Make your own free website on Tripod.com
                                                       
 
                                                 Tafsir Suroh Ali Imran  28 - 30         

(28) Janganlah mengambil orang-orang yang mukminin orang­orang yang kafir jadi pemimpin lebih daripada orang-orang yang beriman. Dan barang siapa, yang berbuat demikian itu maka tidaklah ada dari Allah sesuatu juapun. Kecuali bahwa kamu berawas diri dari mereka itu sebenar awas. Dan Allah memperingatkan kamu benar-benar akan diriNya. Dan kepada Allahlah tujuan kamu.

(29) Katakanlah: Jika kamu sembunyikan apa yang ada dalam dada kamu, ataupun kamu nampakkannya, namun Allah mengetahui­nya juga, dan Diapun mengetahui apa yang ada disemua langit dan apa yang di bumi. Dan Allah atas tiap­tiap sesuatu Maha Kuasa.

(30) (Ingatlah) akan hari yang tiap-tiap orang akan mene­rima ganjaran amal baik yang telah tersedia. Dan amalan-amalan yang buruk­pun, inginlah dia (kiranya) di antara balasan amal buruk­nya itu dengan dirinya diantarai oleh masa yang jauh. Dan Allah mempe­ringatkan kamu benar-benar akan dirNya. Dan Allah amatlah sayang kepada hamba-hambanya.

Iman kepada Allah telah dipadu dengan ayat yang terlebih dahulu, yaitu bahwasanya seluruh kekuasaan adalah pada Allah. Kalau ada manusia berkuasa, maka itu adalah anugerah belaka dari Allah, dan Allah pun bersedia pula mencabut kekuasaan itu kembali. Orang tidak akan mulia kalau bukan Allah yang memuliakan dan orang tidak hina kalau bukan Allah yang menghinakan. Sehingga walaupun seluruh isi dunia untuk menghinakan engkau, kalau tidak hina kata Tuhan, tidaklah engkau akan hina. Walaupun sepakat isi dunia hendak memuliakan engkau, kalau Tuhan akan menetapkan hina, dunia tidaklah dapat menolong. Kecil kita dan kecil dunia, di hadapan Tuhan.

Sekarang setelah mendapat pendirian yang demikian, datanglah tuntunan yang maha penting:

لا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكافِرينَ أَوْلِياءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنينَ

"Janganlah mengambil orang-orang yang mu'iminin akan orang-orang kafir jadi pemimpin , lebih daripada orang-orang yang beriman." (pangkal ayat 28).

Di sini terdapat perkataan aulia'. Dahulupun pernah kita uraikan arti kata wali, yang berarti pemimpin atau pengurus atau teman karib, ataupun sahabat ataupun pelindung.

Di surat al-Baqarah ayat 256 kita telah diberikan pegangan, bahwasanya wali yang sejati, artinya pemimpin, pelindung dan pengurus orang yang beriman hanya Allah. Di ayat itu Tuhan memberikan jaminannya sebagai wali, bahwa orang yang beriman akan dikeluarkan dari gelap kepada terang. Dan di dalam ayat itu juga diterangkan bahwa wali orang yang kafir adalah Thaghut dan Thaghut itu akan mengeluarkan mereka dari terang kepada gelap.

Kemudian di dalam ayat yang lain kita telah bertemu pula keterangan bahwasanya orang beriman sesama beriman yang sebahagian menjadi wali dari yang lain, sokong-menyokong, bantu­ membantu, sehingga arti wali di sini ialah persahabatan. Maka di dalam ayat yang tengah kita bicarakan ini, diberikanlah peringatan kepada orang yang beriman, agar mereka jangan mengambil or­ang kafir menjadi wali.

Jangan orang yang tidak percaya kepada Tuhan dijadikan wali sebagai pemimpin, atau wali sebagai sahabat. Karena akibatnya kelak akan terasa, karena akan dibawanya ke dalam suasana thaghut Kalau dia pemimpin atau pengurus, sebab dia kufur, kamu akan dibawanya menyembah thaghut. Kalau mereka kamu jadikan sahabat, kamu akan diajaknya kepada jalan sesat, menyuruh berbuat jahat, mencegah berbuat baik.

Menurut riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu Ishaq dan Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim, bahwa Ibnu Abbas berkata: "Al-Hajjaj bin 'Amr mengikat janji setia kawan dengan Ka'ab bin al-Asyraf (pemuka Yahudi yang terkenal sebagai penafsir) dan Ibnu Abi Haqiq dan Qais bin Zaid. Ketiga orang ini telah bermaksud jahat hendak mengganggu kaum Anshar itu lalu ditegur oleh Rifa'ah bin al-Mundzir dan Abdullah bin Jubair dan Sa'ad bin Khatamah, supaya mereka menjauhi orang-orang Yahudi yang tersebut itu. Hendaklah mereka berawas diri dalam perhubungan dengan mereka, supaya agama mereka jangan difitnah oleh orang-­orang Yahudi itu.

Tetapi orang-orang yang diberi peringatan itu tidak memperdulikannya." Inilah kata Ibnu Abbas yang menjadi sebab turunnya ayat ini.Ada lagi suatu riwayat lain yang dikeluarkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnul Mundzir dan Ibnu Abi Hatim dari beberapa jalan riwayat, bahwasanya tafsir ayat ini ialah bahwa Allah melarang orang-or­ang yang beriman bersikap lemah-lembut terhadap orang kafir dan mengambil mereka jadi teman akrab melebihi sesama beriman, kecuali kalau orang-orang kafir itu lebih kuat daripada mereka. Kalau demikian tidaklah mengapa memperlihatkan sikap lunak, tetapi hendaklah tetap diperlihatkan perbedaan di antara agama orang yang beriman dengan agama mereka.

Untuk mendekatkan kepada faham kita, bacalah pula tafsir surat al-Mumtahanah (Surat 60 ayat 1). Seorang sahabat Nabi yang terkemuka, pernah turut dalam peperangan Badar, bernama Hathib bin Abi Balta'ah, seketika Rasulullah saw menyusun kekuatan buat menaklukkan Makkah, dengan secara diam-diam dan rahasia telah mengutus seorang perempuan ke Makkah, membawa suratnya kepada beberapa orang musyrikin di Makkah, menyuruh mereka bersiap-siap, sebab Makkah akan diserang.

Maksudnya ialah untuk menjaga dirinya sendiri. Sebab kalau serangan itu gagal, dia sendiri tidak akan ada yang memperlindunginya di Makkah. Dia tidak mempunyai keluarga besar di Makkah, seperti sahabat­sahabat rasulullah s.a.w, yang lain. Dengan mengirim surat itu dia hendak mencari perlindungan. Syukurlah Tuhan memberi isyarat kepada Rasulullah tentang kesalahan Hathib itu, sehingga beliau suruh kejar perempuan itu, sampai digeledah surat itu di dalam sanggulnya. 'Umar bin Khattab telah meminta izin kepada Rasulullah untuk membunuh Hathib karena perbuatannya yang dipandang berkhianat itu. Untuk kepentingan diri sendiri dia telah membuat hubungan dengan orang kafir. Perbuatannya itu salah. Sebab dia telah membocorkan rahasia peperangan, syukurlah suratnya itu dapat ditangkap. Kalau bukanlah karena jasanya selama ini, terutama karena dia telah turut dalam peperangan Badar, niscaya akan berlakulah atas dirinya hukuman berat.

Hathib bin Abi Balta'ah termasuk sahabat besar, namun demikian sekali-sekali orang besarpun bisa terperosok kepada satu langkah yang merugikan negara dengan tidak disadari, karena lebih mengutamakan memandang kepentingan diri sendiri. Maka dalam surat al-Mumtahanah ayat 1 diperingatkan supaya orang-orang beriman jangan mengambil orang kafir menjadi wali, karena menumpahkan kasih-sayang.

Padahal kalau telah terjadi pertentangan (konfrontasi) dengan musuh, dalam hal ini di antara kaum Muslimin di Madinah dan kaum Musyrikin di Makkah, hubungan pribadi tidak boleh dikemukakan lagi. Mungkin pribadi­-pribadi orang di Madinah dengan dengan pribadi orang di Makkah tidak ada selisih, tidak bermusuh, malah berkawan, bersahabat karib, tetapi dalam saat yang demikian hubungan pribadi tidak boleh ditonjolkan, sebab akan mengganggu jalannya penentuan kalah - menang diantara golongan yang berhadapan.

وَ مَنْ يَفْعَلْ ذلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللهِ في‏ شَيْ‏ءٍ

"Dan barangsiapa yang berbuat demikian itu , maka tidaklah ada dari Allah sesuatu juapun."

Tegasnya, dengan sebab mengambil wali kepada kafir, baik pimpinan atau persahabatan, niscaya lepaslah dari perwalian Allah, putus dari pimpinan Tuhan, maka celakalah yang akan mengancam.

إِلاَّ أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقاةً

"Kecuali bahwa kamu berawas diri dari mereka itu sebenar awas."

Beratus-ratus tahun lamanya negeri-negeri Islam banyak yang dijajah oleh pemerintahan yang bukan Islam, karena terpaksa. Karena tergagah, karena senjata untuk melawan dan kekuatan untuk bertahan tidak ada lagi. Maka tetaplah larangan pertama, yaitu tidak menukar wali dari Allah kepada mereka. Kalau ini tidak dapat dinyatakan keluar, hendaklah disimpan terus di dalam hati dan hendaklah selalu awas sebenar-benar awas, supaya dengan segala daya-upaya bahaya mereka itu untuk membelokkan dari Allah kepada Thaghut dapat ditangkis. Pendeknya , sampai kepada saat yang terakhir wajib melawan , walaupun dalam hati.

Taqiyah

Bersikap lunak-lembut kepada musuh, yang merupakan satu ketundukan dan menyerah, karena musuh itu lebih kuat, itulah yang dinamai sikap taqiyah. Kepala selalu terangguk-angguk merupakan setuju, padahal hati bukan setuju. Mulut senantiasa tersenyum, musuh yang kafir itu menyangka bahwa si Mu'min telah tunduk, padahal bukan tunduk.

Orang yang tidak memahami ajaran Islam menyamakan saja sikap begini dengan munafik. Padahal munafik ialah bermulut manis, bersikap lembut dan tersenyum-senyuin di dalam menyembunyikan pendirian yang salah, yang kufur. Seperti orang munafik mengakui di hadapan Rasulullah s.a.w. bahwa mereka telah percaya bahwa beliau memang utusan Allah, padahal hati mereka tidak mengaku. Walaupun yang mereka katakan benar, kalau kata yang benar itu tidak dari hati, mereka tetap berdusta. Itulah orang yang munafik.

Tetapi kalau kita yakin bahwa kita di pihak yang benar, dalam lindungan hukum-hukum Allah dan Rasul, sedang musuh kuat, sehingga kita tidak kuat bertindak menentang musuh Tuhan itu, kalau kita menunjukkan muka manis dan mengangguk-angguk, bukanlah munafik namanya, melainkan taqiyah.

Dalam satu seminar di Jakarta dalam bulan September 1966 seorang sahabat menyatakan pendapat bahwa sikap taqiyah yang menjadi pegangan sangat teguh dari kaum Syi'ah adalah menunjukkan sikap yang lemah.

Lalu penafsir ini membantah: "Memang kaum Syi'ah mempunyai ajaran taqiyah, tetapi ini bukanlah alamat kelemahan!" Terlepas dari pendirian penafsir sendiri yang bukan Syi'ah, tetapi penganut Mazhab Sunni, penafsir kagum akan ajaran taqiyah kaum Syi'ah itu. Sebab bagi mereka taqiyah bukan kelemahan, melainkan satu siasat yang berencana. Oleh sebab itu maka Mazhab Syi'ahlah satu mazhab politik yang banyak sekali mempunyai rencana-rencana rahasia, yang baru diketahui oleh musuh-musuhnya setelah musuh itu menghadapi kenyataan.

Kerajaan-kerajaan Syi'ah yang berdiri di mana-mana, baik di Asia atau Afrika di zaman-zaman Khalifah-khalifah Baghdad, kebanyakan pada mulanya adalah gerakan yang dirahasiakan. Berdirinya gerakan Bani Abbas menentang Bani Umayyah, mulanya ialah gerakan rahasia yang timbul di Khurasan. Kerajaan Bani Idris di Afrika, Kerajaan Fathimiyah di Mesir yang dahulu bernama Ubaidiyah di Qairouan mulanya adalah gerakan rahasia.

Gerakan Hasan Shabah yang terkenal dengan nama "Hasysyasyin (Assasin) adalah mulanya gerakan sangat rahasia. Oleh sebab itu kalau kaum Syi'ah memakai pendirian taqiyah, bukanlah kelemahan, melainkan siasat yang berencana. Oleh sebab itu kalau ada orang Islam yang menyerah kepada kekuasaan kafir, sampai kerja sama atau membantu kafir, padahal tidak ada rencana hendak terus menumbangkan kerajaan kafir itu, bukanlah itu taqiyah, tetapi menggadaikan diri sendiri kepada musuh.

وَ يُحَذِّرُكُمُ اللهُ نَفْسَهُ

"Dan Allah memperingatkan kamu benar-benar akan diriNya."

Di sambungan ayat ini Allah Ta'ala memberi peringatan dengan keras, bahwa di dalam urusan ini, khusus dalam taqiyah, janganlah dipandang enteng. Jangan sampai sikap taqiyah itu dijadikan tempat lari untuk melepaskan diri dari tanggung-jawab menghadapi lawan. Hendaklah awas dan jangan sekali-kali lupa bahwa diri Allah Ta'ala senantiasa ada, senantiasa mengawasi, dan menilik sepak terjang yang kamu lakukan. Karena kalau taqiyah itu akan membawa agama Allah jadi lemah, bukanlah dia taqiyah lagi tetapi beralih menjadi sikap pengecut. Itu sebabnya maka ujung ayat lebih menjelaskan pula, bahwa baik di waktu kamu sedang kuat, lalu menolak kerjasama dengan musuh yang akan melemahkan agamamu, atau sedang lemah sehingga terpaksa kamu mengambil sikap taqiyah, namun ingatlah:

وَ إِلَى اللهِ الْمَصيرُ

"Dan kepada Allahlah tujuan kamu." (ujung ayat 28).

Akhir ayat ini mengingatkan kita akan perumpamaan hidup kita yang tengah berlayar di tengah lautan besar, menaiki sebuah bahtera. Sejak dari permulaan berlayar kita telah menentukan tujuan dan arah di mana bahtera itu akan berlabuh. Lalu pelayaran kita teruskan. Tetapi oleh karena laut itu tidak senantiasa tenang, bahkan ada gelombang, ada taufan, ada badai dahsyat, sudahlah dalam perhitungan bahwa kadang-kadang bahtera itu akan dihalau oleh angin entah ke mana. Tetapi betapa pun hebatnya pukulan gelombang, namun nakhoda kapal wajib tetap menjaga pedoman, tidak boleh berkisar dari tujuan semula. Tujuan bahtera hidup beragama ialah Allah.

Untuk kelengkapan penafsiran ini hendaklah kita tilik lagi ayat 8 dan ayat 9 dari surat 60 (al-Mumtahanah). Surat ini pun diturunkan di Madinah. Di ayat 8 ditegaskan bahwa terhadap kafir yang tidak memerangi kamu dan tidak mengusirmu dari kampung halaman kamu, tidaklah mengapajika hidup berdampingan dengan damai ( an-tabarru-hum ) dan berhubungan secara adil ( watuq-sithu ilaihim ) ; memberi dan menerima, duduk sama rendah, tegak sama tinggi. Lalu di ayat 9 ditegaskan lagi, bahwa jika musuh itu memerangi kamu dalam hal agama dan mengusir kamu dari kampung halaman kamu dan dengan terang-terang pula pengusiran itu, tidaklah kamu boleh bersahabat atau berhubungan dengan mereka.

Niscaya kita dapat berpikir lebih lanjut tentang isi sekalian ayat ini. Baik ayat-ayat yang tegas melarang dan memerintahkan supaya selalu awas, atau ayat yang membolehkan berhubungan dengan mereka, karena taqiyah atau karena kuat. Kalau kita kuat tentu tidak berhalangan kalau kita berhubungan dan berdamai dengan kafir, membuat perjanjian-perjanjian dagang, utang piutang dan lain-lain sebagainya, terutama hidup bernegara di zaman modern, tidaklah ada satu negeri yang dapat memencilkan diri dari negeri lain. Sudahlah selayaknya jika wakil-wakil dari negeri dan negara Islam duduk bersama bermusyawarat memperkatakan soal­-soal internasional dengan wakil-wakil negara-negara lain.

Adapaun sikap awas dan waspada, sikap tidak lupa kepada diri Allah, niscaya tidak boleh dilepaskan, baik di waktu lemah, atau pun di waktu kuat.

قُلْ إِنْ تُخْفُوا ما في‏ صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللهُ وَ يَعْلَمُ ما فِي السَّماواتِ وَ ما فِي الْأَرْضِ

"Katakanlah: Jika kamu sembunyikan apa yang ada dalam dada kamu, atau pun kamu nampakkannya, namun Allah mengetahuinya juga, dan Diapun mengetahui apa yang ada di semua langit dan apa yang di bumi. " (pangkal ayat 29).

Ayat ini adalah pengikat jiwa yang halus sekali bagi orang-­orang yang beriman. Dia adalah sebagai sambungan dari Allah memperingatkan tentang diriNya tadi. Mereka pada pokoknya dilarang keras lebih mementingkan pimpinan orang kafir dan mengangkat mereka jadi wali, sehingga melebihkan pandangan kepada mereka daripada memandang sesama mu'min. Cuma di saat yang terpaksa dan menilai keadaan, baru boleh melakukan taqiyah. Di ayat ini diperingatkan bahwa Tuhan mengetahui apa yang kamu sembunyikan dalam dada dan mana yang kamu nampakkan dan nyatakan.

Orang banyak dapat kamu kicuh, dan Tuhan tidak! Maka lebih tertekanlah peringatan ini kepada Ulil-Amri, orang-orang yang bertanggung-jawab; jangan sampai misalnya membela kelemahan diri dengan menyebut taqiyah. Kontrol sejati adalah di tangan Tuhan , dan sewaktu-waktu pekerjaan yang curang dan busuk akan berbau juga oleh orang banyak. Disebut dalam ayat ini, bahwa yang diketahui Allah itu bukan saja isi dada manusia yang tersembunyi atau sikap manusia yang nyata. Usahkan itu, sedangkan rahasia semua langit dan bumi lagi diketahuiNya.

Kadang-kadang ditafsirkan dengan nyata di hadapan mata kita. Yaitu pertalian isi dada manusia dengan mulutnya dengan rahasia langit dan bumi. Satu hal pernah kejadian. Yaitu pada suatu hari seorang kepala negara yang sombong berkata sambil mendabik dadanya, bahwa kita manusia ini harus sanggup menundukkan alam. Dua hari saja sesudah dia berpidato sombong akan menundukkan alam itu, terjadilah hujan lebat di kota kediamannya, yaitu hujan lebat yang membawa banjir besar. Dia yang berpidato itu terpaksa dihusung atau ditandu orang ketika akan keluar dari istana, sebab mobil yang akan membawanya tidak dapat berjalan dalam banjir dan mesinnya tidak bisa hidup.

Maka orang yang menyaksikan berkata: "raja kita katanya hendak menundukkan alam. Sekarang dia juga rupanya yang wajib tunduk kepada alam!"

Seorang pemimpin komunis tidak berTuhan pernah berkata dalam satu rapat umum: "Kalau kamu tidak bisa bergerak membubarkan Himpunan Mahasiswa Islam, lebih baik tukar celanamu dengan sarung (jadi perempuan)." Sehari sesudah dia bercakap berapi-api itu, kaum komunis mengadakan berontak hendak merebut kekuasaan dan membunuh enam orang Jendral.

Rupanya pemberontakan mereka hanya berjalan sehari saja sedang petang harinya sudah dapat digagalkan. Maka Pemimpin Komunis yang sombong itu terpaksa lari meninggalkan kota, benar-benar dengan menukar celana dengan sarung.Itulah sebabnya maka akhir ayat berbunyi:

وَ اللهُ عَلى‏ كُلِّ شَيْ‏ءٍ قَديرٌ

"dan Allah atas tiap-tiap sesuatu Maha Kuasa." (ujung ayat 29).

Hanya orang Mu'min yang dapat merasai hal yang seperti ini. Betapa kekuasaan Allah atas isi dada manusia dan betapa kekuasaan Allah atas seluruh langit bumi. Kadang-kadang kita bertemu dengan kemenangan padahal menurut perhitungan kita belum nampak pintunya. Kadang-kadang kita merasa bahwa rencana kita akan berjalan menurut yang kita gariskan. Tiba-tiba datang saja kejadian lain yang tidak pula kita sangka-sangka sehingga rencana Allah jualah yang berjalan. Oleh sebab itu maka baik di waktu senang, sekali-kali janganlah lupa memperhitung kan Maha Kuasanya Allah.

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ ما عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَراً

"(Ingatlah) akan hari yang tiap-tiap orang akan menerima ganjaran amal baik yang telah tersedia." (pangkal ayat 30).

Di sini diberikan ketegasan dan jaminan bagi setiap orang yang beramal baik, bahwa ganjarannya akan diterimanya kontan, telah tersedia di hadapan matanya. Akan mengobat hatinya yang sudah gundah dan akan menghilangkan segala kepenatan dan akan menghabis kan segala kecewa.

وَ ما عَمِلَتْ مِنْ سُوءٍ

"Dan amalan-amalan yang burukpun."

Artinya bahwa amalan yang burukpun akan menerima ganjaran yang telah tersedia pula, sebagai akibat dari perbuatannya sendiri, sehingga:

تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَها وَ بَيْنَهُ أَمَداً بَعيداً

"Inginlah dia (kiranya) di antara balasan amal buruknya itu dengan dirinya di antarai oleh masa yang jauh."

Tegasnya: baik dan buruk (amalan) akan menerima ganjaran Tuhan dengan kontan dan tersedia nyata di hadapan mata (Muh-dharan). Orang yang berbuat baik tentu akan merasai gembira yang sangat tinggi dan rasa bahagia yang tiada taranya seketika berhadapan langsung dengan balasan amalnya. Tetapi bagaimana orang yang beramal buruk ? Diapun akan menerima ganjaran kontan pula, hadir pula di hadapan matanya.

Niscaya perasaan di waktu itu akan lain. Niscaya kalau hal itu dapat dielakkan, akan dia elakkan. Atau dia minta supaya diperlambat, diundur-undur; dia takut menghadapi kenyataan sehingga dia mengharap supaya di antara dia dengan ganjaran amalnya itu diadakan jarak yang jauh. Dia pasti kalah, dan dia tahu itu.

Tetapi dia minta supaya kekalahan itu diundurkan. Tetapi benarlah apa yang dikatakan oleh seorang pujangga: "hidup ialah menunda kekalahan." Sebab itu Tuhan memperingatkan lagi sebagai telah diperingatkanNya di ayat yang di atas tadi:

وَ يُحَذِّرُكُمُ اللهُ نَفْسَهُ

"Dan Allah memperingatkan kamu benar-benar akan diriNya."

Sebab itu janganlah kamu abaikan tugas hidupmu. Pilihlah sendiri jalan yang benar dan jauhilah yang salah, jujurlah terhadap Allah. Sebab Dia Ada, dan Dia mengawasi kamu. Ingatlah itu benar-benar dan awaslah.

وَ اللهُ رَؤُفٌ بِالْعِبادِ

"Dan Allah amatlah sayang kepada hamba-hambaNya." (ujung ayat 30).

Dengan peringatan hati-hati dan awas yang agak keras di atas semuanya tadi, terasalah bahwa masing-masing kita yang mengakui dirinya hamba Allah, tidak pernah lepas dari tilikan Allah.

Maka kitapun berhati-hatilah, baik dalam isi dada yang dirahasiakan, atau sikap hidup yang dinampakkan. Tetapi di dalam kehati-hatian itu kitapun insaf bahwa kita ini manusia, ada saja kelemahan kita masing-masing. Lautan ini amat luas, dimana akan berlabuh belum tahu.

Sedang berjalan menuju tujuan yang dituju itu, entah putus nyawa di tengah jalan, entah mati jauh karena kehausan. Kadang-kadang terasa betapa banyak halangan yang wajib dilalui, banyak duri dan onak.

Semuanya itu diketahui oleh Tuhan. Oleh sebab itu, di samping kerasnya peringatan yang Dia berikan, Diapun tetap sayang dan belas kasihan akan semua hambaNya yang memang membina tujuan hidupnya mencapai ridha Allah. Oleh sebab itu jika dalam perjalanan sulit itu, sekali-sekali bertemu dengan luluk dan lumpur yang mengotori baju, lekaslah bersihkan. Dan membersihkan batin dari daki-daki kedosaan ialah dengan bertaubat dan beristighfar.


 01   02   03    04    05   06   07   08    09   10    11    12    13    14                                     >>>>