Make your own free website on Tripod.com
                                                       
 
                                                           TAFSIR AYAT 51 - 56

                                                                         


وَ إِذْ وَاعَدْنَا مُوْسَى أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِن بَعْدِهِ وَ أَنتُمْ ظَالِمُوْنَ

(51) Dan (ingatlah) tatkala Kami janjikan kepada Musa empat puluh malam, kemudian kamu ambil anak lembu sepeninggal­nya; dan adalah kamu orang­ orang yang aniaya.


ثُمَّ عَفَوْنَا عَنكُمِ مِّنْ بَعْدِ ذَلِكَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

(52) Kemudian telah Kami beri maaf kamu sesudah itu, supaya kamu bersyukur.


وَ إِذْ آتَيْنَا مُوْسَى الْكِتَابَ وَ الْفُرْقَانَ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ

(53) Dan (ingatlah) seketika Kami datangkan kepada Musa akan Kitab itu dan Pemisahan; supaya kamu beroleh petunjuk.



وَ إِذْ قَالَ مُوْسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوْبُوْا إِلَى بَارِئِكُمْ فَاقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ عِنْدَ بَارِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

(54) Dan (ingatlah) seketika berkata Musa kepada kaumnya Wahai kaumku ! Sesungguh nya kamu telah menganiaya diri kamu (sendiri) dengan kamu mengambil anak lembu itu; maka taubatlah kamu kepada Maha Penciptamu, dan bunuhlah diri kamu. Itulah yang lebih balk buat kamu pada sisi Maha Penciptamu, niscaya akan diberiNya taubat atas kamu; sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Penyayang.


وَ إِذْ قُلْتُمْ يَا مُوْسَى لَن نُّؤْمِنَ لَكَ حَتَّى نَرَى اللهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ وَأَنتُمْ تَنظُرُوْنَ

(55) Dan (ingatlah) tatkala kamu berkata kepada Musa : Hai Musa ! Tidaklah kami mau percaYa kepada engkau, sehingga kami lihat Allah itu dengan terang ! Maka ditimpalah kamu oleh gempa, dan kamupun melihat sendiri.


ثُمَّ بَعَثْنَاكُم مِّنْ بَعْدِ مَوْتِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

(56) Kemudian Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur.



وَ إِذْ وَاعَدْنَا مُوْسَى أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِن بَعْدِهِ وَ أَنتُمْ ظَالِمُوْنَ
"Dan (ingatlah) tatkala Kami janjikan kepada Musa empatpuluh malam, kemudian kamu ambil anak lembu sepeninggalnya; dan adalah kamu orang­orang yang aniaya. " (ayat 51)

Ingatlah tatkala telah selamat kamu diseberangkan, dilepaskan dari penindasan dan kehinaan, Tuhan Allah telah memanggil Musa a.s. menghadap Allah, atau bersunyi diri mernbuat hubungan jiwa dengan Allah, di lembah Thuwa di pegunungan Thur ! Sebab apabila kamu telah selamat diseberangkan, kehendak Tuhan ialah supaya kamu diberi pimpinan.

Sebab kemerdekaan saja belumlah cukup. Yang lebih penting ialah, apakah yang harus kamu kerjakan sesudah merdeka. Mana jalan yang akan kamu tempuh, apa peraturan yang wajib kamu pakai. Sebab itu Tuhan memanggil Musa a. s. menghadap, empat puluh hari lamanya; supaya diterimanya perintah-perintah Tuhan untuk keselamatan kamu.

Dan disuruhnya kamu menunggu dia pulang kembali dengan sabar, dibawah pimpinan Harun. Tetapi apa yang telah kamu perbuat setelah Musa a.s. pergi ? Kamu telah berbuat suatu perbuatan yang sangat jahat; kamu ambil perhiasan emas perempuan-perempuan kamu, lalu kamu lebur menjadi sebuah patung anak lembu, kamu sembah itu dan kamu katakan bahwa itulah Tuhan !

Alangkah jahatnya perbuatanmu itu, hai Bani Israil 1 Padahal kamu telah dibebaskan dari kehinaan, karena Fir'aun itu sendiri menganggap dirinya jadi Tuhan. Dan kamu berbuat kejahatan besar itu belum lama sesudah Kami bebaskan. Menunjukkan bahwa kamu tidak juga mengerti guna apa kamu dibebaskan.

ثُمَّ عَفَوْنَا عَنكُمِ مِّنْ بَعْدِ ذَلِكَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
"Kemudian telah Kami beri maaf kamu sesudah itu, supaya kamu bersyukur. " (ayat 52).

Kamu diberi maaf sesudah berbuat kesalahan besar itu, bukan pula karena kamu umat yang istimewa atau suku pilihan Allah, melainkan karena kebodohan kamu, belum Allah hendak menghancurkan kamu seluruhnya. Karena kejadian itu ialah sebelum Musa a. s. pulang membawa Hukum Taurat dan syariat untuk kamu. Supaya kamu bersyukur kepada Tuhan, sebab kepadamu masih diberikan kesempatan buat memperbaiki diri.

Dengan peringatan-peringatan begini, patutlah insaf Bani Israil yang kena peringatan di jaman Rasulullah itu bahwa memang sejak bermula mereka telah keras kepala, sombong tetapi bodoh, tinggi hati tetapi goblok.

وَ إِذْ آتَيْنَا مُوْسَى الْكِتَابَ وَ الْفُرْقَانَ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ
"Dan (ingatlah) seketika Kami datangkan kepada Musa akan kitab itu dan Pemisahan; supaya kamu beroleh petunjuk . " (ayat 53).

Ingatlah olehmu hai Bani Israil, bahwa setelah Nabi Musa as. menghadap Tuhan 40 hari lamanya, diapun pulang kembali kepadamu. Dia telah membawa kitab itu, yaitu Kitab Taurat disertai dengan al- Furqan, ialah peraturan-peraturan dan beberapa perundangan yang harus kamu jalankan, sampai kepada peraturan puasa, kurban dan sebagainya. Gunanya ialah untuk pimpinan bagi kamu, dan petunjuk yang wajib kamu jalankan. Al-Furqan yang berarti pemisahan, juga menjadi nama dari a1-Qur'an. Juga menjadi nama dari akal. Sebab dia pemisah di antara yang hak dengan yang batil.

Menurut keterangan Mujahid, yang diriwayatkan oleh Abd bin Humaid clan Ibnu Jarir, al-Furqan ialah keempat kumpulan Kitab Suci : Taurat, Zabur, Injil, dan al-Quran.

وَ إِذْ قَالَ مُوْسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ
"Dan (ingatlah) seketika berkata Musa kepada kaumnya: Wahai kaumku! Sesungguhnya kamu telah menganiaya diri kamu (sendiri) dengan kamu mengambil anak lembu itu. " (pangkal ayat 54) menjadi Tuhan. Kamu telah diberi maaf, karena mungkin kamu belum mengerti benar­ benar perbedaan agama kita yang diturunkan Tuhan dengan paham­paham yang dianut oleh orang Mesir dengan Fir'aunnya itu, sehingga kamu sangka bahwa Tuhan Allah kita serupa juga dengan berhala yang disembah kaum Fir'aun.

Kamu lihat orang Mesir menyembah berhala anak lembu yang bernama Apis; lalu itu hendak kamu tiru pula. Sekarang aku telah datang membawa Kitab dan Pemisahan, ajaran pokok dasar dan ajaran peraturan hidup sehari-hari. Dan kamu telah paham siapa Dia Tuhan kita yang sebenarnya. Setelah kamu paham akan hakikat pegangan dan anutan kita, niscaya mengertilah kamu bahwa kamu yang memuja berhala anak lembu itu telah bersalah besar.

Dan kalau telah insaf bahwa bersalah, niscaya tidak ada lain jalan melainkan bertaubat; mintalah ampun kepada Allah. Dan oleh karena kamu sendiripun telah mengerti bahwa kesalahanmu ini sangat besar, maka taubatnyapun bukan sembarang taubat.

Taubatnya ialah dengan membunuh dirimu sendiri. Siapa yang merasa bersalah, turut campur membuat berhala anak lembu, dan menyembahnya menjadikan Tuhan, hendaklah dia bersedia membunuh dirinya sendiri. Dengan demikian barulah benar taubatmu.

فَتُوْبُوْا إِلَى بَارِئِكُمْ فَاقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ عِنْدَ بَارِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ
"Maka taubatlah kamu kepada Maha Penciptamu, dan bunuhlah diri kamu. Itulah yang lebih baik buat kamu pada sisi Maha Penciptamu, niscaya akan diberiNya taubat atas kamu. "

Kalau hanya taubat-taubatan begitu saja, kamu anggap ringanlah perkara ini. Kamu telah dibebaskan dari Mesir karena kita tidak suka penyembahan berhala, padahal setelah keluar dari Mesir kamu membuat berhala. Obat buat membersihkan ini tidak lain hanya taubat dengan mencabut nyawa sendiri. Hidup karena ini tidak berguna lagi. Kalau sudah begitu barulah taubat kamu benar-benar taubat:

إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
"Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, lagi Penyayang. " (ujung ayat 54).

Memang beginilah pimpinan yang harus diberikan Musa a. s. pada waktu itu. Agar menjadi i'tibar buat selanjutnya. Kesalahan yang lain mungkin akan banyak timbul, namun kesalahan mempersekutukan yang lain dengan Allah, tidaklah habis dengan minta maaf saja. Tuhanpun telah memberi maaf, sebagai tersebut pada ayat 52 tadi. Tetapi kalau maaf Allah itu diterima demikian saja, umat itu akan lupa lagi.

Dengan begini barulah sepadan pemaaf Allah dengan taubat nashuha hambaNya. Di dalam kitab Taurat yang ada sekarang (keluaran pasal 32, ayat 28) bahwa yang membunuh diri karena taubat itu adalah sebanyak 3.000 orang. Di dalam Tafsir al-Qur'an di antaranya dalam Tafsir Jalalain, dikatakan 70.000 orang sedang aI­Qur'an sendiri tidaklah menyebut berapa jumlah itu sebab yang penting bukan jumlah orang yang mati melainkan betapa hebat dan kerasnya pimpinan Musa a. s. dalam melakukan taubat.

Keterangan yang lebih luas tentang mereka menyembah berhala anak lembu itu adalah dalarn Surat al-A'raf dan Surat Thaha, yang keduanya telah terlebih dahulu diturunkan di Mekkah. Dalam susunan ayat-ayat Surat al-Baqarah sekarang ini, hanya sebagai mengingatkan hal itu kepada Bani Israil.

Taubat dengan mernbunuh diri dalam syariat Musa a. s. ini adalah berlaku sebagai hukuman. Dengan demikian bukan berarti bahwa seseorang yang merasa dirinya bersalah besar, dibolehkan membunuh dirinya dengan kehendak sendiri. Terutama dalam syariat Muhammad s.a.w .

Di jaman dahulu kita kenal hakim-hakim Yunani memutuskan hukuman atas diri Socrates, dengan perintah minuman racun. dan di dalam cerita-cerita Yunani dan Romawi kuno, kita dapati catatan bahwa raja-raja menghukum orang besarnya yang bersalah dengan diperintahkan membunuh diri sendiri, meminum racun atau memotong urat nadinya dengan pisau saja sehingga darahnya habis.

Pada pendapat saya, dijaman kita sekarangpun kalau hakim memutuskan hukuman bunuh bagi seseorang lalu orang itu diperintah membunuh dirinya sendiri, sebagai pelaksanaan hukuman, tidaklah orang itu berdosa karena membunuh diri. Yang berdosa ialah membunuh diri sendiri di luar keputusan hukum. Karena itu namanya menjadi hakim sendiri.
Menurut riwayat Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas, berkata dia bahwa Musa a. s. memerintahkan kaumnya itu, sebagai pelaksanaan perintah Allah, agar mereka membunuh diri. Maka menekurlah segala orang yang menyembah Ijil itu dengan bertekuk lutut. Lalu datanglah mana yang tidak turut menyembah membawa pedangnya masing-masing, menikam, menyembelih dan membacok. Lalu turunlah suasana yang gelap gulita, di waktu itulah berlaku penyembelihan besar-besaran itu.

Menurut riwayat Ibnu A.bi Hatim dari Ali bin Abu Thalib, kata beliau, kaum itu bertanya kepada Nabi Musa a.s. : "Bagaimana caranya kami taubat ? " Nabi Musa a. s. menjawab : "Yang setengah kamu, yaitu yang tidak bersalah, membunuh yang bersalah. "Maka mereka ambillah pisau-pisau, lalu saudara membunuh saudaranya, ayahnya dan anaknya, sehingga matilah sampai 70.000 orang dengan tidak ambil pusing lagi siapa yang terbunuh. Setelah itu datanglah wahyu kepada Nabi Musa a.s. menyuruh berhenti, sebab kewajiban itu telah selesai, yang bersalah telah mati, dan yang tinggal sudah diberi taubat.

Berdasar kepada riwayat yang dua ini, lebih jelas lagi bahwasanya bunuhlah diri-diri kamu berarti bapak membunuh anak, anak membunuh bapak, saudara rnembunuh saudara. Artinya sama dengan membunuh diri sendiri, sebab yang dibunuh itu ialah dirimu juga, belahan diri, satu darah dan satu turunan.

وَ إِذْ قُلْتُمْ يَا مُوْسَى لَن نُّؤْمِنَ لَكَ حَتَّى نَرَى اللهَ جَهْرَةً
"Dan (ingatlah) tatkala kamu berkata kepada Musa: Wahai Musa! Tidaklah kami mau percaya kepada engkau, sehingga kami lihat Allah itu dengan terang. " (pangkal ayat 55).

Ingatlah hai Bani Israil, bahwa setelah nenek-moyang kamu itu membuat berhala anak lembu sampai disuruh taubat dengan membunuh diri, janganlah kamu sangka bahwa mereka telah berhenti hingga itu saja. Patutlah hal itu menjadi peringatan bagi yang lain. Tetapi tidak! Kesalahan yang lain berulang lagi; ada pula yang berani berkata kepada Nabi Musa a.s., tidak beberapa lama sesudah itu, bahwa mereka belum hendak percaya kepada apa yang diperintahkan oleh Musa a. s., sebelum Musa a.s. memperlihatkan Allah itu terang-terang kepada mereka.

Apakah lantaran mereka tidak juga percaya bahwa Allah Ta'ala itu ada ? Mereka telah percaya, tetapi kepada Musa lah mereka tidak mau percaya kalau Musa a.s. tidak mau mempertemukan mereka pula dengan Allah, sebagaimana Musa a.s. sendiri telah bertemu.

Mengapa Musa a.s. dan Harun a.s. saja yang boleh bertemu dengan Allah dan bercakap dengan Allah terang-terangan ? Bukankah nikmat Allah itu harus rata ? Semua kita ini keturunan Israil, dari Ishak a.s. dan dari Ibrahim a.s.; mengapa maka Musa a.s. dan Harun a.s. saja harus lebih ? Kamipun berhak sebagai keturunan Ibrahim a. s., Ishak a. s. dan Ya'qub a.s. untuk melihat Allah terang-terangan.

Perkataan ini mereka nyatakan lagi setelah Nabi Harun a.s. meninggal dan hanya tinggal Nabi Musa a.s. menghadapi mereka. Akhirnya tentu kamu masih ingat, hai Bani Israil bahwa moyang moyangmu yang berani berkata demikian mendapat hukum setimpal dari Allah:

فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ وَأَنتُمْ تَنظُرُوْنَ
"Maka ditimpalah kamu oleh gempa, dan kamupun melihat sendiri. " (ujung ayat 55).

Di dalam kitab mereka (Kitab Bilangan, Pasal 16) disebutkan, bahwa setelah mereka mengucapkan kata demikian, murka Allah turun, bumipun belah, maka tenggelamlah orang-orang yang ingin melihat Allah itu ke dalam belahan bumi itu, dan menyalalah api dari sudut yang lain, nyala api itu menjilat kemah dan banyaklah pula yang mati terbakar. Yang lain, yang tidak turut dalam gerak yang jahat itu menyaksikan sendiri segala kejadian itu.

ثُمَّ بَعَثْنَاكُم مِّنْ بَعْدِ مَوْتِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
"Kemudian Kami bangkitkan kamu sesudah mati, supaya kamu bersyukur. " (ayat ,56).

Ada riwayat setengah ahli tafsir bahwa orang-orang mati dihantam gempa atau nyala api yang timbul dari dalam bumi itu dihidupkan kembali; maka bersyukurlah mereka, lantaran mereka dihidupkan kembali. Ada lagi tafsir mengatakan, bahwa mereka mati betul-betul, tetapi sudah hampir mau mati, mungkin karena kontak listrik yang timbul dari bumi yang menimbulkan gempa dahsyat itu. Maka setelah gempa berhenti, merekapun berangsur dibangunkan, dan bersyukur kepada Tuhan mereka dihidupkan untuk bertaubat kembali.
Dalam Surat al-A'raf ( Surat 17, ayat 142), terkisah bahwa setelah Nabi Musa a. s. pingsan.

وَ خَرَّ مُوسى‏ صَعِقاً
"Tersungkurlah Musa dalam keadaan pingsan. " (al-A'raf 143)

Di ayat itu tertulis Sha'iqan, Musa pingsan. Di ayat yang tengah kita tafsirkan ini, orang-orang yang ingin hendak melihat Tuhan dengan terang itupun kena Sha'iqan, jadi pingsan. Jadi setengah mati. Berdasar kepada pengertian itu - kata ahli tafsir itu - teranglah bahwa mereka bukan terus mati. Setelah hilang geseran listrik dari sebab gempa itu, merekapun siuman bangun kembali.

Dan ada lagi tafsir bahwa yang mati karena ditimpa gempa itu telah terus mati. Mereka musnah. Dan kebanyakan ialah orang-orang yang telah berumur.

Banyak orang mati seketika membunuh diri sebagai taubat karena menyembah berhala anak lembu, dan banyak pula yang mati karena dihancurkan gempa karena meminta hendak melihat Allah itu, sehingga terancamlah mereka dengan kemusnahan. Tetapi Bani Israil dihidupkan kembali, tidak sampai musnah, karena anak-cucu mereka berkembang. Angkatan baru menggantikan angkatan yang lama, untuk melanjutkan hidup mereka sebagai kaum. Dengan sebab demikian, patutlah mereka bersyukur kepada Allah.

Yang tua-tua telah habis. Ada mati sampai umur, ada mati karena azab Tuhan, tetapi kehidupan diteruskan oleh anak-cucu, sehingga di jaman Nabi Muhammad mereka masih ada, sebagai Bani Israil. Mereka ini patutlah bersyukur kepada Tuhan, sebab dapat melanjutkan hidup nenek-moyang mereka. Itu pula sebabnya maka mereka semua dipanggil dengan nama yang mulia, nama yang tetap hidup sampai kepada anak-cucu mereka: "Hai Bani Israil !"

Itulah maksudnya, kata setengah ahli tafsir itu, bahwa mereka dihidupkan kembali sesudah mati.
 


01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21  22  23 24 25 26 27 28 29  To Main Menu