Make your own free website on Tripod.com
                                                       
 
                                                 Tafsir Surat Ali-Imran ayat 64 - 68         

(64) Katakanlah " Wahai ahlul-kitab! Marilah kemari! Kepada kalimah yang sama di antara kami dan di antara kamu.”
yaitu bahwa jangan lah kita menyembah melainkan kepada Allah, dan jangan kita menyekutukan sesuatu dengan Dia, dan jangan menjadikan sebahagian dari kita akan sebahagian menjadi Tuhan-tuhan selain dari Allah. Maka jika mereka berpaling, hendaklah kamu katakan: Saksikanlah olehmu, bahwasanya kami ini adalah orang-orang yang Islam.

(65) Wahai ahlul-kitab! Mengapa kamu bersilang-sengketa tentang Ibrahim? Padahal tidaklah diturunkan Taurat dan Injil, melainkau sesudah dia? Apakah kamu tidak berfikir?

(66) Ingatlah! Kamu ini adalah orang-orang yang pernah berbantah-bantahan dari hal yang ada pengetahuan kamu padanya, tetapi (sekarang) mengapa kamu berbantah­bantahan dalam hal yang tidak ada pengetahuan kamu padanya ? Dan Allah itu mengetahui, sedangkan kamu tidaklah mengetahui

(67) Bukanlah Ibrahim itu seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, akan tetapi adalah dia seorang yang bersih dari kesesatan lagi Muslim, dan tidaklah dia dari seorang yang mempersekutukan.

(68) Sesungguhnya manusia yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang menurutkan dia dan Nabi ini dan orang-orang yang beriman. Dan Allah adalah pembela dari orang-orang yang beriman

Sesungguhnya manusia yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang menurutkan dia dan Nabi ini dan orang-orang yang beriman. Dan Allah adalah pembela dari orang-orang yang beriman. Setelah pendirian tentang lahirnya Nabi Isa diterangkan sebagai tersebut pada ayat-ayat di atas tadi, sampai Rasulullah s.a.w bersedia mengadakan mubahalah, tetapi pihak yang ditantang tidak bersedia menerima, maka datanglah lanjutan ayat mengandung seruan, bukan mencari pertentangan: Tuhan memerintahkan kepada RasulNya supaya dia seru ahlul-kitab itu. Sabda Tuhan:

قُلْ يا أَهْلَ الْكِتابِ تَعالَوْا إِلى‏ كَلِمَةٍ سَواءٍ بَيْنَنا وَ بَيْنَكُمْ

" Wahai ahlul-kitab! Marilah kemari! Kepada kalimah yang sama di antara kami dan di antara kamu.” (pangkal ayat 64).

Artinya, betapapun pada kulitnya kelihatan kita ada perbedaan, ada Yahudi, ada Nasrani dan ada Islam, namun pada kita ketiganya terdapat satu kalimat yang sama, satu kata yang menjadi titik pertemuan kita. Kalau sekiranya saudara-saudara sudi kembali kepada satu kalimat itu niscaya tidak akan ada selisih kita lagi:

أَلاَّ نَعْبُدَ إِلاَّ اللهَ وَلا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئاً وَلا يَتَّخِذَ بَعْضُنا بَعْضاً أَرْباباً مِنْ دُونِ اللهِ َ

" Yaitu bahwa janganlah klta menyembah melainkan kepada Allah, dan jangan kita menyekutukan sesuatu dengan Dia, dan jangan menjadikan sebahagian dari kita akan yang sebahagian menjadi Tuhan-tuhan selain dari Allah."

Mari kita bersama kembali kepada pokok ajaran itu, satu kalimat tidak berbilang, satu Allah tidak bersekutu dengan yang lain, satu derajat manusia di bawah kekuasaan Ilahi, tidak ada perantaraan. Dalam hal ini tidak ada selisih pokok kita. Ini sumber kekuatan kami dan ini pula sumber kekuatan kamu.

Kepada mereka yang menegakkan Syariat Musa, yang menamai diri mereka Yahudi kamu scrukan, marilah kemari, kita kembali kepada dasar ajaran yang ditinggalkan Musa sendiri, yang ada dalam catatan kamu, dalam Kitab yang kamu namai Taurat. Di dalam apa yang kamu namai: Hukum Sepuluh ada termaktub:

Janganlah padamu ada Allah lain di hadapan hadiratku. Janganlah diperbuat olehmu akan patung ukiran atau akan barang peta dari barang yang dalam langit di atas, atau barang yang di atas bumi di bawah, atau dari barang yang di dalam air di bawah bumi.Jangan kamu menyembah sujud atau berbuat bakti kepadanya, karena Akulah Tuhan, Allahmu, Allah yang cemburu adanya. (Keluaran Pasal 20, ayat 3 sampai 5).

Kepada orang Nasranipun diserukan, marilah kemari kepada kalimat yang satu diantara kita, yang sama sekali tidak ada perbedaan kita dalam pokok kalimat itu, sebagai sabda dari Nabi Isa Almasih sendiri, seperti yang dinukilkan oleh Yahya (Yohannes) di dalam Injil karangannya:

Inilah hidup yang kekal, yaitu supaya mereka mengenal engkau, Allah Yang Esa dan Benar, dan Yesus Kristus yang telah Engkau suruhkan itu. (Injil karangan Yahya (Yohannes), fasal 17 ayat 3).

Nabi Muhammad saw. sendiri tidaklah tahu isi kitab itu dan tidaklah dia tahu persis di mana letak ayat-ayat itu. Tetapi wahyu telah menerangkan kepadanya bahwa inti kalimat persatuan itu ada, dan tidak sampai terhilang meskipun naskahnya telah banyak dari salin ke salin. Kita yang datang di belakang inilah yang telah bertemu kembali pokok itu, setelah kedua "Perjanjian Lama" dan "Perjanjian Baru" beredar pula di tangan kita.

Alangkah tepatnya apa yang dikatakan Rasul itu: renungkanlah apa yang tersebut di dalam ayat tentang Kalimatin sawa-in bainana atau "kata-kata yang sama di antara kita" itu, bandingkanlah ayat al-Qur'an dengan bunyi isi Kitab Keluaran itu, akan terdapatlah bahwa itulah pegangan kita kaum Muslimin. Dan itulah pokok asal pegangan orang Yahudi.

Dan bunyi catatan Yahya (Yohannes) dalam Injilnya itupun tepat; itu pulalah pendirian kami. Kehidupan yang kekal ialah bila ada kepercayaan terhadap Allah Yang Maha Esa adanya, tidak bersekutu Dia dengan yang lain, tercapailah hidup yang kekal.

Kepercayaan seperti ini adalah pokok pegangan hidup. Dengan memegang kepercayaan ini kita tidak mengenal maut , maut hanyalah gerbang kecil dan sesaat pendek buat pindah dari hidup yang fana (lenyap) kepada hidup yang baqa (kekal). Dan kebenaran sejati dan mutlak hanya Dia; tiada yang lain. Di ujung sabda itu Isa Almasih atau Yesus Kristus mengakui keadaan dirinya yang sebenarnya, yaitu bahwa dia hanya semata-mata disuruh oleh Al­lah ke dunia ini, dia semata-mata pesuruh atau Rasul, atau Utusan membawa perintah. Sebab itu dia bukan Tuhan – Tuhan hanya Esa, hanya satu.

Mari kita berjabat tangan, karena kita telah mula bertemu. Kami orang Islampun mengakui bahwa Yesus Kristus adalah pesuruh atau Utusan Allah. Seperti juga Musa adalah pesuruh atau Utusan Allah. Dan yang mengutusnya itu adalah Allah Yang Maha Esa dan Benar, tidak bersekutu yang lain dengan Dia. Dan Muhammad pun adalah pesuruh atau Utusan Allah, yaitu Allah Yang Maha Esa. Kalau saudara-saudaraku kembali kepada Kalimatin sawa‑in bainana kata yang sama di antara kita ini, dengan sendirinya kita telah bertemu. Segala perselisihan dengan sendirinya hilang.

Kalau saudaraku belum mau masuk Islam sekarang itu terserah. Namun titik pertemuan telah terlukis di dalam kitab tuan sendiri. Kemudian diterangkan pula, janganlah hendaknya kita menjadikan sebahagian dari kita menjadi tuhan-tuhan pula selain dan Allah. Yaitu, meskipun tidak diakui dengan mulut bahwa mereka yang lain itu adalah tuhan, tetapi kalau perintahnya atau ketentuannya telah disamakan dengan ketentuan dan perintah Allah Yang Tunggal, samalah itu dengan menuhankan.

Menurut suatu riwayat, seorang Nasrani yang besar, yaitu Adiy bin Hatim, putra dari Hatim Thayy yang masyhur karena dermawannya , seketika akan masuk Islam, telah datang kepada Rasulullah saw. memakai sebuah dokoh salib emas tergantung pada lehernya. Lalu panjanglah Rasulullah saw. memberikan keterangan tentang tauhid sebagai pokok ajaran agama Allah dan disebut beliau pula tentang ahlul kitab menuhankan sesama manusia itu.

Ady bin Hatim yang belum paham apa maksudnya, mengatakan bahwa di dalam agama Nasrani tidaklah ada menuhankan manusia-manusia itu. Lalu Rasulullah s.a.w. menyatakan bahwa dalam agarna Nasrani segala peraturan halal dan haram yang ditentukan oleh pendeta, wajib diterima sebagai menerima peraturan dari Allah sendiri. Waktu itu barulah Ady bin Hatim paham dan mengakui bahwa dalam agama Nasrani memang ketentuan pendeta itu dianggap sebagai hukum Tuhan. Ady bin Hatim sesudah mendengar keterangan itu menjadi seorang Islam dan sahabat Rasulullah yang baik.

Akidah menuhankan peraturan pendeta itulah yang kemudiannya menimbulkan pertentangan hebat di antara pemeluk Kristen Katolik dengan Kristen Protestan yang dipimpin oleh Martin Luther dan Calvin. Sampai-sampai Paus, sebagai kepala gereja Kristen dapat mengampuni sendiri dosa orang yang berdosa, dan surat ampunan itu dapat diperjual-belikan, dan dapat tawar ­menawar.

Sampai terjadi pemerasan harta-benda orang, sampai harta-benda raja-raja sekalipun. Sampai gereja mempunyai kekayaan sendiri dan tanah sendiri di bawah kuasanya, yang membawa himpitan dan tindasan kepada rakyat kecil. Inilah salah satu sebab yang menimbulkan Revolusi Perancis yang terkenal itu.

Dan inilah yang diperingatkan Allah, dengan perantaraan RasulNya, di dalam ayat ini. Yang pertama mengajak mari kita kemari kepada pokok ajaran agama yang menjadi pegangan kita bersama, yaitu bahwa Allah adalah Esa. Kedua marilah kita bebaskan diri daripada menuhankan sesama manusia, yaitu penguasa-penguasa agama. Kemudian lanjutan Sabda Tuhan:
 

فَإِنْ تَوَلَّوْا
"Maka jika mereka berpaling."

Artinya tidak mau menerima ajakan kembali kepada pokok kata itu, dan masih tetap pada pendirian yang demikian, mempersekutukan Tuhan, menganggap Almasih Anak Allah. Atau Yahudi yang lebih mementingkan Talmud yaitu kitab kedua sesudah Taurat, yang disusun dari sabda-sabda pendeta mereka, sehingga Taurat sendiri jadi ketinggalan. Maka kalau mereka berpaling, tegasnya membuang muka seketika diajak kembali ke pangkalan yang asal itu;

 فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُون
"Hendaklah kamu katakan: saksikan olehmu, bahwasanya kami ini adalah orang-orang yang Islam." (ujung ayat 64).

Inilah suatu penegasan, yaitu bahwa pendirian kami ialah menyerahkan diri kepada Allah saja, tidak mempersekutukan dia dengan yang lain, tidak menuhankan manusia, baik Nabi ataupun pemuka-pemuka agama. Dalam pendirian ini tidaklah kami membuat-buat yang baru, bahkan ada dalam kitab saudara-saudara kembali saja kepada pokok ajaran Taurat Musa dan Injil Isa.

Kalau saudara tidak mau, maka kami akan jalan terus. Dan saksikanlah olehmu bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri kepada Allah. Yang di dalam kata ringkas disebut orang Islam. Kami telah ajak kamu kembali kepada kata yang sama diantara kita, kamu tidak mau, tidaklah kami akan merubah pendirian kami. Kami tetap percaya kepada isi kitab yang kamu pegang itu. Kami penjunjung tinggi keaslian ajaran kedua kitab itu dan kami percaya bahwa Musa adalah Pesuruh Allah, dan kami menghormatinya sebagaimana menghormati Nabi-nabi yang lain juga. Dan kamipun setuju sepenuhnya dengan Sabda Isa Almasih atau Yesus Kristus itu, bahwa dia adalah semata-mata Pesuruh Allah datang ke dunia ini.

Inilah pendirian yang telah digariskan Rasul s.a.w. Tetapi karena zaman beredar juga dan waktu berjalan, haruslah kita ummat Muslimin mengakui bahwa kadang-kadang kita dengan tidak sadar telah terlampau dipantang pula. Ada orang yang lebih mengutamakan kata ulama daripada kata Tuhan, sehingga satu waktu al-Qur'an tidak lagi buat difahamkan dan buat digali sumbernya, melainkan buat dibaca-baca saja, sedang dalam hal hukum halal dan haram, taqlid saja kepada ulama.

Lama-lama orang yang mengajak kembali kepada al-Qur'an dan Sunnah Rasul menjadi celaan orang. Syukurlah dalam Islam tidak ada peraturan kependetaan, seperti dalam Yahudi dan Nasrani itu, sehingga fatwa ulama sebahagian, dapat dibendung oleh fatwa yang lain. Dan syukurlah al-Qur'an masih tetap terpelihara dalam keasliannya, untuk tempat kembali orang yang tersesat. Bagi ummat Islam yang hidup di zaman pergolakan segala agama ini sehingga ada fikiran-fikiran hendak mempersatukan segala agama, ayat ini adalah pokok da'wah yang utama. Da'i dan muballigh Islam hendaklah sanggup membawa manusia kepada kesatuan pegangan agama dengan mengemukakan ayat ini. Inilah ayat da'wah yang wajib dijadikan pokok, yang membawa kepada titik-titik pertemuan.

Surat Rasulullah kepada Heraclius
Oleh sebab itu ayat ini pulalah yang dijadikan Rasulullah s.a.w, menjadi alasan surat beliau, seketika beliau berkirim surat menyeru (Da'wah) kepada Heraclius Raja Romawi di Syam, supaya dia sudi memeluk Islam. Surat itu berbunyi:

Bismillahir-Rahmanir-Rahim.
Dari Muhammad abdillahi wa rasulihi (hamba Allah dan utusanNya) kepada Heraclius orang agung bangsa Romawi. Selamatlah atas barang siapa yang sudi mengikuti kebenaran. Amma ba'du; maka dengan ini aku mengajak engkau dengan membawa seruan Islam.Islamlah supaya engkau selamat, dan Allah akan memberikan pahalaNya atas engkau dua kali. Tetapi jika engkau palingkan muka engkau, maka dosa seluruh penduduk Erisiyin tertanggung atas pundak engkau.

"Wahai Ahlul Kitab, marilah kemari, kepada kalimat yang di antara kami dan di antara kamu (yaitu) bahwa tidak kita menyembah melainkan kepada Allah, bahwa tidak kita mempersekutukan dengan dia sesuatupun." (Sampai kepada akhir surat kiriman itu).

يا أَهْلَ الْكِتابِ لِمَ تُحَاجُّونَ في‏ إِبْراهيمََ
" Wahai ahlul-kitab! Mengapa kamu bersi/ang-sengketa tentang Ibrahim?"
(pangkal ayat 65).

Menurut riwayat Ibnu Abbas, seketika utusan-utusan Nasrani Najran itu masih di Madinah, suatu kali ada kesempatan pertemuan segi tiga, yaitu Nabi saw. dan beberapa pendeta Yahudi. Ketika itu sampailah pembicaraan tentang Nabi Ibrahim. Maka berkatalah pemuka Yahudi bahwa Nabi Ibrahim itu adalah Yahudi, tetapi utusan-utusan Nasrani itu berkata pula bahwa Nabi Ibrahim adalah Nasrani.

Maka turunlah ayat ini. Mengapa kamu bersengketa tentang Ibrahim? Yang Yahudi mengatakan bahwa dia Yahudi dan yang Nasrani mengatakan dia Nasrani?

 وَما أُنْزِلَتِ التَّوْراةُ وَ الْإِنْجيلُ إِلاَّ مِنْ بَعْدِهِ
" Padahal tidaklah diturunkan Taurat dan Injil melainkan sesudah dia ? "

Sedang kamu orang Yahudi mengatakan kitab peganganmu ialah Taurat dan Nasrani mengatakan kitab peganganmu ialah Injil?

 أَفَلا تَعْقِلُون
"Apakah kamu tidak berfikir ? " (ujung ayat 65).

Jika kamu pikirkan itu dengan baik, tentu kamu tidak akan sampai berkata demikian. Ibrahim adalah nenek yang jauh di atas Nabi Musa dan Nabi Isa as.

هاأَنْتُمْ هؤُلاءِ حاجَجْتُمْ فيما لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ َ
"Ingatlah! Kamu ini adalah orang-orang yang pernah berbantah-bantahan dari hal yangada pengetahuan kamupadanya." (pangkal ayat 66).

Artinya, sedangkan hayang kamu ketahui, yang terjadi di hadapan mata kamu telah kamu perbantahkan, dan tidak ada yang betul.

فَلِمَ تُحَاجُّونَ فيما لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَ اللهُ يَعْلَمُ وَ أَنْتُمْ لا تَعْلَمُون
" Tetapi (sekarang) mengapa kamu berbantah-­bantahan dalam hal yang tidak ada pengetahuan kamu padanya? Dan Allah itu mengetahui, sedangkan kamu tidaklah mengetahui."  (ujung ayat 66).

Nabi Isa Almasih as. telah lahir ke dunia, dan kamu sendiri telah mengetahui sejelas-jelasnya bahwa dia lahir menempuh jalan luarbiasa, dikandung secara suci oleh gadis suci, dengan tidak perantaraan bapa. Hal yang terang dan nyata kamu ketahui ini telah kamu perbantahkan. Setengah kamu (Nasrani) mengatakan sebab dia lahir ke dunia tidak memakai perantaraan bapa, maka Allah sendirilah bapanya, dan kamu tuhankan dia.

Dan setengah kamu (Yahudi) mengatakan dia anak di luar nikah atau nabi palsu sehingga kamu mungkiri kerasulannya. Demikian kamu telah bersengketa tentang yang kamu ketahui, sekarang kamu bersengketa pula tentang Ibrahim yang tidak kamu ketahui pasti agama dia. Niscaya persengketaan kamu itu lebih kacau lagi. Allahlah yang lebih tahu apa pendirian Ibrahim, dan apakah agamanya.

ما كانَ إِبْراهيمُ يَهُودِيًّا َ
" Bukanlah Ibrahim itu seorang Yahudi;"  (pangkal ayat 67).

Nama Yahudi sajapun baru dikenal setelah zaman cucunya, setelah dia tidak ada lagi.

وَلا نَصْرانِيًّا
"Dan bukan pula seorang Nasrani,"

yang menganggap seorang anak yang dilahirkan oleh perempuan yang bernama Maryam, sebagai Tuhannya atau anak Allah. Ibrahim sekali-kali tidak ada berpendirian demikian.

وَ لكِنْ كانَ حَنيفاً مُسْلِماً
"Akan tetapi dia adalah seorang yang bersih dari kesesatan, lagi muslim."

Artinya, di tengah bangsanya yang telah tersesat penyembah berhala, beliau tegak sendiri dengan pendirian sendiri (Hanif), lagi muslim, yaitu menyerahkan diri kepada Tuhan Allah Yang Maha Esa.

 وَما كانَ مِنَ الْمُشْرِكين
"Dan tidaklah dia dari seorang yang mempersekutukan." (ujung ayat 67).

Bagaimana kamu akan mengatakan dia Yahudi atau Nasrani, padahal kedua agama yang kamu dakwakan itu baru ada sesudah beliau lama meninggal dunia? Bagaimana dia akan kamu katakan Yahudi atau Nasrani, padahal pendirian dan pegangannya berbeda lebih daripada perbedaan siang dengan malam dengari kedua agama yang kamu katakan itu?

Ibrahim sebagai nenek dari dua cabang bangsa Samy (Semit). Bani Israil dan Bani Ismail (Arab), diakui kebesarannya dan kenenekannya oleh kedua belah pihak. Sebab itu masing­masing hendak meraih Ibrahim ke pihak dia. Yahudi hendak membawanya ke Yahudi, Nasrani hendak membawanya ke Nasrani, bahkan orang Arab yang menyembah berhala pun mengakui beragama Hanif, agama Nabi Ibrahim, tetapi pada Ka'bah peninggalan Nabi Ibrahim mereka tegakkan beratus-ratus berhala. Dengan ayat ins Rasulullah s.a.w, disuruh menjelaskan siapa sebenarnya Ibrahim, baik dari hitungan sejarah, atau dari hitungan pendirian yang jauh berbeda dengan apa yang mereka dakwakan itu. Seumpama misalnya di negeri kita ini, ada orang mengusulkan agar Patih Gajah Mada dari Majapahit supaya diakui sebagai "Pahlawan Nasional Indonesia", padahal gerakan nasional dan nama Indonesia baru muncul di abad ke-20, sedang Gajah Mada hidup di abad keempatbelas, 300 tahun sebelum bangsa Belanda datang.

إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْراهيمَ لَلَّذينَ اتَّبَعُوهُ َ
"Sesungguhnya manusia yang paling dekat kepada Ibrahim, adalah orang-orang yang menurutkan dia." (pangkal ayat 68).

Di kala beliau hidup, tidak ada yang menerima pendiriannya sehingga beliau pernah dibakar karena meruntuhkan berhala, pernah meninggalkan negeri tumpah darahnya karena tidak menyukai mempersekutukan yang lain dengan Allah. Sampai beliau mendirikan Ka'bah di Makkah untuk pemusatan kiblat dari manusia-manusia yang percaya hanya kepada Allah Yang Esa, tiada bersekutu yang lain dengan Dia. Maka yang mengikut ajaran itu, waktu beliau hidup dan memegang teguhnya, setelah beliau meninggal, itulah yang paling dekat kepada beliau.

وَ هذَا النَّبِيُّ وَ الَّذينَ آمَنُوا
"Dan Nabi ini , dan orang-orang yang beriman."

Yaitu Nabi Muhammad s.a.w. dan ummat yang beriman, karena diapun menegakkan Tauhid, tidak menuhankan yang selain dari Allah, menyerahkan diri kepada Tuhan (Muslim) dan menentang segala penyembahan kepada berhala, patung dan menuhankan manusia. Inilah orang yang paling dekat kepada Ibrahim. Dan kamu sendiripun, meskipun sekarang mengakui Yahudi atau Nasrani, kalau kamu memang ingin dekat dengan Ibrahim, baru akan tercapai kalau kamu kembali kepada ajaran Ibrahim yang asli, yaitu ajaran yang asli yang masih terdapat di dalam Taurat dan Injil yang kamu pegang itu.

وَ اللهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنين
"Dan Allah adalah pembela dari orang­orang yang beriman."
(ujung ayat 68).

Dengan ujung ayat ini Tuhan menjamin bahwasanya apabila orang telah beriman benar-benar kepadaNya, tidak lagi menduakan hati kepada yang lain, tidak memandang ada yang memberi manfaat atau mudharat dalam alam ini selain Allah, orang-orang yang demikian pasti dibela oleh Allah, sebab orang beriman tidak mencari perantaraan dengan yang lain buat mendekati Allah, baik dengan berhala atau patung ataupun dengan manusia yang masih hidup atau sesudah mati atau kuburnya. Kalau masih bercabang tujuan dengan yang lain, tandanya belum beriman dan tidaklah Tuhan Allah akan memberikan pembelaanNya.

Dengan ayat ini dapat hendaknya kita fahamkan bahwa yang dimaksud dengan Islam Ibrahim itu ialah pokok ajaran Tauhidnya. Sebab menyerahkan diri kepada Allah, menolak persembahan kepada berhala adalah dasar pertama segala agama. Dengan sebab itu dapatlah difahamkan bahwasanya bukan Ibrahim saja yang Islam; Musa dan Isa Almasih pun Islam. Adapun syariat dan peraturan-peraturan yang mengenai pelaksanaan, bisa berubah karena perubahan zaman dan kaum Rasul yang diutus.

Oleh sebab itu pula maka Yahudi dan Nasrani yang kembali kepada pokok ajaran kitabnya yang sejati, disebut oleh Islam dengan Ahlul-Kitab.                                                             


 01   02   03    04    05   06   07   08    09   10   11    12     13    14   15   16  17                        >>>>