Make your own free website on Tripod.com
 
                                                                 Tafsir Suroh  AI-Mu'minun Ayat 57-61
 
                                                                   بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

(57) إِنَّ الَّذينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ َ

 Sesungguhnya orang yang hati­nya selalu bimbang karena takut­nya kepada Tuhan.


(58) وَ الَّذينَ هُمْ بِآياتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ َ

Dan orang-orang yang percaya kepada ayat-ayat Tuhan.


(59) ﴿ وَ الَّذينَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لا يُشْرِكُونَ َ

Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Tuhan de­ngan yang lain.


(60) وَ الَّذينَ يُؤْتُونَ ما آتَوْا وَ قُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلى‏ رَبِّهِمْ راجِعُونَ َ

Dan orang-orang yang menger­jakan apa yang mereka kerjakan, sedang hati mereka takut, karena mereka akan pulang kembali kepada Tuhan.


(61) أُولئِكَ يُسارِعُونَ فِي الْخَيْراتِ وَ هُمْ لَها سابِقُونَ َ

Orang-orang seperti itulah yang cepat segera mengerjakan ke­baikan. Dan untuk itulah mereka berlomba-lomba.


Hati Sanubarinya Seorang Mu'min

Dengan lima ayat yang tersebut ini Tuhan memperlihatkan betapa rasa hati sanubarinya seorang Mu'min, untuk kita sendiri merenung, sudahkah kita mempunyai hati demikian itu, untuk ukuran atau thermometer iman kita.

Pertama, hati seorang yang beriman selalu bimbang atau rusuh, sudahkah sempuma dia mengerjakan apa yang diperintah Tuhan. Sebabnya dia bimbang itu, diterangkan pula pada ayat berikutnya (58), ialah karena dia telah mulai percaya kepada segala ayat dan tanda kebesaran Tuhan yang telah diterangkan oleh Utusan Tuhan. Dia bimbang adakah semua perintah llahi itu sudah di­turutinya dan larangannya sudah dihentikannya.

Di dalam dunia ini kekayaan bendalah yang dibanggakan oleh manusia. Tetapi apabila seorang makhluk telah sampai ajalnya harta benda dunia itu tidak berguna lagi. Yang berguna ialah hati yang tutus ikhlas, yang suci bersih daripada pengaruh syirik (memper­sekutukan Tuhan). Sebagaimana tersebut dalam ayat 59 berikutnya.

Tuhan bersabda:
"Sesungguhnya Allah tidaklah dapat mengampuni jika Dia dipersekutukan dengan yang lain. Adapun dosa-dosa yang lain dapatlah diampuniNya bagi siapa yang dikehendakiNya."

Syirik atau mempersekutukan Tuhan dengan yang lain itu adalah penyakit hati yang sangat halus, clan bila dibiarkan, dia akan bertambah melebar dan merusak, sehingga merusak-binasakan seluruh hati dan menghancurkan segala iman, sehingga akhir kelaknya nama Allah hanya tinggal menjadi permainan mulut, padahal telah hilang dari hati.

Nabi Muhammad s.a.w. pun pemah bersabda, bahwasanya seorang pencuri tidaklah akan sampai mencuri kecuali dia belum rnusyrik terlebih dahulu. Dan seorang yang berzina, tidaklah dia akan berzina kalau dia belum musyrik terlebih dahulu. Suruhan Tuhan tidaklah akan ditinggalkan, kalau hati belum musyrik.

Larangan Tuhan tidaklah akan dikerjakan, kalau hati belum musyrik. Sebab itu tepatlah sabda Nabi yang tersebut di atas tadi, selama Tauhid masih bertakhta dalam hati, tidaklah seorang Mu'min akan mengerjakan dosa, ter utama dosa besar, terutama yang disengaja. Benarlah sabda Nabi s.a.w. itu bahwasanya orang berzina tidaklah akan berzina dan pencuri tidaklah akan mencuri sebelum mereka musyrik terlebih dahulu.

Itulah yang menyebabkan hati Mu'min selalu bimbang, bukan bimbang dalam keraguan, melainkan bimbang kalau-kalau amal yang dikerjakannya belum juga ikhlas kepada Tuhan, sebelum bersih dari segala pengaruh yang lain.

Lantaran itu sebagaimana tersebut dalam ayat 60, apa jua pun pekerjaan baik yang mereka kerjakan dan memang seorang Mu'min itu pekerjaannya hanya yang baik belaka, dikerjakannya dengan hati-hati, tidak dengan se­rampangan, asal jadi saja. Sebab mereka akan kembali kepada Tuhan dan akan mempertanggungjawabkan amalan itu di hadapanNya.

Niscaya akan timbullah pertanyaan dalam hati saudara, apakah dengan demikian tidak menggambarkan bahwa jiwa Mu'min sebagai yang digambar­kan itu adalah jiwa yang penuh ragu menghadapi hidup? Apakah itu tidak menunjukkan jiwa yang penakut?

Tidak! Bahkan di sinilah segi kekuatannya. Oleh karena dia merasa tempat bertanggungjawabnya kepada Tuhan, dia bekerja dengan lebih hati-hati. Oleh sebab dia ingat bahwa sehabis hidup yang sekarang ini ada lagi tempat ber tanggungjawab yang sebenarnya, yaitu Tuhan, tidaklah dia dipengaruhi oleh sayang dan bencinya manusia. Adapun pertanyaan, apakah itu tidak me­nunjukkan besarnya rasa takut? Niscaya pertanyaan ini akan ditukasi pula oleh pertanyaan: Dapatkah menghilangkan rasa takut dari jiwanya? Bukankah "takut" itu satu bahan dari naluri (instink). Rasa takut tidaklah dapat dihilangkan, tetapi haruslah disalurkan.

Saya pernah bertanya kepada guru saya dan ayah saya Syaikh Abdulkarim Amrullah: "Apakah ayah tidak merasa takut akan dipotong leher oleh Jepang, ketika ayah tidak mau "kerei"? (ruku` menghadap ke istana Kaisar Jepang di Tokyo).
Beliau menjawab: "Dipotong leher tidaklah ayah takut, adapun yang ayah takuti ialah keadaan sesudah leher dipotong!"
Artinya keadaan sesudah mati.

Lantaran perasaan demikian, kehidupan Mu'min ialah kehidupan yang panjang, bukan memikirkan yang di dunia ini saja tetapi ada lagi hidup sesudah itu. Di sini menanam, di sana menuai. Di sini beramal di sana menerima balasan. Bukan sebaliknya: di sini hendak menuai, padahal tidak pernah menanam. Di sini hendak menerima balasan, tetapi tidak mau beramal. Sebab itu ditegaskan pada ayat berikutnya (61) oleh karena didorong oleh rasa takut kepada Tuhan, rasa Tauhid yang bersih, rasa bimbang kalau-kalau amal tidak diterima Tuhan, kalau pekerjaan tidak timbul daripada hati yang suci bersih, tulus dan ikhlas, mereka senantiasa memperbaiki amalnya yang belum baik, menambah yang masih kurang, menyempumakan lagi mana yang dirasanya belum sempuma.

Oleh sebab itu bimbangnya bukanlah melemahkan semangatnya, melainkan menimbulkan kecepatan, kesegaran berbuat baik. Mereka bersegera dan bertindak cepat, gesit dan aktif. Mengapa ? Sebab di dalam hatinya terasa takut, kalau tiba maut ketika amalan sedang kosong, Malaikat Izrail datang memanggil padahal tangan tengah menganggur, se­hingga bekal yang akan dibawa ke hadapan Tuhan tidak ada, atau kalaupun ada, hanya sedikit, tidak seimbang dengan kelalaian hidup.
Untuk beramal yang demikian orang yang beriman berlomba, dahulu­mendahului. Bukan karena niat meninggalkan kawan, melainkan karena niat hendak menghadap wajah Tuhan, mengharapkan ridha dan kasihNya.

 وَ في‏ ذٰلِكَ فَلْيَتَنافَسِ الْمُتَنافِسُونَ
"Dan untuk itu, marilah berlomba setiap yang ingin berlomba...." (al-Muthaffifin: 26)


01   02   03    04    05   06   07   08   09  10   11  12  13  14  15   16  17  18  19  20  21

BACK MAIN PAGE  .>>>>