Make your own free website on Tripod.com
                                                       
 
                                                 Tafsir Suroh Ali-Imran Ayat 14 - 17        

(14) Diperhiaskan bagi manusia kesukaan kepada barang yang diingini, (yaitu) dari hal perempuan dan anak laki-­laki, dan berpikul-pikul emas dan perak, dan kuda kenderaan yang diasuh, dan binatang-binatang ternak dan sawah-ladang. Yang demikian itulah perhiasan hidup di dunia. Namun di sisi Allah ada (lagi) sebaik tempat kembali.

(15) Katakanlah: sukakah kamu aku ceritakan kepada kamu apa yang lebih baik daripada yang demikian, di sisi Tuhan mereka, bagi orang-orang yang bertakwa? Ialah syurga-­syurga, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan isteri-isteri yang suci, dan keridhaan dari Allah. Dan Allah melihat akan hamba-hambaNya.

(16) (Yaitu) orang-orang yang berkata: Ya Tuhan Kami , Sesungguhnya kami telah beriman. oleh karena itu ampunilah bagi kami dosa-dosa kami, dan peliharakan­lah kami dari siksaan neraka.

(17) (Yaitu) orang-orang yang sabar dan orang-orang yang jujur dan orang-orang yang sungguh-sungguh taat dan orang-orang yang membe­lanjakan harta dan orang-or­ang yang memohon ampun di ujung malam.

Menurut riwayat dari penulis-penulis sejarah hidup Rasulullah saw, ketika utusan-utusan Nasrani dari Najran itu datang, mereka memakai pakaian yang indah-indah, sutera dewangga. Dan terberita lagi bahwa pakaian-pakaian yang indah dan mewah, perhiasan, sampai ada salib emas, semuanya itu adalah pemberian dari Raja Romawi yang berkuasa di Timur, yang berkedudukan pada waktu itu di Syam, yaitu Raja Heraclius.

Menurut setengah riwayat bahwa kepala perutusan keberatan mengakui kebenaran Rasulullah saw, oleh karena jaminan hidup dan kemegahan dan perhiasan yang mahal-mahal itu niscaya akan dicabut kembali oleh Raja Heraclius kalau mereka menukar agama.

Kata riwayat itu pula, sahabat-sahabat Nabi saw yang ada di Madinah, yang hidup miskin terpesona oleh pakaian mereka yang indah-indah itu. Oleh sebab itulah kata ahli-ahli sejarah itu maka turun ayat ini .

Menurut riwayat dari Imam ar-Razi pula, seorang bangsawan Arab Nasrani yang bernama Alqamah, pernah mengakui terus-terang kepada saudaranya yang telah masuk Islam bahwa dalam hatinya dia membenarkan dan mengakui kerasulan Nabi Muhammad saw, Cuma katanya kalau dia masuk Islam, segala kemewahan dan kebesaran yang telah dianugerahkan oleh Raja Romawi akan dicabut kembali dari dia.

Dan ada pula riwayat bahwa setelah kaum Muslimin mendapat kemenangan gilang-gemilang dalam peperangan Badar, Rasulullah pernah mengajak kaum Yahudi di Madinah supaya masuk Islam, tetapi mereka tidak mau , melainkan mereka banggakan kekuatan, kebesaran jumlah harta mereka dan kelengkapan senjata mereka. Maka menurut riwayat itu , inilah sebab turun ayat ini.

Memberi peringatan bahwa semuanya itu hanyalah sesuatu yang diperhiaskan saja oleh syaitan bagi manusia, karena keinginan-­keinginan syahwat.Terlepas daripada menilai sebab-sebab turun ayat menurut dua tiga riwayat itu, sekarang kita kaji isi ayat itu sendiri.

زُيِّنَ لِلنَّاسِ
" Diperhiaskan bagi manusia kesukaan kepada barang yang diingini, "
(pangkal ayat 14).

Di sini telah terdapat tiga kata.

Pertama Zuyyina , artinya diperhiaskan. Maksudnya segala barang yang diingini itu ada. baiknya dan ada buruknya, tetapi apabila keinginan telah timbul, yang kelihatan hanya eloknya saja dan lupa akan buruk atau susahnya.

Kata, kedua ialah Hubb , artinya kesukaan atau cinta.

Kata ketiga ialah Syahwat , yaitu keinginan-keinginan yang menimbulkan selerayang menarik nafsu buat mempunyainya. -Maka disebutlah di sini enam macam hal yang manusia sangat menyukainya karena ingin hendak mempunyai dan menguasainya, sehingga yang nampak oleh manusia hanyalah keuntungannya saja, sehingga manusia tidak memperdulikan kepayahan buat naencintainya.

حُبُّ الشَّهَواتِ مِنَ النِّساءِ وَ الْبَنينَ وَ الْقَناطيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَ الْفِضَّةِ وَ الْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَ الْأَنْعامِ وَ الْحَرْثِ
" (yaitu) diri hal perempuan dan anak laki-laki, dan berpikul-pikul emas dan perak, dan kuda kendaraan yang di asuh , dan binatang-binatang tewrnak ; dan sawaah ladang "

Itulah enam macam yang sangat disukai, diinginkan dan dengan berbagai macam usaha manusia ingin mempunyainya.

Pertama: Perempuan

Sudah ditakdirkan oleh Tuhan bahwa tiap-tiap orang laki-­laki apabila bertarnbah kedewasaannya bertambah pulalah keinginannya hendak mempunyai teman hidup orang perempuan. Apabila syahwat kepada perempuan itu sedang tumbuh dan mekar, maka seluruh tubuh orang perempuan itu laksana besi berani buat menumbuhkan syahwat si laki-laki hendak mempunyainya. "Zuyyina", diperhiaskan kepadanya, sehingga meskipun misalnya telah didapatnya perempuan itu, hanya kesusahan yang akan dihadapinya, tidaklah diperdulikannya. Adapun keinginan kepada perempuan itu adalah syahwat yang mesti ada pada tiap laki-lak .

Kalau tidak ada syahwatnya kepada perempuan, itulah laki-laki sakit. Allah mentakdirkan bahwa laki-laki mengingini perempuan adalah mengandung hikmat yang lebih dalam, yaitu karena. hendak menyambung keturunan, hendak menjalin hidup berdua, sebab yang satu akan mencukupkan yang lain, Tetapi kalau syahwat si laki-laki tidak terkendali, niscaya dia tidak memperdulikan hikmatnya, hanyalah melepaskan syahwatnya, lalu zinalah yang terjadi, dan kalau mereka beranak, kacaulah keturunan.

Maka agamapun mengajarkan penyaluran syahwat itu, mencari jodoh, mencari isteri untuk teman hidup, dengan jalan yang halal. Baik sebelum jodoh bertemu atau sesudahnya, sebahagian besar hidup manusia adalah didorong oleh cinta kepada perempuan. Ada manusia yang jatuh bangkit lagi karena digiurkan oleh senyum perempuan. Tetapi tidak kurang pula manusia yang naik bintang kehidupannya, karena dorongan perempuan. Ahli ilmu jiwa yang terkenal, Prof. Freud, malahan memusatkan seluruh kegiatan hidup rnanusia kepada soal hubungan laki-laki dan perempuan belaka yang dinamainya: libido.

Tuhan Adil. Di dalam ayat ini tidak disebutkan yang sebaliknya, yaitu bahwa perempuan tergila-gila kepada laki-laki. Perempuan yang tergila-gila kepada laki-laki diumpamakan tidak ada saja, karena sangat jarang. Yang jarang itu ialah perempuan­-perempuan yang tidak beres (abnormal). Umumnya pada perempuan hanyalah kesetiaan, penyerahan diri dan kelemah-­lembutan. Tetapi kesetiaan, penyerahan diri dan kelemah-lembutan itulah pula yang membuat laki-laki tambah terpesona. Memang, pada perempuan diadakan juga syahwat. Tetapi latar-belakang dari syahwat perempuan ialah karena insting atau naluri hendak mengasuh anak.

Di masa muda, di kala gelora syahwat kelamin masih sedang naik, cinta kasih suami-istri masih dipengaruhi urusan persetubuhan. Sehingga ahli-ahli Biologi yang mengatakan bahwa cinta suami-istri itu ialah kepuasan bersetubuh. Orang yang tidak menyadari hikmat syahwat yang dihiaskan Tuhan itu tidaklah akan merasa puas dengan satu perempuan, karena daya tarik tiap-tiap perempuan itu adalah sebanyak dirinya. Kalau kita misalkan bahwa penduduk dunia ini di zaman sekarang ada 3.000.000.000 (tiga milyar) orang, yang separohnya adalah perempuan. Allah mentakdirkan bahwa 1,5 milyar perempuan di dunia ini membawakan daya tarik sendiri-sendiri. Tetapi manusia yang insaf hanya memilih dan menetapkan satu, meskipun Islam mengizinkan sampai empat. Baik satu, ataupun sampai empat, dan telah ada hubungan dengan jalan halal, namun pesona perempuan tidak juga kurang dari yang empat itu. Engkau sadar, ataupun tidak sadar, namun sikap hidupmu setiap hari dipengaruhi oleh isterimu. Dan kalau keduanya sudah sama-sama tua, syahwat setubuh sendirinya sudah menurun, ataupun habis (berhenti) masa haidh perempuan pada umumnya menjelang usia 50 dengan 55 tahun.

Kalau umur sama panjang dan sama menjelang tua, syahwat setubuh bertukar menjadi syahwat keinginan ada perlindungan; ataupun sama lindung-melindungi. Mendirikan rumah-tangga bahagia, melalui peredaran hidup dari tahun ke tahun, yang bergelombang dan tenang, yang bergelora dan berangin sepoi. Pendeknya perhiasan kesukaan kepada perempuan karena keinginan syahwat, adalah hikmat yang tertinggi dari Tuhan untuk melengkapkan hidup.

Kedua: Anak Laki-laki

Di ayat ini disebut banin , ditonjolkan kesukaan karena ingin mempunyai anak, terutama anak laki-laki, termasuk hal yang dihiaskan pula bagi manusia. Dia menjadi yang kedua sesudah kesukaan syahwat perempuan. Anak adalah hasil utama dan pertama dari hubungan dengan perempuan tadi. Kalau syahwat kepada perempuan pada kulitnya karena syahwat faraj atau setuubuh , pada batinnya ialah karena kerinduan mendapat keturunan. Sekali lagi kita katakan: Tuhan Adil! Pada yang pertama disebutkan bahwa laki-laki menginginkan perempuan, tetapi pada yang kedua diterangkan bahwa laki-laki menginginkan anak laki-­laki. Jika disini tidak disebut menginginkan anak perempuan, karena yang akan menginginkannya bukan lagi ayahnya, tetapi ibunya.

Memang, oleh karena keinginan kepada anak laki-laki sebagai penyambung turunan, sedang anak perempuan setelah dewasa hanya akan menjadi penghuni rumah orang lain, maka di zaman jahiliyah tidak suka kepada anak perempuan itu sampai membawa kepada benci. Mereka malu mendapat anak perempuan . Muka mereka menjadi hitam bila orang mengabarkan bahwa mereka telah dapat anak perempuan, bahkan sampai ada yang menguburkan anak perempuan itu hidup-hidup. Maka di dalam ayat ini masih dibayangkan bahwa keinginan mendapat anak laki­-laki itu lebih juga utama bagi mereka daripada mendapat anak perempuan.

Kedatangan Islam dan teladan yang diberikan Rasulullah saw tentang mencintai anak perempuan , itulah yang telah memperbaiki jiwa mereka sehingga kekejaman menjadi hilang. Rasulullah saw menyayangi anak-anak perempuannya: Fatimah az-Zahra', Zainab, Ummu Kultsum dan Ruqaiyah. Malahan pada waktu sakit akan meninggal, belau raih bahu Fatimah dan beliau berbisik. Lalu Fatimah menangis , Kemudian beliau raih lagi dan beliaupun berbisik pula; Fatimah tesenyum girang .

Beberapa lamma kemudian baru diceritakannya , bahwa ayahnya membisiki yang pertama menyebabkan dia menangis ialah karena beliau berkata bahwa di antara. ummatnya yang begitu banyak dia sendirilah, Fatimah, yang akan dahulu sekali menuruti beliau. Dan tidak sampai enam bulan di belakang meninggal pulalah Fatimah, sebagai orang yang pertama meninggal dunia sesudah Rasulullah saw meninggal.

Demikian Rasulullah memperlihatkan contoh kasih mesra kepada anak-anak perempuan. Sampai ada sabda beliau, bahwa barangsiapa yang dipikuli Allah dengan cobaan, dianugerahi anak perempuan, lalu dididiknya anak perempuan itu baik-baik lalu dicarikannya suami dengan baik , anak itu akan menjadi syafaatnya juga di akhirat .

Maka dengan teladan Rasulullah saw yang seketika anaknya Ruqaiyah meninggal, beliau sendiri yang menyediakan kafan dan baju yang akan dipakaikan pada jenazahnya kelak, diulurkannya satu demi satu dari balik tabir tempat mayatnya dimandikan. Meninggal Ruqaiyah, lalu dikawinkannya suami Ruqaiyah itu dengan adiknya Ummu Kultsum. Suami kedua anak perempuan itu ialah Usman bin Affan sendiri. Kemudian Ummu Kultsum pun meninggal pula, sehingga Usman dua kali kematian isteri. Ketika itu Rasulullah berkata kepada Usman: "Sayang Usman aku tidak mempunyai lagi anak perempuan yang ketiga. Kalau ada lagi adiknya, dengan dia juga engkau akan saya kawinkan ."

Demikianlah contoh-contoh yang mengharukan dari hal kasih Rasul saw kepada anak perempuannya, yang mengesankan dan mempertinggi budi bangsa Arab. Tetapi dalam hati kecil mereka tetaplah anak laki-laki lebih utama. Sampai kepada zaman kita ini pun, kuranglah gembira orang Arab hendak menceritakan kepada temannya bahwa isterinya telah melahirkan anak perempuan, dan dia akan gembira dan temannya akan menyambut pula dengan gembira , kalau dia memberitakan baru mendapat laki-laki.

Di waktu masih kecil anak-anak laki-laki sebagai perhiasan mata karena lucunya, karena dia tumpuan harapan, maka setelah dia besar, dia menjadi kebanggaan karena kejayaan (sukses) hidupnya. Sehingga ada orang tua-tua yang tidak bosan-bosan memuji anak laki-lakinya di hadapan orang lain, dengan tidak memperdulikan apakah orang lain itu telah bosan mendengarkan atau tidak. Keinginan dan kebanggaan dengan anak laki-laki ialah gejala dari kesadaran manusia bahwa dia akan mati. Dia pasti mati, tetapi di dalam instingnya ada pula keinginan hidup terus. Hidup itu akan diteruskan oleh anak, dan anak akan beranak dan bercucu pula. Kadang-kadang pula didorong oleh perasaan akan adanya pelindung di hari tua.

Perangai manusia itu kadang-kadang ganjil-ganjil dan lucu. Di waktu muda belia seorang ayah membimbing anaknya dan memarahi kalau anak bersalah. Tetapi setelah dia tua, dia menjadi kekanak-kanakan. Kadang-kadang dia akan menangis seperti anak-­anak kalau sekiranya anaknya. mencium tangannya atau mukanya .

Dia merasai suatu nikmat yang amat besar dan mengharukan apabila anak-anaknya menunjukkan cinta kepadanya . teringat saya akan ayah saya dihari tuanya . Karena iseng dia menimba air sumur . setelah kelihatan oleh kami anak-anaknya ( saya dan Wadud ) , kami lekas-lekas datang dan dengan lemah lembut meminta timba itu dari tangan beliau dam kami yang menimba .
Beliau senyum dan bangga karena dilarang menimba air sumur itu , sebab ember penimba itu berat . Wadud berkata : " Biar kami saja yang menimbanya , Buya ! ember itu berat . " Beliau tersenyum tetapi airmatanya menggelenggang . Hal itu tidak dapat saya lupakan selama hidup dan bertambah saya meningkat tua pula , saya teringat kembali hal itu , setelah merasainya pula dari anak !.

Ketiga: "Berpikul-pikul Emas dan Perak

Yaitu kekayaan. Manusia semuanya mempunyai keinginan mempunyai kekayaan emas dan perak. Di dalam ayat disebut emas dan perak, karena memang ukuran (standard) kekayaan yang sebenarnya ialah emas-perak. Walaupun satu waktu kita hidup dengan uang kertas, namun uang kertas itu mesti mempunyai sandaran (dekking) emas di dalam bank. Tidak akan tercapai banyak maksud kalau tidak ada uang. Kita mempunyai keinginan banyak hendaknya uang itu , malahan di dalam ayat disebut berpikul-pikul, karena sangat banyaknya. Keinginan mempunyai kekayaan itu tidaklah ada batasnya. Dari kecil sampai besar, dari muda sampai tua, dari hidup sampai mati, tidak ada manusia menginginkan kekayaan dengan terbatas. Manusia ingin harta satu juta. Tetapi setelah satu juta, kalau bertambah lagi, menjadi 100 juta, manusia masih ingin 1.000 juta. Sehingga Nabi kita saw pernah bersabda:

"Kalau adalah bagi anak Adam dua buah lembah dari emas , masihlah dia menginginkan yang ketigo. Tapi tidaklah yang akan memenuhi perut anak Adam selain tanah , Dan Allah akan memberi taubat pada yang taubat " (Bukhari dan Muslim dari hadits Ibnu Abbas).

Keinginan kepada harta tidaklah terbatas, padahal hidup itu sendiri terbatas, Kalau manusia tidak membatasi seleranya, sampai matinya dia tidak akan merasa puas dengan yang ada.

Keempat Kuda Kenderaan yang Diasuh

Di zaman dahulu, di kala ayat ini diturunkan, yang diasuh dan dipingit, diberi pelana dan sanggurdi ialah kuda. Disikati bulunya dan diistimewakan makannya , schingga sampai ke zaman kita sekarang ini amat masyhurlah kuda tunggang Arab di seluruh dunia Mempunyai kuda tangkas itupun menjadi satu keinginan , dihiaskan Tuhan kesukaan mempunyainya. Dia alat penghubung dari satu tempat ke lain tempat.

Dia kenderaan intimewa di dalam perang dan di dalam damai. Di waktu kecil penulis Tafsir ini masih mendapati datuk-datuk di kampung kami, mempunyai kenderaan memakai genta, yang dari jauh sudah kedengaran bunyinya. Di zaman negeri kami masih memakai pangkat Tuanku Laras, masyhurlah "Kuda Tuanku Laras." Untuk memelihara kuda, di negeri kami Minangkabau sehingga diadakan pacuan kuda menurut adat tiap-tiap tahun pada beberapa negeri. Lantaran itu maka kenderaan kuda bukan saja sebagai perhiasan melainkan menjadi pelengkap hidup yang mesti (vital), sebagai rangkaian dari yang sebelumnya, yaitu kekayaan emas-perak, anak-cucu dan isteri yang setia.

Di zaman kita sekarang mundurlah kuda kendaraan yang dipingit dan naiklah kepentingan kenderaan bermotor. Dia menjadi alat perlengkapan hidup di zaman modern, sehingga mobil tidak lagi barang mewah, tetapi barang penting. Jalan jalan raya di seluruh dunia telah diubah pembuatannya daripada 100 tahun yang lalu, di zaman memakai gerobak dan pedati. Maka dihiaskanlah dalam hati manusia keinginan memakai kendaraan. Timbullah perlombaan merk mobil dan model mobil. Sehingga ada orang yang gila mobil. Apatah lagi industri-industri mobil itu tidak henti­-hentinya mengubah model tiap-tiap tahun, karena kepentingan berniaga, sehingga melihat model yang baru, orang jadi bosan dengan model mobilnya yang telah dianggap usang.

Kelima: Binatang-binatang Ternak

Kalau kenderaan bermotor adalah alat penting dalam kehidupan kota, maka binatang ternak amat penting dalam kehidupan di padang-padang yang luas, sebab pengikut Nabi Muhammad saw bukan orang kota saja. Pada kehidupan suku­-suku Badwi, hitungan kekayaan ialah pada binatang ternak. Berapa puluh ekor unta, kerbau dan lembunya, berapa ratus ekor kambing dan domba dan biri-birinya. Di negeri kita sendiri kekayaan kaum Muslimin di pulau Sumbawa dan pulau Lombok ditentukan oleh beberapa puluh atau beberapa ekor memelihara lembu dan berapa pengirimnya ke Jawa atau ke Singapura dalam setahun .

Keenam : dan Sawah-Ladang

Kekayaan dari perkebunan dan pertanian. Teringatlah kita akan luas-luasnya sawah di Sindenreng dan Wajo di Sulawesi. Teringat kita perkebunan karet di Kalimantan. Tetapi sebelum mengukurnya kepada negeri kita, teringatlah kita betapa luas-­luasnya kebun di sekeliling kota Madinah di zaman dahulu. Teringat kita bagaimana setelah kaum Muslimin menyeberang ke Andalusia (Spanyol) mereka memperbaiki pengairan (irigasi) yang sampai sekarang sudah 500 tahun mereka meninggalkan negeri itu, namun bekas tangan mereka masih ada. Terkenang kita bagaimana jasa kaum Muslimin memajukan pertanian di India seketika mereka berkuasa (kerajaan Mongol).

Di dalam ayat ini ialah menjelaskan kekayaan pertanian ini dihiaskan bagi menusia, sehingga kadang-kadang seluruh tenaga, seluruh kegiatan hidup mereka tumpahkan untuk mencapainya. Sehingga kadang-kadang mereka tidak mengiri-menganan lagi , menumpahkan seluruh tujuan hidup untuk itu , untuk keenamnya atau untuk salah satu dari keenamnya, atau se-bahagian dari keenamnya. Sehingga kadang-kadang mereka asyik dengan itu, manusiapun lupa akan yang lebih penting. Oleh sebab itu maka Tuhan bersabda memberi peringatan dengan lanjutan ayat:

ذلِكَ مَتاعُ الْحَياةِ الدُّنْيا
" Yang demikian itulah perhiasan hidup di dunia. "

Tegasnya bahwasanya semuanya itu. hanyalah perhiasan hiclup di dunia , niscaya usianya akan habis untuk itu, sedangkan perhiasan untuk di akhirat kelak dia tidak sedia. Padahal di belakang hidup yang sekarang ini ada lagi hidup yang akan dihadapi. Sesudah dunia adalah akhirat. Tuhan lebih tegaskan lagi:

وَ اللهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
Namun di sisi Allah ada (lagi) 5ebaik-baik tempat kembali . " (Ujung ayat 14).

Di Ujung ayat diterangkan bahwa ada lagi yang lebih penting, entah berapa ribu kali lebih penting daripada perhiasan dunia itu, ialah sebaik-baik tempat kembali disediakan Allah. Sebab selama-lama hidup di dunia kita pasti kembali juga kepada Allah. Tuhan menyediakan bagi kita sebaik-baik tempat kembali itu.

Apakah sebaik-baik tempat kembali itu?

قُلْ أَأُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ ذلِكُمْ
" Katakanlah : Sukakah kamu Aku ceritakan kepada kamu apa yang lebih baik dari yang demikian?' (pangkal ayat 15).

Yang lebih baik dari perempuan, anak-anak, emas-perak, kuda kendaraan, binatang ternak dan sawah-ladang itu?

لِلَّذينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْري مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهارُ خالِدينَ فيها وَ أَزْواجٌ مُطَهَّرَةٌ
"Ialah syurga­-syurga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, kekal mereka di dalam nya , dan isteri-isteri yang suci."

Semuanya ini beribu kali lebih baik daripada yang dihiaskan kepada kamu dari yang enam perkara itu. Dibandingkan dengan yang akan kamu terima kelak itu , belum ada arti sepeserpun apa yang kamu jadikan perhiasan dunia itu , Kalau anak yang kamu banggakan itu menjadi anak fasik , dia hanya akan menambah sakit hatimu di akhirat. Engkau boleh ingat sendiri bahwa segala kekayaan yang kamu kejar-kejar di dunia ini, entah emas-perak, kendaraan mewah, binatang ternak dan sawah ladang , sebagian besar hanyalah perhiasan yang nampak oleh orang luar , tetapi menggelisahkan dirimu sendiri.

Berapa banyaknya orang yang tidak teratur lagi makan-minumnya, tidak merasai lagi nyenyak tidur , karena memikirkan harta-benda yang sudah terlalu banyak itu. Kadang-kadang kesusahan seorang jutawan yang harga barangnya turun atau terancam "falliet" lebih besar daripada kesusahan seorang miskin yang dari pagi belum dapat makan.

Kadang-kadang kesusahan tagihan pajak, membuat mata tak mau tidur. Di dunia engkau mencari harta-benda dan hendak menguasainya, padahal beribu-ribu orang kaya diperbudak oleh harta kekayaannya itu. Sedang syurga yang disediakan Tuhan buat orang yang ingat akan kelidupan akhirat itu tidak lagi mengenal kepala pusing, darah tinggi, kacau fikiran karena banyak yang difikirkan. Pendeknya, bukan kurang-kurangnya bahwa perhiasan dunia itu menjadi neraka dunia. Oleh Tuhan diistimewakan lagi menerangkan bahwa di syurga itu mereka akan mendapat isteri-isteri yang suci. Amat dalam maksudnya jika Tuhan menonjolkan isteri yang suci di akhirat ini. Sebab perempuan dalam dunia ini , bagaimanapun setianya, namun mereka ada saja cacatnya. Sebagaimana pepatah orang tua-tua: "tidak ada lesung yang tidak berdedak".

Berapa banyaknya laki-laki yang disebut orang mata keranjang, yang tidak puas dengan sekalian perempuan yang isterinya, karena tiap-tiap yang telah diperisteri itu ada saja cacatnya. Selama dia masih perhiasan dunia selama itu pula dia akan bercacat. Orang yang tidak mengingat hari depan yaitu akhirat, akan habislah hidupnya dalam rasa tidak puas. Sehingga berkatalah pujangga Ibnu Muqaffa' : " orang yang diperbudak oleh syahwatnya tidaklah puas dengan isteri yang telah ada di dalam tangannya. Sehingga kalau sekiranya hari akan kiamat petang hari, maka di tengah hari ini masih bersedia hendak kawin. Dan dia tidak mengingat bahwa akan datang masanya tenaganya habis, sehingga dia tidak sanggup lagi memberi nafkah isterinya yang baru itu." Maka sebagai kunci, atau intisari dari syurga, atau martabat yang di atas sekali di dalam syurga itu diterangkan lagi oleh Allah:

وَ رِضْوانٌ مِنَ اللهِ
"Dan keridhaan daripada Allah."

Keridhaan dari Allah, inilah yang sebenar puncak nikmat syurga. Malahan di ayat lain dilebih­ terangkan lagi:

"Dan keridhaan Allah itu adalah lebih besar." ( at-Taubah : 72 )
Sehingga shufi perempuan yang terkenal, Rabi'atul­`Adawiyah, ketika ditanyai orang tentang syurga, dia menjawab: "Di manapun aku akan ditempatkan Tuhan , terserahlah pada Tuhan, asal satu perkara aku tetap diberiNya, yaitu ridhaNya."

Beginilah Tuhan membayangkan tujuan hidup yang sejati bagi seorang Muslim. Memang, Tuhan mengakui bahwa dunia mempunyai perhiasan, dan manusia ditakdirkan mengingini perhiasan itu, tetapi Tuhan memperingatkan janganlah lupa akan tujuan karena bimbang melihat perhiasan. Jangan terpesona oleh perhiasan di luar, karena yang di sebelah dalam lebih hebat daripada perhiasan luar itu.

وَ اللهُ بَصيرٌ بِالْعِبادِ
"Dan Allah adalah melihat akan hamba­hambaNya." (ujung ayat 15).

Dengan adanya ujung ayat begini , teranglah bahwa tidak ditutup mati samasekali segala keinginan perhiasan dunia itu. Boleh terus, tetapi ingatlah bahwa Allah telah melihat gerak-gerikmu. Bekerjalah, carilah, tetapi jangan kamu lupakan bahwa kamu tidak lepas dari penglihatan Tuhan. Dan bersabdalah Nabi Muhammad saw:


Beramallah untuk dunia kamu, seakan-akan kamu akan hidup selama-lamanya, dan beramallah untuk akharat kamu, seakan-akan kamu akan meninggal besok.
Ringkasnya ialah: kerja keras selalu dan ingat mati selalu. orang-orang yang begini ialah orang-orang yang sadar akan hidupnya di dunia dan sadar pula akan hidupnya di akhirat kelak. Sebab itu datanglah sambungan ayat: :

الَّذينَ يَقُولُونَ رَبَّنا إِنَّنا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنا ذُنُوبَنا وَ قِنا عَذابَ النَّارِ
(Yaitu) orang-orang yang berkata: Ya Tuhan kami ! , Sesungguhnya kami telah beriman. oleh karena itu ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan peliharakanlah kami dari siksaan neraka." (Ayat 16).

Dengan pengakuan telah beriman, cara hidupmu dirubah. Tidak lagi semata-mata mengejar "perhiasan dunia", tetapi mengingat lagi akan perjuangan kelak di kemudian hari dengan Allah. Lantaran telah beriman, mengakuilah bahwa di zaman yang sudah-sudah memang hidup itu hanya ingat dunia saja, sebab itu memohon ampun kepada Tuhan atas dosa-dosa yang telah lalu itu, dan memohonkan lagi kepada Tuhan peliharakanlah kiranya daripada siksaan neraka itu. Sebab dengan adanya iman di dalam hati kami, kami telah mendapat suluh dan telah jelas oleh kami jalan yang akan ditempuh. Cuma kadang-kadang mendapat gangguanlah kami daripada hawa nafsu kami dan perdayaan syaitan. Ini kami mohonkan ampun dan tuntunan dari Engkau, ya Tuhan kami!

الصَّابِرينَ وَ الصَّادِقينَ وَ الْقانِتينَ وَ الْمُنْفِقينَ وَ الْمُسْتَغْفِرينَ بِالْأَسْحارِ
" (Yaitu) orang-orang yang sabar dan orang-orang yang jujur dan orang-orang yang sungguh-sungguh taat dan orang-orang yang membelanjakan harta dan orang-orang yang memohon ampun di ujung malam." (Ayat 17).

Di ayat 16 ditunjukkanlah doa orang telah mengakui beriman itu, mengandung juga pengakuan bahwa mereka tidak lagi hanya semata-mata mengejar perhiasan dunia, sebab itu mereka meminta ampun dan memohonkan jauh dari neraka. Tetapi pada ayat 17 Tuhan menunjukkan bahwa do'a saja belum lah cukup . Mengucapkan doa mudah, tetapi yang sukar ialah mcnyesuaikan diri dengan iman . Di ayat 17 ini Tuhan menunjukkan lima syarat yang harus dipenuhi supaya iman itu menjadi sempurna.

Pertama : Sabar , karena gangguan di dalam menegakkan iman itu akan banyak, dan permohonan itu kadang-kadang belum segera dikabul kan Tuhan , bahkan kadang-kadang kesetiaan iman itu mendapat ujian, yang khas dari Tuhan sendiri. Kalau tidak sabar, perjuangan iman akan patah di tengah jalan.
Kedua : Jujur atau dalam bahasa Arabnya Shadiq, artinya benar dan membenarkan. Benar ke luar dan ke dalam, tidak berubah yang di mulut dengan yang di hati, membenarkan segala apapun yang dituntunkan Nabi saw , yang diwahyukan Tuhan dengan kata dan perbuatan, Dan mereka buktikan dengan perbuatan apa yang dibenarkan oleh hati.
Ketiga : Qanit, yaitu sungguh taat mengerjakan apa yang diperintahkan dan menghentikan yang dilarang. Meletakkan di muka dan mendahulukan kehendak Allah dan Rasul daripada kehendak sendiri.
Keempat : Membelanjakan harta, yaitu dermawan, sudi bersedekah, suka berzakat, tidak bakhil, memberikan bantuan kepada fakir dan miskin dan amal-amal kebaikan yang lain.
Kelima: Memohon ampun di ujung malam. Yaitu melatih diri sehingga menjadi kebiasaan bangun di ujung malam, yaitu di waktu sahur untuk bersembahyang Tahajjud, yang sudah nyata bahwa dalam sembahyang itu kita akan selalu memohonkan ampun kepada Tuhan di waktu berdiri, ruku', duduk, dan di antara duduk sujud. Dua pada waktu sahur atau ujung malam , atau parak ­siang itu , sehabis sembahyang dapat pula makan sahur, bersedia untuk mengerjakan puasa tathawwu' besoknya.

Menurut keterangan dari Abd bin Humaid, Qatadah menafsirkan ayat ini demikian:
"orang yang sabar ialah kaum yang sabar atas ketaatan kepada Allah, dan sabar pula mematuhi, menghentikan apa yang dilarangNya. Orang yang shadiq atau jujur, ialah kaum yang benar dan jujur niatnya dan istiqamah (lurus) hatinya dan lidahnya, dan benar serta jujur pula pada rahasianya dan kenyataannya. Dan orang yang beristighfar di waktu sahur ialah orang yang tetap mengerjakan sembahyang."

Bagaimana pentingnya waktu sahur, atau yang kita namai ujung malam itu?
Menurut riwayat dari Ibnu Jarir dan Imam Ahmad di dalam kitab az-Zuhd, yang diterima dari Said al-Jariri, dia berkata bahwa menurut riwayat yang kami terima, Nabi Daud pernah menanyakan kepada Jibril: "Bahagian malam yang manakah yang lebih utama?" lalu Jibril menjawab: "Hai Daud ! Aku tidak tahu bahagian malam mana yang lebih penting. Cuma aku tahu bahwa 'Arsy Tuhan itu bergerak--gerak di waktu sahur . "

Menurut riwavat dari Bukhari dan Muslim dan ahli-ahli Hadits yang lain, yang diterima dari sesuatu jamaah yang besar dari sahabat-sahabat Rasulullah saw :

"Bahwa Rasulullah saw bersabda: Turanlah Allah Tabaraka wa Taala pada tiap-tiap malam kelangit dunia sehlngga tinggal sepertiga malam. Maka berkatalah Tuhan: adakah kiranya yang memohon di saat ini supaya Aku perkenankan ? adakah kiranya yang berdoa, supaya Aku kabulkan ? Adakah kiranya yang memohon ampun, supaya Aku beri ampun ?"

Penganut mazhab salaf menerima saja akan arti ini keseluruhannya, yaitu bahwa Tuhan turun ke langit dunia, langit yang terdekat kepada kita ini pada malam hari, sampai tinggal seper tiga malam. Untuk mendengarkan siapa kiranya hambaNya yang memohon, yang berdoa dan meminta ampun. Mereka tidak lagi memberi arti atau keterangan lebih jauh. Karena kuasa Ilahi dan rahasiaNya tidaklah dapat diartikan seluruhnya oleh makhluk insani yang lemah ini. Tetapi mazhab khalaf dan kaum Mu'tazilah memberi juga arti, yaitu bahwa Tuhan turun itu harus diartikan pendekatan. Untuk mendekatkan kepada faham kita bahwa di waktu sahur itu Tuhan lebih dekat kepada hamba-hambaNya yang taat karena hamba itu sendiri pun merasai betapa dekat kepada Allah pada saat demikian. Jadi menurut madzhab khalaf turun ke langit pertama ialah sangat dekat Tuhan itu, untuk mendengar doa dan permohonan hambaNya.

Menurut riwayat dari Anas bin Malik, pembantu pribadi Rasulullah saw itu, dia berkata: "Kami disuruh oleh Rasulullah saw memohonkan ampun kepada Tuhan di waktu sahur itu sampai 70 kali." Ibnu Abi Syaibah menafsirkan: "Bahwasanya orang yang memohon ampun waktu sahur itu ialah orang-orang yang hadir pada sembahyang subuh."

Keterangan dari Ibnu Abi Syaibah ini dapat pula kita fahamkan. Sebab orang yang telah merasai kelezatan beribadat, jauh-jauh sebelum subuh dia telah bangun. Terlebih dahulu ia mengerjakan sembahyang tahajjud dan sehabis sembahyang ia duduk tafakkur sambil membaca istighfar 70 kali atau pun lebih, kadang-kadang dibaca pula doa yang lain. Dan beberapa hari dalam seminggu diteruskannya makan sahur untuk persediaan puasa pada siang hari, kemudian diapun pergi ke mesjid melakukan sembahyang subuh berjamaah.

Rangkaian lima perkara yang dilenyapkan oleh orang-orang yang hidupnya telah dibangun oleh iman dan takwanya itu, bila kita persambungkan dengan ayat sebelumnya tentang keinginan manusia kepada perhiasan dunia yang enam macam di atas tadi, nyatalah bagl orang yang beriman keduanya itu tidak ada perlawanan. Orang tidak berhalangan mencari perhiasan dunia,malahan perhiasan duniapun bisa menjadi pendorong bertambah dekat kepada Tuhan.

Di kalangan sahabat-sahabat Rasulullah saw terdapat or­ang-orang kaya-raya seperti Abdurrahman bin Auf dan Zubair bin Awwam dan Said bin al-'Ash dan lain-lain. Dan ada pula orang yang hidupnya miskin seperti Abu Zar dan Abu Dardak. Tetapi dalam ketaatan kepada Tuhan tidaklah berubah di antara yang kaya dengan yang miskin. Sebuah syair Arab berkata:

.

Alangkah indahnya jika dunia dan agama berkumpul jadi satu , dan alangkah buruknya kafir dan durhaka bergabung dalam diri seseorang.


01     02      03    04    05     06   07   08    09   10   11    12                          Back To MainPage       >>>>