Make your own free website on Tripod.com
                                                       
 
                                                 Tafsir Suroh Maryam ayat 1 - 11         

                                                                   

Dengan Nama Allah Yang Maha Murah lagi Pengasih


كهٰيٰعص َ
(1)
Kaf - Ha f - Ya - `Ain - Shad.


ذِكْرُ رَحْمَةِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا َ
(2)
(Inilah) peringatan rahmat Tuhanmu kepada hambanya Zakariya .


إِذْ نادى‏ رَبَّهُ نِداءً خَفِيًّا َ
(3)
Seketika dia menyeru Tuhannya dengan seruan yang lemah lembut.


قالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَ اشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْباً وَلَمْ أَكُنْ بِدُعائِكَ رَبِّ شَقِيًّا َ
(4)
Dia berkata : Tuhanku ! Sesungguhnya telah lemah tulang-belulangku dan telah nyala
kepalaku oleh uban ; dan tidak lah pernah aku di dalam mendoa kepadaMu. ya Tuhanku, merasakan kecewa.


وَ إِنِّي خِفْتُ الْمَوالِيَ مِنْ وَرائي‏ وَ كانَتِ امْرَأَتي‏ عاقِراً فَهَبْ لي‏ مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا َ
(5)
Dan sesungguhnya aku khuatir akan keluarga-keluarga dl belakangku, sedang isteriku adalah mandul. Sebab itu anugerahilah aku (dari kurnia) langsung dari Engkau seorang pengganti.


يَرِثُني‏ وَ يَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ وَ اجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا َ
(6)
Yang akan mewarisiku dan akan mewarisi keluarga Ya‘kub.dan jadlkanlah dia Tuhanku seorang yang diridhai


يا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلامٍ اسْمُهُ يَحْيى‏ لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا َ
(7)
Ya Zakariya' Sesungguhnya Kami akan menggembirakan engkau dengan seorang putra namanya Yahya. Belum pernah Kami jadikan baginya yang senama.


قالَ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لي‏ غُلامٌ وَ كانَتِ امْرَأَتي‏ عاقِراً وَ قَدْ بَلَغْتُ مِنَ الْكِبَرِ عِتِيًّا َ
(8)
Dia berkata: Tuhankul Bagaimana kiranya akan ada bagiku seorang putera , padahal isteriku adalah mandul , sedangkan aku dalam ketuaanku sudah serba lemah


قالَ كَذلِكَ قالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَ قَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَ لَمْ تَكُ شَيْئاً َ
(9)
Berkata dia Demikianlah telah berkata Tuhan engkau , Dia itu bagiKu adalah mudah. Dan sesungguhnya telah Aku ciptakan engkau dari sabelumnya. padahal engkau belum jadi sesuatu apa pun


قالَ رَبِّ اجْعَلْ لي‏ آيَةً قالَ آيَتُكَ أَلاَّ تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلاثَ لَيالٍ سَوِيًّا
(10)
Berkata dia Tuhan, adakan kiranya bagiku sesuatu tanda ! Berkata Dia : Tanda engkau ialah bahwa engkau tidak akan bercakap cakap dengan manusia tiga malam lamanya. sedang engkau dalam keadaan sihat.


فَخَرَجَ عَلى‏ قَوْمِهِ مِنَ الْمِحْرابِ فَأَوْحى‏ إِلَيْهِمْ أَنْ سَبِّحُوا بُكْرَةً وَ عَشِيًّا َ
(11)
Maka keluarlah dia kepada kaumnya dari mihrab. Lalu di isyaratkannya kepada mereka , supaya hendaklah kamu bertasbih pagi dan petang,



كهٰيٰعص َ
" Kaf - Ha - Ya - `Ain - Shad " (ayat 1).

Semuanya adalah huruf huruf hijaiyah. yang sebagai telah banyak kita uraikan. sepintas lalu dapat dikatakan tidak ada arti yang terkandung di dalam huruf huruf . Sehingga banyak ahli tafsir mengatakan saja "Allahu a‘lamu bimuradihi" , Allahlah yang lebih tahu apa maksudnya Tetapi sungguhpun demikian terdapat juga beberapa riwayat yang oleh ahli-ahli tafsir bahwa huruf-huruf itu ada artinya. Menurut satu riwayat yang diterima dan lbnu Abbas ; keempat Huruf itu adalah potongan dari pada nama-nama Allah.

Huruf الكاف ( Kaf ) adalah potongan dari nama Allah AL-KABIR yang berarti Maha Besar
Huruf الهاء ( Ha ) potongan daripada nama Allah yaitu Al-HADI, yang berarti, Yang Memberikan Petunjuk,
Huruf الياء ( Ya ) berikut dengan huruf العين ( `Ain ) adalah dari AL-'AZIZ; Yang Maha Kuasa atau Maha Perkasa
Huruf الصّاد (Shad) potongan dari ASH-SHADIQ ; Yang Maha Jujur.

Dan satu tafsiran lagi diterima dari Abdullah bin Mas`ud dan beberapa sahabat Rasulullah saw. yang lain; Kaf potongan dari Al-Malik; ialah nama Allah yang berarti Maharaja. Huruf Ha potongan atau akhir dan kalimat Allah itu sendiri , Ya dan ‘Ain dan kalimat AL- ‘AZIZ sabagai arti yang di atas tadi juga.

Sedang Huruf Shad ialah potongan nama salah satu nama Allah lagi. yaitu Al-Mushawwir; artinya yang memberi rupa dan bentuk bagi sesuatu. Dan terdapat juga penafsiran-penafsiran yang lain yang hampir sejalan.Lalu akhirnya orang kembali lagi kepada sebutan yang terkenal itu; "Allahlah yang lebih tahu apa arti huruf-huruf itu "

Nabi Zakariya

ذِكْرُ رَحْمَةِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا َ
"Inilah peringatan rahmat Tuhanmu kepada hambaNya Zakariya." ( ayat 2 )

lnilah peringatan atau inilah kenang-kenangan terhadap rahmat yang pernah dianugerahkan Tuhan kepada hambaNya yang bernama Zakariya. Zakariya adalah nama dari salah seorang Nabi atau Rasul dari Bani lsrail.

إِذْ نادى‏ رَبَّهُ نِداءً خَفِيًّا َ
“Seketika dia menyeru Tuhannya dengan seruan lemah-lembut." (ayat 3) .

Diterangkanlah dalam ayat 3 ini bahwa Zakariya telah menyeru Allah,Tuhannya, dengan seruan yang leman lembut , seruan yang tidak perlu kedengaran oleh orang lain . sasuai dengan adab sopan-santun seorang Hamba terhadap Tuhannya. apatah dia seorang Nabi. Sebagai tersebut dalam adab sopan santun berdoa, di dalam Surat al-A`raf ayat 55

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَ خُفْيَةً إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدينَ
"Serulah Tuhan kamu di dalam keadaan merendahkan diri dan dengan suara yang lembut ; karena sesungguhnya Dia tidaklah suka kepada orang-orang yang melampaui batas."

Dapatlah kita fikirkan sendiri bagaimana seorang Rasul yang usianya telah tua, hendak mengemukakan suatu permohonan yang bagi orang lain mungkin dianggap lucu. Yaitu memohonkan keturunan yang akan menyambung tugas bila dia meninggal dunia . Lebih baiklah doa semacam ini disampaikan dengan berbisik saja . Memenuhi adab berdoa dan jangan sampai rnenjadi tertawaan orang lain.

قالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَ اشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْباًَ
"Dia berkata: "Tuhanku ! Sesungguhnya telah lemah tulang belulangku dan telah nyala kepalaku oleh uban " (pangkal ayat 4).

Diakuinyalah dalam doanya bahwa dia benar benar telah tua. Alamat tua yang tidak dapat dielakkan lagi dari diri ialah bila tulang belulang telah mulai lemah. Sedang tulang adalah penguat seluruh tubuh jika tulang yang telah lemah , segala bahagian tubuh yang lain tidaklah dapat bertahan lagi Jengat tentulah mulai kendur. mata tentulah mulai kabur , dan gigi sebagai bahagian dari tulang tentulah berturut menjadi gugur .Dan kepalaku mulailah menyala lantaran uban .

Ungkapan ayat menyatakan bahwa kepala mulai menyala lantaran uban adalah suatu ungkapan yang tepat di dalam bahasa Arab dan dapat pula dijadikan ungkapan bahasa lndonesla.

Sebab seseorang yang seluruh kepalanya sudah lebih banyak ubannya daripada rambut hitam, benar benar lah dia laksana menyala karena kilatan uban itu . Dan Zakariya bermunajat selanjutnya:

وَلَمْ أَكُنْ بِدُعائِكَ رَبِّ شَقِيًّا
"Dan tidaklah pernah aku, di dalam mendoa kepadaMu. ya Tuhanku, merasakan kecewa." (ujung ayat 4).

Artinya, bahwa di dalam pengalaman hidupku selama ini, sejak aku masih muda belia pun belumlah pernah Engkau, ya Tuhanku mengecewakan harapanku. Jaranglah do'a ku yang tidak makbul. Oleh sebab itu sekarang aku ulangi lagi permohonanku dan penuhlah kepercayaanku bahwa doa ini akan terkabul.

Hampir samalah doa Zakariya dengan kisah tiga orang yang terkurung di dalam sebuah gua, karena pintu gua dihantam petus sehingga tertutup dan mereka tidak dapat keluar. Lalu masing-masing mengemukakan permohonan kepada Tuhan agar segera dikeluarkan dari kurungan itu , dengan menyebut segala amalan baik yang pernah mereka kerjakan, sebagaimana tersebut di dalam hadits Nabi saw.

Setelah mengakui bahwa dia memang telah tua , sehingga jika melihat sebab-sebab yang lahir tidaklah rnungkin permohonan akan terkabul, maka dikemukakannya jugalah kekhawatiran yang menyenak dalam hatinya:

وَ إِنِّي خِفْتُ الْمَوالِيَ مِنْ وَرائي‏َ
"Dan sesungguhnya aku khuatir akan keluarga-keluarga di belakangku." (pangkal ayat 5).

Oleh karena aku sudah tua, tulang sudah sangat lemah, uban sudah menyala di kepala, sedang keturunan yang akan rnenyambung tidak ada, timbullah khuatir atau rasa cemas dalarn hatiku jika aku meninggal dunia. Bagaimanalah nasib dari kaum keluarga terdapat yang selama ini mengharap­kan pimpinan dan bimbinganku. Siapa yang akan aku harapkan membimbing dan memimpin mereka. Beranak pun aku tidak bisa lagi. Karena selain aku telah tua begini;

وَ كانَتِ امْرَأَتي‏ عاقِراً
":Sedang isteriku adalah mandul."

Orang perempuan yang mandul niscaya tidak diharapkan buat beranak. Maka kalau permohonanku supaya dianugerahi putera yang akan menyambung keturunanku sukar untuk dikabulkan;

فَهَبْ لي‏ مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا
"Sebab itu anugerahilah aku dari kurnia langsung dari Engkau , seorang pengganti." (ujung ayat 5).

Min ladunka : Aku rnemohonkan kurnia langsung dari Engkau. Karena yang lain tidaklah ada yang sanggup mengabulkan permohonanku. Dengan kalimat kurnia langsung dari Tuhan, harapan hati kecil Zakariya masih terungkap dalam doanya. Nampak bahwa do'a ini mengandung dua permohonan ;

(1) permohonan yang umum dan lahir,
(2) permohonan yang ter­sembunyi dan sangat diharap.

Kurnia untuk kepentingan umum itu ialah waliyyan, atau seorang pengganti atau penyambung tugas. seorang yang akan mengepalai keluarga jika beliau meninggal dunia. Moga-moga Tuhan dapat mengabulkan permohonan yang umum ini. Tetapi permohonan vang lebih tersembunyi lagi, kalau boleh pengganti tugas beliau atau pemimpin yang akan menggantikan tugas beliau itu dapatlah kiranya Tuhan memberinya anugerah putera .

Di dalam Surat al Anbiya' Surat 21 [lihat TafsirAl-Azhar Juzu' 17] , ayat 89 pernah dijelaskan oleh Tuhan permohonan Zakariya itu. Beliau memohon kepada Tuhan agar dia jangan diberikan Tuhan hidup sendirian di dunia ini.

Artinya hidup dengan tidak ada keturunan. Tetapi oleh karena dia seorang yang shalih dan tawakkal , di ujung permohonan itu dibayangkannya jua , meskipun Tuhan tetap menghendaki bahwa dia tidak akan beroleh keturunan buat selama-lamanya, sehingga tidak ada waris yang akan menerima pening­galannya, namun Allah adalah pewaris yang lebih baik dari segala pewaris.

Dan di dalam ayat 38 dari Surat 3, ali lmran dijelaskan lagi permohonan Zakariya itu. Dia memang memohon kepada Allah agar diberinya keturunan yang baik.

Tetapi caranya meminta itu tetaplah sebagai tersurat dalam Surat Maryam ini, yaitu dengan rendah hati, suara lemah-lembut, menekur dengan sikap merendahkan diri . Dan terkandunglah dalam permohonan itu, kalau kerinduannya akan keturunan tak dapat diberi , namun seorang waliyyan, seorang pimpinan keluarga yang akan, menyambung hendaklah diberikan jua. Siapa­nya kata Tuhan, terserahlah !

Karena Tuhan adalah Maha Bijaksana.

Disebutkannya pula cita-cita yang terkandung dalam hati sanubarinya tentang kepentingan wali atau pemimpin atau pengganti itu pada ayat selanjut­nya:

يَرِثُني‏ وَ يَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ َ
"Yang akan mewarisiku dari mewarisi keluarga Ya`kub." (pangkal ayat 6).

Yang akan mewarisi atau akan mempusakai dirinya sendiri sebagai Nabi Zakariya, dan mewarisi pula apa yang dipusakakan oleh Nabi Ya'kub, nenek­ moyang mereka dengan seluruh keluarga keturunan nya yang banyak Nabi­ nabi itu. Teranglah di sini bahwa yang beliau rnaksud bukanlah warisan harta benda.

Pertama ; karena warisan harta benda itu tidaklah kekal. Dia akan habis dibawa masa. Berapa banyaknya kekayaan yang diwariskan nenek-moyang atau sekalipun punah dan licin tandas pada anak dan pada cucu. Dan belum tentu hartabenda yang diwariskan itu akan membawa bahagia. Maka tidaklah mungkin pewarisan yang dikehendaki Zakariya itu ialah hartabenda.

Yang kedua: sejalan dengan apa yang pernah disabdakan oleh Nabi kita Muhammad s.a.w. dalam sebuah Hadits yang shahih:

نحن معاشرالأنبياء لا نو رث ، ماتركناه صدقة
"Kami sekalian Nabi-nabi tidaklah menurunkan waris , apa yang kami tinggalkan adalah menjadi shadaqah. "

Inilah sabda Rasulullah saw.. sehingga seketika Fatimah puteri beliau menuntut agar hartabenda beliau dibagi setelah beliau wafat kepada waris ­warisnya, tidaklah dikabulkan oleh Khalifah beliau Saiyidina Abu Bakar.

Dalam Surat 27, an-Naml (semut) ayat 16 ada pula disebutkan bahwa Nabi Sulaiman menerima warisan daripada ayahnya Nabi Daud.Tetapi dalam ayat itu juga terberita bahwa yang diwariskan itu ialah ilmu dan hikmat, keahlian memerintah dan mengatur negara ltulah yang diminta oleh Zakariya kepada Allah. Mohon kiranya diberi dia kurnia pewaris tugas yang mulia ini, yang akan menyambuung kerjanya memimpin manusia, yaitu warisan turun-temurun yang telah diterima dari Ya'kub nenek-moyang Bani Israil. Nama kecil Ya`kub itu sendiri ialah israil. Jangan putus hendaknya sampai selama-lamanya. Dan kalau boleh, alangkah bahagia­nya kalau pewaris pertama itu ialah puteranya sendiri. Alangkah bahagianya jika Tuhan memberinya fatwa, walaupun dia insaf bahwa dirinya telah tua dan isterinya mandul.

Pewarisan menegakkan Keesaan Tuhan di atas dunia ini janganlah kiranya terputus. Dan Rasulullah s.a.w. telah menjelaskan bahwa pewarisan itu sekali ­kali tidak akan putus. Nabi s.a.w. bersabda:

العلماء ورثة الأننبياء ، والأنبياء لا يورّ ث دينارا ولا درهما وانّماورّثوا العلم
Sengguhnya Ulama ( Orang-orang yang berilmu ) adalah penerima waris daripada Nabi-nabi. Dan Nabi-nabi itu tidaklah mewariskan dinar dan dirham. yang mereka wariskan ialah ilrnu pengetahuan. " (Riwayat Abu Daud)

Seterusnya ujung ayat sebagai permohonan Zakariya:

وَ اجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا
"Dan jadikanlah dia – Tuhanku – seorang yang diridhai." (ujung ayat 6 ).

Seorang yang diridhai ialah yang dicintai, disukai terutama oleh Tuhan karena shalihnya dan disukai juga oleh manusia karena akhlak budi sopan ­santunnya. Tiba-tiba datanglah Malaikat Jibril sebagai utusan dari Allah menyampaikan sambutan Tuhan atas permohonannya itu.

يا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلامٍ اسْمُهُ يَحْيى‏َ
"Ya Zakariya! Sesungguhnya Kami akan menggembirakan engkau dengan seorang putera , namanya Yahya. "(pangkal ayat 7).

Di dalam surat yang datang kemudian di Madinah , Surat 3 ali Imran ayat 39 dijelaskan lagi bahwa malaikat itu datang sedang dia berdiri sembahyang atau berdoa di dalam mihrab. Berita gembira itu yang amat diharapkannya itu telah disampaikan, bahwa permohonannya terkabul. Dia akan diberi seoranq putera laki-laki. Telah disediakan namanya sekali, yaitu Yahya.  Maka kata rnalaikat itu selanjutnya:

لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا
"Belum pernah Kami jadikan baginya yang senama." (ujung ayat 7).

Artinya, pada sebelum itu belumlah pernah ada seorang yang bernama Yahya.

Nama Yahya inilah yang disebut oleh orang Yunani dengan Yohannes. atau Yohana atau John‑ Dalam sabda yang disampaikan Malaikat Jibril ini terdapatlah tiga berita gembira yang disampaikan kepada Zakariya.

Pertama: Permohonannya supaya diadakan baginya pengganti atau pewaris. Anugerah yang demikian itu adalah karamah.

Kedua: Dijelaskan kepadanya bahwa pengganti itu ialah anaknya sendiri. Dia akan diberi putera laki laki, sebagaimana yang diharap-harapkannya sejak berpuluh tahun. Pemberian yang kedua ini adalah sesuatu yang bernama quwwah: kekuatan atau sandaran. Seorang yang telah merasa dirinya telah tua, lalu diberi putera akan merasakan kekuatannya dipulihkan kembali.

Ketiga: Anak itu telah diberi nama sekali. Nama yang belum pernah dipakai orang sebelum itu, yaitu Yahya. Maka dengan menjelaskan bahwa namanya Yahya dan dikatakan ghulam diberilah Zakariya kegembiraan yang ketiga , yaitu bahwa anak yang akan diberikan itu ialah laki-laki. Sehingga dengan demikian bila dia telah dewasa kelak, akan dapatlah dia menjalankan tugas sebagaimana yang diharapkan oleh ayahnya. Bukan sebagai nazar isteri Imran, mengharap anak laki-laki namun yang diberikan perempuan, sebagai yang terdapat susunan ceriteranya di dalam Surat ali Imran.

Ada juga satu penafsiran yang diterima oleh Ali bin Abu Thalhah dari lbnu Abbas bahwa rnaksud ujung ayat "belum pernah Kami jadikan baginya yang senama", ialah belum pernah orang mandul dapat beranak.Wahyu ilahi mengabulkan permohonannya yang berisi tiga kegembiraan itu sangatlah mengharukan hati Zakariya. Dari sangat terharunya:

قالَ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لي‏ غُلامٌ وَ كانَتِ امْرَأَتي‏ عاقِراً وَ قَدْ بَلَغْتُ مِنَ الْكِبَرِ عِتِيًّا َ
"Dia berkata: Tuhanku! bagaimana kiranya akan ada bagiku seorang putera, padahal isteriku adalah mandul, sedangkan aku dalam ketuaanku sudah serba lemah." (ayat 8).

Pertanyaan seperti ini sekaii-kali bukanlah karena kurang terima atau kurang percaya akan kekuasaan Allah, melainkan membayangkan rasa terharu dan ta`jub atas kebesaran Ilahi. Laksana Nabi Ibrahim seketika dia memohon ketenangan kepada Tuhan bagaimana caranya Tuhan akan rnenghidupkan kembali kelak orang yang telah mati. Tuhan bertanya: "Apakah engkau tidak percaya?" Ibrahim menjawab: "Bukan begitu, ya Ilahi! Melainkan hanya sekedar buat menenteramkan hatiku." (Lihat Tatsir Juz 3, Surat 2 al-Baqarah ayat 260).

Bagaimana ini, ya ilahi! KehendakMu akan berlaku. Aku akan diberi juga putera laki-laki, telah sedia sekali namanya, padahal isteriku mandul dan tua. Apatah lagi aku sendiri, telah tua nyanyuk. Telah lemah segala persendian. Zat ­zat hormon yang merangsang syahwat bersetubuh sudah kering tak ada lagi. Usianya menurut setengah riwayat di waktu itu telah 90 tahun. Menurut ukuran biasa dalam usia sekian mani laki-laki telah jalang. Perempuan yang tidak mandul dalam usia 45 tahun pun tidak mempunyai bibit lagi. Betapa perempuan yang mandul

قالَ كَذلِكَ قالَ رَبُّكََ
"Berkata dia:" (Yaitu Malaikat Jibril jang diutus Tuhan menyampaikan berita gembira itu): "Demikianlah telah berkata Tuhan engkau." (pangkal ayat 9).

Artinya bahwa itu adalah satu kehendak dari Allah sendiri yang tidak akan berobah lagi. Adapun pertanyaanmu bagaimana Tuhan akan melaksana­kannya, padahai isteriku mandul dan aku telah tua, namun maka Allah pun telah memesankan:

هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ
"Dia itu bagiKu adalah mudah."
Memberi berisi hormon pada mani orang yang telah tua, untuk hanya melahirkan seorang anak, dan memberikan rangsangan bagi seorang perempuan yang mandul; walaupun untuk sekali setubuh, bagi Allah adalah perkara mudah saja. bukan perkara sulit. semua isi alam ini Allah yang menguasainya; Tuhan dapat mengatur semua.

Maka janganlah engkau lupa:

وَ قَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَ لَمْ تَكُ شَيْئاً
"Dan sesungguhnya telah Aku ciptakan engkau dari sebelumnya, padahal engkau belum jadi sesuatu apa pun." (ujung ayat 9).

Artinya, bahwa engkau dahulunya pun belurn ada sama sekali, lalu Aku adakan daripada yang tidak ada itu. Sebelum engkau lahir belum ada orang yang bernama Zakariya! Setelah Aku adakan baru engkau ada. Maka demikian pula lah putera keturunanmu dan pengganti yang sangat engkau harapkan itu . Mudah saja bagiku menjadikan dan menciptakannya.

قالَ رَبِّ اجْعَلْ لي‏ آيَةً
"Berkata dia:" Yaitu Zakariya. "Tuhan ! adakan kiranya bagiku sesuatu tanda!" (pangkal ayat 10 ).

Dengan ini Zakariya rnemohon kepada Tuhan supaya kiranya diadakan untuknya suatu ayat, yaitu tanda bukti. Sempurna­kanlah nikmat itu dengan suatu pertanda agar hatiku bertambah tenteram, supaya lebih jelas bahwa yang disuruh Tuhan rnenyarnpaikan berita gembira itu benar-benar Malaikat , bukan syaitan.

Permohonannya itu dikabulkan pula oleh Tuhan, lalu malaikat rnenyampaikannya :

قالَ آيَتُكَ أَلاَّ تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلاثَ لَيالٍ سَوِيًّا
"Berkata Dia "Tanda engkau ialah bahwa Engkau tidak akan bercakap-cakap dengan manusia tiga malam lamanya, sedang engkau dalam keadaan sihat.." (ujung ayat 10).

Artinya, sebagai tersebut juga dalam Surat al Imran ayat 41 ialah bahwa tiga malam lamanya Zakariya tidak akan dapat mengangkat suaranya akan bercakap-cakap. Kelu saja lidahnya dan tidak keluar suaranya. Di dalarn ayat ini dikatakan tiga malam dan pada ayat 41 Surat 3 ali Imran itu disebutkan tiga hari .

Maka menjadi bertambah jelaslah bahwa lidahnya dikelukan Tuhan tiga hari tiga malam lamanya. Kalau dia hendak bercakap, hanyalah dengan isyarat saja. Meskipun begitu beliau tidak sakit. Beliau sihat wal-afiat.

فَخَرَجَ عَلى‏ قَوْمِهِ مِنَ الْمِحْرابَِ
"Maka keluarlah dia kepada kaumnya dari mihrab. " (pangkai ayat 11).

Mihrab pada waktu itu ialah tempat yang tersisih dan ditinggikan dan di istimewakan untuk beribadat di salah satu bahagian daripada mesjid. Di dalam al-Quran terdapat dua Nabi yang mempunyai mihrab tempat beribadat sendiri itu; Nabi Zakariya ini, karena beliau memang pengawal Rumah Allah. pengatur ibadat di dalamnya. Kedua ialah Mihrab Nabi Daud. (Lihat Surat 38, Shad ayat 21). Kemudian nama mihrab telah dipakai untuk ruang kecil yang dijorokkan ke muka pada mesjid-mesjid tempat Imam berdiri seorang dirinya dan di belakangnya terdapat shaf yang pertama. Maka keluarlah Nabi Zakariya dari mihrab tempatnya beribadat, menemui kaumnya dan murid-muridnya ;

فَأَوْحى‏ إِلَيْهِمْ
"Lalu diisyaratkannya kepada mereka,"
sebab lidahnya tidak dapat diangkatnya lagi dan suaranya pun tidak keluar.Kalimat yang tersebut di dalam ayat ialah diwahyukannya. Arti wahyu di sini ialah isyarat ; mulutnya tidak terbuka, tetapi isyarat tangannya mengandung arti yang dapat difahamkan. Yang diisyaratkannya kepada mereka itu ialah:

أَنْ سَبِّحُوا بُكْرَةً وَ عَشِيًّا
"Supaya hendaklah kamu bertasbih pagi dan petang." (ujung ayat 11).

Tegasnya, meskipun lidah beliau telah kelu dan suara tidak kedengaran lagi, namun tugas beliau memimpin kaumnya tidaklah berhenti. Beliau rnasih saja memimpin dan mengajak mereka supaya tetap memuja Tuhan, mengucapkan tasbih, mengucap kan kesucian bagi Allah pagi dan petang , siang dan malam.

Dan beliau sendiri pun demikian; meskipun lidah telah kelu dan suara tidak kedengaran selama tiga hari tiga malam itu, namun perintah Tuhan untuk zikir, ingat kepada Allah tidaklah pernah diabaikannya. (Lihat kembali Surat 3, ali Imran ayat 41) Malahan pertandaan atau ayat Tuhan yang amat ganjil itu menambah yakin dan dekat Nabi yang telah tua kepada Tuhan Rabbul `Alamin.
 


 01    02     03    04    05     06     07                                    Back To MainPage       >>>>