Make your own free website on Tripod.com
                                                       
 
                                                 Tafsir Suroh Maryam ayat 81 - 87        

                                                                   


 وَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللهِ آلِهَةً لِيَكُونُوا لَهُمْ عِزًّا َ

(81) Dan mereka ambil lain dari Allah beberapa Tuhan, supaya mereka semuanya menjadi pelindung mereka.


 كَلاَّ سَيَكْفُرُونَ بِعِبادَتِهِمْ وَ يَكُونُونَ عَلَيْهِمْ ضِدًّا

(82) Kallaa! Sekali-kali tidak; bahkan tuhan-tuhan itu akan menolak peribadatan mereka, dan mereka semuanya akan menantang perbuatan mereka.


 أَلَمْ تَرَ أَنَّا أَرْسَلْنَا الشَّياطينَ عَلَى الْكافِرينَ تَؤُزُّهُمْ أَزًّا َ

(83) Tidakkah engkau lihat, sesung­guhnya Kami telah mengirim syaitan-syaitan kepada orang orang yang kafir itu, untak mengganggu mereka dengan berbagai gangguan.


 فَلا تَعْجَلْ عَلَيْهِمْ إِنَّما نَعُدُّ لَهُمْ عَدًّا

(84) Maka janganlah engkau hendak tergesa menghadapi mereka. Sesungguhnya, lain tidak, Kami telah memperhitungkan untuk mereka dengan sebenar-benar perhitungan.


 يَوْمَ نَحْشُرُ الْمُتَّقينَ إِلَى الرَّحْمٰنِ وَفْداً َ

(85) (Yaitu) pada hari akan Kami kumpulkan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan Penga­sih , sebagai sekumpulan per­utusan.


 وَ نَسُوقُ الْمُجْرِمينَ إِلى‏ جَهَنَّمَ وِرْداً َ

(86) Dan akan Kami halaukan orang­-orang yang durhaka ke dalam neraka jahannam dalam keadaan dahaga.


 لا يَمْلِكُونَ الشَّفاعَةَ إِلاَّ مَنِ اتَّخَذَ عِنْدَ الرَّحْمٰنِ عَهْداً

(87) Mereka tidak mempunyai (hak) syafa'at, kecuali orang-orang yang telah mengadakan di sisi Tuhan Pengasih, suatu per­janjian.


Suatu Kesalahan Berfikir

 وَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللهِ آلِهَةًَ

"Dan mereka ambil lain dari Allah beberapa Tuhan." (pangkal ayat 81).

Dalam ayat dikatakan mereka ambil, artinya datang dari kehendak mereka sendiri, karena berfikir yang kacau. Betapa tidak? Bukankah mereka sendiri pun mengakui sejak semula bahwa yang sebenar Tuhan itu hanya Allah sahaja, tiada yang lain. Mengapa mereka ambil lagi beberapa tuhan ? Apakah mereka merasa tidak cukup kekuasaan itu mutlak pada Allah sahaja ?

"Supaya mereka semuanya," yaitu tuhan-tuhan yang banyak itu;

 لِيَكُونُوا لَهُمْ عِزًّا

"Menjadi pelindung mereka." (ujung ayat 81).

Tempat mereka minta tolong, tempat mereka minta bantu. Padahal diri mereka sendiri, yang mengambil atau "membuat" tuhan-tuhan yang lain itu jauh lebih kuat dari tuhan-tuhan yang mereka ambil itu.

Apakah alam-alam lain, benda-benda lain, atau manusia-manusia lain yang mereka pertuhan itu suka akan yang demikian? Ayat selanjutnya me­negaskan:

 كَلاَّ

"Kallaa! Sekali-kali tidak!" (pangkal ayat 82).

Artinya sekali-kali tidaklah betul perbuatan mereka itu:

سَيَكْفُرُونَ بِعِبادَتِهِمْ

"Bahkan tuhan-tuhan itu akan menolak per­ibadatan mereka."

Artinya tidaklah mereka suka diri mereka dipertuhan:

 وَ يَكُونُونَ عَلَيْهِمْ ضِدًّا

"Dan mereka semua­nya akan menantang perbuatan mereka." (ujung ayat 82).

Orang-orang atau barang-barang yang mereka pertuhan itu akan menolak dan akan menantang. Karena mereka insaf semuanya bahwa mereka adalah makhluk yang dijadikan Tuhan belaka, sama keadaannya dengan orang-orang yang mempertuhan mereka itu. Niscaya takutlah mereka akan diberikan per­tanggungan jawab tentang perbuatan orang-orang yang mempersekutukan mereka dengan Tuhan itu.

 أَلَمْ تَرَ أَنَّا أَرْسَلْنَا الشَّياطينَ عَلَى الْكافِرينَ تَؤُزُّهُمْ أَزًّا َ

"Tidakkah engkau lihat, sesungguhnya Kami telah mengirim syaitan­-syaitan kepada orang-orang yang kafir itu, untuk mengganggu mereka dengan berbagai gangguan. " (ayat 83).

Di dalam ayat ini Nabi kita s.a.w. disuruh Tuhan memperhatikan dengan seksama, cobalah lihat, akan nyata kelak bahwa syaitan-syaitan telah mempengaruhi orang-orang yang mempersekutu­kan yang lain dengan Tuhan itu. Memang sejak semula manusia datang ke dunia ini, syaitan telah didatangkan bersama-sama.

Syaitan akan memperdaya­kan manusia mana yang lemah imannya yang tidak teguh pendiriannya. Pengaruh syaitan-syaitan itu akan kelihatan nyata sekali dalam cara mereka memperhambakan diri kepada syaitan, atau menyembah kepada yang lain. Macam-macam saja peraturan yang mereka perbuat, yang satu berbeda dengan yang lain. Serupa juga dengan apa yang kita lihat sekarang dengan adanya ber­bagai gerakan yang menyeleweng dari Islam, lalu mendakwakan diri mereka percaya kepada Tuhan dan membuat peribadatan sendiri-sendiri.

Sebagai gerakan kaum "Kebatinan" di Indonesia; satu dukun satu pula per­ibadatannya. Satu "Kiyahi" satu pula pemujaannya, sehingga Kantor Penyelidik Kepercayaan-kepercayaan yang berbagai macam itu mencatat tidak kurang dari 200 macam kepercayaan, baru di Tanah Jawa saja. Ada yang bermenung pagi-pagi buta menantang cahaya Matahari yang baru terbit. Ada yang duduk bersila mengiringkan Matahari terbenam. Ada yang bangun tengah malam lalu bersemadi, atau seorang murid dimandikan oleh gurunya. Sebentar-bentar sang dukun atau sang guru mengatakan bahwa dia telah mendengar suara atau telah mendapat mimpi, atau telah mendapat "wahyu cakraningrat", dan se­bagainya.

"Tidakkah engkau lihat!"

Demikian bunyi pangkal ayat. Karena memang, di belakang kebenaran yang hanya satu adalah jalan dhalal (sesat) yang bersimpang-siur.

 فَلا تَعْجَلْ عَلَيْهِمْ

"Maka janganlah engkau hendak tergesa menghadapi mereka." (pangkal ayat 84).

Peringatan Tuhan kepada Nabi kita s.a.w.: Jangan engkau getisah ! Jangan engkau merasakan dalam hatimu, mengapa tidak dihancurkan Tuhan saja kemunkaran ini sekarang juga. Az-Zamakhsyari memberinya tafsir dalam `AI-Kasysyaf'nya demikian: "Janganlah engkau mau bergegas atau tergesa­-gesa segera juga hendaknya engkau dan orang-orang Islam yang mengikut engkau terlepas dari kejahatan mereka dan bersih bumi ini , terkikis habis sisa-­sisa mereka. Karena tidak ada di antara engkau dan di antara yang engkau inginkan itu kecuali hanya menunggu hari, atau beberapa nafas yang dapat dihitung:

 إِنَّما نَعُدُّ لَهُمْ عَدًّا

"Sesungguhnya lain tidak, Kami telah memperhitungkan untuk mereka dengan sebenar-benar perhitungan." (ujung ayat 84).

Artinya , bahwasanya perhitungan itu sudah ada di tangan Allah. Kalau dua sudah dua kali, pastilah jumlahnya empat. Itu adalah pasti. Tidak akan ada jalan lain lagi. Segala yang mereka lakukan itu tidak lepas daripada perhitungan. Mereka tidak menghitung, namun Tuhan menghitung. Kalau Nabi dan orang yang beriman merasa seakan-akan keputusan itu lama baru datang, dan mereka hendak bergegas terburu-buru saja, karena mereka tidak memperhati­kan perhitungan itu.

Meskipun ayat ini mengenai orang yang kafir, namun orang yang beriman bila membaca ayat-ayat yang berisi melarang tergesa-gesa ini, mereka tafakkur juga. Ibnu Abbas sendiri setelah sampai kepada ayat 84 ini, yang mengatakan

Bahwa langkah manusia tidak lepas daripada perhitungan Tuhan, menangislah beliau dengan tidak disadari. Orang bertanya mengapa beliau menangis. Beliau menjawab: "Akhir perhitungan ialah keluarnya nafasmu yang terakhir dari tubuhmu. Akhir perhitungan ialah berpisahnya engkau dengan keluarga­mu. Akhir perhitungan ialah engkau dimasukkan ke dalam liang lahad kuburmu."

Ketika ahli pengajar raja-raja yang terkenal, Ibnus Sammak membacakan ayat ini di hadapan Khalifah al-Ma'mun, termenung baginda. Di akhir menung­nya baginda berkata: "Kalau nafas yang turun naik itu selalu dihitung, sedang tambahan atau bantuan yang baru tidak ada, akhirnya tentu habis."

Lega Dada Orang Yang Takwa

 يَوْمَ نَحْشُرُ الْمُتَّقينَ إِلَى الرَّحْمٰنِ وَفْداً َ

"(Yaitu) pada hari akan Kami kumpulkan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan Pengasih, sebagai sekumpulan perutusan." (ayat 85).

Ujung ayat ialah "Wafdan" yang kita artikan perutusan. Dalam bahasa kaum diplomat disebut "Delegasi".

Apabila terjadi Perayaan-perayaan Besar Hari Pelantikan Raja-raja, atau Tuanku naik naubat, maka datanglah Utusan-utusan yang diundang dengan berbagai Kebesaran untuk menghadiri Hari yang bersejarah itu. Kerajaan sahabat mengirimkan delegasi, atau wafd, atau perutusan dengan segala ke­besarannya, memakai kendaraan-kendaraan yang layak bagi Utusan suatu Negara, melengkapi dan menghiasi dada mereka dengan bintang-bintang kehormatan.

Di zaman hidup Nabi kita s.a.w. sendiri, setelah bangsa-bangsa Arab di sekeliling Jazirah Arabia itu mengakui Kedaulatan Islam di bawah pimpinan Nabi s.a.w., maka berdatanganlah utusan-utusan (Wufud) dari seluruh Jazirah itu. Bahkan datang juga Perutusan dari Najran, Pusat kegiatan Agama Nasrani di sebelah Selatan Tanah Arab. Pendeta-pendeta dan orang besar-besar yang datang itu lengkap dengan pakaian-pakaian kebesarannya, sehingga pendeta­-pendeta pun memakai pakaian kependetaan.

Demikian lapang dada Nabi s.a.w., setelah beliau lihat mereka itu terlalu kaku dengan pakaian resmi itu hendak berunding dengan beliau, beliau suruh tanggalkan saja pakaian­-pakaian yang berat itu, agar lebih leluasa.

Inilah keterangan yang terlebih dahulu harus dijelaskan tentang arti wafdan, atau perutusan atau delegasi. Sudah menjadi tradisi sejak zaman purbakala bahwa wafdan itu adalah utusan mulia, utusan istimewa.

Maka tersebutlah di dalam ayat 85 ini bahwasanya orang-orang yang ber­takwa akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, sebagai sekumpulan perutusan.

Ibnu Katsir menafsirkan bahwasanya Wali-waliNya, orang-orang yang terdekat kepadaNya, yaitu orang-orang yang muttaqin, yang takut bercampur harap dia akan Tuhannya di dunia ini, yang mengikut segala ajaran yang di­bawakan oleh Rasui-rasul, diterimanya lagi diakuinya, ditaatinya apa yang mereka perintahkan, dihentikannya apa yang mereka larang; mereka itu akan berkumpul menghadap Tuhan dalam keadaan sebagai perutusan.

Ibnu Katsir anenjelaskan lagi dalam tafsimya: Bahwa Utusan-utusan itu akan datang dengan memakai kendaraan. Mereka mengendarai kendaraan-kendaraan yang terdiri dari cahaya Kedatangan mereka adalah dalam keadaan sebaik­-baik perutusan di negeri yang penuh karamah (kemuliaan) dan ridha dari Allah.

Sebaliknya Bagi Yang Durhaka

 وَ نَسُوقُ الْمُجْرِمينَ إِلى‏ جَهَنَّمَ وِرْداً َ

'Dan akan kami halaukan orang-orang yang durhaka ke dalam neraka jahannam dalam keadaan, dahaga." (ayat 86).

Dengan ayat ini diterangkan kebalikan dari apa yang dilakukan atas hamba Allah yang bertakwa Yaitu terhadap hamba Allah yang durhaka. Mereka bukan disambut sebagaimana menyambut kedatangan utusan yang mulia, Melainkan dihalaukan laksana menghalau binatang ternak, ke dalam neraka jahannam, yaitu tempat yang mereka pilih sendiri tatkala mereka masih hidup di dunia ini. Tak ada yang menolong, tak ada yang memberikan perlindungan dan syafa"at:

 لا يَمْلِكُونَ الشَّفاعَةَ إِلاَّ مَنِ اتَّخَذَ عِنْدَ الرَّحْمٰنِ عَهْداً

"Mereka tidak mempunyai (hak) syafa'at, kecuali orang-orang yang telah mengadakan di sisi Tuhan Pengasih, suatu perjanjian." (ayat 87).

Susunan ayat yang tiga berturut-turut ini sudah jelas. Yaitu hamba Allah yang muttaqin akan datang menghadap Tuhan laksana kedatangan Utusan Raja-raja layaknya, dengan serba kebesaran, berkendaraan angkatan. Sedang orang yang hidupnya dalam durhaka dan durjana akan dihalau ke neraka jahannam dengan serba kehinaan. Tidak ada yang akan menolong, tidak akan ada yang mernberikan syafa"at , kecuali kalau di kala hidupnya telah dibuatnya janji dengan Tuhan .

Ayat ini anemberikan ketegasan jalan yang lapang bagi tiap orang akan bertaubat dari kesalahan. Berikanlah didikan kepada anak sejak dia masih kecil, agar dia ingat janjinya dengan Tuhan. Umur 7 tahun ajarlah dan didiklah dia sembahyang Ajar mengaji , lancarkan lidahnya membaca ayat-ayat Tuhan. Malahan seketika dia mulai lahir ke dunia, ucapkanlah kalimat azan (bang) pada telinganya. karena memang ada sebuah Hadits, baik yang dirawikan oleh Abu Daud atau yang dirawikan oleh an-Nasa'i , anjuran Nabi menyambut kel­ahiran putera dengan azan pada telinganya. Karena di dalam ucapan azan itu telah terdapat janji itu .

Ibnu Abbas berkata: "Janji itu ialah La ilaha illalah ," tidak ada Tuhan melainkan Allah.

Dan menurut riwayat daripada Muqatil dan Ibnu Abbas pula: "Tidaklah akan diberi syafa'at kecuali orang yang mengucapkan Asyhadu Alla Ilaha Illallah! Dan berlepas diri dari segala daya-upaya dan kekuatan, kecuali dengan Allah, dan tidak mengharap dari siapa-siapa, kecuali dari Allah."

Menurut sebuah riwayat pula daripada Ibnu Mas'ud, ketika beliau menafsirkan ayat, dia berkata: "Pernah aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Apakah tidak sanggup seseorang kamu mengambil janji tiap pagi dan tiap petang hari dengan Allah?"  Lalu ada yang bertanya: "Ya Rasu! Allah, janji apa­kah agaknya itu?" Beliau jawab: "Hendaklah baca tiap pagi dan petang:

                                                                  

                                 

"Ya Allah Pencipta sekalian langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata. Sesungguhnya aku berjanji kepada Engkau pada waktu hidup di dunia ini, bahwasanya aku naik saksi bahwa tidak ada Tuhan, melainkan Engkau, Engkau sendiri saja, tidak ada sekutu bagi Engkau, dan bahwasanya Muhammad adalah hamba Engkau dan Utusan Engkau; maka janganlah dipercayakan aku ini kepada diriku sendiri. Karena jika Engkau biarkan saja diriku terserah kepada diriku sendiri, akan bertambah jauhlah aku dari kebaikan dan bertambah dekatlah aku dari kejahatan. Sedang aku tidaklah berpegang teguh melainkan kepada RahmatMu saja. Maka jadikanlah untukku sesuatu janji di sisi Engkau yang akan Engkau penuhi untukku di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidaklah pernah menyalahi janji."

                                                            

Kata Nabi selanjutnya: "Apabila ini dibacanya, akan dicapkan Allahlah untuknya janji itu dan diletakkannya di bawah `Arasy. Dan apabita kiamat nanti datang, akan menyerulah Penyeru: "Siapa dia yang telah ada janjinya di sisi Allah?" Qrang itu pun berdiri dalu masuklah dia ke dalam syurga."

(Riwayat Termidzi dan lain-lain)

Maka karena janji itu telah diikat sejak semula dan kedua ibu-bapa pun mendidik anak-anaknya, bahkan sejak dia lahir ke dunia agar mengikatkan diri dengan janji itu , meskipun dalam pergolakan hidup kadang-kadang terseleweng juga kepada yang buruk, namun syafa'at akan tetap didapat juga di akhirat , karena diri telah dibentuk dengan itu sejak lagi kecil.

Maka kita dapatilah dalam ayat-ayat ini tiga macam penyelenggaraan yang akan. diterima kelak di akhirat itu.

Ada orang yang kedatangannya akan diterima sebagai layaknya ke­datangan Utusan dari negara yang jauh, karena hidupnya bertakwa. Dan ada lagi yang akan diterima dengan serba kehinaan, akan dihalaukan ke dalam neraka jahannam, karena hidupnya yang durjana. Dan ada lagi macam yang ketiga, yaitu meskipun tidak diterima sebagai kedatangan utusan, namun bagi­nya ada juga keringanan sebab belum pernah selama hidupnya di dunia dia melupakan hubungannya janjinya dengan Tuhan, meskipun terlanjur berdosa.

`Amer bin Qais al-Mulla-i berkata: "Seorang yang beriman apabila keluar dari dalam kuburnya akan diterima oleh amalannya sendiri dalam rupa yang paling bagus dan suara yang paling merdu. Lalu amalnya itu bertanya kepada nya: "Apakah engkau kenal siapa aku?" Dia menjawab: "Tidak kenal! Cuma hatiku senang melihat indah wajahmu dan merdu suaramu." Lalu si amal itu menjawab: "Begitulah aku ini selama di dunia dahulu. Aku ini adalah amalan­mu yang shalih seketika engkau berada di dunia. Oleh karena selama di dunia dahulu seakan-akan engkau aku perkuda ke mana pergi, sekarang engkau per­kuda pulalah aku, tungganglah aku! Karena pada hari inilah akan dikumpulkan orang-orang yang bertakwa menghadap Tuhan Maha Pengasih sebagai perutusan."

Dan adapun orang yang kafir akan diterimalah dia oleh amalannya dalam rupa yang sangat jelek dan bau yang sangat busuk. Lalu dia pun ber­tanya: "Kenalkah engkau siapa aku?" Dia menjawab: "Aku tak kenal! Cuma aku lihat wajahmu sangat jelek, baumu sangat busuk." Si amal menjawab: "Demi­kian pulalah aku di dunia dahulu. Aku ini adalah amalanmu yang jahat. Se­ketika di dunia dahulu engkau perkuda aku ke mana pergi. Sekarang engkau akan aku tunggangi pula."

Banyaklah riwayat hadits-hadits yang dirawikan tentang sambutan terhadap orang-orang yang bertakwa itu pada hari kiamat. Ada Hadits yang shahih atau hasan dan ada juga yang kurang kuat, namun sambutan sebagai menyambut utusan itu banyaklah bertemu di dalam kitab-kitab tafsir. Sebagai suatu riwayat dari Ibnu Abbas juga, bahwa mereka akan disambut dengan kendaraan apa yang mereka sukai seketika hidup di dunia. Suka berkuda diterima dengan kuda, suka berunta diterima dengan unta. Suka berkapal akan diterima dengan kapal: Tetapi pelananya kuda atau unta itu bersalutkan emas, bertatahkan permata ratna mutu manikam.

Yang durhaka dihalau dan digiring kendaraan dalam keadaan haus dan dahaga.

Kita berdo'a kepada Tuhan , moga-moga kita diberi selamat dunia dam Akhirat , amin .


 01 02  03  04  05  06  07  08  09  10   11  12  13  14  15  16   17  18  19  20  21   Back To MainPage  >>>>