Make your own free website on Tripod.com
                                                       
 
                                        Tafsir Suroh Al-Baqarah ayat 119 - 123         

                                                                   


 إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَ نَذِيْرًا وَلاَ تُسْأَلُ عَنْ أَصْحَابِ الْجَحِيْم
(119)
Sesungguhnya telah Kami utus engkau dengan kebenaran, pembawa berita gembira dan peringatan ancaman. Dan tidaklah engkau akan ditanya dari hal ahli-ahli neraka.


وَ لَنْ تَرْضَى عَنكَ الْيَهُوْدُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللهِ هُوَ الْهُدَى وَ لَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِيْ جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيْر
(120)
Dan sekali-kali tidaklah ridha terhadap engkau orang-orang Yahudi dan Nasrani itu, sehingga engkau mengikut agama mereka. Katakanlah : Sesungguhnya petunjuk Allah, itulah dia yang petunjuk. Dan sesungguhnya jika engkau turuti kemauan-kemauan mereka itu, sesudah datang kepada engkau pengetahuan, tidaklah ada bagi engkau selain Allah akan pelindung dan tidak pula akan penolong.


اَلَّذِيْنَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُوْنَهُ حَقَّ تِلاَوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُوْنَ بِهِ وَ مَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُوْنَ
(121)
Orang-orang yang Kami datangkan kepada mereka akan Kitab, yang mereka baca dengan sebenar-benar bacaan , itulah orang-orang yang akan percaya kepadanya. Dan barang-siapa yang tidak mau percaya ke­padanya, itulah orang-orang yang merugi.


يَا بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ اذْكُرُوْا نِعْمَتِيَ الَّتِيْ أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّيْ فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِيْنَ
(122)
Wahai Bani Israil ! Ingatlah olehmu akan nikmatKu yang telah Aku nikmatkan kepada kamu, dan bahwasanya telah Aku muliakan kamu atas bangsa bangsa.


وَ اتَّقُوْا يَوْمًا لاَّ تَجْزِيْ نَفْسٌ عَنْ نَّفْسٍ شَيْئًا وَلاَ يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلاَ تَنْفَعُهَا شَفَاعَةٌ وَلاَ هُمْ يُنْصَرُ
(123)
Dan takutlah kamu akan hal yang tidak akan dapat melepaskan satu diri daripada diri yang lain sesuatupun, dan tidak diterima daripadanya penebusan, clan tidak ber­manfaat padanya satu syafaatpun dan tidaklah mereka akan ditolong.



إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ
"Sesungguhnya telah Kami utus engkau dengan kebenaran. " (pangkal ayat 119).
Kebenaran ialah sesuatu yang dapat dipertanggungjawabkan oleh akal yang sehat, yang tidak akan dapat ditumbangkan oleh kisaran angin zaman, yang menolak akan segala yang salah, menentang yang bobrok, agak-agak dan angan-angan , per- dongeng-dongeng yang tidak berdasar. Kebenaran ialah yang menimbulkan thuma'ninah, yaitu ketenteraman di dalam batin orang yang menganutnya, dan menghilangkan keraguan. Kebenaran pada kepercayaan (i'tikad) tentang keesaan Allah, dan kebenaran tentang syariat dan peraturan yang disampaikanNya. Dengan itulah NabiMuhammad s.a.w diutus Tuhan kedunia ini.

بَشِيْرًا
"Pembawa berita gembira ",
untuk barangsiapa yang menerima kebenaran itu. Berita yang menggembirakan hati mereka, baik di dunia atau kelak di akhi- rat karena tempat yang bahagia yang disediakan untuk mereka

وَ نَذِيْرًا
"dan peringatan ancaman"
bagi barangsiapa yang tak sudi menerima kebenaran itu, ialah ancaman bahwa hidupnya di dunia akan sengsara dan di akhi- rat akan dihinakan dengan azab. Maka lantaran itulah tugas engkau, wahai utusanku yang membawa kebenaran , memberi - kan berita gembira bagi yang taat dan ancaman siksa bagi yang menolak, teguhlah engkau pada tugasmu itu dan bekerjalah terus, jangan berhenti:

وَلاَ تُسْأَلُ عَنْ أَصْحَابِ الْجَحِيْم
"Dan tidaklah engkau akan ditanya dari hal ahli-ahli neraka." (ujung ayat 119).
Artinya sebagai penghubung untuk Rasul supaya pekerjaan beliau diteruskan. Yaitu menyampaikan kebenaran, menggembirakan yang taat dan menyampaikan berita pahit bagi yang menolak. Pekerjaan engkau ini memang berat dan banyak orang yang akan menentang nya, maka janganlah engkau ambil pusing segala tingkah­laku mereka. Tidaklah engkau yang akan ditanya tentang perangai orang-orang ahli neraka itu.

Hal yang demikian sudahlah hal yang biasa bagi seorang Rasul. Karena seorang Rasul adalah seorang Mahaguru, bukan seorang pemaksa. Tunjukkan kepada mereka mudharat dan manfaat, tunjukkan kepada mereka betapa bahagianya jika mereka patuhi dan betapa bencana jika mereka masih saja berkeras kepala. Yang akan beroleh bahaya bukan orang lain, melainkan diri mereka juga. Sabda Tuhan selanjutnya:

وَ لَنْ تَرْضَى عَنكَ الْيَهُوْدُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
`Dan sekali-kali tidaklah ridha terhadap engkau orung yahudi dan Nasrani itu, sehingga engkau mengikuti agama mereka. "(pangkal ayat 120).

Untuk mengetahui latar belakang sabda Tuhan ini, hendaklah kita ketahui bahwasanya sebelum Rasulullah s.a.w diutus dalam kalangan bangsa Arab , adalah seluruh bangsa Arab itu dipandang Ummi atau orang-orang yang bodoh, tidak beragama , penyembah berhala. Kecerdasannya dianggap rendah .

Sedang orang Yahudi dan Nasrani yang berdiam di sekitar bangsa Arab itu memandang , barulah Arab itu akan tinggi kecerdasannya, kalau mereka suka memeluk agama Yahudi atau agama Nasrani.Sekarang Nabi Muhammad s.a.w diutus Tuhan membawa ajaran Tuhan mencegah menyembah berhala , percaya kepada Kitab-kitab dan Rasul-rasul yang terdahulu, baik Musa a.s. dan Harun a.s. atau Isa Al-Masih. Lantaran Nabi s.a.w tidak menyebut-nyebut agama Yahudi atau Nasrani, melainkan menunjukkan pula cacat-cacat yang telah terdapat dalam kedua agama itu , jengkellah hati mereka .

Mereka ingin hendaknya Nabi Muhammad itu mempropagandakan agama mereka. Yahudi rnenghendaki Nabi Muhammad s.a.w. itu jadi Yahudi, dan Nasrani menghendakinya jadi Nasrani. Setelah itu Tuhan memberikan tuntunan kepada RasulNya :

قُلْ إِنَّ هُدَى اللهِ هُوَ الْهُدَى
"Katakanlah: Sesungguhnya petunjuk Allah itulah dia yang petunjuk."
Dengan inilah keinginan mereka agar Rasul mengikuti agama mereka telah dijawab. Bahwasanya yang menjadi pedoman di dalam hidup, dan yang diserukan oleh Muhammad s.a.w kepada seluruh umat manusia ialah petunjuk Allah. Petunjuk Allahlah yang sejati petunjuk. Adapun petunjuk manusia, khayal dan teori manusia bukanlah petunjuk.

Dengan ini marilah berikan nilainya kepada Yahudi Nasrani itu, adakah keduanya itu petunjuk Allah ? Tuhan telah mengutus Musa dan Harun dan mengutus Isa al-Masih, dan kemudian disambung oleh Muhammad.

Cobalah perhatikan, apakah segala sesuatu yang menjadi anutan Yahudi dan Nasrani sekarang ini masih berdasar kepada petunjuk Allah yang sejati ? Atau telah dicampuri oleh tangan manusia ? Dengan inipun lebih jelas, bahwa Muhammad s.a.w datang membawa petunjuk Allah. Kalau Yahudi dan Nasrani masih berpegang kepada petunjuk Allah yang asli , bahwa Nabi-nabi yang diutus kepada mereka, dengan sendirinya akan timbullah persesuaian. Dan sabda Tuhan seterusnya:

وَ لَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ
"Dan sesungguhnya jika engkau turuti kemauan-kemauan mereka itu. "
Dengan lanjutan ayat ini, telah diingatkan Tuhan kemauan-kemauan mereka, yang ditulis Ahwaa-ahum. Dan kalimat hawa, atau hawa-nafsu, atau sentimen yang sama sekali tidak ada dasar kebenarannya. Setengah dari hawa-nafsu itu telah dibayangkan pada ayat-ayat di atas tadi , yaitu kata mereka bahwa agama yang benar hanya agama Yahudi dan Nasrani.
Yahudi merasa bahwa segala anjuran dari pihak lain, walaupun benar, kalau tidak timbul dari orang yang berdarah Israil adalah tidak sah. Sebab mereka adalah "Kaum yang telah dipilih dan di istimewakan Tuhan." Yahudi dan Nasrani, telah memandang bahwa masing-masing mereka telah menjadi golongan yang istimewa. Lantaran kepercayaan yang demikian, mereka tidak mau lagi menilai kebenaran dan menguji paham yang mereka anut. Maka kalau kemauan atau hawa-nafsu mereka ini diperturutkan:

بَعْدَ الَّذِيْ جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ
"Sesudah datang kepada engkau pengetahuan ",
yaitu Wahyu yang telah diturunkan Tuhan kepada Rasul s.a.w. bahwa tidak ada Tuhan yang sebenarnya patut disembah melainkan Allah, dan Allah itu tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan lain-lain dasar pokok tauhid , yang jadi pegangan dan tiang teguh dari ajaran sekalian Nabi dan Rasul. Maka kalau kehendak dan kemauan kedua pemeluk agama itu engkau perturutkan, sedang engkau telah diberi ilmu tentang hakikat yang sebenarnya.

مَا لَكَ مِنَ اللهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيْر
"Tidaklah ada bagi engkau selain Allah akan pelindung dan tidak pula akan penolong. " (ujung ayat 120).

Pokok ilmu telah diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w, dan pokok ilmu itu pegangan sejati untuk seluruh Rasul sejak Nuh a.s. sampai Nabi-nabi yang datang di belakang Nuh sebagai disebutkan dalam Surat 42, as-Syura ayat 13. Allah Satu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan itulah hakikat agama, dan satu itulah pegangan bersama sekalian Nabi , tidak boleh berpecah-belah padanya.

Apabila menyeleweng sedikit saja dari ketentuan itu, tersesatlah daripada jalan yang benar dan segala pegangan tidak lagi berdasar ilmu. Dan segala pegangan di luar dari itu, sudah tegas tidak lagi datang dari Allah, maka tidaklah ada lagi jaminan dari Allah bahwa Dia akan melindunginya dan tidak pula lagi akan mendapat pertolongan daripadaNya.

Yahudi mengajarkan bahwa bangsa yang paling pilihan dalam dunia ini, tidak lain hanyalah Bani Israil. Bangsa lain adalah rendah belaka. Ini tidak sesuai dengan hakikat ilmu. Hakikat ilmu ialah bahwa manusia adalah keturunan Adam, dan Adam dari tanah.

Perbedaan warna kulit atau darah keturunan bukan melebihkan yang satu dari yang lain. Yang mulia di sisi Allah ialah barangsiapa yang lebih taqwa kepadaNya.

Nasrani mengajarkan bahwa manusia ini berdosa waris, karena dosa Adam. Beribu-ribu tahun Allah bingung di antara sifat kasihNya dengan sifat adilNya. Akhirnya dia mengambil keputusan, yaitu menjelma sendiri ke dalam alam ini , yaitu masuk ke dalam rahimnya seorang anak-dara yang suci , lalu menjelma menjadi Isa al-Masih, yang disebutnya sebagai anaknya. Artinya, Dia sendiri menjelma menjadi Anak ! Lalu Dia mati di atas kayu-palang untuk menebus dosa manusia itu. Dan yang mati itu ialah Bapak itu sendiri .

Ajaran itu tidaklah berdasar ilmu; ini adalah Ahwaa-ahum, angan-­angan yang tidak ada dasarnya. Kalau diturutkan, niscayalah kita akan sangsi. Di dalam ayat ini ditujukan peringatan kepada Nabi Muhammad s.a.w supaya kemauan mereka itu jangan dituruti, sebab kalau dituruti, terlepaslah beliau dari ilmu yang diberikan langsung oleh Allah. Sudah terang bahwa maksud yang sebenarnya dari ayat ini ialah buat kita , umat Muhammad s.a.w. , Jangan sampai kita diombang-ambingkan oleh kemauan manusia, sehingga petunjuk ilmu dari Tuhan kita tinggalkan.

Segala macam yang menyeleweng dari Tauhid bukanlah petunjuk. Petunjuk sejati banyaklah yang datang dari Allah. Dan dengan ayat ini kita telah diberi peringatan, bahwasanya Lan tardha, sekali-kali tidak akan ridha Yahudi dan Nasrani sebelum kita mengikuti agama mereka. Menurut lughah ( bahas ), huruf Lan itu berarti Nafyin ­waistiqbalin, yaitu mereka tidak akan ridha, tidak, untuk selama­lamanya.

Ayat ini telah memberikan pesan dan pedoman kepada kita, buat terus menerus sampai hari kiamat, bahwasanya di dalam dunia ini akan tetap terus ada perlombaan merebut pengaruh dan menanamkan kekuasaan agama. Ayat ini telah memberi ingat pada kita, bahwasanya tidaklah begitu penting bagi orang Yahudi dan Nasrani meyahudikan dan menasranikan orang yang belum beragama, tetapi yang lebih penting ialah meyahudikan dan menasranikan pengikut Nabi Muhammad saw sendiri .
Sebab kalau Islam merata di seluruh dunia ini, pengaruh kedua agama itu akan hilang. Sebab apabila akidah Islamiyah telah merata dan diinsafi, kedua agama itu akan ditelannya. Sebab pemeluk Islam berarti kembali kepada hakikat ajaran yang sejati daripada Nabi Musa dan Nabi Isa a.s.. Niscaya pemeluk kedua golongan itu tidak senang, sebab agama yang mereka peluk itu telah mereka pandang sebagai golongan yang wajib dipertahankan. Dengan tidak usah mengkaji lagi banar atau tidak benar.

Maka isyarat yang diberikan oleh ayat inilah yang telah kita temui dalam perjalanan sejak Islam bangkit dan tersebar di muka bumi ini sampai sekarang. Kalau sekiranya kita lihat pengkristenan yang begitu hebat, sejak dari Perang Salib pertama pada 900 tahun yang lalu, sampai kepada ekspansi penjajahan sejak 300 tahun yang telah lalu, sampai pula kepada usaha zending-zending dan misi Protestan dan Katholik kenegeri-negeri Islam dengan membelanjakan uang berjuta-­juta dolar untuk mengkristenkan pemeluk Agama Islam, semuanya ini adalah isyarat yang telah diberikan oleh ayat ini, bahwasanya mereka belum ridha dan belum bersenang hati, sebelum umat Muhammad menurut agama mereka .

Pekerjaan mereka itu berhasil pada negeri-negeri yang orang Islamnya hanya pada nama , tetapi tidak mengerti asli pelajarannya. Kadang-kadang mereka berkata , biarkanlah orang Islam itu tetap memeluk Agarna Islam pada lahir, asal kebatinan mereka telah bertukar jadi Kristen.

Orang Yahudi tidaklah mengadakan Zending dan Misi. Pemeluk agama Yahudi lebih senang jika agama itu hanya beredar di sekitar Bani Israil saja, sebab mexeka memandang bahwa mereka mempunyai darah istimewa. Tetapi mereka memasukkan pengaruh ajaran mereka dari segi yang lain. Bukan saja di Dunia Islam, bahkan pada dunia Kristen mcrekapun mencoba memasukkan pengaruh , sehingga merekalah yang berkuasa.

Kita masih ingat bahwa dalam Kitab-kitab Perjanjian Lama yang rnenjadi pegangan mereka , tidak ada pengajaran tentang Hari.Akhirat.Agama orang Yahudi itu terlebih banyak menghadapkan perhatian kepada urusan dunia ,kepada harta-benda. Kehidupan riba (rente) adalah ajaran orang Yahudi.

Negeri Amerika Serikat yang begitu besar dan berpengaruh, terpaksa menutup kantornya dua hari dalarn seminggu. Bukan saja pada hari Ahad, sebagai hari besar Kristen, tetapi hari Sabtupun tutup. Sebab yang memegang keuangan di Wallstreet (New York) adalah Bankir-bankir Yahudi. Sebab itu maka segala sesuatu kelancaran ekonomi ditangan Yahudi. Sedangkan di Amerika lagi demikian, apatah lagi di negeri­negeri lain.

Gerakan Vrijmetselar, Gerakan Masonia , dan beberapa gerakan internasional yang lain, pengaruhnya dalam tangan Yahudi. Dunia Islam tidak perlu masuk agama mereka , asal turutkan pengaruh mereka. Negeri-negeri Islam yang besar-besar terpaksa mendirikan Bank-bank, menjalankan Niaga dan ekonomi berdasarkan kepada riba, baik riba besar atau riba kecil; terpaksa mcmperlicin hukum riba supaya bernafas untuk hidup , tidak dapat mencari jalan lain, sebab seluruh dunia telah dikongkong oleh ajaran Yahudi,

Sedikit orang Yahudi yang berpencar-pencar di seluruh dunia dapat mendirikan sebuah negara Yahudi, mereka beri nama Israel, ditengah-tengah negeri orang Arab; dengan dibantu oleh Kerajaan Inggris dan Amerika, bahkan mendapat pengakuan pertama dari Rusia Komunis. Semuanya inilah yong di isyaratkan oleh ayat yang tengah kita tafsirkan, bahwasanya orang Yahudi dan Nasrani belum merasa puas hati, sebelum kita penganut ajaran Muhammad mengikut agama mereka. Ini bukanlah ancaman yang menimbulkan takut, tetapi sebagai perangsang supaya kaum Muslimin terus berjihad menegakkan agamanya , dan melancarkan dakwahnya ,

Karena selama kaum Muslimin masih berpegang teguh kepada ajaran agama yang dipeluknya, mengamalkannya dengan penuh. kesadaran , tidaklah mereka akan runtuh lantaran usaha kedua pemeluk agama itu. Sebab ayat telah menegaskan, bahwasanya putunjuk yang sejati tidak ada lain, melainkan petunjuk Allah .

Disampaikan orang-orang yang, demikian keras hawa-nafsunya hendak menarik orang lain ke dalam agamanya ; baik Yahudi ataupun Nasrani, maka Tuhan menerangkan lagi segolongan manusia , yang bukan hanya semata membaca Kitab, tapi memaham kan.

اَلَّذِيْنَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُوْنَهُ حَقَّ تِلاَوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُوْنَ بِهِ
"Orang-orang yang Kami datangkan kepada mereka akan Kitab; yang mereka baca dengan sebenar-benar bacaan, itulah orang-orang yang akan percaya kepadanya." (pangkal ayat 121).

Ayat ini memberi kejelasan kepada kaum Muslimin, bahwasanya apabila mereka membaca Kitab al-Qur'an yang diturunkan kepada mereka dengan perantaraan Nabi s.a.w sebenar-benarnya membaca, yaitu dipahamkan isinya dan diikuti, orang yang semacam itulah yang akan merasai nikmat iman kepadanya.

Kalau kita sambungkan dengan ayat yang sebelumnya , bahwasanya Yahudi dan Nasrani tidak bersenang hati , sebelum or­ang Islam mengikuti agama mereka, maka orang Islam yang tidak memperhatikan, membaca dan mengikuti al-Qur'an yang akan dapat mengikut agama yang lain itu.

Setengah ahli tafsir mengartikan Yatlunahu dengan membaca. Dan setengah lagi mengartikannya rnengikutinya. Kitapun dapat menggabungkan kedua arti itu , membaca dan mengikuti. Jangan hanya semata-mata dibaca, padahal tidak diikuti. Dan disini ditetapkan lagi, Haqqa tilawatihi, sebenar-benar membaca.

Kalau sekiranya al­Qur'an pada mulanya diturunkan kepada orang Arab, yang mereka dengan sekali baca saja sudah paham akan artinya, sebab bahasanya sendiri, betapa lagi kita yang bukan orang Arab. Niscaya lebih bergandalah kewajiban kita untuk memahamkan artinya, dan menjadi kewajibanlah bagi orang yang pandai bacaan dan maknanya, mengajarkannya kepada yang belum pandai.

Hendaklah dibaca dengan penuh perhatian, dan mempelajarinya dengan seksama. Pelajari sampai paham. Orang-orang yang demikianlah yang diharap akan beriman kepadanya. Orang yang langsung mempelajari Kitab dengan akal yang bebas , jangan mendengar penafsiran pendeta-pendeta mereka yang telah mengandung maksud lain. Mereka itulah yang diharapkan beriman kepada kebenaran Nabi Muhammad s.a.w..

وَ مَنْ يَكْفُرْ بِهِ
"Dan barangsiapa yang tidak mau percaya kepadanya. "

Yaitu pemuka-­pemuka mereka sendiri, pendeta-pendeta mereka yang telah membuat tafsiran lain karena maksud tertentu.

فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُوْنَ
"Itulah orang-orang yang merugi. " (ujung ayat 121).

Rugilah mereka karena tidak rnendapat kebahagiaan hidayat; gelaplah mereka di dalam selubung hawa-nafsu dan kedustaan. Baik oleh karena , mereka, memutar-mutar penafsiran Kitab Suci dari kebenaran, atau karena tidak berani membantah apa yang telah diputuskan olch pendeta-pendeta mereka .

Inipun menjadi i'tibar pula bagi kita kaum Muslimin yang telah 14 abad jarak dengan Nabi kita Muhammad s.a.w Meskipun telah berjarak 14 abad, namun apabila kita mengambil petunjuk Rasulullah s.a.w langsung dari al-Qur'an yang telah beliau bawa, tidaklah kita akan tersesat.

Hanya dengan membaca al-Qur'an dengan sebenar-­benar bacaan dan memahamkan maksudnya; hanya. dengan itulah kita akan dapat beriman kepada kebenarannya. Tetapi orang yang membacanya hanya karena mengharapkan pahala , tetapi tidak tahu apa isinya, tidaklah diharap akan mendapat cahaya iman dari dalamnya .

Kemunduran kita kaum Muslimin dalam lapangan agama kita ialah setelah al-Qur'an hanya untuk dibaca-baca cari pahala, tetapi tidak paham apa yang ditulis di dalamnya. Apatah lagi setelah zaman kemunduran timbut gejala dalam kalangan Islam bahwa penafsiran orang yang dinamai Ulamalah yang wajib diperhatikan, karena beliau lebih paham akan al-Qur'an daripada kita orang awam ini.

Seakan-akan keawaman hendak dipertahankan terus-menerus. Apakah si awam tidak berusaha supaya jadi Ulama pula ?

Satu waktu ada pula larangan mengartikan al-Qur'an. Tetapi berpahala membacanya. Orang-orang yang berpikir bebas jadi bertanya-tanya dalam hatinya. Kita sebagai orang Islam ingin mengetahui isi al-Qur'an itu, tetapi kita tidak mempunyai waktu buat belajar bahasa Arab. Kalau begitu apakah baca-baca itu saja yang menjadi kewajiban kita orang Islam ? Apakah kita tidak boleh turut memikirkannya? . Oleh sebab itu penulis "Tafsir" ini sampailah kepada suatu kesimpulan, bahwasanya mengajarkan arti dan maksud al-Qur'an kepada orang Islam yang belum mengerti bahasa Arab, atau yang tidak ada waktu untuk mempelajarinya adalah menjadi kewajiban bagi or­ang-orang Islam yang mengerti bahasa itu.

Dalam pengalaman saya akhir-akhir ini di Jakarta, adalah berpuluh orang laki-laki dan perempuan Islam yang selama ini mendapat pendidikan di sekolah­-sekolah Barat membaca tafsir atau terjemahan al-Qur'an ke bahasa Belanda atau Inggris dan sekarang sudah ada bahasa Indonesia , telah menjadi orang Islam yang tekun, dan bertambah tekun keinginannya mempelajari lebih mendalam .

Meskipun pada mulanya , jangankan mengetahui bahasa Arab, sedangkan tulisannya itu saja mereka tidak tahu. Banyak sekali mereka lebih paham maksud agama dari membaca terjemahan atau tafsir itu, daripada orang-orang yang selalu membaca al-Qur'an mengharapkan dapat pahala, padahal dia tidak tahu apa yang dia baca.

Kadang-kadang dalam pergolakan zaman timbul juga gejala-­gejala pengaruh agama lain ke dalam masyarakat Islam, bahwa yang berhak menentukan pemikiran itu hanya para golongan yang digelari Ulama atau Kyai. Tetapi karena membaca keterangan-keterangan Is­lam dalam bahasa asing, bahwa dalam Islam tidak ada kelas kependetaan yang memutuskan halal-haram sesuatu, maka timbullah semangat mempelajari agama yang merata, dalam kalangan kaum terpelajar.

Inipun menggembirakan. Sebab dengan demikian golongan-­golongan yang memang mempunyai keahlian, yang sebenarnya Ulama Islam, dapat memperdalam studinya tentang agama dan pengetahuan umum. Sebab kepada rnereka jugalah orang akan menanyakan jika timbul soal-soal yang musykil sebab keahlian mereka. Bukan sebab mereka yang memutuskan.

Pada permulaan peringatan yang dikhususkan kepada Bani Israil di ayat 40 dahulu, yang mula-mula dikatakan kepada mereka ialah supaya mereka ingat betapa besarnya nikmat yang telah dikaruniakan Tuhan Allah kepada mereka 81 ayat banyaknya, adalah peringatan yang sebagian besar terhadap kepada mereka. Sekarang peringatan itu dikuncikan lagi dengan mengulangi peringatan karunia Tuhan itu sekali 1agi:

يَا بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ اذْكُرُوْا نِعْمَتِيَ الَّتِيْ أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ
"Wahai Bani Israil! Ingatlah olehmu akan nikmatKu yang telah Aku nikmatkan kepada kamu." (pangkal ayat 122).

Dari perbudakan dan penindasan kamu Aku bebaskan. Kepada tanah yang mulia pusaka nenek-moyangmu, kamu Aku antarkan. Makan dan minummu Aku sediakan. Aku beri kamu pemimpin besar yang tabah dan gagah berani. Itulah Musa. Aku kalahkan bangsa-bangsa yang menghambat jalanmu.

وَأَنِّيْ فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِيْنَ
"Dan bahwasanya telah Aku muliakan kamu atas bangsa-bangsa."(ujung ayat 122).
Diakui Tuhan sekali lagi, bahwa memang pada masa lalu itu mereka dimuliakan atas bangsa-bangsa lain yang masih kulub. Sebab-sebab kemuliaan itu ialah karena ajaran yang kamu pegang. Bukan karena darah Keturunan, bukan karena kamu menjadi bangsa pilihan .

Kemudian yang diberikan kepadamu melebihi bangsa-bangsa yang lain, akan tanggal dari diri kamu apabila intisari dari ajaran Musa itu tidak kamu pegang teguh lagi , melainkan kamu campur-adukkan dengan peraturan lain yang dibikin-bikin oleh pemuka-pemuka dan pemimpin-pemimpin kamu. Sebab itu peringatan Tuhan selanjutnya ialah:

وَ اتَّقُوْا يَوْمًا لاَّ تَجْزِيْ نَفْسٌ عَنْ نَّفْسٍ شَيْئًا
"Dan takutlah kamu akan hari yang tidak akan dapat melepaskan satu diri daripada diri yang lain sesuatupun." (pangkal ayat 123).

Satu kenyataan bahwa kemuliaan di sisi Allah Ta'ala hanyalah karena iman dan amal. Maka orang yang kosong imannya, berkurang-kurang amalnya, tidaklah dapat dilepaskan oleh temannya yang lain, baik ayah-bundanya atau gurunya sekalipun, dari azab yang akan dideritanya.

وَلاَ يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌ
"Dan tidak diterima daripadanya penebusan. "
Tidaklah dapat ditebus atau dibayar, berapapun banyak uang tebusan, walau sebanyak isi bumi dan langit. Karena harta kekayaan buat menebus tidak ada. Orang pulang ke akhirat tidaklah membawa harta-benda untuk penebus diri.

Harta-benda manusia setelah dia mati telah kembali kepada yang empunya sejati yaitu Allah, lalu dipinjamkanNya kepada waris si mati. Dan apabila mereka telah punah, semua harta itu diambil kembali oleh yang Empunya.

Oleh sebab itu tidak ada sedikitpun hartabenda buat penebus diri dari azab di hari kiamat itu, karena tidak ada yang ditebuskan.

وَلاَ تَنْفَعُهَا شَفَاعَةٌ
"Dan tidak bermanfaat padanya satu syafaatpun. "

Persangkaan mereka bahwa Nabi-nabi mereka akan dapat menolong, menjadi permintaan syafaat kepada Allah, minta diringankan, sebagai memintakan grasi, atau abolisi kepada Tuhan Allah, sebagai teradat di atas dunia ini, tidaklah akan berlaku di sana.

وَلاَ هُمْ يُنْصَرُ
"Dan tidaklah mereka akan ditolong. "(ujung ayat 123).
Tidak ada yang akan menolong karena semua manusia dan semua Malaikat, dan semua Jin dan syaitan pada waktu itu adalah mempertanggungjawabkan dosa atau jasa mereka sendiri- sendiri.

Dengan ini tertolak pulalah kepercayaan bahwa Isa al-Masih menebus dosa manusia dengan mati di kayu salib.Penolong satu-satunya hanya Allah. Tetapi pertolongan Allah tidaklah ada faedahnya kalau diminta pada waktu itu, melainkan dari hidup sekarang inilah. Asal periiatahNya diikut, laranganNya dihentikan, urusan di Hari Akhirat itu tidak akan sukar lagi.
 


01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21  22  23 24 25 26 27 28 29  To Main Menu