Make your own free website on Tripod.com
                                                       
                          Tafsir Suroh Al-Mu'minun ayat 23-26
 
                                                                           

                                                         


(23) وَ لَقَدْ أَرْسَلْنا نُوحاً إِلى‏ قَوْمِهِ فَقالَ يا قَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ ما لَكُمْ مِنْ إِلهٍ غَيْرُهُ أَفَلا تَتَّقُونَ

Dan sesungguhnya telah Kami utus Nuh kepada kaumnya. Maka dia pun berkata: Hai kaumku, berbaktilah kamu semuanya kepada Allah. Sebab tidak ada bagimu Tuhan yang lain, selain Dia. Apakah kamu tidak juga mau takwa?


(24) فَقالَ الْمَلَأُ الَّذينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ ما هذا إِلاَّ بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُريدُ أَنْ يَتَفَضَّلَ عَلَيْكُمْ وَ لَوْ شاءَ اللهُ لَأَنْزَلَ مَلائِكَةً ما سَمِعْنا بِهذا في‏ آبائِنَا الْأَوَّلينَ َ

Maka berkatalah satu golongan yang kafir dari kaumnya: Orang ini hanyalah manusia serupa kamu juga, yang ingin hendak melebihkan dirinya di atas kamu. Kalau betul-betul Allah yang menghendaki, tentu malaikatlah yang diturunkanNya. Tidaklah pemah kita mendengar ucapan­ucapan semacam ini sejak nenek-moyang kita yahg dahulu.


(25) إِنْ هُوَ إِلاَّ رَجُلٌ بِهِ جِنَّةٌ فَتَرَبَّصُوا بِهِ حَتَّى حينٍ

Dia itu, tidak lain hanyalah seorang yang ditimpa gila. Maka tunggulah hingga datang waktu­nya.


(26) قالَ رَبِّ انْصُرْني‏ بِما كَذَّبُونِ َ

Berkata dia: Tuhan, tolong kira­nya akan daku, karena mereka telah mendustakan daku.


وَ لَقَدْ أَرْسَلْنا نُوحاً إِلى‏ قَوْمِهِ فَقالَ يا قَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ ما لَكُمْ مِنْ إِلهٍ غَيْرُهُ

"Dan sesungguhnya telah Kami utus Nuh kepada kaumnya. Maka dia pun berkata: Hai kaumku, berbaktilah kamu semuanya kepada Allah.Sebab tidak ada bagimu Tuhan yang lain, selain Dia."
(pangkal ayat 23).


Perjuangan Nabi Nuh a.s.

Perhatikanlah dengan seksama urutan datangnya Wahyu. Mula-mula diceritakan dari hal air, kebun buah-buahan, tanam-tanaman, binatang ternak. Kehidupan dan kesuburan, semuanya bergantung sangat kepada turunnya hujan. Binatang ternak sebagai kuda dan unta dapat dijadikan kendaraan peng­angkut manusia, sama juga halnya dengan kapal yang belayar pula mengang­kut manusia di lautan. Maka setelah terbayang dalam fikiran keadaan laut dan kapal, barulah di ceritakan perjuangan Nabi Muhammad.

Dan memang, per­juangan Nabi Nuh kelaknya akan menerangkan lagi tentang air hujan dan menerangkan lagi tentang kapal. Maka pokok pertama dari ajaran yang beliau bawa kepada kaumnya ialah memberi ingat bahwa Tuhan yang lain tidak ada, yang Tuhan hanyalah Allah. Hujan tidak turun, makanan tidak terjamin, binatang ternak tak berkembang biak dan angkutan yang menghubungkan di antara daerah dengan daerah tidak akan lancar, kalau bukan kurnia dari Tuhan Allah Yang Esa. Manusia haruslah menginsafi itu.

Kalau dia telah sadar akan keesaan llahi, fikirannya tidak pecah lagi di dalam menginsafi itu. kalau dia telah sadar akan keesaan (lahi, fikirannya tidak pecah lagi di dalam menghadapi tugas hidup. Pengakuan akan Kesatuan Tuhan, niscaya menimbulkan kesatuan bakti, yaitu kesatuan ibadat. Karena memang tidak sesuatu pun yang patut disembah dan dibakti, kecuali Tuhan Allah.

أَفَلا تَتَّقُونَ
"Apakah kamu tidak juga mau takwa?" (ujung ayat 23).

Apakah kamu tidak sadar, bahwasanya keadaan bisa berubah-ubah, dalam sekejap mata? Tidak­kah kamu tidak sadar bahwasanya nikmat yang telah diberikan Tuhan hari ini dapat dicabutnya kembali besok"? Adakah sesuatu dalam dunia ini yang tetap"? "Takwa" artinya memelihara dan rnenyadari, kadang-kadang timbul takut, sehingga kerapkali dengan bergegas saja orang mengartikan takwa dengan takut, padahal dia lebih meliputi daripada semata-mata "takut".
Kalau takwa bertali dengan "wiqayah", yaitu memelihara hubungan baik dengan Tuhan. Karena apabila telah ada hubungan yang baik dengan Tuhan, apa pun yang akan datang menimpa diri, namun kita tidak akan merasa cemas lagi.

Tetapi seruan Nabi Nuh agar kaumnya insaf akan hubungan dengan Tuhan itu, tidaklah segera dapat sambutan yang baik. Penyeru kebenaran di dalam dunia ini tidaklah mudah mencapai maksudnya. Sebab kebenaran itu tidaklah selalu manis. Kadang-kadang betapa pun besar seruan yang dibawa, ditawar orang terlebih dahulu, siapa yang mengatakan, siapa yang membawa clan bagaimana kedudukannya (posisinya) dalam masyarakat. Oleh sebab itu datanglah terusan ayat:

فَقالَ الْمَلَأُ الَّذينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ ما هذا إِلاَّ بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُريدُ أَنْ يَتَفَضَّلَ عَلَيْكُمْ وَ لَوْ شاءَ اللهُ لَأَنْزَلَ مَلائِكَةً ما سَمِعْنا بِهذا في‏ آبائِنَا الْأَوَّلينَ َ
"Maka berkatalah satu golongan yang kafir dari kaumnya: Orang ini hanyalah manusia serupa kamu juga, yang ingin hendak melebihkan dirinya di atas kamu. Kalau betul-betul Allah yang menghendaki, tentu malaikatlah yang diturunkanNya. Tidaklah pemah kita mendengar ucapan-ucapan semacam ini sejak nenek-moyang kita yang dahulu." (ayat 24).

Coba perhatikan ayat ini: Mereka tidak membicarakan isi seruan. Mereka tidak mengaji apa yang diserukan oleh Nabi Nuh, kebenaran atau kesalahan­nya. Yang mereka kaji hanyalah bahwa seorang yang bernama Nuh hendak melebihi mereka, hendak mengatasi mereka, "hendak mencari nama". Padahal mereka adalah orang-orang bangsawan, kedudukan yang menentukan di dalam negeri. Sekarang datang saja seorang yang belum mempunyai "sejarah", membawa-bawa pula soal Ketuhanan .

Bukanlah isi seruannya yang salah, tetapi orang yang membawa seruan, itulah yang kurang pantas. Kalau benar seruan ini memang atas kehendak Allah, alangkah baik clan tepatnya kalau yang diutus itu Malaikat clan langit, supaya kami bisa segan dan hormat ke­padanya. Adapun kalau utusan itu masih manusia juga, walaupun dari mana datangnya, tidak seorang juga yang dapat kami segani, sebab kedudukan (posisi) mereka dalam masyarakat tidak ada yang melebihi kami.

Dan lagi sejak nenek-moyang kami dulu-dulu, belum ada orang yang berani membuka-buka soal yang seperti ini. Ini adalah satu kelancangan. Siapakah orangnya Nuh itu, yang begitu berani melintasi orang tua-tua dan orang-orang yang berke­dudukan tinggi di kalangan masyarakat?

إِنْ هُوَ إِلاَّ رَجُلٌ بِهِ جِنَّةٌ فَتَرَبَّصُوا بِهِ حَتَّى حينٍ
"Dia itu, tidak lain hanyalah seorang yang ditimpa gila. Maka tunggulah hingga datang waktunya." (ayat 25)

Begitulah mereka menilai Nabi Nuh. Dia membawa suara baru, kata mereka yang begitu besar dan pongah, dan tidak diukurnya terlebih dahulu dengan dirinya sendiri. Tidak ada yang berani mengeluarkan kata-kata begini, kalau orang tahu akan dirinya. Orang yang tidak tahu dirilah yang bermulut lancang. Dan kelancangan adalah alamat gila. Lebih baik kita tunggu per­kembangan selanjutnya.

Ayat ini memberi kita pelajaran yang mendalam tentang dasar-dasar ilmu masyarakat. Suatu masyarakat yang telah membeku dengan susunannya yang lama dan bobrok akan dipertahankan dengan keras Dan benci menerima perubahan. Seorang yang belum dikenal, jika tampil ke muka membawa idea atau cita-cita yang baru, senantiasa akan mendapat tolakan keras. Oleh karena golongan yang lama tidak mempunyai cukup bahan fikiran untuk bertahan pada yang lama itu, kerapkali bukanlah kebenaran soal yang dibawa yang mereka tinjau. Bahkan mereka takut menghadapi kenyataan itu. Mereka akan mencari alat lain buat menentangnya, walaupun jelas bahwa pertahanan yang mereka cari itu sangat goyang.

Maka seketika Nabi Nub membuka cita Kebenaran yang dapat dipertanc, gungjawabkan itu, yang terlebih dahulu yang mereka perkatakan ialah "Siapa benarkah peribadi yang bernama Nuh?" "Siapa orang tuanya, dari suku mana dia? Bagaimana posisinya, berapa banyak hartanya? Kayakah dia? Sarjanakah dia? Ahli neragakah dia? Atau hanya seorang gila? Bukankah "gila" hendak mengubah susunan masyarakat yang telah teratur?"

Maka kalau Nabi itu bukan Nabi yang benar, kalau Rasul bukan Rasul sejati, akan terhentilah dia di tengah jalan, karena tantangan yang mengenai peribad[ itu. Memang suatu perjuangan pahit, kalau kita mengemukakan Kebenaran dan Keadilan, lalu ditanyakan orang berapa balok emas yang engkau simpan. Atau laksana zaman sekarang, disebut kebenaran, lalu ditanyai orang apakah merek mobil kita, atau apakah kita tinggal di rumah bertingkat atau hanya di gubuk.

Melihat dan mengalami sambutan yang begitu pahit, sedang Nabi Nuh yakin benar bahwa dia adalah Utusan Allah, mengadulah beliau pada Tuhan yang mengutusnya.

قالَ رَبِّ انْصُرْني‏ بِما كَذَّبُونِ
"Berkata dia: "Tuhan,tolong kiranya akan daku, karena mereka telah mendustakan daku. " (ayat 26).

Dia sendiri sebagai manusia, tidaklah mempunyai daya apa-apa. Dia pun insaf betapa besar yang dihadapinya. Kekuatannya sebagai manusia tidaklah ada. Dia tidak mempunyai daya sendiri. Tunjukkanlah kepadanya kelanjutan langkah yang harus ditempuh. Kalau petunjuk itu datang, sebagai seorang Utusan Ilahi, sebagai seorang yang beriman, sekali-kali dia tidak akan meng­elak. Ketentuan Tuhan pun datanglah.


01   02   03    04    05   06   07   08   09  10   11  12  13  14  15   16  17  18  19  20  21

back to mainpage    >>>>