya dari langit."

Dengan demikian maka fitnah yang disebarkan itu, yang tadinya disangka akan dapat meruntuhkan dan menumbangkan pohon kemuliaan yang besar, telah bertukar menjadi penolong buat memperteguh uratnya ke bumi.

Dan karena ayat-ayat yang khas diturunkan Tuhan untuk membela ke­sucian dan kehormatan Siti Aisyah ini teringatlah kita suatu kejadian, bahwa seorang Nasrani yang sengaja hendak menghina Nabi kita, telah sengaja mengejekkan Tuhan untuk membela kesucian dan di hadapan seorang Muballigh Islam. Dan mengatakan bahwa Wahyu-wahyu ini hanyalah dibuat-buat saja oleh Muhammad, untuk membela isterinya, karena dia sangat kasih kepada isterinya itu.

Ejekan yang demikian telah dijawab oleh Muballigh Islam tadi demikian: "Dua orang wanita yang suci telah mendapat tuduhan yang sama beratnya oleh musuh-musuh Tuhan. Di sini tersebut Aisyah, padahal ada seorang lagi.

Dan yang seorang lagi itu lebih berat lagi tuduhan orang kepadanya: "Dia dituduh berzina pula mendapat anak dari perhubungan jahat itu." Sedang Aisyah tidak­lah dituduh sampai beranak.
Si Nasrani bertanya: Siapa..... ?
Si Muballigh rnenjawab: "Maryam ibu Isa Almasih. Keduanya sama ter­tuduh, tetapi kedua perempuan suci itu telah sama mendapat pembelaan dari al-Qurari. Al-Quran mempertahankan kesucian Maryam ibu Isa sama dengan mempertahankan Aisyah anak Abu Bakar as-Shiddiq. Wahyu Tuhan memper­tahankan kesucian Maryam itu lebih jelas daripada catatan-catatan yang tertulis dalam kitab-kitab Injil yang tuan pegang. Dan kami orang Islam mempercayai bahwasanya kedua Wahyu pembelaan kesucian itu sama datangnya dari Tuhan dan kami percayai pula keduanya. Maka kalau saudara tidak percaya Wahyu yang diturunkan untuk membela Aisyah, haruslah saudara tidak percaya pula akan Wahyu yang mempertahankan Maryam ibu Isa."

Dalam permulaan ayat sudah ditegaskan bahwa ini adalah ijki, berita bohong, khabar bohong dan dusta yang dibuat-buat. Dengan permulaan ayat ini saja, berita yang ditunggu kesucian Aisyah telah jelas sehingga orang tidak usah menunggu lebih lama lagi. Dan telah diisyaratkan di sini bahwasanya berita bohong ini bukan datang dari orang luar, tetapi dari golongan sendiri "orang dalam". Ada karena dengan maksud tertentu dan ada karena ke­bodohannya. Sebab khabar berita ifki yang sengaja disebarkan untuk membuat kekacauan fikiran, cepat benar merata, laksana api makan lalang. Kadang­kadang orang yang jujur dapat terjebak ke dalam pemfitnahan itu karena pengaruh "bisik-desus" sehingga tidak dapat menimbang. Dalam ayat ini diberikan Tuhan ajaran agar orang yang beriman berfikir tenang.

Dipandang sepintas lalu amatlah buruknya hal ini, tetapi kalau direnungkan lebih men­dalam, ada pula hikmat tertinggi yang membawa kebaikan. Siti Aisyah memang dihormati selama ini, karena suaminya Rasulullah dan ayahnya pem­bantu utama Rasulullah. Tetapi meskipun Nabi dan ayahnya orang-orang yang utama, belum jelas apakah dia orang yang mempunyai peribadi sendiri pula yang menyebabkan dia utama karena keutamaannya sendiri. Berapa banyak orang "turut besar" karena ayahnya orang besar atau suaminya orang besar, padahal dirinya sendiri tidak ada harga apa-apa. Dengan 15 ayat pembelaan yang diturunkan Tuhan kepada Rasulullah membela Aisyah, teranglah bahwa Aisyah besar bukan karena suaminya Nabi dan ayahnya ummat Nabi yang utama saja, dia sendiri pun besar.

Orang-orang yang terbawa-bawa oleh gelombang fitnah, sebagai Hasan bin Tsabit dan Misthah mendapat hukuman menurut undang-undang yang telah ditentukan sebelumnya, yaitu didera 80 kali. Apa boleh buat, hukum mesti berjalan, walaupun Hasan dikenal seorang pujangga, bergelar "Penyair Nabi" yang di saat-saat penting ketika menghadapi musuh, atau menyambut utusan telah mempergunakan keahliannya bersyair, Dan selepas beroleh hukuman itu kedudukannya dalam masyarakat Islam diperbaiki kembali. Pe­kerjaan-pekerjaan penting diserahkan kepadanya. Bahkan setelah Rasulullah wafat, Hasan duduk dalam panitia pengumpul al-Quran.

Di dalam ayat ini disebutkan bahwa yang jadi pemegang peranan besar dalam penyebaran berita bohong itu, atau "biang keladi"nya akan diberikan hukuman yang berat pula. Orang itu ialah Abdullah bin Ubay. Tetapi dalam kenyataan Abdullah bin Ubay tidak dihukum, tidak dirajam. Mengapa demikian?

Kalau orang fikirkan betapa kompak teguhnya masyarakat Islam ketika itu, akan maklumlah orang bahwa tidak dirajamnya Abdullah bin Ubay adalah hukuman yang amat berat baginya. Dia dipandang sebagai "orang lain", dia tidak dipercaya lagi, dia tidak dibawa sehilir semudik lagi, sehingga lantaran dia tidak dihukum, padahal Rasulullah mempunyai cukup wibawa buat meng­hukumnya, adalah satu pukulan batin yang amat besar baginya.

Hanya orang Mu'min yang mengenal rahasia ini.

لَوْلا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَ الْمُؤْمِناتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْراً وَ قالُوا هذا إِفْكٌ مُبين

"Alangkah baiknya setelah mendengar berita itu, berbaik sangka laki-laki yang beriman, dan perempuan yang beriman kepada diri mereka, dan mereka langsung berkota: "Ini adaloh bohong yang songat nyata." (ayat 12).

Dalam ayat ini diberikan tuntunan hidup bagi orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan agar mereka berbaik sangka kepada saudaranya Mu'min. Bahkan hendaklah orang-orang yang beriman itu memandang saudaranya sebagai dirinya sendiri. Buruk sangka kepada sesama Islam, apalagi sesama mu'min tidak mungkin kejadian dalam masyarakat Islam. Baik sangka adalah salah satu akibat daripada iman. Dan teman harus dipandang sebagai diri sendiri.

Mengapa sampai dikatakan bahwa saudaramu itu adalah dirimu? Tafsir ini jika dimasukkan dalam rangka Ilmu Jiwa adalah dalam sekali. Jika terdengar tuduhan buruk kepada seseorang, terutama seseorang sebagai Siti Aisyah itu, hanya orang yang tidak beriman saja yang akan timbul goncang hatinya karena pengaruh khabar itu. Adapun orang yang beriman tidak segera menerimanya, spontan serta-merta dia akari menolak. Dikaji terlebih dahulu peribadi Aisyah sendiri, perempuan muda yang selama ini jujur belum cacat namanya, ghafilat dan muhshanat, bersuami seorang manusia besar, Muhammad s.a.w. dan anak seorang pejuang Islam yang besar, Abu Bakar, yang sejak Islam dipancangkan di muka bumi ini, dialah orang pertama yang tegak berdiri di samping Nabi.

Ibu Aisyah sendiri pun tidak ada terkenal cacat namanya sejak zaman jahiliyah sampai ke zaman Islam. Orang mungkin dapat berbuat dosa kecil (shagaair) karena insan terjadi dari air dan tanah, tetapi orang yang beriman, akan sengaja berbuat dosa besar (kabaair), yaitu zina, maka jiwa seorang Mu'min serta-merta akan menolak berita itu. Karena hal itu diukurnya dengan dirinya sendiri pula.

Bandingkanlah hal ini dengan tuduhan yang ditimpakan orang kepada Maryam Albatul, Ibu Nabi Isa `alaihis-salam. Tiba-tiba dia sudah beranak saja padahal dia masih dara, maka orang-orang yang melihat kenyataan itu, karena imannya masih mengakui kesucian Maryam berkata, sebagai yang diterangkan Tuhan dalam Surat Maryam ayat 28.
"Hai saudara perempuan . Harun, kami mengenal ayahmu tidaklah seorang jahat dan ibumu pun tidaklah seorang perempuan yang dikenal buruk."
Adakah engkau orang beriman? Kalau engkau jawab: "Ada!", maka tidak mungkin engkau berfikir lain. Engkau akan menjawab: "Khabar itu bohong."

Untuk menjadi perbandingan hendak kita kisahkan satu kisah yang ter­hadap pada penulis Tafsir ini sendiri. Pada tahun 1952 dia melawat ke Amerika selama 4 bulan. Di satu kota besar, kalau tak salah San Fransisco bertemulah seorang kawan lama yang sama datang dari Indonesia. Kawan itu berkata sambil bergurau: "Sudah pernahkah saudara selama di Amerika pelesir dengan wanita Amerika?" Dia menjawab: "Belum pernah dan tidak pernah, Insya Allah!" Kawan itu berkata lagi: "Ah bohong. Saya tidak percaya." lalu dia men­jawab: "Kalau saudara tidak mau percaya, apakah yang akan saya katakan lagi."

Niscaya kawan itu tidak juga akan percaya, selama dia masih mengukur orang lain dengan dirinya. Dan kalau dia menjadi seorang Mu'min, dia pun akan percaya jawaban itu, sebab dia pun mengukur dengan dirinya.

Satu kisah lain pula. Seorang pemuda naik Haji ke Makkah, lalu pulang dan berjumpa pula dengan Penulis Tafsir ini. Dengan sedikit sikap sombong dia berkata: "Sekarang saya sudah tahu, di Makkah pun ada perempuan lacur."
Lalu Penulis Tafsir ini menjawab: "Satu keganjilan, Saudara naik Haji ke Makkah, di sana Saudara bertemu dengan perempuan lacur. Saya sudah ke negeri Belanda, ke Amerika, ke Australia dan ke Paris, namun saya tak bertemu perempuan lacur."

Orang yang tidak beriman percaya kepada berita yang pertama, dan orang yang beriman percaya kepada berita yang dibawakan oleh yang kedua itu. Sebab masing-masing orang mengukur orang lain dengan dirinya.
Oleh sebab itu maka salah satu prinsip pendirian Islam ialah:

"

Hendaklah berbaik sangka terhadap sesama Islam. "

لَوْلا جاؤُو عَلَيْهِ بِأَرْبَعَةِ شُهَداءَ فَإِذْ لَمْ يَأْتُوا بِالشُّهَداءِ فَأُولئِكَ عِنْدَ اللهِ هُمُ الْكاذِبُون"

Mengapa dalam hal ini mereka tidak mengemukakan empat orang saksi? Kalau mereka tidak mengemukakan saksi-saksi itu maka di sisi Allah adalah mereka pembohong belaka." (ayat 13).

Di sini nampaklah bahwa tidak boleh murah-murah menjatuhkan tuduhan: Tuduhan yang tidak beralasan hanyalah membawa kekacauan dan fitnah. Mu'min sejati tidaklah sudi menjadi tukang fitnah.

Di sisi Allah adalah mereka pembohong belaka. Tetapi di sisi si munafik, bohong itulah yang mereka benarkan dan yang benar, itulah yang mereka bohongkan. Sekarang engkau hendak menuruti pendirian Allah atau menuruti pendirian orang-orang munafik?

وَلَوْلا فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَتُهُ فِي الدُّنْيا وَ الْآخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فيما أَفَضْتُمْ فيهِ عَذابٌ عَظيمٌ
 

"Dan kalau tidaklah anugerah Tuhan dan rahmatNya kepada kamu di dunia dan di akhirat niscaya azab siksa besarlah yang akan ditimpakan Tuhan kepadamu karena penyebaran berita bohong itu." (ayat 14).

Dapatlah dirasakan sendiri di dalam zaman moden ini apa intisari ayat ini. Dalam satu masyarakat yang teratur, keamanan dan ketenteraman umum wajib dijaga. Dan di samping itu kehormatan Kepala Negara wajib pula dipelihara clan dibela. Adalah suatu dosa besar, suatu perbuatan yang amat merusak apa­bila maruah Rasulullah, Nabi dan Rasul, Pahlawan dan Pemimpin, pembentuk Agama dan masyarakat Agama, diganggu ketenteramannya dengan membuat tuduhan demikian rendah terhadap kepada isterinya.

Adalah suatu perbuatan yang sangat rendah dan mengacau ketenteraman umum jika kehormatan diri seorang pejuang besar, Abu Bakar, dijadikan permainan mulut dengan mem­perkatakan buruk bagi anak perempuannya yang dengan penuh rasa cinta dan hormat telah diserahkannya menjadi isteri Rasulullah. Adalah suatu dosa besar menuduh buruk kepada perempuan suci, dan lebih besar lagi dosa itu jika di­hadapkan kepada isteri Nabi dan anak pejuang besar Islam. Tetapi kurnia Tuhan masih ada, rahmatNya masih meliputi alam, sebab itu baru pengalaman pertama. Dan dengan Wahyu-wahyu yang demikian keras. dapatlah menjadi pengajaran buat seterusnya.

Bagi kita di zaman moden hal ini pun menjadi perbandingan pula. Kita menegakkan demokrasi , kebebasan menyatakan perasaan dan fikiran. Tetapi demokrasi yang menjamin keselamatan dunia adalah demokrasi yang timbul dari budi luhur. Hasad, dengki, benci dan dendam yang ada dalam batin yang kotor, bisa juga memakai alasan "demokrasi" untuk melepaskan hawanafsu bencinya menyinggung kehormatan seseorang. Maka penguasa pun berhak membungkem demokrasi yang diartikan dengan salah itu.

إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَ تَقُولُونَ بِأَفْواهِكُمْ ما لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَ تَحْسَبُونَهُ هَيِّناً وَ هُوَ عِنْدَ
اللهِ عَظيم

"Seketika kamu sambut berita itu dengan lidahmu, don kamu katakan dengan mulutmu, perkara yang sebenamya tidak kamu ke:ahui duduknya, dan kamu sangka bahwa itu perkara kecil, padahal di sisi Allah dia perkara besar." (ayat 15).

Ayat ini mengandung bahan yang amat kaya untuk mengetahui apa yang dinamai "Ilmu Jiwa Masyarakat" atau "Mass Psychologie", Tukang propokasi menyebarkan khabar-khabar bohong, di zaman perang dahulu dinamai "Radio Dengkul". Tidak tentu dari mana pangkalnya dan apa ujungnya.

Disambut dengan lidah saja, sambut-menyambut, lidah ke lidah, dan diberi nafas buat "menceknya" kata orang sekarang. Kadang-kadang timbullah kebingungan dan panik. Orang-orang yang hendak dirugikan dengan menyebarkan berita itu kadang-kadang tidak diberi kesempatan berfikir, sehingga dia sendiri pun kadang-kadang jadi ragu akan kebenaran pendiriannya. Orang-orang yang lemah jiwa, yang hidupnya tidak mempunyai pegangan mudah terjebak kepada propokasi yang dernikian.

Tetapi orang-orang yang masih sadar, karena teguh persandarannya kepada Tuhan, hanya sebentar dapat dibingung­kan oleh berita itu. Di sini nampaklah kebesaran peribadi Aisyah. Dia yakin bahwa dia tidak salah. Demi seketika ayat turun membersihkannya dari tuduhan yang nista itu, ibunya menyuruhnya berdiri untuk mengucapkan terimakasih kepada Nabi, namun dia tidak berkocak. Dia berkata dengan tegas: "Tidak, anakanda tidak hendak berdiri mengucapkan terimakasih kepada Rasulullah, tetapi anakanda hendak menyampaikan puji-puja langsung kepada Allah, sebab Allahlah yang membersihkan anakanda dari tuduhan."

Memanglah dia berhak mendapat julukan "Ummul Mu'minin", ibu dari sekalian orang yang percaya. Adapun si lemah yang tidak berpendirian, bisalah diombang-ambingkan oleh berita itu, menjadi keinginan yang amat buruk, bila bertemu satu sama lain, mempercakapkan keburukan orang lain. Karena tabiat (instink) ingin tahu pada manusia, ingin pula mengemukakan berita ganjil, sehingga menjadi "rahasia umum". Disangka perkara mudah, padahal perkara besar.

Sesudah itu maka di ayat berikut (ayat 16) sekali lagi Tuhan memberikan pedoman hidup bagi orang beriman.

وَلَوْلا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ ما يَكُونُ لَنا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهذا سُبْحانَكَ هذا بُهْتانٌ عَظيم

"Mengapa ketika kamu menerima berita itu tidak kamu katakan saja: "Tiada sepatutnya bagi kami akan turut memperkatakan hal itu. Amat Suci Engkau Tuhan, ini adalah suatu kebohongan besar." (ayat 16)

Tidak sepatutnya bagi kami, artinya bagi orang yang beriman terbawa rendong ke dalam kancah kerendahan budi. Hidup Muslimin mempunyai pegangan teguh, mempunyai apa yang di zaman moden disebut "kode" dan "etik".

Orang yang heriman, lidahnya berbicara dengan penuh tanggungjawab. Dia mempunyai kepercayaan bahwa pendengaran, penglihatan dan hati sanu­bari, semuanya akan bertanggungjawab di hadapan Tuhan. Semua perbuatan dan perkataannya tercatat oleh kedua Malaikat, Raqib dan 'Atid.

Memang berat menegakkan budi dalam dunia ini dan berat beban menjadi orang Islam. Pagar budi, membatasi kita jangan berlaku curang dalam hidup. Jika si munafik, tidak ada yang mengontrolnya buat membikin hasutan dan fitnahan, namun kita dijaga dan dipelihara oleh ayat-ayat Tuhan agar jangan berbuat begitu.

Abraham Lincoln, meninggalkan pesan kata hikmat yang dalam: "Suatu kedustaan bisa laku dalam satu masa untuk satu golongan. Tetapi satu ke­bohongan tidak bisa laku untuk segala masa dan untuk segala golongan." Kemudian itu Tuhan bersabda:

يَعِظُكُمُ اللهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَداً إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنينَ

"Tuhan memberi pengajaran bagi kamu, supaya jangan mengulangi lagi perbuatan seperti itu buat selama-selamanya. Kalau betul kamu mengakui ber­iman. " (ayat 17).

Cukuplah hal yang sekali ini buat menjadi pengalaman bagi kamu. Jangan­lah terulang lagi yang kedua kali dan yang seterusnya. Karena perbuatan begini tidak mungkin timbul dari orang yang beriman, kalau tidak karena bodoh clan tololnya. Orang yang beriman tidaklah akan telap oleh propokasi. Penyiar khabar nista tidak mungkin orang yang beriman. Penyiar khabar dusta sudah pasti orang yang munafik atau busuk hati, karena maksud yang tertentu, dan yang sanggup menerimanya hanyalah orang yang goyang imannya.

Kamu senantiasa wajib waspada, karena kesatuan imanmu tidak mungkin dirusakkan dari luar, tetapi hendak diruntuhkan dari dalam. Kaum munafikin tidak senang hati melihat gemilang jaya Nabi Muhammad dengan perjuangannya: Segala persekongkolan hendak menentang Nabi telah mereka coba. Semuanya gagal. Jalan satu-satunya buat melepaskan sakit hati ialah mengganggu perasaannya , menuduh isterinya berbuat serong. Sekarang ayat-ayat ini adalah Kurnia ilahi dan RahmatNya, cara kasarnya ialah bahwa "Tuhan turun tangan" membersih­kan nama Aisyah.

Lalu Tuhan bersabda selanjutnya:

وَ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمُ الْآياتِ وَ اللهُ عَليمٌ حَكيمٌ

"Dan telah dijelaskan oleh Tuhan ayat-ayatNya kepada kamu! Dan Tuhan Allah adalah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana." (ayat 18).

Tersimpullah sudah apa yang telah disabdakan Tuhan di permulaan Wahyu, bahwa hal ini meskipun ditimbulkan "musuh dalam selimut" dengan maksud buruk, akibatnya adalah baik. Nama Aisyah bersih, suci gemilang, yang bahkan Aisyah sendiri pun tadinya tidak menyangka akan mendapat kehormatan dari Tuhan sebesar itu, sampai dia berkata yang artinya: "Belumlah tarafnya hamba mendapat kehormatan setinggi itu."

Dan seterusnya pun Aisyah menjadi peribadi yang besar, sehingga di atas haribaannyalah beberapa tahun di belakang itu. Rasulullah s.a.w. meng­hembuskan nafasnya yang penghabisan, meninggalkan dunia yang fana ini. Di dalam bilik kediamannyalah Nabi dan kedua sahabat pembelanya, Abu Bakar dan Urnar dikuburkan. Dan sebelum Urnar dikuburkan di bilik itu Aisyah yang masih tetap berdiam di dekat kubur suami dan ayahnya kerapkali dengan kutang sehelai saja di dalamnya, karena tidak ada orang lain.

Tetapi setelah Urnar bin Khathab luka ditikam orang, dan merasa dirinya akan mati, mengirim puteranya Abdullah bin Umar, kepada Aisyah memohon diizinkan berkubur di dekat kedua sahabatnya, di unjuran saja pun jadi. Sampai beliau berpesan kepada Abdullah bin Umar: "Jika Aisyah izinkan, senanglah hatiku berkubur di sana, di dekat kedua orang kekasihku. Tetapi jika dia tidak berkenan, hantar­kan aku ke Padang Baqi'."

Aisyah memberi izin.

Dan setelah Umar berkubur di sana, sampai Aisyah meninggal pula 65 tahun kemudian, didindingnya baik-baik di antara pusara itu dengan bangku tidumya, dan jika dia masuk ke pusara itu, dipakainya pakaian yang lengkap, ditutupnya rambutnya rapat-rapat.

Radhiallahu `anha wa ardhaaha..


01  02  03  04  05  06   07   08   09  10  11 12  13  14  15     Main Page .... >>>>