Make your own free website on Tripod.com
                                                       
 
                                                                   TAFSIR AYAT 26 - 29

                                                                     


إِنَّ اللهَ لاَ يَسْتَحْيِيْ أَن يَضْرِبَ مَثَلاً مَّا بَعُوْضَةً فَمَا فَوْقَهَا فَأَمَّا الَّذِيْنَ آمَنُوْا فَيَعْلَمُوْنَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ وَ أَمَّا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَيَقُوْلُوْنَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلاً يُضِلُّ بِهِ كَثِيْراً وَيَهْدِيْ بِهِ كَثِيْراً وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلاَّ الْفَاسِقِيْنَ

(26) Sesungguhnya Allah tidak­lah malu membuat perumpamaan apa saja; nyamuk atau yang lebih kecil dari padanya. Maka adapun or­ang-orang yang beriman mengetahuilah dia bahwasa­nya itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka , Dan adapun orang-orang yang kafir maka berkatalah mereka : Apa yang dikehendaki Allah dengan perumpamaan begini ? Tersesatlah dengan sebabnya kebanyakan manusia dan mendapat petunjuk dengan sebabnya kebanyakan. Dan tidaklah akan tersesat dengan dia, melainkan orang-orang yang fasik


اَلَّذِيْنَ يَنْقُضُوْنَ عَهْدَ اللهِ مِن بَعْدِ مِيْثَاقِهِ وَ يَقْطَعُوْنَ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ أَن يُوْصَلَ وَ يُفْسِدُوْنَ فِي الْأَرْضِ أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُوْنَ

(27) (Yaitu) orang-orang yang memecahkan janji Allah sesudah diteguhkan dia , dan mereka putuskan apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan merusak mereka di bumi. Mereka itulah orang-orang yang merugi.


كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِاللهِ وَ كُنتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

(28) Bagaima kamu hendak kufur kepada Allah, padahal adalah kamu mati, lalu dihidupkan Nya kamu, kemudian Dia matikan kamu, kemudian Dia hidupkan; kemudian ke­padaNyalah kamu akan kembali.


هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِي الْأَرْضِ جَمِيْعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءَ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَ هُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

(29) Dialah yang telah menjadikan untuk kamu apa di b u m i ini sekaliannya.Kemudian menghadaplah Dia ke langit, lalu Dia jadikan dia tujuh langit, dan Dia terhadap tiap­tiap sesuatu adalah Maha Tahu.



إِنَّ اللهَ لاَ يَسْتَحْيِيْ أَن يَضْرِبَ مَثَلاً مَّا بَعُوْضَةً فَمَا فَوْقَهَا

"Sesungguhnya Allah tidaklah malu membuat perumparnaan apa saja, nyamuk atau lebah kecil daripadunya. " (pangkal ayat 26).

Orang-orang yang kafir atau munafik itu mencari-can saja pasal yang akan mereka bantahkan, untuk membantah Nabi. Dalam wahyu Tuhan Allah membuat berbagai perumpamaan. Tuhan pernah mengumpamakan orang yang mempersekutukan Allah dengan yang lain, adalah laksana laba-laba mernbuat sarang.

Sarang laba-laba adalah sangat rapuh. (Surat al-Ankabut ayat 41). T'uhanpun pernah mengambil perumpamaan dengan lalat.

Bahwa apa-apa yang dipersekutukan oleh orang-orang musyrikin dengan Allah itu, jangankan membuat alam, membuat lalatpun mereka tidak bisa (lihat Surat al-Haj ayat 73). Demikian juga perumparnaan yang lain-lain.

Maka orang yang munafik tidaklah memperhatikan isi, tetapi hendak mencari kelemahan pada misal yang dikemukakan itu. Kata mereka misal-misal itu adalah perkara kecil dan remeh. Adakan laba-laba jadi misal, adakan lalat diambil umpama, apa artinya semua itu. Peremehan yang beginilah yang dibantah keras oleh ayat ini.

"Allah tidaklah malu membuat perumpamaan apa saja, nyamuk atau yang lebih kecil daripadanya. "

Maksud mereka tentu hendak meremehkan Rasulullah , tetapi Tuhan Allah sendiri menjelaskan bahwa apa yang dikatakan Muhammad itu bukanlah katanya , dan misal perumpamaan yang dikemukakannya, bukanlah misal perbuatannya sendiri. Itu adalah misal Aku sendiri. Aku tidak malu mengemukakan perumpamaan itu.

Mengambil perumparnaan daripada nyamuk, atau agas' yang lebih kecil dari nyamuk, atau yang lebih kecil lagi, tidaklah aku segan-segan.

فَأَمَّا الَّذِيْنَ آمَنُوْا فَيَعْلَمُوْنَ أَنَّهُ

"Maka adapun orang-orang yang beriman,mengetahuilah mereka bahwasanya ini, "

yaitu perumpamaan-perumpamaan tersebut

الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ
"adalah kebenaran dari Tuhan mereka. "

Artinya kalau perumpamaan itu tidak penting tidaklah Tuhan akan mengambilnya menjadi perumpamaan. Sebab semua perhitungan Allah itu adalah dengan teliti sekali.

وَ أَمَّا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَيَقُوْلُوْنَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلاً
"Dan adapun orang-orang yang kafir, maka berkatalah mereka. "Apa yang dikehendaki Allah dengan perumpamaan begini?"

Apa kehendak Allah mengemukakan misal binatang yang hina sebagai laba-laba, binatang tidak ada arti sebagai lalat, dan kadang-kadang juga keledai yang buruk, kadang-kadang anjing yang mengulurkan lidah; adakah pantas wahyu mengemukakan hal tetek-bengek demikian ?

Maka bersabdalah Allah selanjutnya.

يُضِلُّ بِهِ
"Tersesatlah dengan sebabnya "
yaitu sebab perumpamaan­perumpamaan itu

كَثِيْراً وَيَهْدِيْ بِهِ كَثِيْراً وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلاَّ الْفَاسِقِيْنَ
"kebanyakan manusia dan mendapat petunjuk dengan sebabnya kebanyakan. Dan tidaklah akan tersesat dengan dia, melainkan orang-orang yang fasik " (ujung ayat 26)

Dengan merenungkan ayat ini apa yang timbul dalam hati kita ? Yang timbul dalam hati kita ialah pertambahan iman bahwa al­Qur'an ini memang diturunkan untuk seluruh masa dan untuk orang yang berpikir dan mencintai ilmu pengetahuan.
Orang-orang kafir itu menjadi sesat dan fasik karena bodohnya. Atau bodoh tetapi tidak sadar akan kebodohan.

Dan orang yang beriman tunduk kepada Allah dengan segala kerendahan hati. Kalau ilmunya belum luas dan dalam, cukup dia menggantungkan kepercayaan bahwa kalau tidak penting tidaklah Allah akan membuat misal dengan nyamuk, lalat, laba-laba dan lain-lain itu.
Meskipun dia belum tahu apa pentingnya. Tetapi orang yang lebih dalam ilmunya, benar-benar kagumlah dia akan kebesaran Allah.

Di jaman modern kita ini sudahlah orang tahu bahwa perkara nyamuk atau agas, bukanlah perkara kecil. Lalatpun bukan perkara kecil. Demikian mikroskop telah meneropong hama-hama yang sangat kecil, beratus ribu kali lebih kecil daripada nyamuk dan lalat. Nyamuk malaria, nyamuk penyakit kuning dan nyamuk yang menyebabkan penyakit tidur Afrika; menyimpulkan pendapat bahwa bahaya nyamuk lebih besar dari bahaya singa dan harimau.

Di Sumatera beberapa puluh tahun yang lalu terkenal nyamuk malaria di Panti dan Penyambungan yang menghabiskan orang senegeri-negeri. Penduduk Rao" pindah berbondong ke Malaya kira-kira 60 tahun yang lalu karena dashsyatnya serangan penyakit malaria.

Perserikatan Bangsa-bangsa dalam WHO memberantas hama-hama penyakit.
Ahli ­ahli kuman seperti Erlich, Pasteur dan lain-lain menghabiskan usia dan tenaga buat menyelidiki kuman-kuman penyakit menular. Sekarang dapatlah kita satu penafsiran lagi dari pada sabda tuhan pada Surat al-Muddatstsir (Surat 74 ayat 31).

وَ ما يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلاَّ هُوَ
"Dan tidaklah ada yang mengetahui tentara Tuhanmu, melainkan Dia sendiri. "
(Al Muddatstsir :31)

Hama penyakit pes (sampar), hama penyakit cacar, penyakit anjing gila; masya Allah ! Alangkah banyaknya lagi yang terkandung di belakang sabda Tuhan di ayat ini.

"Nyamuk atau yang lebih kecil daripadanya. "

Kadang-kadang kita harus belajar pada semangatkerjasama lebah dan semut. Kadang-kadang kita kagum melihat kehidupan ulat bulu, serangga dan lain-lain.
Tidak ada rupanya yang soal kecil. Kita bertambah iman bahwa daerah kekuasaan Allah Ta'ala pun meliputi akan kehidupan mereka semuanya.
Janganlah kita menjadi orang fasik yang tersesat karena kebekuan hati dan kesombongan. Berlagak tahu padahal tidak tahu.

اَلَّذِيْنَ يَنْقُضُوْنَ عَهْدَ اللهِ مِن بَعْدِ مِيْثَاقِهِ
"Yaitu orang-orang yang memecahkan janji Allah sesudah dia diteguhkan. "
(pangkal ayat 27).

Apakah janji Allah yang teguh yang telah mereka pecah ? Janji Allah terasa dalam diri kita sendiri-sendiri, yang ditunjukkan oleh akal kita. Janji Allah bersuara dalam batin manusia sendiri.

Yaitu kesadaran akalnya. Tadi pada ayat 21 disuruh mempergunakan akal buat mencari di mana janji itu. Apabila akal dipakai mestilah timbul kesadaran akan kekuasaan Tuhan dan perlindungan kepada kita manusia, kalau manusia itu insaf akan akalnya pastilah menimbul kan rasa terima kasih dan rasa pengabdian, ibadah kepada Allah.
Sekarang janji di dalam batin itu sendirilah yang mereka pecahkan, mereka rusakkan, lalu mereka perturutkan hawa ­nafsu.

وَ يَقْطَعُوْنَ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ أَن يُوْصَلَ
dan mereka putuskan apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan.

Apa yang mesti dihubungkan ? Yaitu pikiran sehat dengan natijah (konklusi) dari pikiran itu. Karena telah fasik mereka putuskan di tengah-tengah, tidak mereka teruskan sampai ke ujung.

Sebagaimana orang-orang yang mengatakan dirinya Free thinker. Katanya dia bebas berpikir. Lalu berpikirlah dia dengan bebas. Karena sifat pikiran, sampailah dia kepada kesimpulan bahwa tidak mungkin alam yang sangat teratur ini terjadi dengan sendirinya, dengan tidak ada pengaturnya.

Pikirannya telah sampai ke sana, tetapi dia putuskan hingga itu saja. Tidak diteruskannya sampai ke ujungnya> sebab itu dia telah fasik, dan telah mendustai dirinya sendiri.

Katanya dia berpikir bebas, Free thinker, padahal dia tidak bisa lagi.

وَ يُفْسِدُوْنَ فِي الْأَرْضِ
"Dan merusak mereka di bumi."

Kalau pikiran sehat sudah diperkosa itu di tengah jalan, dan dengan paksa dibelokkan kepada yang tidak benar, niscaya kekacauanlah yang timbul. Kekacauan dan kerusakan yang paling hebat di atas dunia ialah jika orang tidak bebas lagi menyatakan pikiran yang sehat. Inilah dia fasik

أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُوْنَ
"Mereka itulah orang-orang yang merugi. " (ujung ayat 27).

Sebab mereka telah berjalan di luar garis kebenaran.

Rugilah mereka karena kehinaan di dunia dan azab di akhirat. Yang lebih merugikan lagi ialah karena biasanya orang-orang penentang kebenaran itu ada yang hidupnya kelihatan mewah, sehingga orang-orang yang dungu pikiran menyangka mereka benar, se umpama nya Qarun di jaman Fir'aun.

Orang yang kecil jiwanya menjadi segan kepada mereka kebesaran dan kekayaan mereka, lantaran itu mereka bertambah sombong dan lupa daratan.

Bertambah tenggelam mereka di dalam kesesatan dan kerusakan karena puji dan sanjung. Lantaran itu bertambah tidaklah dapat lagi mereka mengendalikaan diri sendiri. Timbullah sifat-sifat angkuh, tak mau mendengarkan nasehat orang. Akhirnya mereka bertambah terang­terang berbuat fasik dan berbangga dengan dosa.

Akhir kelaknya karena tenaga manusia terbatas, usiapun tidak sepanjang yang diharap, timbullah penyakit, baik rohani atau jasmani. Penyakit gila hormat menimbulkan penyakit lain pula, yaitu cemburu kepada segala orang, bahwa orang itu akan menentangnya. 'I'akut akan jatuh, timbul berbagai was-was, sehingga pertimbangan akal yang sehat dikalahkan oleh prasangka. Tadinya ingin bersenang-senang, hasilnya ialah kepayahan yang tidak berunjung. Dicari sebabnya, tidak lain ialah karena kosongnya dada dari pegangan kepercayaan.

Tadinya mereka mencari bahagia tetapi salah memahamkan bahagia. Lantaran iman tidak ada, amalpun tidak menentu. Padahal kalau hendak mencari bahagia, amallah yang akan diperbanyak.

Kesenangan dan istirahat jiwa ialah bila dapat mengerjakan suatu amalan yang baik sampai selesai untuk memulai lagi amal yang baru, sampai berhenti bila jenazah telah dihantar ke kubur.

Orang yang telah fasik, yang telah terpesona haluan bahtera hidupnya dari tujuan yang benar, akan tenggelamlah dia ke dalam kesengsaraan batin, yang walaupun sebesar gunung erztas persediaannya, tidaklah akan dapat menolongnya.

Adakah rugi yang lebih dari ini ?
Kemudian datanglah bujuk ra_yuan Allah kembali untuk menyadarkan manusia supaya jangan rnenerxipuh jalan yang fasik dan kufur itu.

كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِاللهِ وَ كُنتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ
"Betapa kamu hendak kufur kepada Allah, padahal adalah kamu mati , lalu dihidupkanNya kamu. " (pangkal ayat 28).

Cobalah pikirkan kembali dari pada tidak ada, kamu telah Dia adakan. Entah dimanalah kamu dahulunya tersebar; entah di daun kayu, entah di biji bayam, entah di air mengalir, tidak ada bedanya dengan batu tercampak, rumput yang lesa terpijak, ataupun serangga yang tengah menjalar, kemudian dihidupkanNya kamu Terbentuklah mani dalam Shulbf ayahmu dan taraib ibumu, yang berasal dari darah, dan darah itu berasal dari makanan; hormon, kalori dan vitamin. Kemudian kamu dalam rahim ibumu, dikandung sekian bulan lalu diberi akal. Mengembara di permukaan bumi berusaha mencukupkan keperluan-keperluan hidup.

ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ
"Kemudian Dia matikan kamu. "

Dicabut nyawamu dipisahkan dari badanmu. Badan dihantarkan kembali kepada asalnya. Datang dari tanah dipulangkan ke tanah; kembali seperti sernula, entah jadi rumput lesa terpijak, entah jadi tumpukan tulang-tulang.

Orang membangun kota yang baru, kubur-kubur dibongkar, tulang-tulangnya dipindahkan atau tidak diketahui lagi bahwa di sana ada kuburan dahulunya, lalu didirikan orang gedung di atasnya.

ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ
"Kemudian Dia hidupkan. "

Yaitu hidup yang kedua kali. Sebab nyawa yang pisah dari badan tadi tidaklah kembali ke tanah, tetapi pulang ke tempat yang telah ditentukan buat menungggu panggilan Hari Kiamat. Itulah hidup yang kedua kali; hidup salah satu dari dua.

Yaitu hidup yang lebih tinggi dan lebih mulia. Karena di jaman hidup pertama di dunia kamu memang melatih diri dari dalam kehidupan yang tinggi dan mulia. Atau hidup yang lebih sengsara, karena memang dalam kehidupan pertama kamu menempuh jalan kepada kesengsaraan itu.

ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ
"Kemudian kepadaNyalah kamu akan kembali. " (ujung ayat 28).

Artinya setelah kamu dihidupkan kembali, kamu dipanggil kembali kehadirat Allah untuk diperhitungkan baik baik, dicocokkan bunyi catatan Malaikat dengan perbuatanmu semasa hidupmu, lalu diputuskan ke tempat mana kamu akan digolongkan, kepada golongan orang-orang yang berbahagiakah atau kepada golongan orang-orang yang celaka.

Dan keadilan akan berlaku dan kezaliman tidak akan ada. Sedang belas kasihan IIahi telah kamu rasai sejak dari kini. Kalau kamu mendapat celaka, tidak lain hanyalah karena salahmu sendiri.

Begitulah Tuhan Allah telah membuat tingkat hidup yang kamu tempuh, maka bagaimana juga lagi kamu kufur terhadapNya.

Bagaimana juga lagi kamu hendak berbuat sesuka hati dalam kehidupan yang pertama ini ? Padahal kamu tidak akan dapat membebaskan dirimu daripada garis yang telah ditentukanNya itu.

Padahal bukan pula Dia menyia-nyiakan kamu dalam hidup ini; diutusNya Rasul, dikirimNya wahyu, diberiNya petunjuk agama akan jadi pegangan kamu. DiberikanNya bagi kamu bimbingan sejak matamu terbuka melihat alam ini. Adakah patut, wahai, bimbingan kasih Tuhan yang sedemikian rupa kamu mungkiri dan kamu kufuri Dia ?
Bawalah tafakkur, pakailah akal; adakah patut perbuatanmu itu ?

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِي الْأَرْضِ جَمِيْعًا
"Dialah yang telah menjadikan untuk kamu apa yang di bumi ini sekaliannya. " (pangkal ayat 29).

Alangkah besar dan agung Qudrat al-Khaliq itu, dan alangkah besar Rahman dan Rahim yang terkandung di dalamnya. Semuanya ini bukan untuk orang lain, tetapi untuk kamu, untuk kamu saja, hai manusia !

Sehingga air yang mengalir, lautan yang terbentang, kayu yang tumbuh di hutan, batu di sungai, pasir di pantai; untuk kamu! Binatang ternak, ikan di laut; untuk kamu.

Dan apabila kamu gali bumi selapis dua lapis, bertemulah kekayaan entah minyak tanah, mangan, uranium, besi dan segala macam logam; untuk kamu! Dan diberi alat untuk mengarnbil manfaat dari sekalian pemberian rahmat, nikmat dan karunia itu, yaitu akal, ilmu dan pengalaman kamu.

Cobalah perhatikan segala yang ada disekeliling kamu ini dan bertanyalah kepada semuanya, niscaya semua akan menjawab: "Kami ini untuk Tuan!

ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءَ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ
"Kemudian menghadaplah Dia ke langit, lalu Dia jadikan dia tujuh langit. "

Artinya diselesaikanNya dahulu nasibmu disini, dibereskanNya segala keperluanmu, barulah Allah menghadapkan perhatianNya menyusun tingkatan langit, yang tadinya adalah Dukhan, yaitu asap belaka.

Dalam bahasa Ilmu pengetahuan disebut Khaos. Maka Tuhanpun mengatur kelompok-kelompoknya, yang dikatakanNya kepada kita ialah tujuh. Bagaimana tujuhnya kita tidak tahu. Kita hanya percaya; sebab urusan kekayaan langit itu tidaklah terpermanai (terhitung) banyaknya.

Sedangkan bila kita duduk pada sebuah perpustakaan besar yang berisi satu juta buku tulisan manusia, lalu kita baca, berumurpun kita 1.000 tahun tidaklah akan dapat dibaca satu juta jilid buku itu. Kononnya akan mengetahui apa perbendaharaan di langit:

وَ هُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
"Dan Dia terhadap tiap-tiap sesuatu adalah Maha Tahu. " (ujung ayat 29).

Artinya Dialah Yang Maha Tahu bagaimana cara pembuatan dan pembangunan alam itu. Bukanlah pula kamu dilarang buat mengetahuinya sekedar tenaga dan akal yang ada padamu., bahkan dianjurkan kamu meniliknya, untuk rnenambah yakinmu bahwa memang Dialah Maha Pengatur itu.

Dan dari ayat inipun dapatlah kita mengerti bahwa penyusunan Tuhan Allah atas alam, baik penciptaan bintang-bintang termasuk bumi ini, ataupun kejadian langit adalah memakai jaman dan waktu yang teratur, terletak di luar daripada hitungan masa dan tahun kita ini. Sebab hitungan tahun kita ini adalah sangat terbatas, hanya pada peredaran bumi rnengelilingi matahari dan bulan mengelilingi bumi. Padahal di luar daerah kita entah berapalah banyak lagi matahari dengan peredarannya sendiri dan hitungannya sendiri. Tuhanlah yang Maha Tahu semuanya itu. Penyelidikan kita hanyalah untuk tahu bahwa kita tidak tahu.

Dan amat janggal dalam perasaan beragama kalau sekiranya hasil penyelidikan kita manusia tentang kejadian alam ini, yang baru bertumbuh kemudian, lalu kita jadikan alat buat membatalkan keterangan wahyu.

Padahal maksud al-Qur'an, terutama maksud ayat ini ialah tertentu buat mernberikan peringatan kepada manusia bahwasanya isi bumi ini disediakan buat mereka semua.

Maka patutlah mereka bersyukur kepada Tuhan clan pergunakan kesempatan buat mengambil faedah yang telah dibuka itu. Setelah siap Tuhan menyediakan segala sesuatu untuk manusia hidup di dalam bumi, maka Tuhan menghadapkan amar perintahNya kepada langit dan terjadilah langit itu tujuh. Apakah manusia telah terjadi sebelum Allah mengatur tujuh langit ? Apakah kernudian baru manusia baru diadakan dalam bumi setelah terlebih dahulu persediaan buat hidupnya disediakan selengkapnya? Tidaklah ada dalarn ayat ini.

Apakah yang dimaksud dengan tujuh langit ? Apakah benar-benar tujuh? Atau hanya menurut undang-undang perbahasan Arabi bahwasanya bilangan tujuh ialah menunjukkan banyak ? Dan bagaimanakah Tuhan menghadapkan amar perintahNya kepada langit itu? Semuanya ini tidaklah akan dikuasai oleh pengetahuan manusia.

Sebab itu janganlah kita belokkan maksud ayat ke sana. Tuntutlah ilmu rahasia alam ini sedalam-dalamnya: Carilah fosil-fosil makhluk purbakala yang telah terbenam dalam bumi berjuta tahun. Pakailah teori Darwin dan lain-lain, moga-moga saja kian lama kian tersingkaplah bagi kita betapa hebatnya kejadian alam itu dan bertambah iman akan adanya Yang Maha Kuasa atas alam.

Tetapi jangan sekali-kali dengan ilmu kita yang terbatas mencoba membatalkan ayat dan ilmu Tuhan yang tidak terbatas.

Belayar ke pulau bakal. Bawa seraut dua tiga; Kalau kail panjang sejengkal, .Ianganlah laut hendak diduga
Maka dengan ayat ini sekali lagi kita tafakkur memikirkan betapa kasih-sayang Allah kepada kita. Sehingga rencana pemeliharaan hidup manusia didahulukan daripada perintah amar atas tujuh langit.


01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21  22  23 24 25 26 27 28 29  To Main Menu