Make your own free website on Tripod.com
                                                       
 
                                                                        

 وَ ِللهِ الْمَشْرِقُ وَ الْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ اللهِ إِنَّ اللهَ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

(115) Dan kepunyaan Allahlah Tintur dan Barat; maka ke mana jugapun kamu menghadap, di­sanapun ada wajah Allah;sesungguhnya Allah adalah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.


وَ قَالُوا اتَّخَذَ اللهُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَل لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَ الْأَرْضِ كُلٌّ لَّهُ قَانِتُوْنَ

(116) Dan mereka berkata : Allah telah mengambil anak ! Maha Suci Dia; bahkan kepunyaanNyalah apa yang ada di semua langit dan bumi; semuanya kepada.Nyalah ber­tunduk.


بَدِيْعُ السَّمَاوَاتِ وَ الْأَرْضِ وَ إِذَا قَضَى أَمْراً فَإِنَّمَا يَقُوْلُ لَهُ كُنْ فَيَكُوْنُ

(117) Yang mencipta semua langit dan bumi dengan tak ada bandingan. Dan apabila Dia telah menentukan sesuatu, Dia hanya berfirman kepadaNya Jadilah ! Maka diapun terjadi.


وَ قَالَ الَّذِيْنَ لاَ يَعْلَمُوْنَ لَوْلاَ يُكَلِّمُنَا اللهُ أَوْ تَأْتِيْنَا آيَةٌ كَذَلِكَ قَالَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِم مِّثْلَ قَوْلِهِمْ تَشَابَهَتْ قُلُوْبُهُمْ قَدْ بَيَّنَّا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يُوْقِنُوْنَ

(118) Dan berkata orang-orang yang tidak berpengetahuan itu,Mengapa tidak bercakap-cakap Allah itu dengan kita, atau datang kepada kita suatu tanda . Seperti itu jugalah kata kata orang-orang yang sebelum mereka seperti kata kata mereka itu pula ,Ber-samaan hati mereka ;Sesungguhnya telah Kami jelaskan ayat-ayat
kepada kaum yang yakin.


Kemudian , setelah ditegaskan zalim orang-orang yang menghalangi tempat beribadat kepada Allah, apatah lagi menghancurkan dan merusakkannya, dijelaskan lagi tentang hakikat ibadat :

وَ ِللهِ الْمَشْرِقُ وَ الْمَغْرِبُ
"Dan kepunyaan Allahlah Timur dan Barat." (pangkal ayat 115).

Ahli tafsir al-Jalal menafsirkannya demikian; "maka kepunyaan Allahlah seluruh jagat ini", sebab di mana-mana ada Timur dan di mana-mana ada Barat. Apabila kita tegak menghadap ketepatan matahari terbit (masyriq) maka yang di belakang kita adalah Barat , yang di kanan kita. adalah Selatan dan di kiri kit:a adalah Utara.

فَأَيْنَمَا تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ اللهِ إِنَّ اللهَ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ
"Maka kemana jugapun kamu menghadap , di sanapun ada wajah Allah ; sesungguhnya Allah adalala Maha Luas , lagi Maha Mengetahui:" (ujurtg ayat 115).

Inilah hikmat yang sebenarnya ; kemanapun kita menghadapkan muka ketika beribadat kepada Tuhan; ketika sembahyangpun, asal hati telah dihadapkan kepada Allah, diterimalah ibadat itu oleh T'uhan. Sebab Timur dan barat, Utara ataupun Selatan, Allah juga yang empunya. Memang kemudiannya telah diatur oleh Rasulullah, dengan perintah Sabda Tuhan menentukan ka'bah Masjidil Haram sebagai kiblat tetap, namun sekali-sekali ketika hari sangat gelap misalnya, sehingga kita tidak tahu arah kiblat, ke manapun saja muka menghadap, sah jugalah sembahyang kita, asal hati khusyu'. Malahan kalau hati tidak khusyu' terhadap kepada wajah Tuhan, walaupun telah menghadap ke kiblat Masjidil Haram, belum juga tentu sembahyang itu akan diterinta Tuhan. Imam Ghazali berpendirian tidak sah sembahyang kalau tidak khusyu'.

As-Syaikh al-Akbar Muhyiddin Ibnu Arabi Failasuf dan Shufi yang terkenal itu pernah menyatakan pendirian bahwa menghadap kiblat menurut fahamnya , tidaklah syarat sah sembahyang.
Tetapi karena telah ijma' (sefaham) seluruh Ulama menyatakan bahwa menghadap kiblat adalah syarat sah sembahyang, diapun tidak mau berpacul (memisahkan diri) dari ijzna' itu.

Ayat ini dapatlah menimbulkan paham bahwasanya yang termat penting, yang menjadi inti sejati daripada sembahyang, ialah khusyu' menghadap ke wajah Tuhan. Adapun menghadah kiblat ke Ka'bah dalam sembahyang adalah wajib dituruti karena perintah yang nyata , yang kelak kita akan sampai kepada penafsirannya beberapa ayat lagi. Dan ayat 115 ini tetap berlaku kuasanya di malam sangat gelap, sehingga kita tidak tahu di mana kiblat. Atau kita sedang di atas kapal udara yang menuju ke satu tujuan, bukan menjuruskan ke ka'bah. Sesungguhnya Maha Luaslah Tuhan Allah itu. Dia ada di mana-mana dan Maha Mengetahui akan kepatuhan hati hamba-hambaNya sekalian.

Ketika menafsirkan ayat 106 tentang nasikh dan mansukh, telah kita bayangkan juga khilafiyah Ulama tentang adakah atau tidak suatu hukum yang mansukh di dalam al-Qur'an ?
Adakah satu ayat yang tulisannya masih ada, tetapi hukurnnya tidak berlaku lagi ?
Maka ayat 115 ini menjadi salah satu khilafiyah tentang adanya nasikh dan mansukh Golongan yang mengatakan adanya nasikh dan mansukh mengatakan bahwa ayat 115 ini telah mansukh. Sebab kemudiannya telah datang ayat 144 dan 149 dan 150 yang menentukan Masjidil Haram sebagai kiblat.

Maka dengan demikian tidaklah sah lagi menghadapkan sembahyang kepenjuru yang lain, kecuali ke Masjidil Haram, dan kecuali kalau tidak tahu arah kiblat.
Menurut suatu riwayat yang dibawakan oleh Ibnul Mundzir dan lbnu Abi Hatim dan al-Hakim dan dia berkata riwayat ini shahih, dan al-Baihaqi di dalam Sunannya, dari Ibnu Abbas, bahwa dia berkata: "Yang mula-mula sekali dimansukhkan dari al-Qur'an menurut ingatan kita -- tetapi Allah yang lebih tahu (Wallahu A'lam) - ialah urusan kiblat. Tuhan telah bersabda: "Kepunyaan Allahlah masyriq dan maghrib, " dan seterusnya sebagai tersebut di dalam ayat. Maka menghadaplah Rasulullah s.a.w dan sembahyanglah dia menghadap ke Baitul Maqdis dan ditinggalkannya Baitul Atiq, dan dengan demikian dimansukhkanlah ayat ini; lalu dibaca oleh Ibnu Abbas "dan dari mana saja engkau datang, maka hadapkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram."(ayat 149 atau ayat 150).

Tetapi golongan yang mempertahankan bahwa di dalam al­Qur' an tidak ada hukum yang mansukh menyatakan bahwa di dalam ayat inipun tidak terdapat mansukh. Sebab isi ayat 115 ini tetap berlaku. Menurut mereka, tetaplah kemana sajapun kita menghadapkan muka, namun di sana tetap ada wajah Allah. Perintah menghadapkan muka kepada Ka'bah tetap berlaku untuk memperlakukan seluruh kiblat kaum Muslimin, jangan sampai mereka berpecah-belah, berkiblat sebanyak mereka. Terutama di dalam sembahyang yang wajib lima waktu. Apa lagi ada pula sebuah riwayat yang dirawikan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Abd bin Humaid, dan Muslim dan Tirmidzi dan an­Nasa'i dan lain-lain, yang diterima dari sahabat Ibnu Umar, bahwasanya Rasulullah s.a.w. pernah sembahyang di atas kendaraannya, yaitu sembahyang tathawwu' (sembahyang sunnat), ke mana saja tunggangannya itu menghadapkannya. Lalu Ibnu Umar membaca ayat "Ke mana juapun kamu menghadap, maka di sanalah wajah Allah." (ayat 115 ini) dan dia berkata: "Pada keadaan seperti inilah ayat ini diturunkan."

Dikuatkan pula oleh suatu riwayat yang dirawikan oleh Bukhari, yang diterimanya daripada sahabat Jabir bin Abdullah, babwa Nabi s.a.w. pernah sembahyang di atas tunggangannya menghadap ke Timur, tetapi apabila dia akan sembahyang yang maktubat (yang 5 waktu) beliau pun turun dan menghadaplah beliau ke kiblat, lalu sembahyang. Dan ada pula sebuali Hadits yang dirawikan oleh Abd bin Humaid, dan Ibnu Majah dan Ibnu Jarir dan lain-lain, dan diriwayatkan pula oleh Tirmidzi (meskipun Tirmidzi ini mengatakan dha'if ) yang diterima dari sahabat Nabi, Amir bin Rabi'a h, bahwa Amir bin Rabi'ah ini pernah bcrsama banyak sahabat Nabi berjalan mengiringkan beliau dalam satu perjalanan. Malam sangat gelap, lalu datang waktu sembahyang, merekapun turun sembahyang, ada orang yang pergi ke atas batu dan sembahyang di sana. Setelah hari siang, ternyata bahwa mereka sembahyang tadi malam itu tidak menghadap tepat arah kiblat, lalu dia sampaikari. hal itu kepada Rasulullah s.a.w Maka turunfah ayat ini:

"Kepunyaan Allahlah masyriq dan maghrib", maka bersabdalah Rasulullah s.a.w.:
"telah berlaku sembahyang kamu." Artinya , sah sembahyang itu, tak perlu diulang.

Dengan alasan yang demikian, segolongan yang mengatakan tidak ada nasikh tidak ada mansukh menguatkan bahwa ayat 115 tidak mansukh. Walaupun pada riwayat yang diterima daripada Amir bin Rabi'ah ini seakan-akan nampak bahwa ayat 115 kemudian turun dari pada ayat 144 dan 149 dan 150, dan diragukan keshahihan Hadits ini oleh Tirmidzi, tetapi setelah disambungkan dengan Hadits riwayat Ibnu Umar dan Jabir dan Abdullah tadi, teranglah ayat 115 tidak mansukh, tetapi tetap berlaku, yaitu untuk sembahyang sembalryang tathawwu' di atas kendaraan, atau di waktu tidak jelas di mana arah kiblat sebab hari gelap, atau di jaman modern kita sekarang ini, kita sembahyang yang sunnat atau yang wajib sedang di dalam kereta api api bahkan di dalam kapal. udara. Datang waktu sembahyang, padahal yang dituju kendaraan itu tidak tepat mengarah ke kiblat. Tentu bila waktu sembahyang telah datang kitapun sembahyang. Kalau Nabi s.a.w. naik tunggangan unta, lalu sembahyang menghadap kiblat, niscaya sedang di atas kapal udara kita tidak dapat berbuat demikian, sehingga sembahyang yang maktubatpun dapat kita kerjakan dengan tidak menghadap ke Masjidil Haram, melainkan kita berpegang kepada ayat 115 ini; ke mana sajapun muka menghadap namun disana ada wajah Allah, yang pokok ialah khusyu'.

وَ قَالُوا اتَّخَذَ اللهُ وَلَدًا
"Dan rnereka berkata: Allah telah rnengarnbil anak. " (pangkal ayat 116).

Atau diturunkan asal arti dari Ittakhadza: Allah telah mengambil anak. Orang Nasrani mempunyai kepercayaan bahwa Nabi Isa Al Masih itu adalah anak Allah. Sebagian dari orang Yahudi pun demikian pula, ada yang mengatakan bahwa Uzair atau Izair Imam besar dan Nabi yang membangkitkan kembali Kerajaan Bani Israil setelah penawaran raja Nebukadnezar, adalah anak Allah. Orang musyrikin penyembah berhala di tanah Arab ada pula yang mengatakan bahwa Malaikat-malaikat itu adalah anak Allah dan perempuan semua. Di dalam catatan yang oleh orang Yahudi disebut Taurat, ada dikatakan bahwa Bani Israil itu adalah anak Allah.

Ayat ini adalah pertaliannya dengan ayat-ayat yang sebelumnya. Tempat beribadat kepada Allah hendaklah dimakmurkan dan jangan dihalang-halangi. Timur dan Barat, Utara dan Selatan, seluruhnya kepunyaan Allah, dan kepadaNyalah menghadap yang sebenarnya. Tetapi hendaklah menetapkan benar-benar dalam hati siapa dan bagaimana yang sebenarnya Allah itu. Dia Tunggal, tidak beranak dan tidak diperanakkan. Hendaklah bersihkan kepercayaan kepadaNya. Jangan dikatakan Dia beranak, karena Tuhan itu bukan makhluk yang memerlukan keturunan dan meneruskan atau menyambung kekuasaanNya kalau Dia mati. Allah itu hidup terus; tidak akan mati-mati.

سُبْحَانَهُ
"Maha Suci Dia. "Tidak masuk dalam akal yang murni bahwa Dia beranak.

بَل لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَ الْأَرْضِ كُلٌّ لَّهُ قَانِتُوْنَ
"Bahkan kepunyaanNyalah apa yang ada di semua langit dan bumi; semuanya kepadaNyalah bertunduk."(ujung ayat 116).

Hanya satu Dia. Tidak ada anakNya. Yang selainnya ini, segala kandungan semua langit, segala kandungan bumi, semua di bawah kekuasaanNya. Dan semua patuh, menekur bertunduk kepadaNya. Sama saja di antara makhluk yang beku dengan makhluk bernyawa. Malaikat bukan anakNya, manusiapun bukan anakNya, tetapi makhlukNya. Yang terjadi karena diciptakanNya. Kamu orang musyrikin; kamu katakan Malaikat anak Allah, lalu kamu ambil kayu atau batu menjadi berhala dan patung, lalu kamu sembah. Sebab katamu dia anak Allah! "Maha Suci Dia!" Kamu orang Nasrani: Isa al-Masih yang lahir dengan kuat kuasa Ilahi menurut jalan yang tidak terbiasa, kamu katakan pula anak Allah.

Kalau kamu pikirkan hal itu dalam-dalam kamu sendiri akan bingung dengan kepercayaanmu itu. Isa al-Masih itu makan dan minum sebagai manusia biasa. Padahal Tuhan Allah tidak makan dan tidak minum. Dan Isa al-Masih itu kalau mengantuk matanya, diapun tidur. Sedang Tuhan Allah tidak pernah tidur. Memang Isa al-Masih ataupun Uzair ataupun manusia-manusia yang lain, diangkat Tuhan menjadi Rasul dan Nabi, kadang-kadang diberi mukjizat. Nyatalah bahwa semua bukan atas kehendak mereka, melainkan atas kehendak Allah juga. Allahlah yang sebenar Tuhan dan Dia tidak memerlukan anak. Mulai sekarang berhentilah dari pikiran yang demikian. Karena tidak masuk akal.

بَدِيْعُ السَّمَاوَاتِ وَ الْأَرْضِ
Badi'us-samawati wal ardhi : Kita artikan: "Yang menciptakan semua langit dan bumi dengan tiada bandingan. " (pangkal ayat 117).

Di sana terdapat kalimat Badi'. Arti Badi', ialah penciptaan, yang mengeluarkan suatu ciptaan belum pernah didahului oleh orang lain. Sebab itu maka ilmu ungkapan kata-kata yang indah dinamai dalam bahasa Arab: Ilmu Badi'. Tuhan Allah mencipta alam adalah atas kehendakNya dan bentuknyapun atas pilihanNya sendiri. Tidak dapat didahului oleh siapapun dan tak dapat disamai oleh siapapun. Sebab itu pula maka kalau ada seorang mencipta satu lukisan yang belum dicapai oleh orang lain, ciptaannya itu disebut juga Badi'. Bahkan kata ­kata Bid'ah yang biasa terpakai dalam agama, juga ambilan dari kata Badi'. Kalau ada orang menambah-nambah suatu amalan agama, yang tidak menurut teladan daripada Rasulullah, disebut pembuat Bid'ah, atau Mubtadi'. Itu pula sebabnya maka tidak mendapat kata lain buat menyatakan maksud dari ayat Badi'us samawati wal ardhi, ialah "menciptakan semua langit dan bumi dengan tiada bandingan." Diberi ujung dengan tiada bandingan supaya jelas apa yang dimaksud dengan kata pencipta.

وَ إِذَا قَضَى أَمْراً فَإِنَّمَا يَقُوْلُ لَهُ كُنْ فَيَكُوْنُ
"Dan apabila Dia telah menentukan sesuatu, Dia hanya berjirman kepadanya: , Jadilah Maka diapun terjadi."(ujung ayat 117).

Dengan ayat ini jelas siapa Tuhan dan siapa makhlukNya. Tuhan Allah berkekuasaan mutlak dan langsung, tidak memakai perantaraan. Bila Dia menghendaki sesuatu, diperintahkanN'ya saja supaya terjadi , maka sesuatu itupun terjadi. Bagaimana rahasia kejadian itu, berapa lamanya dan bila masanya, tidaklah kuat otak manusia buat berpikir sampai ke sana.Yang terang dengan ayat ini ialah bahwa Allah yang seperti itu Maha Besar kekuasaanNya tidaklah memerlukan anak.

Orang Yahudi mengatakan Allah itu beranak, Uzair namanya. Orang Nasrani mengatakan Allah itu beranak, Isa al-Masih namanya. Orang musyrikin Arab mengatakan Allah beranak, dan anak itu perempuan, yaitu sekalian Malaikat.

Maka dengan keterangan ayat ini, bahwa Allah itu Maha Kuasa mutlak sendirinya mencipta alam ini, dengan tidak memerlukan pertolongan yang lain memberi kenyataan bahwa anak itu tidak perlu. bagi Allah Yang Maha Kuasa, di dalam menjadikan dan menciptakan seluruh langit dan bumi dengan seluruh isinya. Kalau dipikirkan bahwa anak itu ada bagi Allah pada kekuasaan seluruhnya hanya ada pada Allah, nyatalah bahwa adanya anak itu hanya membuat anak-anak yang menganggur dari kekuasaan.

Dan kalau anak-anak itu turut berkuasa, nyatalah bahwa kekuasaan yang telah dibagikan Allah kepada anak yang dikasih itu telah mengurangi kekuasaan yang ada pada Allah sendiri. Untuk menerima gagasan Tuhan beranak ini, pikiran mesti dikacaukan lebih dahulu, sehingga gambaran tentang kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa itu tidak terang lagi.

"Maha Suci Dia !" Dia Tunggal, Dia Khaliq ! Yang selainNya adalah makhluk. Dengan ini maka bulatkanlah ibadat dan persembahan kepadaNya saja, karena Dia memang Esa, mustahil berbilang. Mustahil beranak. Kepercayaan yang pecah, yang tidak tunggal akan memecah pikiran sendiri. Dan pikirkanlah agama itu baik-balk, sehingga dapat dikerjakan dengan pikiran murni.

Dengan kalimat Kun, artinya : Jadilah, atau Adalah. Tuhan bersabda, maka apa yang dikehendakiNyapun terjadi. Kalimat itu ia tujukan kepada yang belum ada supaya ada, atau kepada yang telah ada supaya lebih sempurna. Sebelum datang kalimat Kun, barang itu belum ada. Maka takluk adanya sesuatu ialah kepada iradatNya (kehendakNya). Jika tidak dengan iradatNya tidaklah jadi.

Bagaimana pertalian di antara sebelum ada, menjadi ada, sejak bila adanya dan bagaimana dahulunya, tidaklah ada seorang sarjanapun mengetahuinya. Yang disusun hanya kumpulan dari kemungkinan, hanya sangka-sangka, (Zhan). Dan itulah yang dinamai ilmu. Sebab hal itu adalah rahasia Ilahi yang sangat dalam; hal itu tertutup buat kita selama-lamanya, sebagaimana juga tertutup rahasia buat mengetahui Dzat Allah.

Kata pendek yang diungkapkan dalam al-Qur'an kun fa yakun. Jadilah, maka diapun terjadi! Hanyalah semata­ mata buat mendekatkan kepada paham kita saja. Kita sendiri tidak dapat lagi berjalan lebih jauh dari itu. Kalau dikatakan bahwa alam yang ada itu timbul dari dalam Allah sendiri, niscaya mustahil. Sebab suatu ketimbulan hanyalah menempuh salah satu dua jalan. Pertama timbul yang mesti, sebagai mestinya timbul panas dari cahaya. Teranglah bahwa timbul yang demikian bukan kehendak dari keduanya ataupun salah satu dari keduanya. Atau jalan kedua, yaitu ada karena perkawinan sebagai lahirnya seorang manusia. Maka Allah adalah Tunggal, dan bukanlah terjadinya apa yang ada ini karena pertemuan di antara satu Allah jantan dengan satu Allah betina: "Maha Suci Dia!"

Setelah ditilik keadaan ini, bertambah tidak perlu diadakan pula anak bagi Allah. Pikiran yang sehat tidak memberinya tempat buat masuk.

وَ قَالَ الَّذِيْنَ لاَ يَعْلَمُوْنَ لَوْلاَ يُكَلِّمُنَا اللهُ أَوْ تَأْتِيْنَا آيَةٌ
"Dan berkata orang-orang yang tidak berpengetahuan itu: Mengapa tidak bercakap-cakap Allah itu dengan kita, atau datang kepada kita satu tanda?" (pangkal ayat 118).

Selain dari mengatakan bahwa Tuhan Allah beranak, satu waktu datang lagi kepada Rasulullah s.a.w suatu usul, yaitu kalau memang Tuhan Allah itu ada dan Maha Kuasa, mengapa Allah itu tidak datang bercakap-cakap dengan mereka, atau Tuhan membuktikan bahwa Dia ada dengan rnenunjukkan suatu tanda. Dipangkal ayat sudah dinyatakan bahwa usul seperti ini timbulnya ialah daripada orang­ orang yang tidak berpengetahuan. Kalau orang itu berilmu, berpikir mendalam, tidak mungkin timbul usul seperti itu.

Di dalam Surat al-Isra' (Surat 17) yang turun di Mekkah, sudah dilukiskan pula permintaan-permintaan yang tidak-tidak itu. Mereka minta adakan mata air dari bumi (ayat 90), atau kebun indah mempunyai sungai rnengalir, terjadi sendirinya (ayat 91), atau runtuhkan langit (ayat 91), atau Tuhan Allah turun kedunia diiringkan oleh Malaikat (ayat 92), atau dirikan sebuah rumah tempat tinggal Nabi Muhammad sendiri yang berlapis emas (ayat 93).Maka di sambungan ayat Tuhan bersabda:

كَذَلِكَ قَالَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِم مِّثْلَ قَوْلِهِمْ
"Seperti itu jugalah kata-kata orang-orang yang sebelum mereka, seperti kata mereka itu pula. "

Artinya usul kaum musyrikin Arab atau Yahudi yang sekarang, meminta supaya Tuhan Allah bercakap dengan mereka, bukanlah usul datang sekarang saja. Umat-umat yang dahulupun meminta demikian pula. Umat Nabi Musa mengemukakan berbagai permintaan kepada Musa a. s.; setengah permintaan itu dikabulkan Tuhan, namun mereka tetap keras kepala dan yang kafir bertambah kafir juga. Umat Nabi Shalih a. s meminta didatangkan seekor unta sebagai mukjizat: Unta itu didatangkan, tetapi mereka langgar janji dan mereka bunuh unta itu.

Maka datanglah sambungan ayat:

تَشَابَهَتْ قُلُوْبُهُمْ
"Bersamaan hati mereka."

Baik Yahudi yang dahulu atau Yahudi yang sekarang, atau umat yang dahulu atau musyrikin yang sekarang, namun hati mereka sama saja. Yaitu kekufuran kepada Allah menyebabkan timbulnya berbagai usul yang tidak-tidak, yang bercakap asal bercakap.
Sepintas lalu timbul pertanyaan: "Apakah permohonan mereka itu tidak akan dikabulkan Tuhan ?" Tuhan telah menjawab, dengan ujung ayat:

قَدْ بَيَّنَّا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يُوْقِنُوْنَ
"Sesungguhnya telah Kami jelaskan ayat-ayat itu kepada kaum yang yakin. " (ujung ayat 118).

Bagi orang yang yakin ayat-ayat itu sudah nampak. Tidak perlu lagi menurunkan ayat baru. Tidak perlu lagi tercipta di tengah padang belantara sebuah istana indah berlapis emas dan ratna-mutumanikam lalu tercipta lagi taman sari indah-berseri, sungai mengalir laksana ular gelang; tidak perlu lagi ayat-ayat yang lain yang diminta itu. Sebab bagi orang yang yakin segala yang nampak ini adalah ayat belaka:

Dan pada tiap-tiap sesuatu adalah tanda bagiNya;yang menunjukkan bahwa Dia Esa adanya.

Orang-orang yang yakinpun telah bercakap-cakap dengan Allah di dalam munajatnya, di dalam doanya, di dalam sembahyangnya yang khusyu', dan di dalam segala tingkah-laku perbuatannya. Dia selalu merasai bahwa dirinya tidak lepas dari tilikan Tuhan. Tetapi orang-orang yang bodoh, walaupun berapa banyaknya terbentang di hadapan matanya, tidak,juga dia akan yakin.
 


01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21  22  23 24 25 26 27 28 29  To Main Menu