Make your own free website on Tripod.com
                                                       
 
                                                 Tafsir Suroh An-Nuur ayat 62 - 64         

                                                                   


 إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذينَ آمَنُوا بِاللهِ وَ رَسُولِهِ وَ إِذا كانُوا مَعَهُ عَلى‏ أَمْرٍ جامِعٍ لَمْ يَذْهَبُوا حَتَّى يَسْتَأْذِنُوهُ إِنَّ الَّذينَ يَسْتَأْذِنُونَكَ أُولئِكَ الَّذينَ يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَ رَسُولِهِ فَإِذَا اسْتَأْذَنُوكَ لِبَعْضِ شَأْنِهِمْ فَأْذَنْ لِمَنْ شِئْتَ مِنْهُمْ وَ اسْتَغْفِرْ لَهُمُ اللهَ إِنَّ اللهَ غَفُورٌ رَحيمٌ
(62) Sesungguhnya orang yang sebenamya beriman ialah yang percaya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan bilamana mereka ber­sama beliau menghadapi suatu urusan umum, tidaklah mereka, pergi saja sebelum memohon izinnya. Sesungguhnya orang­orang yang memohon izin ke­pada engkau, itulah orang yang sebenamya beriman kepada Allah dan Rasul. Maka apabila mereka memohonkan izin ke­pada engkau karena keperluan­ keperluan mereka, berikanlah izin kepada siapa yang engkau kehendaki di antara rriereka, dan mohonkanlah ampun untuk me­reka kepada Allah. Sesungguh nya Tuhan Allah Maha Peng­ampun dan Pemurah.


لا تَجْعَلُوا دُعاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضاً قَدْ يَعْلَمُ اللهُ الَّذينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِواذاً فَلْيَحْذَرِ الَّذينَ يُخالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصيبَهُمْ عَذابٌ أَليمٌ
(63) Janganlah kamu memanggil Rasul sebagai panggilan sesama kamu saja. Sesungguhnya Tuhan mengetahui orang yang keluar bersembunyi-sembunyi di antara kamu sambil diam-diam. Maka hendaklah orang-orang yang melanggar ketentuan Rasul itu awas menjaga supaya jangan ditimpakan Tuhan kepada me­reka ujian ataupun ditimpa mereka oleh azab siksa yang pedih.


أَلا إِنَّ لِلَّهِ ما فِي السَّماواتِ وَ الْأَرْضِ قَدْ يَعْلَمُ ما أَنْتُمْ عَلَيْهِ وَ يَوْمَ يُرْجَعُونَ إِلَيْهِ فَيُنَبِّئُهُمْ بِما عَمِلُوا وَ اللهُ بِكُلِّ شَيْ‏ءٍ عَليمٌ
(64) Ketahuilah hahwa sesungguhnua dalam kekuasaan Allahlah apa yang ada di sekalian langit dan apa yang ada di bumi. Dia Maha Mengetahui apa yang ada pada­mu. Dan dia pun Mengetahui bila harinya akan dikembalikan kepadaNya. Pada waktu itu akan diberitahukanlah kepadamu apa sebenarnya yang telah kamu kerjakan. Dan sesungguhnya Tuhan Allah adalah Maha Mengetahui akan segala sesuatu­nya.

Disiplin Kepada Rasul

Sejak dari pangkal surat sudah dijelaskan bentuk masyarakat yang di­kehendaki Islam, baik sejak dari rumah tangga , ataupun sampai berdirinya masyarakat besar, yaitu masyarakat ummat. Setiap diri peribadi sudah diisi dengan iman dan persatuan, keyakinan dan pelaksanaan. Dan jalan lurus itu selalu wajib terpimpin. Yang memimpinnya adalah Nabi Muhammad saw. sendiri. Bertindak sendiri di luar kehendak pimpinan dalam menuju Sabil Allah itu tidaklah mungkin. Ummat rnesti bersatu padu di liawah satu komando. Komando Rasul.

Dan sebagai pemimpin besar Nabi Muhammad saw. telah memegang kendalinya dengan penuh tanggungjawab. Dia yang melangkah di muka, dia yang memberikan contoh dan teladan. Tidak ada seorang Nabi pun yang demikian sangat lengkap dicatat orang riwayat hidupnya, lalu tingkahnya setiap hari , sikapnya di waktu perang dan damai, dalarn rumah tangga dan dalam jemaah bersama, selengkap apa yang telah dicatat pada diri Nabi Muhammad s.a.w. kesabarannya seketika di Makkah , keteguhannya menghadapi tugas, seketika tiba di Madinah.

Turutnya memimpin langsung peperangan-peperangan (Ghuzwah), telah membuktikari bahwa beliau memang mempunyai peribadi yang amat besar. Kalau hendak mengukur siapa peribadi Muhammad, pelajarilah sejarah orang-orang besar yang timbul di kiri kanannya.

Tidak ada seorang Nabi dikelilingi oleh orang besar dahsyat sebesar sedahsyat orang-orang yang berdiri di kiri kanan Nabi Muhammad s.a.w. Sejarah Abu Bakar as-Shiddiq yang mengurbankan segenap hidup buat mem­bela keyakinan yang diajarkan Nabi, sejarah Umar bin Khathab yang telah dapat menundukkan kerajaan Romawi dan Persia, tetapi tidak pernah mern­punyai istana.

Sejarah Usman bin Affan dengan kemurahan hatinya. Sejarah Ali bin Abu Thalib yang teguh memegang pendirian. Sejarah Khalid bin Walid yang menjadi "Pedang Allah" dan memancangkan bendera Islam di benteng Damaskus dan Palestina.

Sejarah Sa'ad bin Abu Waqqash yang menundukkan Rustum dan meruntuhk,n Madain Sejarah 'Amr bin al -Ash yang menunduk­kan Mesir, sungai Nil dan Iskandariyah. Sejarah Mu'awiyah yang mendirikan kerajaan Bani Umaiyah. Pelajari itu semuanya, betapa hebat mereka itu. Namun mereka semuanya itu duduk, laksana nyamuk-nyamuk kecil apabila berhadapan dengan peribadi Rasul s.a.w. Namun semuanya itu berebut me­nampung sisa air wudhu'nya. Namun semuanya itu duduk berhadapan dengan beliau laksana di atas kepala mereka hinggap seekor burung.

Musuh-musuh besarnya pun demikian. Tidak ada yang berani berhadapan dengan beliau buat rnenentang matanya. Abu Jahal penentang besarnya di Makkah, ketika didatangi seorang sama seorang oleh Nabi ke rumahnya , karena membela nasib orang Badwi yang dikicuh beli untanya oleh Abu Jahal, gemetar tubuhnya. Dilihatnya seekor unta besar berdiri di belakang Nabi hendak menerkamnya.

Abdullah bin Ubay kepala munafik di Madinah, sukanya hanya berbicara di belakang. Kalau Nabi kelihatan datang, dia segera pergi. Pengecut.

Da'tsur mencoba mengambil pedang beliau dan hendak membunuh beliau menjawab pertanyaan "siapa yang melindungimu ya Muhammad, jika engkau aku tikam dengan pedang ini?" Beliau menjawab: "ALLAH", gemetar tubuh Da'tsur, keluar keringat dinginnya dan lemah-lunglai seluruh anggota tubuhnya.

Itulah pemimpin sejati kita, wahai seluruh umat yang beriman !

Peribadi yang demikian besar dan agung wajiblah ditaati, supaya roh kita selamat dalam dunia dan untuk akhirat. Supaya kehendak ilahi lancar , di samping takut kepada peribadinya yang besar itu, dengan disiplin dan ketaatan pun wajib dilakukan.

Maka di dalam ayat 62 dan 63 ini dijelaskan disiplin terhadap pimpinan Rasul. yang berlaku pada sahabat-sahabat beliau di kala beliau hidup dan ber­laku terus untuk seluruh ummatnva setelah beliau wafat, sehingga kebesaran agama itu tetap terpelihara

Di antara ayat 62 diterangkan bahwasanya tanda iman kepada Allah dan Rasul. ialah jika kaum Muslimin bersama Rasulullah sedang berkumpul meng­hadapi suatu urusan besar ataupun kecil, sekali-kali tidak seorang jua pun dibolehkan meninggalkan majlis sebelum memohon izin kepada beliau Orang yang memohonkan izin kepada beliau, dan baru pergi setelah beroleh izin, dalam ayat ini ditegaskan, itulah orang yang sebenarnya beriman, kepada Allah dan Rasul.

Apa sebab? Pekerjaan yang dihadapi bersama itu mengikat segala anggota masyarakat ummat di dalamnya. Pada waktu itu kepentingan diri sendiri tidak ada lagi. yang ada hanyalah urusan bersama dan Rasul sebagai pusat pim­pinan. Itulah intisari disiplin ketentaraan (militant) yang diajarkan oleh Islam. Bercalih-calih, berciluh-ciluh, mengelakkan diri tidak ada dalam pekerjaan ber­sama. Suatu perjuangan kalah atau menangnya, ditentukan oleh kebijaksanaan pimpinan dan kepatuhan yang dipimpin. Disuruh pergi, ditegah berhenti-Kalau ada yang bercalih, bersorak mari-rnari, tetapi bekerja tidak mau, itulah alamat munafik. Kalau ada yang munafik, pertahanan diancam kebocoran.

Menurut riwayat dari lbnu Ishaq, ayat ini turun ialah seketika terjadi peperangan Khandaq yang terkenal, seketika kota Madinah hendak diserang oleh sekutu orang Quraisy dan Persatuan Arab dan mendapat persetujuan pula dari Yahudi Bani Quraizhah- Menurut nasihat dari Salman al-Farisi, hendaklah dibuat parit yang dalam di sekitar kota Madinah sebelah barat, yang akan di­masuki oleh musuh itu .

Maka bekerjalah orang siang malam menggali parit itu, bergotong-royong bersama-sama. Rasulullah sendiri pun turut menggali parit tersebut sampai selesai , sedang parit digali siang dan malam, beberapa orang yang imannya tidak teguh kepada Allah dan Rasul, pulang saja ke rumahnya seenaknya, dengan tidak meminta izin terlebih dahulu daripada Rasulullah s.a.w. Kelakuan yang demikian sangatlah merusakkan semangat orang yang bekerja dengan sungguh-sungguh .

Maka datanglah ayat ini menjadi teguran kepada orang yang Mu'min, bahwasanya keluar saja dari satu pekerjaan umum di luar izin adalah alamat kurang iman. Dan di dalam ayat ini diterangkan pula,

"kalau mereka rneminta izin kepadamu-karena beberapa keperluan mereka, beri izinlah siapa yang hendak engkau beri izin di antara mereka-"
Artinya bahwasanya per­timbangan memberi izin atau tidak memberi izin adalah sepenuhnya di tangan Rasulullah sendiri,

"dan mohonkanlah ampun kepada Allah untuk mereka."
Artinya, meskipun mereka telah diberi izin, namun meninggalkan pekerjaan bersama itu tetaplah tidak terlepas juga daripada tanggung jawab moral yang tidak enteng. Mereka hanya dibeti ampun karena ada kepentingan yang amat mendesak.

Kemudian datanglah ayat 63, menerangkan bahwa menyeru nama Rasul tidaklah serupa dengan menyerukan nama di antara kita sama kita. Sedangkan Tuhan Allah sendiri belum pemah menyebut namanya "Ya Muhammad', hanya dengan memanggil pangkat tugasnya: "Y'a Nabiyu" Wahai Nabi.
"Ya Ayyuhar Rasulu". Wahai Utusan Tuhan. Atau kata sindiran "Wahai yang ber­selimut" (Ya Ayuhhai Muzammil) Atau "Ya Ayyuhal Muddatsir" (Wahai orang yang berselubung).

Cara Tuhan memperlakukan NabiNya dengan menghormatinya secara demikian, adalah suri teladan bagi kita sebagai ummatnva. Dan kalau hendak meninggalkan majlisnya sebelum selesai pekerjaan, memohon izinlah dengan terus-terang, jangan mengeluyur saja keluar seorang demi seorang dengan diam diam, sehingga di akhir pekerjaan dilihat kawan sudah hilang satu hilang dua saja, tak diketahui he mana perginya.

Maka diperingatkanlah bahwasanya sikap-sikap yang demikian, baik ber­sikap kurang hormat kepada nama beliau seketika memanggilnya, ataupun meninggalkan majlisnya dengan tidak memohonkan izinnya terlebih dahuiu adalah perbuatan yang sangat salah, yang tidak layak dilakukan oleh orang yang beriman. Perbuatan demikian adalah kelakuan orang yang masih kurang matang imannya, bahkan sebagai tanda alamat dari orang yang munafik. Orang yang demikian haruslah ingat bahwa perbuatannya yang salah akan ber­bahaya juga akhir kelaknya, akan ada-ada saja bahaya dan fitnah yang akan menimpa dirinya atau merusakkan masyarakat bersama, karena ada yang tidak setia. Bahkan terancam oleh azab siksa Ilahi yang lebih besar.

Sekarang timbullah pertanyaan: Apakah keadaan yang seperti ini masih berlaku buat kita ummat Muhammad yang datang di belakang beliau ini? Pada­hal kita tidak hadir lagi d~ilam majlis beliau?

Janganlah berfikir begitu, tetapi ingatlah bahwa syahadat kita "Tidak ada Tuhan selain Allah", belurnlah cukup sebelum diiringi dengan "Muhammad adalah Utusan Allah". Kita tidak dapat menyelenggarakan apa yang diperintah oleh Tuhan, di luar daripada tuntunan yang diberikan oleh Nabi. Sedangkan seorang nelayan dengan juaran kailnya, tidaklah mau meletakkan juaran kail itu pada tempat yarig sembarangan saja, karena dengan itu dia mencari rezeki­nya, apatah lagi di antara kita sebagai ummat Islam dengan Nabi junjungan kita. Meskipun kita tidak hadir lagi dalam majlisnya, namun kita tidak lepas dari tuntunannya. Dia sebagai insan telah meninggal, tetapi ajarannya tetap hidup dalam hati kita. Bertambah besar pengaruh peribadi Muhammad atas diri kita, bertambah bersinarlah iman dalam hati kita.

Tentu kita dapat mengerjakan sesuatu yang. tidak mengurangi hormat kita kepada beliau setelah beliau wafat , sebagaimana orang yang hidup di se­kelilingnya dapat mengerjakan seketika beliau hidup.
Misalnya jika dibaca orang suatu Firman sabda beliau, kita dengarkan baik­-baik. Sebagai Iman Malik r.a. Setiap akan mengajarkan Hadits Rasulullah dia dalam mesjid beliau di Madinah, dipakainya bajunya yang bersih dan dia ber­wudhu' lebih dahulu. Dan bila disebut namanya jangan dilupakan mengucapkan "Shallallahu 'alaihi wasallama". Kita menghormati memuliakannya di dalam batas Tauhid. Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hambaNya dan UtusanNya.

Salah seorang pelopor Tafsir Moden Sayid Rasyid Ridha kurang senang atas kebiasaan penafsir-penafsir lama yang selalu menafsirkan ayat-ayat yang dimulai dengan QUL, ditafsirkan: "Katakan olehmu hai Muhammad!" Karena Tuhan tidak berkata begitu.

Dalam rangka ini timbullah "khilafiyah" di kalangan Ulama tentang shalawat kepada Nabi s.a.w, Seketika orang bertanya kepada Rasulullah saw. bagaimanakah mestinya kami mengucapkan shalawat kepada Engkau ya Rasulullah? Beliau menjawab: "Ucapkanlah Allahumma shaili `ala Muhamma­din wa 'ala ali Muhammad" (tidak memakai saiyidina).

Setengah ulama ber­faham bahwa tidaklah akan mungkin Nabi menyuruhkan orang bersaiyidina" kepada dirinya. Oleh sebab itu tidaklah akan terhitung bid`ah jika kita tambah kan Saiyidina, dari sebab ijtihad kita bersandar kepada ayat-ayat yang me­merintahkan menghormatinya.

Di zaman sebagai zaman kita sekarang ini , kerapkali cinta kita kepada Nabi diganggu dengan sikap-sikap yang tidak sopan. Baik kaum Komunis yang membenci segala macam keyakinan agama,ataupun pemeluk agama lain yang sengaja hendak mengganggu perasaan kita , kerapkali terjadi penghinaan mereka kepada peribadi Nabi Muhammad saw. Kalau sekiranya mereka me­nyerang peribadi Nabi dengan dasar "ilmiah", niscaya sebagai Muslim wajiblah kita bersedia menangkis serangan itu dengan ilmiah pula. Tetapi satu-satu kali timbullah sikap yang amat tidak sopan , kadang-kadang sampai kepada derajat "kurang ajar".

Dalam saat yang demikian ilmiah yang mendalam tidak ada faedahnya lagi. Pada saat yang demikian kita wajib menunjukkan cinta kepada Nabi dengan sikap yang jelas. Karena kadang-kadang pertahanan saja tidaklah dapat untuk mencapai kemenangan. Pertahanan wajib diikuti oleh semangat menyerang juga, ataupun memberikan ganjaran yang setimpal kepada orang yang kurang ajar itu.

Kita akan dituduh fanatik, karena orang hendak menyembunyikan ke­fanatikannya sendiri. Fanatik kita kepada Nabi lantaran cinta, jauh Iebih baik daripada fanatik musuh Islam karena bencinya !

Sebagai contah hendak kita kemukakan "Kisah Nyata" yang pernah terjadi sebelum perang di Karachi (sebelum menjadi negara Pakistan). Terjadi di saat orang merayakan Yubileum George V, Raja Inggaris.

Seorang penulis Hindu dari Aria Samaj mengarang sebuah buku yang isi­nya menghina Islam dan menghina Nabi Muhammad saw. Dia menulis dengan segenap nafsu kebencian. Segala tuduhan yang buruk-buruk ditimpa kan kepada diri Nabi. Kaum Muslimin seluruh India menjadi ribut setelah buku itu tersiar. Protes kepada penguasa inggeris timbul dari mana-mana, sehingga si penulis terpaksa ditahan dalam penjara menunggu perkaranya dibuka dan menunggu bukunya dicabut dan peredaran.
Dalam hari yang ditentukan dia akan dihadapkan kepada pengadilan. Dia sendiri bersedia dihadapkan ke muka pengadilan dan merninta supaya ulama­ ulama Islam India yang terkemuka pun dihadirkan dalam majlis itu, sebab dia berani bertentangan berdebat mempertahankan bukunya , Khabar berita itu sangatlah menekan perasaan penduduk India di batas sebelah utara, di antara Pakistan dan Afghanistan sekarang ini.

Daerah yang terkenal keras semangat Islamnya dan membuat susah Inggeris berpuluh tahun lamanya, karena mereka tidak mau mengakui per­tuanan Inggers atas daerahnya yang bebas merdeka itu. Di sana ada seorang pemuda, masih berusia 20 tahunan, baru empat bulan saja kawin , Meskipun dia sedang hidup berkasih-kasihan dengan isterinya sebagai pengantin baru , berita penghinaan kepada Nabi s.a.w, itu sangatlah meng­goncangkan perasaannya, sehingga isterinya menjadi heran melihat mukanya tidak pernah bergirang lagi dan apabila dihidangkan rnakanan tidak lagi disentuhnya.

Namanya Abdul Qayum.
Dengan diam-diam dia hilang dan kampung halamannya. Dia pergi menuju kota Karachi, karena hendak turut hadir mendengarkan soal-jawab di antara hakim Inggeris dengan orang yang menghina Nabi Muhammad itu.

Tidak ditemuinya keluarga dan orang senegerinya di Karachi. Dia hanya tidur di mesjid-mesjid kecil menumpang-numpang. Dia menunggu bilakah sidang perkara orang yang menghina Nabi Muhammad dan menghina Islam itu akan dibuka. Dengan diam-diam dia telah membeli sebuah pisau belati besar, yang dengan sekali pukul bisa menghabiskan nyawa orang yang kena tikam. Pisau itu diasahnya baik-baik.

Di mana-mana dia mendengar orang berbicara menyatakan kemarahan karena Nabi dihina. Di mana-mana orang menunggu-­nunggu bila perkara itu akan dibuka. Setengah orang berkata bahwa hakim Inggeris niscaya akan menjatuhkan keputusan yang enteng saja atas perkara itu. Abdul Qayum diam saja mendengar cerita orang.

Hari persidangan pun datang. Banyak orang Islam berkerumun ke muka Mahkamah. Beberapa orang ulama dihadirkan untuk bersoal-jawab dengan pesakitan. Si pesakitan mulai ditanyai oleh hakim. Kian ditanya kian dia me­nyombongkan diri. Seakan-akan dia lupa bahwa daerah Sind itu adalah daerah mayoritas ummat Islam Dia terus menentang.

Tiba-tiba masuklah Abdul Qayum dengan langkah yang tetap dan tenang ke dalam majlis itu. Dia hanya berselimut saja dengan kain tebal, sebagai ke­biasaan penduduk daerah perbatasan utara yang dingin itu. Tidak ada orang yang curiga, dan penjaga mahkamah pun rupanya lalai memeriksa orang yang masuk.

Dia maju ke muka, dibakanya selimutnya, sedang hakim tengah menanya­kan beberapa keterangan kepada pesakitan, dan pesakitan menjawab dengan angkuhnya.
Abdul Qayum mendekat juga ke meja Mahkamah. Dibukanya penutup badannya, lalu dikeluarkannyalah pisau belatinya itu, sambil berkata kepada hakim:
"Orang yang kurang ajar kepada Nabinya ummat Islam ini bukanlah dengan tanya dan jawab demikian harus diselesaikan. Menyelesaikannya hanyalah dengan ini!"
Lalu disentaknya pisau belatinya, ditancapkannya ke punggung pesakitan itu, ditekannya kuat-kuat sampai tembus ke bagian muka dan ditariknya ke bawah. "Begini...!" katanya dengan tenang.

Sernua anggota mahkamah terkejut, si pesakitan teiah tersungkur me­regang badan, lalu mati, darah berbuih, ususnya terburai. Ketua mahkamah hendak lari keluar. Ulama-ulama yang hadir terbingung-bingung. Lalu dengan tenangnva Abdul Qayum berkata: "Paduka tuan Hakim tidak perlu lari. Saya tidak gila, dan saya tidak akan berbuat kepada tuan seperti itu, kalau tuan tidak menghina Nabi kami seperti dia pula .

Barulah polisi-polisi penjaga sadar akan dirinya. Mereka pun mendekati Abdul Qayum dan kebetulan polisi-polisi ada yang orang Islam. Abdul Qayum berkata dengan tenangnya: "Janganlah tergesa dan gugup menangkap saya, saya tidak akan lari. Tugas saya membela Nabi saya sudah selesai, inilah saya, tangkaplah dan tahanlah, dan inilah pisau belati itu."

Abdul Qayum dimasukkan ke dalam tahanan, wajahnya jernih berseri selama ditahan. Satu mahkamah lagi bersidang dan Abdul Qayum dihukum mati. Kaum Muslimin memprotes, tetapi tidak diperdulikan. Hukuman dijalan­kan juga dengan diam-diam. Abdul Qayum digantung, tengah malam. Pagi­-pagi ummat Islam mencari di mana mayatnya dikuburkan , lalu dibongkar dan dengan satu demonstrasi besar dikuburkan , diiringkan oleh beratus ribu kaum Muslimin.

Polisi keamanan kepunyaan penjajah dikerahkan buat membubar­kan orang yang mengantar jenazah itu sampai terjadi pertempuran di tengah jalan. 200 kaurn Islam jadi kurban dan polisi pun ada yang jadi kurban.

Kaum Muslimin memaklumkan Hartal seluruh India , toko-toko ditutup , pakaian berkabung keluar. Padahal saat itu bertepatan dengan Yubelium duduknya Raja George V di singgasana inggeris. Segala lampu dipadamkan orang dan tidak ada seorang Islam pun yang keluar rumah. Sedang orang Hindu pun tidak pula meramaikan Yubelium itu, karena mereka pun sedang menentang politik Inggeris.

Akhimya kaum Muslimin India sepakat memberikan gelar "At-Ghazali" kepada Abdul Qayum. Maka disebutlah dia setelah syahidnya "Al-Ghazali Abdul Qayum" .

Kitasalinkan kisah nyata ini, bukanlah dengan maksud supaya ummat Islam Indonesia mengacau keamanan. Maksud kita hanya menyerukan kepada pemeluk Agama lain atau kaum yang mengejek agama supaya dapat menjaga ketenteraman kita bernegara dengan tidak mengadakan sikap dan tingkah laku yang dapat menimbulkan cara yang diambil oieh Al-Ghazali Abdul Qayum itu. Apatah lagi ada satu Hadits yang berbunyi:"Berbahagialah ummatku yang dapat melihat wajahku dan cinta kepada­ku. Dan berbahagialah tujuh kali orang yang tidak rnelihat wajahku, tetapi tidak kurang cintanya kepadaku. Dia pun akan bertemu dengan daku di hari kiamat. "

Hadits seperti ini kadang-kadang sangat berkesan ke dalam jiwanya ummat Islam, yang bagi orang yang bukan Islam tidak dapat difahamkan, kecuali dengan menuduh fanatik.

Akhimya ditutuplah Surat an-Nur ini dengan ayat:
"Ketahuilah, bahwasanya di dalam kekuasaan Allahlah apa yang ada disekalian langit dan apa yang ada di bumi. Dia mengetahui apa yang ada padamu. Dia pun mengetahuinya bila harinya kamu akan dikembalikan kepadaNya. Pada waktu itu akan diberitahukan kepadamu apa yang sebenar­nya telah kamu kerjakan. Dan sesungguhnya Tuhan Allah Maha Mengetahui akan segala sesuatunya."

Artinya, setelah dengan panjang lebar Tuhan memberikan tuntunan dia dalam mendirikan masyarakat Islam dan rumahtangga Islam, sampai kepada hubungan Iman dengan Disiplin, sampai kepada hal yang berkecil-kecil. Muslimin dibawa kembali naik kepada arena yang lebih besar, yang meliputi langit dan bumi. Kehidupan insani tidaklah terlepas daripada kesatuan dengan alam sekelilingnya. Tuhan menunjukkan kuasa dan tadbimya pada langit dan bumi. Ke mana saja pun mata melihat; selalu terlihat tadbir yang sempuma. Sebagai insan kita diberi akal dan disuruh mempelajari kekuasaan Tuhan yang terbentang pada langit dan bumi itu.

Tidak sebuah pun yang dijadikan dengan sia-sia, tidak sebuah jua pun yang terjadi dengan kebetulan. Bertambah luas penyelidikan bertambah dekat rasa diri kepada Allah Maha Pencipta itu. Kuasa-Nya meliputi segenap yang ada. Maka meskipun insan adalah makhluk kecil, tetapi dengan keinsafannya dia dapat merasai bahwa dalam dirinya ada sesuatu yang besar. Dan alam adalah manusia besar, dan insan adalah alam kecil. Apa­bila kita renungi kuasa ilahi atas langit dan bumi berdalam-dalam, akhimya kita pun akan sampai kepada pertanyaan: "Siapa saya ini sebetulnya?"

Ayat 64 ini terus menuruti lekuk-lekok fikiran kita, "Tuhan mengetahui betapa keadaanmu." Akhimya Tuhanlahyang menentukan bilakah harikita akan dikembalikan ke hadhiratNya, untuk dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan apa yang telah kita amalkan selama hidup yang terbatas, mengisi tugas sebagai manusia yang tidak terbatas. Dan di penutup Tuhan memberitahukan bahwasanya bukan saja langit dan bum, bukan saja Insan dalam perihidupnya, bukan saja perhitungan hari bila kita akan dipanggil kembali, bahkan segala sesuatunya pun. Yah segala sesuatu adalah di dalam pengetahuan Ilahi.
Bertambah kita mendekati Tuhan dengan cara yang diajarkan Nabi saw. bertambah tersimbahlah cahaya itu dalarn batin kita. Dosa dan hawa nafsu kita, itulah yang kerapkali mengotori cermin tempat kita melihat bayangan muka kita. Sebab itu maka Surat ini dinamai Surat an-Nur, Surat Cahaya.

Yakni cahaya ilahi yang kita rasai menyinan seluruh alam ini, dan dengan beransur karena taat dan patuh, cahaya itu pun menyelinap dan menyinar ke dalam hati kita untuk kelak mengirim lagi sinar itu keluar.

Dengan cahaya itulah kita rela menghadapi hidup. Dengan cahaya itu pula kita rela rnenghadapi maut. Bahkan bila telah masuk cahaya ini sedalam ­dalamnya ke rongga rohani kita, batas yang kita sangka amat memisahkan di antara hayat dengan maut, tidaklah akan terasa lagi. Sebab bilamana hubungan kita dengan Ilahi telah dipatrikan oleh asyik dan cinta, maut itu sendiri pun lezat rasanya, karena cinta. Sebagai disebut dalam pepatah kaum Shufi: Almautu niatul hubbiss shadiq" (Mati adalah tanda bukti cinta yang sejati).


01  02  03  04  05  06   07   08  09  10  11 12  13  14  15     Main Page .... >>>>