Make your own free website on Tripod.com
                                                       
                    Tafsir Suroh Al - Mu'minun ayat 90 - 92
 
                                                                           

                                                         


(90) بَلْ أَتَيْناهُمْ بِالْحَقِّ وَ إِنَّهُمْ لَكاذِبُونَ َ

Bahkan telah Kami datangkan kepada mereka itu kebenaran, cuma mereka jugalah sesung­guhnya yang berdusta.


(91) مَا اتَّخَذَ اللهُ مِنْ وَلَدٍ وَما كانَ مَعَهُ مِنْ إِلٰهٍ إِذاً لَذَهَبَ كُلُّ إِلٰهٍ بِما خَلَقَ وَ لَعَلا بَعْضُهُمْ عَلى‏ بَعْضٍ سُبْحانَ اللهِ عَمَّا يَصِفُونَ َ

Sekali-kali Allah tidak rnem­punyai anak, dan sekali-kali tidak ada Tuhan yang lain beserta Dia. Kalau demikian, niscaya tiap-tiap tuhan mem­bawa apa yang dijadikannya masing-masing, dan niscaya se­bagian dari tuhan-tuhan itu mengalahkan tuhan yang se­bagian lagi. Maha Suci Allah dari yang mereka sifatkan itu.


(92) عالِمِ الْغَيْبِ وَ الشَّهادَةِ فَتَعالى‏ عَمَّا يُشْرِكُونَ َ

Dialah yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata; Maha Luhur Dia daripada yang mereka sekutukan itu.


                                   Dusta

Apakah arti berdusta di sini? Berdusta ialah bersitegang urat leher juga , padahal telah bertemu dengan kebenaran. Laksana seorang pesakitan yang dihadapkan ke muka hakim, sudah cukup alasan clan lengkap barang bukti bahwa memanglah dia pencuri atau pembunuh, padahal dia masih ingkar juga akan kesalahannya, maka patutlah dia dihukum lebih berat daripada jika dia mengaku terus-terang. Sebab itu suatu keingkaran atas kebenaran, yang oleh hati sanubari diakui kebenarannya, namun Dia masih juga diingkari, adalah dusta yang paling hebat clan itulah dia yang dinamai KAFIR.

Dan "dialog" yang dipaparkan dalam ayat-ayat yang terdahulu ini banyak­lah kesan yang dapat kita ambil.
Pertama sekali kedatangan Agama Islam adalah membangkitkan tenaga akal clan fikiran yang terpendam dalam din manusia, demikian juga tenaga perasaan halusnya. Hati sanubari yang suci murni, yang belum dipengaruhi oleh hawanafsu dan angkara murka bukanlah mengingkari Tuhan malahan mengakui adanya Tuhan. Tetapi pengakuan tentang adanya Tuhan saja, belumlah cukup kalau Tuhan itu tidak didekati dengan ingot (tazakkarun) dan dengan takwa (tattaqun). Barulah ada artinya akidah (kepercayaan) kalau sudah diikuti oleh ibadah (pengabdian).
Kalau hati sanubari mengakui Tuhan ADA. Tuhan Yang Maha Kuasa, Tuhan Yang Maha Mengatur, padahal din sendiri tidak dilatih menyesuaikan pengakuan dengan perbuatan, samalah artinya dengan bohong dan tidak juga­lah terlepas daripada kekafiran.

Daripada membaca dan merenungi ayat-ayat ini dan ayat-ayat yang lain pun, dapatlah kita fahami bahwasanya Agama Islam adalah agama yang meng­hargai akal. Menurut Hadis:

       

"Agama ialah akal. Tidak ada agama bagi orang yang tidak ada akalnya." (Hadis).

Menurut ilmu Ushul-Fiqh menjadi.syarat mutlak bagi orang-orang yang akan dipikulkan kewajiban-kewajiban clan tugas agama (mukallaf) bahwa terlebih dahulu hendaklah dia aqil (berakal) dan baligh (dewasa). Dan di dalam Ilmu Kalam, sebelum membicarakan sifat-sifat Tuhan, atau tentang ada atau tidak adanya Tuhan, hendaklah terlebih dahulu diakui adanya akal dan dikaji hukum akal yang tiga perkara, yaitu wajib, mustahil dan jaiz ataupun mungkin.

Memang ada perkara-perkara yang tidak dapat dijangkau oleh kekuatan akal, misalnya perkara-perkara yang ghaib. Tetapi haruslah diingat, bahwasanya sesudah mempergunakan akal, barulah kita sampai dengan yakin kepada suatu titik perhentian yang ditentukan oleh akal sendiri, bahwa dia tidak dapat dijangkau olehnya.

Sehingga dapatlah disimpulkan bahwasanya apabila seseorang sudah banyak sekali mengetahui, perkara-perkara yang nyata (syahadah), pastilah dia akan lebih banyak mengetahui clan yakin bahwa lebih banyak rupanya yang tidak dapat diketahui. Baik yang ghaib karena belum dapat dijangkau oleh akalnya, atau ghaib karena tidak dapat dijangkau oleh umurnya.
Maka sampai-sampai yang tak tercapai oleh akal, sehingga perbendaha­raan batin masih kosong, menjadi penuhlah dia kembali karena diisi dengan iman.

Inilah perbedaan Agama Islam dengan beberapa agama yang lain. Karena ada agama yang disuruh hentikan terlebih dahulu perjalanan akal barulah orang disuruh percaya.


(91) مَا اتَّخَذَ اللهُ مِنْ وَلَدٍ وَما كانَ مَعَهُ مِنْ إِلٰهٍ إِذاً لَذَهَبَ كُلُّ إِلٰهٍ بِما خَلَقَ وَ لَعَلا بَعْضُهُمْ عَلى‏ بَعْضٍ سُبْحانَ اللهِ عَمَّا يَصِفُونَ َ

Sekali-kali Allah tidak rnem­punyai anak, dan sekali-kali tidak ada Tuhan yang lain beserta Dia. Kalau demikian, niscaya tiap-tiap tuhan mem­bawa apa yang dijadikannya masing-masing, dan niscaya se­bagian dari tuhan-tuhan itu mengalahkan tuhan yang se­bagian lagi. Maha Suci Allah dari yang mereka sifatkan itu.


(92) عالِمِ الْغَيْبِ وَ الشَّهادَةِ فَتَعالى‏ عَمَّا يُشْرِكُونَ َ

Dialah yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata; Maha Luhur Dia daripada yang mereka sekutukan itu.


                Maha Suci Tuhan Allah

Sebagian orang Quraisy itu mempunyai pula kepercayaan bahwa Tuhan Allah beranak. Anak Tuhan Allah itu ialah malaikat-malaikat, dan jenisnya ialah perempuan.

Kepercayaan terhadap banyak Tuhan (Polytheisme), adalah pusaka turun­temurun yang diterima dari bangsa Yunani dan bangsa Hindustan. Pengaruh kepercayaan bertuhan ini pun masuk pula ke Tanah Arab. Ka'bah yang didiri kan oleh Nabi Ibrahim clan puteranya Ismail, adalah perlambang dari kesatuan ummat. Yaitu ummat Tauhid yang hanya menyembah SATU Tuhan. Itulah yang bernama Agama Hanif Nabi Ibrahim.

Tetapi lama kelamaan setelah wafat Nabi Ibrahim, Ka'bah itu telah menjadi tempat buat menyandarkan berhala­berhala. Baik berhala pusaka kepercayaan orang Arab sendiri, ataupun karena perhubungan orang Arab Quraisy itu dengan bangsa-bangsa yang lain di dalam hubungan perjalanannya berniaga ke Utara dan ke Selatan.
Maka timbullah kepercayaan bahwa Tuhan Allah beranak. Anak itu malaikat dan malaikat itu perempuan.

Orang Yunani mempercayai bahwa bintang-bintang terperrting di langit itu adalah tuhan, disebut juga Dewa. Ada tuhan dari kecantikan (Venus). Ada tuhan clan peperangan (March). Tuhan dari kegembiraan clan khamar (Bachus). Tuhan dari kekayaan (Minerva) clan lain-lain tuhan lagi. Tetapi tuhan tertinggi bernama Apollo (sebagai lambang-lambang clan matahari). Dalam kepercaya­an ini segala dewa atau tuhan itu memang ada juga pusatnya, atau Tuhan Tertinggi, Dewa Teragung.* Maka adalah desa itu yang disebut laki-laki atau perempuan. Homerus penyair kuno pujaan bangsa Yunani itu mengarang syair (epos) Ulysses clan Odyssee tentang kehidupan dewa-dewa dan tuhan-tuhan itu. Mereka berperang, mereka berkasih-kasihan, berebut kecintaan, cemburu­mencemburui, bunuh-membunuh, inilah yang dinamai Mythologi.

Orang Hindu pun mempunyai mythologi yang kemudian telah terjelma menjadi hikayat Mahabharata clan Ramayana. Orang Mesir pun mempunyai mythologi tentang dewa dan dewi Iziz, Oziris clan tuhan tertinggi yang bernama Ra.
Kemudian itu masuk pula pengaruh ajaran Agama Kristen yang mem­punyai kepercayaan bahwasanya Nabi Isa Almasih itu adalah Putera Tunggal Tuhan. Masyarakat Kristen ada di Nadiran (Arabia Selatan) clan di Syam (Arabia Utara) dan orang Quraisy pun masuk berniaga ke negeri itu.

Sebelum Nabi Muhammad s.a.w. dilahirkan, Arabia Selatan pernah ditaklukkan oleh Abesinia (Habsyi) yang beragama Nasrani. Abrahah sebagai wakil negeri Ethiopia pernah mendirikan gereja besar di Shan'aa dan memaksa orang-orang Arab berkiblat ke sana dan meninggalkan Ka'bah, dan pernah pula mereka-mereka mencoba hendak menyerang negeri Makkah dan hendak meruntuhkan Ka'bah. Tetapi maksud itu tidak berjaya. Maka oleh karena hubungan dengan orang Kristen itu telah menyusup pula kepercayaan bahwa Tuhan Allah beranak laki-laki.

Di zaman purbakala bangsa kita (Melayu) masih memakai arti yang sama terhadap Dewa dan Tuhan. Seorang orang besar Kerajaan Darmashraya di Jambi (cabang dari Kerajaan Sriwijaya) bernama "Dewa Tuhan". Dalam batu bersurat Trengganu, batu bersurat yang tertua menuliskan peraturan-peraturan Agama Islam yang mulai tersiar di Indonesia dan Melayu (1303) "Allah Subhanahu wa Ta'ala" masih ditulis dengan "Dewata Mulia Raya".

Lama-kelamaan pemakaian bahasa menjadi ber­kembang, sehingga untuk Allah kita memakai kata "Tuhan" dan "Dewa" kita pakailah sebagai lanjutan arti yang lama. Dewa-dewa itu bertempat di langit, dan langit di­sebut Kayangan, sebagai "perkawinan" kepercayaan asli dengan kepercayaan Hindu. Sebab Hyang artinya ialah nenek. Dan di bumi ini ada juga tempat ber­kumpulnya Hyang-hyang itu, disebut Parahyangan.

Penyusunan bahasa kita itu adalah sebagai penyaluran daripada akidah yang pokok yang telah kita anut setelah kita memeluk Agama Islam. Akidah kita ialah "La Ilaha Illallah", Tiada Tuhan Melainkan Allah. Dalam bahasa Arab kata "ilah" itu bisa juga diartikan Dewa dan bisa juga diartikan Tuhan. Lantaran itu boleh juga di­artikan Tiada Dewa melainkan Allah. Akidah kita yang teguh menyebabkan bahwa kata "Tuhan" tidak kita pakai lagi untuk yang lain, hanya semata-mata untuk "Allah Yang Maha Esa". Dan kata Dewa tinggallah menjadi dongeng-dongeng kemusyrikan yang tidak masuk dalam hati.

Dengan ayat ini Nabi Muhammad s.a.w. telah disuruh Tuhan Allah mem­beri kesadaran kepada orang Quraisy, bahwa kepercayaan tentang Tuhan Allah beranak baik anak perempuan ataupun anak laki-laki, adalah kepercaya an yang kacau, tidak sesuai dengan ajaran ash Nabi lbrahim yang telah mereka terima turun-temurun, clan tidak sesuai dengan akal yang sihat.

Karena kalau Tuhan Allah beranak, akan samakah kedudukan si ayah dengan si anak? Dan mustahillah jika Tuhan berserikat dengan yang lain. Fikiran yang sihat hanya dapat menerima bahwa Tuhan Allah itu Maha Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada serikatnya dengan yang lain. Kalau dikatakan dia beranak, terpaksa fikiran sihat mengatakan bahwa derajat si ayah lebih tinggi daripada derajat si anak. Terpaksa fikiran sihat mengatakan bahwa si anak kemudian lahir dari si ayah. Niscaya tidak sama ke­kuasaan si anak dengan si ayah. Sebab anak datang kemudian.

Kalau si anak berkuasa, niscaya kekuasaan yang didapatnya itu pemberian clan ayahnya. Dan apabila sebagian kekuasaan telah diberikan ayah kepada anak, maka dalam hal yang diberikan kekuasaannya telah diserahkannya, dan
si anak lemah pula dalam kekuasaan yang belum diberikan oleh ayahnya. Dan kalau seluruh kekuasaan diberikan ayah kepada anak, sejak itu si ayah menjadi "Tuhan yang menganggur". Dan kalau keduanya sama berkuasa, fikiran sihat menentukan bahwa si ayah dan si anak sama-sama tidak berkuasa berdiri sendiri, berdua barulah kuat.

     وَما كانَ مَعَهُ مِنْ إِلٰهٍ
"Dan sekali-kali tidak ada Tuhan yang lain bersama Dia."

Tidak dapat pula diterima akal bahwa Tuhan itu berbilang. misalnya ada tuhan langit dan ada tuhan bumi , ada tuhan taut dan ada tuhan darat. Peraturan alam ini akan kacau-balau, karena akan terjadi pertumbuhan kekuasaan, setiap tuhan bertindak sendiri-sendiri dalam daerah kekuasaannya.

Pemegang kepercayaan Hindu yang mengatakan bahwa Tuhan itu bertiga, yaitu Brahmana yang mencipta, Wishnu yang memelihara dan Shiwa yang merusak. Akhirnya tidak juga dapat mempertahankan pendirian itu Mereka sampai juga kepada kesimpulan bahwa Yang Maha Kuasa hanya satu juga, yaitu Brahma.

Kepercayaan orang Iran (Persia) purbakala pun mengatakan bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa itu adalah dua. Pertama tuhan dari cahaya terang (Ahura, Mazda), kedua tuhan dari gelap-gulita (Ahriman). Kata filsafat bangsa Iran itu, kedua tuhan itu selalu berperang, tidak berkeputusan, selama masih berebut kuasa di antara slang dengan malam clan benar dengan salah, dan buruk dengan baik, clan indah dengan jelek. Tuhan dari kegelapan itu ialah iblis, dan tuhan sinar terang-benderang itu adalah Kekuasaan Yang Mutlak. [tulah ALLAH! Pada akhirnya Dia juga yang menang. Artinya meskipun jalan fikiran pada mulanya kepada dua, akhir jalan fikiran itu kepada Esa jua adanya, lain tidak.

Di dalam ayat 91 ini dibukakanlah fikiran manusia kepada jalan yang wajar. Tidak mungkin Tuhan Allah beranak dan tidak mungkin Tuhan itu ber­serikat dengan yang lain. Kalau Tuhan berbilang, dia akan berkelahi dan bertumbuk di antara kekuasaan yang banyak.

Fikiran yang demikian tidak boleh dibiarkan tergenang hingga itu saja. Fikiran yang sihat mesti sampai kepada TUHAN HANYA SATU, Maha Esa dia dalarn KetuhananNya, dalam Kekuasa­anNya, dalam Zat dan SifatNya.

Fikiran yang sihat clan wajar pasti sampai kepada Kesatuan Tuhan. Fikiran yang masih saja mengenang pada berserikatnya Tuhan, adalah belum wajar. Kecuali kalau tidak berfikir, atau berhenti berfikir.

           
"Amat Suci Allah daripada yang mereka sifatkan itu.

Kepada fikiran atau Plan fikiran yang sihat itulah kita menyerah clan kita merasa rela, tidak dengan paksaan. Oleh sebab itu maka akidah Tauhid (me­nyatukan, meng(?sakan) itu selalu sejalan dengan kalimat ISLAM (menyerah dengan rela hati clan perasaah puas).

Oleh sebab itu, menurut ajaran Islam, agar tercapai akidah yang sihat, hendaklah turuti akal yang sihat, akal yang mencapai dan menyampai kepada KESATUAN KEPERCAYAAN. Kalau tidak demikian maka agama yang dianut, akhir kelaknya menjadi anutan yang tidak pernah difikirkan, atau takut me­mikirkannya, sebagaimana kebanyakan sarjana-sarjana Eropa di zaman moden yang di dalam "hitungan" masih beragama Kristen. tetapi mereka merasa lebih bebas berilmu pengetahuan bukan karena dorongan agama, melainkan setelah memisahkan agama dengan ilmu pengetahuan.
Selanjutnya tibalah ayat 92.

عالِمِ الْغَيْبِ وَ الشَّهادَةِ فَتَعالى‏ عَمَّا يُشْرِكُونَ َ

"Yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata. Maka Maha Sucilah Dia dari yang mereka sekutukan itu. "

Mana yang nyata?

Di belakang setiap,yang nyata, pastilah ada yang ghaib. Seketika kita merenung alam di keliling kita, kita selalu dihadapkan dengan yang nyata dan yang ghaib. Di samping yang tersurat, kita melihat yang tersirat. Bahkan pada pohon rambutan yang tumbuh di hadapan rumah kita sendiri, "di belakang" pohon, daun, buah dan bunganya; di belakang pahit dan kelatnya di waktu masih muda dan manisnya setelah masak; di belakang bijinya yang "tidak ada apa-apa", padahal mengandung "apa-apa", kita selalu bertemu dengan yang ghaib di belakang yang nyata.

Kadang-kadang hat-hal yang ghaib terpaksa kita jadikan kenyataan, supaya kita mendapat kenyataan. Betapa banyaknya ilmu pengetahuan yang telah jadi kenyataan, barulah dia nyata setelah kita rumuskan atas yang ghaib. Misalnya kita berkata seketika mengaji Ilmu Alam bahwa haruslah kita percaya terlebih dahulu akan adanya ether memenuhi segala ruang, barulah kita me­yakinkan akan peraturan yang meliputi alam, dan hubungan di antara sebagian alam dengan bagian yang lain. Padahal apakah ether itu? Masih ghaib!

Di dalam menimbulkan kenyataan dalam garis-garis Ilmu Hayat, terlebih dahulu harus kita pastikan adanya tenaga, karena tidak ada tenaga tidaklah ada hidup. Tentang apakah hakikat tenaga (thaaqah, kracht), pun masih suatu yang ghaib.

Di dalam menyelami Ilmu Kimia, harus kita pastikan adanya atom. Tidak diaku; adanya atom, kimia tidak menjadi. Padahal kimia telah menjadi, sebab itu tambah pastilah adanya atom.

Ilmu telah menerima saja perkara-perkara yang tadinya tidak pasti itu (ghaib) untuk dianggap sebagai suatu kenyataan. Sebab sudah terang bahwa segala yang telah nyata itu, tetap kabur kalau pangkalnya yang kabur itu tidak dinyatakan terlebih dahulu. Ilmu pengetahuan tidaklah sekaligus menolak suatu teori sebelum datang teori lain mengatasinya atau yang lebih cepat dapat mencapai yang dimaksud mencari kenyataan (hakikat).

Adalah satu kenyataan (syahadah) bahwa manusia dengan kekuatannya yang amat terbatas, dan usianya yang amat singkat, ingin hendak menguasai segenap persoalan. Adalah amat ganjil bahwa setelah banyak barang yang tadi nya tidak diketahuinya, kemudian dia pun tahu, bertambah insaflah dia bahwa masih banyak yang ghaib baginya. Akhirnya bertambah banyak yang disaksi­kan dengan pancaindera, bertambah sampailah akal kepada kesimpulan: Memang amat banyaklah yang ghaib.

Sebab itu Tuhan pun bersabda:
"Maka amat luhurlah Allah dari yang mereka sifatkan itu." (ujung ayat 92).
Dengan demikian bu'.atlah segala kenyataan dan segala kegiatan kepada Tuhan Yang Esa.
Karena berbagai ragam sesuatu, hanya menunjukkan atas Yang Satu.


01   02   03   04   05   06   07   08   09  10   11  12  13  14  15   16  17  18  19  20  21

Back to main page  ......   >>>>>