Make your own free website on Tripod.com
                                                       
 
                                                 Tafsir Suroh Maryam ayat 22 - 26          

                                                                   


 فَحَمَلَتْهُ فَانْتَبَذَتْ بِهِ مَكاناً قَصِيًّا َ
(22)
Maka Maryam pun mengandungnyalah; lalu dia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh.


فَأَجاءَهَا الْمَخاضُ إِلى‏ جِذْعِ النَّخْلَةِ قالَتْ يا لَيْتَني‏ مِتُّ قَبْلَ هذا وَ كُنْتُ نَسْياً مَنْسِيًّا َ
(23)
Maka rasa sakit akan melahirkan memaksanya bersandar ke pangkal pokok korma, seraya berkata: Wahai, alangkah baiknya jika aku mati sebelum ini, dan jadilah aku seorang yang tidak berarti, lagi dilupakan.


فَناداها مِنْ تَحْتِها أَلاَّ تَحْزَني‏ قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا َ
(24)
Maka menyerulah dia kepadanya dari tempat yang rendah: Janganlah kau bersedih hati. sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan di dekatmu sebuah anak sungai.


وَ هُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُساقِطْ عَلَيْكِ رُطَباً جَنِيًّا َ
(25)
Dan goyanglah pangkal pokok korma itu ke arahmu. niscaya pokok korma itu akan menggugurkan kepadamu korma yang masak ranum.


فَكُلي‏ وَ اشْرَبي‏ وَ قَرِّي عَيْناً فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَداً فَقُولي‏ إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمٰنِ صَوْماً فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا َ
(26)
Maka makanlah dan minumlah dan senangkanlah hatimu. Maka jika engkau melihat ada manusia agak seorang, katakanlah: Sesungguhnya aku telah bernazar di hadapan Tuhan Yang Maha Pengasih, maka sekali-kali tidaklah aku bercakap-cakap, sejak hari ini dengan seorang manusia pun.


Siti Maryam Mengandung

فَحَمَلَتْهُ َ
"Maka Maryam pun mengandungnyalah." (pangkal ayat 22).

Berlakulah apa yang telah diputuskan oleh Tuhan di dalam takdirnya, bahwa Maryam mesti mengandung. Dan memang mengandunglah dia. Kian lama kian terasa kandungannya itu. Sebagai seorang anak perawan yang shalih dan tekun kepada llahi, dari keluarga yang teguh percaya kepada Allah, kehamilannya itu diterimanya sebagai suatu bahagian dari Iman. Tetapi tidaklah semua orang akan dapat mempercayainya. Sebab semua orang tahu bahwa dia masih belum kawin. Tentu orang akan bertanya-tanya siapa gerangan yang telah merusakkannya. Maka untuk menyelamatkan anak yang dalam kandungan itu dan menyelamatkan dirinya daripada tuduhan-tuduhan yang hina.

فَانْتَبَذَتْ بِهِ مَكاناً قَصِيًّا
"Lalu dia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh." (ujung ayat 22).

Kata setengah riwayat tempat yang jauh itu ialah jauh dari mihrab tempat dia beribadat di mesjid dalam asuhan pamannya Zakariya itu. Tempat itu ialah desa Baitlaham (Bethlehem), yang jauhnya sekira-kira 8 mil dari Baitul Maqdis.
Kian lama kian besarlah kandungan itu sehingga dekatlah bulan akan melahirkan. Dan waktu melahirkan itu pun tibalah:

فَأَجاءَهَا الْمَخاضُ إِلى‏ جِذْعِ النَّخْلَةَِ
"Maka rasa sakit akan melahirkan memaksanya bersandar ke pangkal pokok korma." (pangkal ayat 23).

Dari susunan ayat dapatlah kita merasakan bahwa hidup Maryam pada waktu itu memang tersisih jauh dari kaum keluarga. Kegelisahan diri karena merasakan sakit akan beranak menyebabkan dia mencari tempat yang sunyi dan teduh.

Bertemu pohon, lalu berteduhlah dia di situ menunggu waktu anak lahir. Dalam hal yang demikian fikiran berjalan juga, anak akan lahir, bapanya tidak ada. Dia sendiri percaya bahwa ini kehendak Tuhan. Tetapi apakah kaumnya akan percaya? Siapa yang akan percaya? Padahal selama ini tidaklah pernah perawan mengandung tanpa laki dan anak lahir tidak terang siapa ayahnya?

قالَتْ يا لَيْتَني‏ مِتُّ قَبْلَ هذا
"Seraya berkata : "Wahai alangkah baiknya jika aku mati sebelum ini,"

yaitu sebelum hal yang ganjil ini terjadi:

وَ كُنْتُ نَسْياً مَنْسِيًّا
"Dan jadilah aku seorang yang tidak berarti. lagi dilupakan." (ujung ayat 23).

Tidak ada orang yang tahu, tidak ada orang yang mengenal dan tidak sampai menjadi buah mulut orang.
Memang , kalau percobaan telah memuncak demikian rupa , datang saat manusia merasakan lebih baik mati saja.

فَناداها مِنْ تَحْتِها َ
"Maka menyerulah dia kepadanya dari tempat yang rendah. " (pangkai ayat 24).

Yang menyeru dari tempat yang rendah, atau dari tempat yang sangat dekat itu ialah Malaikat Jibril yang diwakilkan Tuhan tadi:

أَلاَّ تَحْزَني‏
"Janganlah kau bersedih hati."

Segala hal yang kau lalui ini tidaklah lepas dari penjagaan Allah. Karena kelahiran puteramu itu kelak adalah atas kehendak Allah semata-mata.

قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا
"Sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan di dekatmu sebuah anak sungai." (ujung ayat 24).

Dalam susunan ayat tergambar pulalah bahwa kian dekatlah kelahiran anak itu dan kian duka nestapalah hati Maryam memikirkan hebatnya perjuangan yang akan dihadapinya.

Dan waktu yang ditunggu-tunggu itu pun datanglah! Datang lagi kesukaran baru; dia memerlukan air untuk membersihkan putera yang baru lahir dan untuk membersihkan diri sendiri. Dan sesudah anak lahir dia memerlukan makanan. Sebab dia sangat lapar. Tidak ada manusia yang akan menolong. Dan kalau pun ditakdirkan ada manusia yang akan datang, bukan pertolongan yang akan didapatnya, hanyalah penghinaan.

Di saat seperti itulah Jibril datang kembali, menyampaikan pesan Tuhan agar dia jangan bersedih hati bersusah fikiran. Yang pertama sekali ialah soal air! Sebuah anak sungai yang kecil dan airnya jernih ada mengalir di dekatnya. Dekat sekali.

Apakah sungai kecil itu telah ada sejak sebelumnya. atau diadakan Allah di waktu itu juga, tidaklah ada keterangannya dalam urutan ayat. Cuma menurut keterangan sebuah Hadits yang marfu' dirawikan oleh ath-Thabrani, yang diterima dengan sanadnya dari Ikrimah, yang didengar daripada Abdullah bin Umar; bahwa beliau ini pernah mendengar Rasulullah s.a.w. mengatakan bahwa sungai kecil yang disediakan buat Maryam itu ialah istimewa ditimbulkan Allah.

وَ هُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةَِ
"Dan goyangkanlah pangkal pokok korma itu ke arahmu." (pangkal ayat 25).

Demikianlah sabda Tuhan yang disampaikan oleh Malaikat Jibril itu kepada Maryam selanjutnya. Artinya tariklah atau raihlah pohon itu, yang maksudnya ialah menggoncangkannya:

تُساقِطْ عَلَيْكِ رُطَباً جَنِيًّا
"Niscaya pokok korma itu akan menggugurkan kepadamu korma yang masak ranum." (ujung ayat 25).

Menilik kepada bunyi ayat, ternyatalah bahwa korma itu telah berbuah masak yang ranum. Jika ditarik-tarik batangnya itu atau digoyang-goyangkan, niscaya buah yang telah ranum itu akan jatuh. Maka banyaklah ahli-ahli tafsir mengambil sempena daripada ayat ini, bahwasanya ajaran kepada Maryam ini adalah ajaran buat manusia yang beriman jua seluruh nya. Artinya, meskipun buah itu telah ranum, dan meskipun Tuhan telah menyediakan air sungai kecil yang jernih airnya dan mengalir selalu , namun Maryam , atau seorang yang beriman tidaklah boleh berdiam diri saja. Jangan hanya menunggu, bahkan goncangkanlah pohon itu supaya buahnya jatuh. Takdir dan pertolongan yang telah disediakan Allah hendaklah juga disertai oleh usaha (kasab) dari manusia itu sendiri.

فَكُلي‏ وَ اشْرَبي‏ وَ قَرِّي عَيْناًَ
"Maka makanlah dan minumlah dan senangkanlah hatimu " (pangkal ayat 26).

Tidak ada lagi yang patut engkau susahkan: air sudah sedia dengan mengalirnya air sungai. Makanan pun telah sedia. asalkan engkau suka saja menggoyang-goyangkan pohon korma itu niscaya makanan itu akan jatuh ke hadapanmu. Sebab itu makanlah buah korma yang jatuh berapa saja engkau kehendaki dan minumlah air jernih yang selalu mengalir itu dan tenangkanlah fikiran.

"Wa Qarrii 'ainan"; kita artikan tenangkanlah hatimu. Kalau menurut arti harfiyahnya ialah tenangkanlah matamu ! Karena memang orang yang sedang gelisah mengesan kepada penglihatan matanya yang liar, karena marah. Atau sayu karena bersedih hati. Dan apabila fikiran orang telah tenang, itu pun mengesan kepada penglihatan matanya yang tenang.

فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَداً
"Maka jika engkau melihat ada manusia agak seorang,"

karena tempat ini tidaklah akan selalu tersembunyi dari mata manusia. Pasti akan ada orang yang tahu, ataupun akan ada orang yang mencari ke mana agaknya anak dara yang shalih itu menyembunyikan dirinya. karena sudah lama tidak nampak di tempat beribadat yang biasa. Maka kalau ada orang datang, tentu akan banyaklah selidiknya mengenai hal engkau ini. Sebab itu:

فَقُولي‏ إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمٰنِ صَوْماً فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا
"Katakanlah: sesungguhnya aku telah bernazar di hadapan Tuhan Yang Maha Pengasih. maka sekali-kali tidaklah aku akan bercakap-cakap sejak hari ini. dengan seorang manusia pun." (ujung ayat 26).

Maka jika ada orang datang, panjang selidiknya, banyak tanyanya, janganlah dijawab dengan perkataan, melainkan beri saja isyarat dengan tangan, bahwa mulai hari ini aku tidak boleh bercakap sepatah jua pun. Sebab aku telah berjanji berna- zar dengan Tuhan tidak akan bercakap-cakap.

Menurut suatu riwayat daripada Anas bin Malik. selain dari berdiam diri, Maryam pun memulai puasanya pada hari itu. Inilah suatu tawakkal yang sebesar-besarnya. Sebab memang kalau pertanyaan datang, lalu Maryam menjawab, hanya pertengkaran saja yang akan timbul. Orang tidak juga akan percaya bahwa dia mengandung dan melahirkan anak adalah atas kehendak Kudrat Iradat Allah semata-mata, di luar daripada kebiasaan yang berlaku.

Kedatangan Malaikat Jibril membawa wahyu ini, baik ketika Allah menyampaikan ketentuan bahwa Maryam akan diberi putera, atau ketika Jibril datang seketika putera akan lahir menyatakan anak sungai telah sedia dan korma akan mengeluar- kan buah, menyebabkan banyak di antara Ulama berpendapat bahwa Maryam ibu Isa Almasih itu adalah Nabiyah (Nabi perempuan). Dan dikatakan juga oleh setengah Ulama bahwa Ibu Nabi Musa pun adalah seorang Nabiyah juga. Karena dia pun beroleh wahyu seketika diperintahkan menghanyutkan puteranya (Musa bin Imran) dalam sebuah peti, ke dalam sungai Nil, sehingga dipungut oleh puteri Fir'aun.

Tetapi ini adalah masalah khilafiyah jua adanya.
 


01    02     03    04    05     06     07                                     Back To MainPage       >>>>