Make your own free website on Tripod.com
                                                       
 
                                                 Tafsir Suroh Maryam ayat 77 - 80       

                                                                   


 أَفَرَأَيْتَ الَّذي كَفَرَ بِآياتِنا وَ قالَ لَأُوتَيَنَّ مالاً وَ وَلَداً

(77) Apakah pernah engkau lihat orang yang tidak percaya ke­pada ayat-ayat Kami dan dia berkata: Sungguh, saya akan diberi harta dan anak.


  أَطَّلَعَ الْغَيْبَ أَمِ اتَّخَذَ عِنْدَ الرَّحْمٰنِ عَهْداً َ

(78) Apakah dia pernah menampak yang ghaib ? Atau adakah dia telah mengambil sesuatu janji di sisi Tuhan Pengasih?


 كَلاَّ سَنَكْتُبُ ما يَقُولُ وَ نَمُدُّ لَهُ مِنَ الْعَذابِ مَدًّا

(79) Sekali-kali tidak! Bahkan akan Kami tuliskan apa yang dia kata­kan itu; dan akan Kami perpanjang untuknya sebahagian dari azab, demikian panjangnya.


 وَ نَرِثُهُ ما يَقُولُ وَ يَأْتينا فَرْداً َ

(80) Dan akan Kami wariskan apa yang dia katakan itu; dan dia akan datang kepada Kami se­orang diri.


Kemudian datang pulalah ayat 77 menggambarkan lagi pendirian kekufuran yang lain. Tuhan bersabda:

 أَفَرَأَيْتَ الَّذي كَفَرَ بِآياتِنا وَ قالَ لَأُوتَيَنَّ مالاً وَ وَلَداً

"Apakah pernah engkau lihat orang yang tidak percaya kepada ayat-ayat Kami, dan dia berkata: "Sungguh saya akan diberi harta dan anak!" (ayat 77).

Ini pun suatu angan-angan dari semacam lagi orang yang tidak mau menuruti jalan Allah.

Sebab turunnya ayat ini adalah mengenai seorang pencemuh dari kalangan kaum musyrikin bernama al-'Ash bin Wail. Seorang sahabat Nabi s.a.w, yang bernama Khabbab bin al-Aratti pernah membuka sebuah hapar besi di Makkah. Al-'Ash bin Wail datang menempahkan sebuah pedang akan pakaiannya kepada Khabbab si Pandai Besi tersebut. Setelah pedang selesai dikerjakan hutangnya belum segera dibayarnya dan dia berjanji akan mem­bayarnya di hari lain.

Setelah agak lama dia berhutang datanglah Khabbab menagih piutangnya itu, namun belum juga segera dibayarnya. Untuk me­lepaskan dirinya pernahlah dia berkata: "Hai Khabbab, bukankah kamu (Pengikut Muhammad) mengatakan bahwa di dalam syurga itu kelak akan ada emas, dan perak dan berbagai macam kain sutera dan berbagai macam pula buah-buahan?"

Khabbab menjawab: "Memang begitu!"

Lalu al-'Ash bin Wail menjawab sambil mencemuh: "Hutangku itu akan aku bayar saja di akhirat nanti . Demi Allah, di akhirat aku akan diberi harta­benda dan anak, dan aku akan diberi Allah apa yang tersebut di dalam kitab kamu itu."

Ada beberapa Hadits yang sama maksudnya menceriterakan tentang cemuh al-'Ash bin Wail itu. Ada yang dirawikan oleh Imam Ahmad, dan ada yang dirawikan oleh Bukhari. Bahkan dalarn riwayat yang lain tersebut bahwa al-'Ash bin Wail itu berkata dengan lantangnya: "Hutang Aku tidak akan saya bayar, sebelum engkau menyatakan kafir dan tidak lagi jadi pengikut Muhammad." Khabbab menjawab: "Tidak, demi Allah, saya tidak akan kafir terhadap Muhammad, sampai engkau sendiri mampus dan dibangkitkan pada hari kiamat buat membayar hutangmu itu."

Kelakuan buruk, tidak mau membayar hutang, lalu mengatakan akan membayar di akhirat kalau dia masuk syurga menerima hartabenda dan anak dari Tuhan, disertai emas perak dan sutera dan buah-buahan; itulah yang di jadikan perumpamaan oleh Tuhan di dalam ayat yang tengah kita tafsirkan ini. Al-'Ash mencemuh atau memandang entang saja fasal masuk ke dalam syurga, menerima anugerah Tuhan hartabenda dan anak-anak, padahal, dia tidak percaya kepada Risalat yang dibawa oleh Muhammad. Itulah sindiran Tuhan:

"Apakah pernah engkau lihat orang-orang yang tidak percaya kepada ayat-ayat Kami, dan dia berkata:

"Sungguh saya akan diberi harta dan anak?"

Orang semacam itukah yang akan diberi harta dan anak ? Yang akan membawanya selamat di akhirat ? Sedangkan orang yang telah percaya kepada Muhammad s.a.w. bisa saja hartabendanya dan anak-anaknya menghambat jalannya akan masuk syurga, apatah orang yang tidak percaya samasekali. Atau orang yang mempercakapkan itu dengan main-main.

Lalu datanglah pertanyaan Tuhan sebagai tantangan:

  أَطَّلَعَ الْغَيْبَ َ

"Apakah dia pernah menampak yang ghaib?" (pangkal ayat 78).

Apakah yang ghaib itu? ialah janji Tuhan bagi manusia apabila manusia itu telah ber­pulang ke alam lain. Adakah orang sebagai al-'Ash bin Wail atau yang seumpamanya itu dapat mengetahui bahwa mereka akan diberi hartabenda emas perak dan sutera dan buah-buahan.

Artinya akan masuk syurga? Adakah orang yang tidak membulatkan kepercayaannya kepada Allah dan tidak pula me­neguhi janjinya dengan sesamanya manusia akan layak ditempatkan dalam syurga itu:

أَمِ اتَّخَذَ عِنْدَ الرَّحْمٰنِ عَهْداً

"Atau adakah dia telah mengambil suatu janji di sisi Tuhan Pengasih?"

Apakah janji yang telah diikatnya dengan Tuhan ?  Apakah sebagai yang ditafsirkan oleh Qatadah dan Sufyan ast-Tsauri, yaitu beramal shalih ? Dapatkah masuk ke dalam syurga kenikmatan Ilahi dengan tidak ada pembuka pintunya, yaitu amal shalih ? Atau sebagai ditafsirkan oleh al-Kalbi: "Adakah dia telah ber­janji dengan Tuhan bahwa dia akan dimasukkan Tuhan ke dalam syurga, pada­hal hubungan imannya dengan Allah dan Rasul tidak ada?

Tafsir al-Kalbi ini lebih dekat dengan jiwa ayat.

Kemudian ketahuilah pula bahwasanya memang sekalian kita ini bila telah menyatakan iman, kita pun mengikat janji. Menurut sahabat Nabi s.a.w..

Muhammad bin Ka'ab: "Ucapan kita La Ilaha Illallah itulah janji kita yang pertama dengan Tuhan."

Bilamana telah kita ucapkan La ilaha Illallah , tidak ada Tuhan melainkan Allah, sejak itu terikatlah janji di antara diri kita sendiri dengan Tuhan , bahwa karena yang Tuhan hanya Dia , maka perintah yang akan kita ikut hanyalah perintahNya, larangan yang akan kita hentikan hanyalah laranganNya. Yang akan kita sembah, kita puja, kita mengabdikan diri, hanya kepadaNya saja, tidak sekali-kali tidak kepada yang lain. Karena yang lain itu pada hakikatnya sama saja dengan kita. Sama dijadikan oleh Allah daripada tidak ada, lalu ada, dan kemudian akan lenyap.

 كَلاَّ

"Kallaa: Sekali-kali tidak!" (Kalimat pertama dart ayat 79).

Segala dakwanya itu,, baik dia menilik yang ghaib, atau dia telah mengikat janji dengan Tuhan, atau hutangnya kepada Khabbab bin al-Aratti kelak akan dibayarnya di akhirat saja, bila kelak Tuhan telah memberinya kehormatan dengan hartabenda dan anak; semuanya itu adalah kata omong kosong.

سَنَكْتُبُ ما يَقُولُ

"Bahkan akan Kami tuliskan apa yang dia katakan itu. "

Artinya bahwa percakapannya memperolok­olokkan agama itu tidaklah akan terlepas dari catatan Allah, yang akan dipertanggungjawabkannya di akhirat esok:

وَ نَمُدُّ لَهُ مِنَ الْعَذابِ مَدًّا

"Dan akan Kami perpanjang untuknya sebahagian dari azab, demikian panjangnya." (ujung ayat 79).

Artinya penderitaan yang kelak akan dideritanya karena kufurnya, akan diperpanjang oleh Allah atas perkataannya itu dan oleh karena kufurnya dan olok-oloknya.

 وَ نَرِثُهُ ما يَقُولُ َ

"Dan akan Kami wariskan apa yang dia katakan itu." (pangkal ayat 80).

Apakah tadi yang diharapkannya? Bukankah hartabenda dan anak keturunan? Itu semuanya tidak akan didapatnya. Dia tetap akan melarat, tidak berharta benda dan tidak beranak bercucu. Semuanya Allah yang punya, semuanya Allah yang mewarisinya, bukan si kafir itu.

Abdullah bin Mas'ud memberi tafsir: "Dan akan Kami wariskan apa yang dia katakan itu"; ialah kami warisi apa yang ada dipunyainya:

وَ يَأْتينا فَرْداً

"Dan dia akan datang kepada Kami seorang diri." (ujung ayat 80).

Datang menghadap Allah seorang diri, tidak berharta dan tidak beranak keturunan. Sebab pada ayat yang lain telah dikatakan:

"Pada hari yang tidak memberi manfaat hartabenda, dan tidak pula anak-­cucu. Kecuali orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (asy-Syu'ara', Surat 26, ayat 87 dan 88).

Seorang dirilah akan datang menghadap Tuhan. Kekayaan tidak akan menolong, anak keturunan tidak akan dapat membela. Jangan harap akan ada tambahan dan perlindungan di akhirat kalau tidak disediakan sejak dari waktu dalam dunia ini.

Zaid bin Aslam pun mentafsirkan: "Bahwasanya segala yang dikumpulkan dalam dunia ini pun menjadi percuma belaka." Karena peralatan yang dikumpulkan dan disediakan buat menempuh alam sana bukanlah harta, bukan­lah anak. Harta dan anak keturunan pun dapat menjadi fitnah kalau hati tidak terhadap kepada Tuhan.


 01 02  03  04  05  06  07  08  09  10   11  12  13  14  15  16   17  18  19  20  21   Back To MainPage  >>>>