Make your own free website on Tripod.com
                                                     TAFSIR AL-AZHAR SUROTUL FATIHAH
 
 
                                                                 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
"Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Maha Penyayang. " (ayat 1).

Artinya, aku mulailah pekerjaanku ini, menyiarkan wahyu Ilahi kepada insan , di atas nama Allah itu sendiri , yang telah memerintahkan daku menyampaikannya.

Inilah contoh teladan yang diberikan kepada kita, supaya memulai suatu pekerjaan penting dengan nama Alloh. Laksana yang teradat bagi suatu kerajaan bila menurunkan suatu perintah, menjadi kuatlah dia kalau dia disampaikan "di atas nama penguasa tertinggi ", raja atau kepala negara, sehingga jelaslah kekuatan kata-kata itu yang bukan atas kehendak yang menyampaikan saja, dan nampak pertanggunganjawab. Nabi Muhammad s.a.w disuruh menyampaikan wahyu itu di atas nama Allah. Dia, Rasul Allah itu, tidaklah lebih dari manusia biasa, tetapi ucapan yang keluar dari mulutnya bukanlah semena-mena atas kehendaknya sendiri, tetapi Allahlah yang memerintahkan. Dari yang empunya nama itu dia mengambil kekuatan.

ALLAH, adalah Zat Yang Maha Tinggi, Maha Mulia dan Maha Kuasa. Zat pencipta seluruh alam langit dan bumi, matahari dan bulan, dan seluruh yang ada. DIA adalah yang wajibul wujud yang sudah pasti ADA, yang mustahil tidak ada.

Menurut keterangan Raghib orang Isfahan, ahli bahasa yang terkenal itu nama yang diberikan untuk Zat Yang Maha Kuasa itu ialah ALLAH. Kalimat ini telah lama dipakai oleh bangsa Arab untuk yang Maha Esa itu. Kalimat ALLAH itu -- demikian kata Raghib -­adalah perkembangan dari kalimat Al-Ilah. Yang dalam bahasa melayu kuno dapat diartikan Dewa atau Tuhan. Segala sesuatu yang mereka anggap sakti dan mereka puja mereka sebutkan dia AL-ILAH. Dan kalau hendak menyebutkan banyak Tuhan, mereka pakai kata Jama' yaitu AL-ALIHAH.

Tetapi pikiran murni mereka telah sampai kepada kesimpulan bahwa dari tuhan-tuhan dan dewa-dewa yang mereka katakan banyak itu, hanya SATU jua yang Maha Kuasa, Maha Tinggi, Maha Mulia: Maka untuk mengungkapkan pikiran kepada Yang Maha Esa itu mereka pakailah kalimat ILAH itu, dan supaya lebih khusus kepada Yang Maha Esa itu mereka cantumkan dipangkalnya ALIF dan LAM pengenalan (Alif-Lam-Ta'rif), yaitu AL menjadi AL-ILAH. Lalu mereka buangkan huruf hamzah yang di tengah, AL-I-LAH menjadi ALLAH. Dengan menyebut nama Alah tidak ada lagi yang mereka maksud melainkan Zat Yang Maha Esa. Maha Tinggi, Yang Berdiri sendirinya itulah , dan tidak lagi mereka pakai untuk yang lain. Tidak ada satu berhalapun yang mereka namai ALLAH.

Dalam al-Qur'an banyak bertemu ayat-ayat yang menerangkan, jika Nabi Muhammad s.a.w bertanya kepada musyrikin penyembah berhala itu siapa yang menjadikan semuanya ini pasti mereka akan menjawab : "Allahlah yang menciptakan semuanya !"

وَ لَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّماواتِ وَ الْأَرْضَ وَ سَخَّرَ الشَّمْسَ وَ الْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ
"Padahal jika engkau tanyakan kepada mereka siapa yang menciptakan semua langit dan bumi, dan menyediakan matahari dan bulan, pastilah mereka akan menjawab : "Allah!"Maka bagaimanakah masih dipalingkan mereka. " (al-Ankabut: 61)

Dan banyak lagi Surat- surat lain mengandung ayat seperti ini. Setelah kita tinjau keterangan Raghib al-Isfahani dari segi pertumbuhan bahasa (filologi) tentang kalimat Allah itu, dapatlah kita mengerti bahwa sejak dahulu orang Arab itu di dalam hati sanubari mereka telah mengakui Tauhid Uluhiyah, sehingga mereka sekali- kali tidak memakai kalimat Allah untuk yang selain daripada Zat Yang Maha Esa, Yang Tunggal, yang berdiri sendiriNya itu. Dan tidak mau mereka menyebutkan Allah untuk beratus- ratus berhala yang mereka sembah. Tentang Uluhiyah, mereka telah bertauhid, cuma tentang Rububiyah yang mereka masih musyrik. Maka dibangkitkanlah kesadaran mereka oleh Rasul s.a.w supaya bertauhid yang penuh; mengakui hanya SATU Tuhan yang menciptakan alam dan Tuhan Yang Satu itu sajalah yang patut disembah, tidak yang lain.

Dalam bahasa Melayu kalimat yang seperti Rah itu ialah dewa dan tuhan. Pada batu bersurat Trengganu yang ditulis dengan huruf Arab, kira- kira tahun 1303 Masehi, kalimat Alloh Subhanahu Wa Ta'ala telah diartikan dengan Dewata Mulia Raya. (Batu bersurat itu sekarang disimpan di Museum Kuala Lumpur).

Lama-lama, karena perkembangan pemakaian bahasa Melayu dan bahasa Indonesia, maka bila disebut Tuhan oleh kaum Muslimin Indonesia dan Melayu, yang dimaksud ialah ALLOH dan dengan hurup Latin pangkalnya (hurup T) dibesarkan, dan kata- kata dewa tidak terpakai lagi untuk mengucapkan Tuhan Allah. Dalam perkembangan memakai bahasa ini, di dalam memakai kalimat TUHAN, haruslah diingat bahwasanya berbeda maksud pemakaian itu di antara orang Islam dengan orang Kristen.

Kita orang Islam jika menyebut Tuhan, yang kita maksud ialah ALLOH. Zat yang berdiri sendiriNya, kepadaNya memohonkan segala sesuatu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada yang menandingi Dia sesuatu juapun. Tetapi kalau orang Kristen menyebut Tuhan, yang mereka maksud adalah Yesus Kristus.

Kadang ­kadang bercampur baur ; sebab menurut ajaran yang mereka pegang, bahwa Tuhan itu adalah "Trinitas", atau "Tri-tunggal ", yang tiga tetapi satu, yang satu tetapi tiga. Dia yang tiga tetapi satu itu ialah Tuhan Bapa, Tuhan Putera (Isa Almasih) dan Rohul-Kudus. Dan selalu mereka mengatakan "Tuhan Yesus".
Sebab itu walaupun sama- sama memakai kata TUHAN, tidaklah sama arti dan pengertian yang dikandung.

Pemakaian kalimat Tuhan dalam kata sehari- hari akhirnya terpisah pula jadi dua ; Tuhan khusus untuk Allah dan tuan untuk menghormati sesama manusia. Untuk raja disebut Tuanku.

Yang terpenting terlebih dahulu ialah memupuk perhatian yang telah ada dalam dasar jiwa, bahwa Zat Yang Maha Kuasa itu mustahil berbilang. Adapun tentang pemakaian bahasa terhadapNya, dengan nama apa Dia mesti disebut, terserahlah kepada perkembangan bahasa itu sendiri.
Selain dari pemakaian bahasa Melayu tentang Tuhan itu, sebagian bangsa kitapun memakai juga kalimat lain untuk Allah itu. Dalam bahasa Jawa terhadap Allah disebut Gusti Allah, padahal dalam bahasa Melayu Banjar, Gusti adalah gelar orang bangsawan.

Demikian juga kalimat Pangeran untuk Allah dalam bahasa Sunda, padahal di daerah lain Pangeran adalah gelar bangsawan atau anak raja. Dalam bahasa Bugis dan Makassar disebut Poang Allah Ta'ala. Padahal kepada raja atau orang tua yang dihormati mereka pengucapkan Poang juga. Orang Hindu Bali, meskipun mereka menyembah berbagai berhala, namun mereka tetap percaya kepada Sang Hyang Widhi, artinya Yang Maha Esa.

 Kepercayaan agama Hindupun sampai kepada puncak tertinggi sekali, yaitu kepada Sang Hyang Tunggal. Lantaran itu dapatlah dipahami keterangan Raghib al-Isfahani yang menyatakan bahwa ALLAH itu berasal dari kalimat AL-ILAH yang berarti Tuhan itu.

Adanya kalimat AI-Rah membuktikan bahwa kepercayaan-kepercayaan tentang adanya Tuhan telah tumbuh sejak manusia berakal, dan timbulnya kalimat ALLAH membuktikan bahwa pikiran manusiapun akhirnya sampai kepada, bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa itu hanya SATU.

Maka kedatangan agama Islam ialah menuntut dan menjelaskan bahwa DIA memang SATU adanya.
Setelah itu diiringkanlah menyebut nama ALLAH itu dengan menyebut sifatnya, yaitu AR-ROHMAN dan AR-ROHIM. Yang kedua nama sifat itu adalah dari satu rumpun, yaitu ROHMAT, yang berarti murah, kasih sayang, cinta, santun, perlindungan dan sebagainya. Apa sebab maka kedua sifat itu yang terlebih dahulu dijelaskan sebelum menyebut sifat-sifatNya yang lain ?.

Hal ini dapatlah dipahami jika kita kaji penghayalan orang yang masih sederhana peradabannya (primitif) tentang Tuhan. Sebagai kita katakan tadi, kepercayaan akan adanya. Zat Yang Maha Kuasa, adalah sama tumbuh dengan akal manusia. Tetapi sebagian besar mereka menggambarkan 'Tuhan itu sebagai sesuatu yang amat ditakuti atau menakutkan, scram dan kejam yang orang terpaksa memujanya oleh karena akan murkanya. Lalu diadakan kurban-kurban sembelihan, sebab Tuhan itu haus darah, lalu didirikan orang berhala yang bentuknya sangat scram, matanya mendelik, saingnya terulur keluar, yang tidak reda murkanya kalau tidak diberi kurban.

Maka seketika bacaan dimulai dengan menyebut nama Allah, dengan kedua sifatNya yang Rahman dan Rahim, mulailah Nabi Muhammad menentukan rumusan baru dan yang benar tentang Tuhan. Sifat utama yang terlebih diketahui dan dirasakan oleh manusia ialah bahwa DIA Rohman dan Rohim.
Dengan nama Allah, Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Sayang kepada hambaNya maka utusanNya , Muhammad s.a.w telah menyampaikan seruan ini kepada manusia.

Yang lebih dahulu mempengaruhi jiwa ialah bahwa Allah itu Pemurah dan Penyayang, bukan Pembenci dan Pendendam, bukan haus kepada darah pengurbanan. Dan contoh yang diberikan Nabi itu pulalah yang kita ikuti, yaitu memulai segala pekerjaan dengan nama Allah, yang empunya beberapa sifat Yang Mulia, di antaranya ialah Rohman dan Rohim. Maka didalam bacaan itu tersimpullah suatu Pengharapan atau doa moga-moga apa saja yang kita kerjakan mendapat karunia Rohman dan Rohim dari Tuhan. DimudahkanNya kepada yang baik, dijauhkan kiranya dari yang buruk. Maka tersebutlah di dalam sebuat hadits Nabi s.a.w yang dirawikan oleh Abu Daud dari Abu Hurairah yang berbunyi :

"Tiap-tiap pekerjaan yang penting, kalau tidak dimulai dengan Bismillah, dengan nama Allah, maka pekerjaan itu akan percuma jadinya'.

Berbagai-bagai sebutan hadits tentang ini; ada yang mengatakan bahwa pekerjaan itu akan ajdzam, artinya akan ditimpa sakit kusta atau lepra. Ada juga hadits mengatakan aQtho, artinya akan terputus, patah di tengah, atau gagal. Dan ada juga menyebut abtar, artinya mandul, tidak membawa hasil yang diharapkan. Semuanya itu dapat disimpulkan jadi percuma, sebab tidak diberi berkat oleh Allah.
Maka marilah kita teladan contoh Allah, bahwa Surat-suratNya atau ayat-ayat yang diturunkanNya kepada kita, dimulainya dengan menyebut namaNya dan menonjolkan sifatNya, yaitu Rohman dan Rohim.

الحمد لله
"Segala puji pujian untukAllah."(pangkal ayat 2)

Hamdan, artinya pujian, sanjungan. Di pangkalnya sekarang diletakkan Al atau Alif-lam, sehingga menjadilah bacaannya Al-hamdu. Al mencakup segala jenis. Dengan sebutan Alhamdu, beratilah bahwa segala macam pujian, sekalian apa juapun macam pujian, baik puji besar ataupun puji kecil, atau ucapan terimakasih karena jasa seseorang, kepada siapapun kita memberikan puji, namun pada hakikatnya, tidaklah seorang juga yang berhak menerima pujian itu, melainkan Allah: LILLAFII, hanya semata-mata untuk Alloh.

Jadi dapatlah dilebih-tegaskan lagi ALHAMDULILLAHI, segala puji-pujian hanya untuk Alloh. Tidak ada yang lain yang berhak mendapat pujian itu. Meskipun misalnya ada seseorang berjasa baik kepada kita, meskipun kita memujinya, namun hakikat puji hanya kepada Allah. Sebab orang itu tidak akan dapat berbuat apa-apa kalau tidak karena Tuhan Yang Maha Pemurah dan Penyayang tadi. Kita puji seorang insinyur atau arsitek karena dia mendapat ilham mendirikan sebuah bangunan yang besar dan indah. Tetapi kalau kita pikirkan lebih mendalam, dari mana dia mendapat ilham perencanaan itu kalau bukan dari'I"uhan. Oleh sebab itu kalau kita sendiri dipuji­puji orang, janganlah lupa bahwa yang empunya puji itu ialah Allah, bukan kita.

Nabi kita Muhammad s.a.w ketika dengan sangat jayanya telah dapat menaluklukkan negeri Mekkah, beliau masuk ke dalam kota itu dengan menunggang untanya yang terkenal, al-Qashwa'. Sahabat sahabat beliau gembira dan bersyukur karena apa yang dicita-citakan selama ini telah berhasil. Namun beliau tidaklah mengangkat muka dengan pongah karena kemenangan itu, melainkan dirundukkannya wajahnya ke bawah, lekat kepada leher unta kesayangannya itu, mensyukuri nikmat Allah dan mengucapkan puji-pujian.

رب العالمين
"Pemelihara semesta alam. " (ujung ayat 2)

Atau Tuhan dari sekalian makhluk , atau Tuhan seru sekalian alam. Pada umumnya arti alam ialah seluruh yang ada ini , selain dari Allah. Setelah dia menjadi jama' ini, yaitu menjadi kalimat `alamin , berbagailah dia ditafsirkan orang. Setengah panafsiran mengatakan bahwa yang dimaksud dengan alamin ialah makhluk insani, ditambah dengan malaikat, jin dan syaitan. Tetapi di dalam al-Qur'an sendiri pernah bertemu kata `alamin itu hanya dikhususkan maksudnya untuk manusia saja (lihat Surat al-Hijr, ayat 70).Yaitu ketika kaum Nabi Luth menyatakan kepada Luth, mengapa dia rnenerima tetamu dengan tidak setahu mereka, padahal dia telah dilarang menerima kedatangan or­ang-orang.

Setelah terlebih dahulu kita dikenalkan kepada Alloh sebagai Al­loh yang Tunggal , sekarang kita dikenalkan lagi kepada Alloh sebagai Robbun. Kata Robbun ini rneliputi segala macam pemeliharaan, penjagaan dan juga pendidikan dan pengasuhan. Maka kalau di dalam ayat yang lain kita bertemu bahwa Alloh itu kholaqo, artinya menjadikan dan menciptakan, maka di sini dengan menyebut Alloh sebagai Robbun, kita dapat mengerti bahwa Alloh itu bukan semata­ mata pencipta, tetapi juga pemelihara.

Bukan saja menjadikan, bahkan juga mengatur. Seumpama matahari, bulan, bintang-bintang dan bumi ini ; sesudah semuanya dijadikan, tidaklah dibiarkan sehingga begitu saja, melainkan dipelihara dan dikuasai terus menerus. Betapalah matahari, bulan dan bintang-bintang itu akan beredar demikian teraturnya, dari tahun ke tahun, bulan ke bulan, hari ke hari , jam kejam , menit ke menit dan detik ke detik , berjalan teratur telah berjuta­juta tahun, kalau bukan pemeliharaan dari Allah sebagai Robbun ? Manusiapun begitu. Dia bukan semata-mata dijadikan bahkan sejak masih dalam keadaan nuthfah (air setitik kecil), sampai menjadi alaqoh dan mudhqhoh, sampai muncul ke dunia, sampai menjadi makhluk yang berakal dan sampai juga meninggal kelak , tidaklah lepas dari tilikan Alloh sebagai Pencipta dan sebagai Pemelihara.

Untuk semua pemeliharaan, penjagaan, pendidikan dan perlindungan itulah kita diajar mengucapkan puji kepadaNya : "Robbul `Alamin", Tuhan seru sekalian alam. Kalau kita pertalikan lagi dengan beberapa penafsiran tentang `alamin tadi, bahwa yang dimaksud ialah makhluk manusia, dapatlah kita pahamkan betapa tingginya kedudukan insan, sebagai khalifah Alloh, di tengah-tengah alam yang luas itu.
Maka di dalam ayat pembukaan ini, kita telah bertemu langsung dengan tauhid, yang mempunyai dua paham itu, yaitu tauhid Uluhiyah pada ucapan Alhamdu Lillahi. Dan tauhid Rububiyah pada ucapan Robbil `Alamin.
Dan sudahlah jelas sekarang bahwa dalam ayat

الحمد لله رب العالمين
"Segala puji pujian adalalz kepunyaan Alloh, Pemelihara dari sekalian alam"
itu telah mengandung dasar tauhid yang dalam sekali. Tidaklah ada yang lain yang patut dipuji, melainkan DIA.

الرحمن الرحيم
"Yang Maha Pemurah, Yang .Maha Penyayang".(ayat 3)

Atau bisa juga diartikan Yang Pengasih, lagi Penyayang.
Ayat ini menyempurnakan rnaksud dari ayat yang sebelumnya. Jika Allah sebagai Rabb, sebagai pemelihara dan pendidik bagi seluruh alam tidak lain maksud dan isi pendidikan itu, melainkan karena Kasih sayangNya semata dan karena murahNya belaka, tidaklah dalam memberikan pemeliharaan dan pendidikan itu rnenuntut keuntungan bagi diriNya sendiri. Bukan sebagai sesuatu pemerintahan mengadakan suatu pendidikan "kader" dan latihan pegawai, ialah karena mengharapkan apabila orang-orang yang dididik itu telah lepas dari pendidikan, akan dapat dipergunakan menjadi pegawai yang baik. Pemeliharaan yang Dia berikan adalah pertama karena Ar-Rahman maknanya ialah bila sifat Allah Yang Rahman itu telah membekas dan berjalan ke atas hambaNya. nertamta h tinggi kecerdasan hamba itu, bertambah terasa olehnya betapa Ar-Rohman Allah terhadap dirinya, dan sifat Ar-Rohim ialah sifat yang tetap pada Allah. Maka Ar-Rohman ialah setelah sifat itu terpaksa pada hamba, dan Ar-Rohim ialah pada keadaannya yang tetap clan tidak pernah padam-padamnya pada Tuhan. Dan keduanya itu adalah sama mengandung akan sumber kata yaitu Rohmat.

Nanti dalam berpuluh ayat al-Qur'an, kita akan bertemu keterangan betapa Rahman dan RahimNya bagi seluruh makhluk , terutama bagi kita manusia. Bukankah matahari dan bulan dan bintang-bintang, semuanya itu rahmat dari Tuhan kepada kita ? Bagaimana jadinya kita hidup di dunia, kalau misalnya agak dua hari saja matahari tidak terbit ? Kita manusia kadang-kadang lupa akan Rahmat, karena kita tidak pernah dipisahkan dari Rahmat. Seumpama orang yang berdiam di kota besar yang telah teratur aliran listriknya dan penerangan lampu-lampu, dan telah teratur pula pipa saluran air.

Mereka baru ingat akan Rahmat adanya penerangan lampu yang teratur dan aliran air yang telah masuk sampai ke dalam rumahnya itu ialah bilamana satu kali ada kerusakan di sentral listrik atau ada kebocoran pada pipa air. Di waktu semua beres, kerap dia lupa. Setelah terganggu baru dia ingat.

Rahmat llahi, pancaran daripada sifatNya yang Rohman dan yang Rohim , yang Murah dan Kasih Sayang dapat kita rasai apabila kita lihat induk ayam mengekaskan kakinya mencarikan makanan untuk anak-anaknya. Dipecah-pecahkannya remah kecil yang didapatkannya, lalu dipanggil-panggilnya anak-anaknya dengan kerkotat-kotat, maka anak-anaknya itupun berlari-lari menuju makanan itu, dan induk nya sendiri tidak mengambil bagian dari makanan itu.

Dan apabila datang bahaya dengan tiba-tiba, dikejar yang hendak mengganggu itu seekor gajah besar. Dia tidak perduli bahwa dirinya akan hancur lumat diinjak gajah, sebab dia didorong oleh sifat Rahmat yang telah dianugerahkan Allah kepadanya, untuk mempertahankan anak-anaknya. Dan jika panas sangat terik, dia pergi ke pinggir pagar untuk berteduh dan dilindunginya anak-anaknya dalam naungan sayapnya, clan ada anak-anak itu yang memanjat ke atas punggungnya. Ditahankan karena kasahnya.

Rahmat Ilahi pun nampak pada dua ekor burung, seekor jantan, seekor betina; yang betina sedang mengerami telurnya clan jantan terbang mencari makanan dan membawanya pulang, terbang lagi dan pulang lagi, sedang mulutnya menggonggong sebutir makanan kecil. Keduanya benyanyi, bercericik, bersiul yang bunyinya dapat kita rasai, penuh dengan Rahmat.

Apatah lagi dapat kita lihat pada seorang ibu ketika melahirkan anak. Sembilan bulan badan payah. Datang rayuan anak akan lahir, diapun tidur, Selompat hidup, selompat mati. Si suami berjalan jalan sekitar rumah dengan dada berdebar-debar, dipengaruhi dengan rasa cemas dan harap, cemas kalau-kalau isteri yang dicintai diserang bahaya hingga maut karena melahirkan, dan harap moga-moga si anak lahir dengan selamat, dan ibunya selamat pula.

Demikianlah beratnya penderitaan mengandung; bidan telah sedia menolong, dan setelah ditunggu dengan harap dan cemas, lahirlah anak itu, kedengaran tangisnya, si buyung atau si upik. Dengan kedengaran tangis itu, kelihatanlah wajah si ibu lega, hilang kepayahannya, kadang-kadang matanya tertidur sejenak, diliputi oleh Rahmat Ilahi. Dia sudah lupa sama sekali akan kepayahannya, diobati oleh tangis anaknya yang baru Iahir itu. Dan si suami yang telah mondar-mandir sejak tadi di luar kamar bersalin, setelah diberitahu bahwa anaknya sudah lahir, anak dan ibu selamat, kadang-kadang menangislah dia karena sangat terharu. Rahmat Tuhan telah dimasukkan ke dalam jiwa mereka semuanya.

Kabarnya konon di satu kota di Amerika Serikat, ada sebuah kuburan kecil tidak berapa jauh dari Stasiun kereta api, yaitu kuburan dari seekor anjing. Asal mulanya ialah karena sangat setianya anjing itu kepada tuannya, maka setiap tuannya berpegian dia turut mengantarkan ke stasiun, dan petang hari di waktu pulangnya, diapun pergi menjemputnya. Demikianlah berlaku tiap hari. Dia diantar dan dijemput oleh anjingnya.

Tetapi pada suatu hari, seketika dia menjemput lagi sebagai biasa, tuannya ditunggunya tiada turun dari kereta api. Besoknya dijemputnya juga, namun tuannya tidak juga pulang. Di jemputnya terus tiap hari, dari hari ke hari, bulan ke bulan; namun tuan yang ditunggu tidak juga pulang. Siapakah yang akan memberitahukan kepadanya bahwa tuannya tidak akan pulang lagi; sebab dia telah meninggal di tempat lain karena suatu kecelakaan . Maka pada suatu hari bertemulah orang bahwa anjing itu telah mati kedinginan di tempatnya biasa menunggu tuannya pulang itu.

Semua orang, penduduk di sekitar stasiun itu tahu kisah tentang anjing setia itu. Maka dari rasa Rahmat IIahi yang ada dalam hati penduduk di sana, dikuburkanlah anjing itu dengan upacara yang layak; diberi tanda dan di tulis pada tanda itu. "kuburan seekor anjing yang setia".

Maka pertalian anjing itu dengan tuannya adalah pertalian Rahmat llahi, yang ada dalam jiwa si tuan dan dimasukkan pula ke dalam naluri si anjing .Binatang-binatang itupun kadang-kadang mempunyai naluri yang mendalam sekali tentang Rahmat yang ada di hati manusia. Perhatikanlah naluri kucing yang terus saja duduk ke atas pelukan seorang tetamu yang baru sekali ziarah ke rumah orang yang memeliharanya. Atau mendekat dan meminta diberi makan, meskipun sekali itu baru bertemu dan dia tidak mendekat kepada tetamu lain yang sama-sama duduk. Dia diberi naluri oleh Tuhan bahwa di dalam hati tetamu itu ada Rahmat.

Satu kejadian yang pernah terjadi ialah seketika ayah dan guru saya Dr. Syaikh Abdulkarim Amrullah akan meninggal dunia. Ada seekor kucing dalam rumah beliau yang sangat dikasihinya. Biasanya beliau sendiri yang memberinya makan di piring khusus. Dan kalau beliau pulang dari mana-mana, beliau tanyakan kepada orang di rumah sudahkan si Manis diberi makan ?

Ketika beliau telah mulai sakit payah, kucing itu duduk terus di dekat pembaringan beliau. Tetapi satu hal yang sangat ajaib kejadian. Sehari sebelum beliau meninggal kucing itu hilang dari dekat tempat tidur beliau. Setelah hari sore kucing itu tidak juga muncul, dan beliau sudah mulai payah, dan tidak menanyakan lagi tentang si Manis ! Seketika orang menimba air sumur, kelihatanlah si Manis telah menjadi bangkai di dalam sumur itu. Kematian si Manis tidak diberitahukan lagi kepada beliau, sebab beliau dalam sakaratul maut. Pagi-pagi besoknya, sehari meninggal kucingnya, beliaupun meninggal.

Dengan melihat kasih-sayang suami isteri dan ayah terhadap anak, nenek terhadap cucu. Dengan melihat kasih-sayang di antara binatang, burung-burung dengan berbagai jenisnya, dapatlah kita mengetahui betapa besarnya Rahman dan Rahim Allah atas makhluk, dan akan sirnalah rasa benci, dengki dan dendam dari hati kita. Maka bersabdalah Rasulullah s.a.w. :

"Orang-orang yang ada rasa Rahim akan dirahmati oleh Tuhan yang Rahman yang memberikan berkat dan Maha Tinggi. Sayangilah orang-orang yang di bumi, supaya kamu disayangi pula oleh yang di langit. "(Dirawikan oleh lmam Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, dan al-Hakim dari hadits Abdulah bin Umar). "
Sampai-sampai kepada masyarakat, pergaulan hidup yang adil dan makmur di atas dunia ini, disebutkan di dalam ayat yang lain ialah masyarakat yang mengandung MARHAMAH, yaitu kasih mengasihi, cinta-mencintai, bantu-membantu, dari rasa kemurahan dan kesayangan.

مالك يوم الدين
"Yang menguasai Hari Pembalasan " (ayat 4)

Kita artikan yang menguasai, apabila Maliki kita baca dengan memanjangkan Ma pada Maliki. Dan kita artikan "Yang Empunya Hari Pembalasan ", kalau kita baca hanya Maliki saja dengan tidak memanjangkan Ma

Di sini dapatlah kita memahamkan betapa arti ad-din. Kita hanya biasa rnemberi arti ad-din dengan agama. Padahal diapun berati pembalasan. Memang menurut Islam segala gerak-gerik hidup kita yang kita laksanakan tidak lepas dari lingkungan agama, dan tidak lepas dari salah satu hukum yang lima: wajib, sunnat, haram, makruh dan jaiz. Dan semuanya kelak akan diperhitungkan dihadapan hadirat Tuhan di akhirat; baik akan diberi pembalasan yang baik, buruk akan diberi pembalasan yang buruk. Dan yang memberikan itu adalah Tuhan sendiri, dengan jalan yang seadil-adilnya.

Apabila kita telah membaca sampai di sini, timbulah perimbangan perasaan dalam kalbu kita. Jika tadi seluruh jiwa kita telah diliputi oleh rasa Rahmat, pancaran Rahman dan Rahim Tuhan, maka dia harus dibatasi dengan keinsafan, bahwa betapapun Rahman dan RahimNya namun D'ra adil juga. Memang ada manusia yang karena amat mendalam rasa Rahmat dalam dirinya, dan meresap ke dalam jiwanya kasih saya.flug yang balas membalas, memberi dan menerima dengan Tuhan , Lalu dia beribadat kepada Tuhan dan berbuat bakti. Tetapi ada juga manusia yang tidak menghargai dan tidak memperdulikan Rahman dan Rahim Tuhan, jiwanya diselimuti oleh rasa benci, dengki, khizit dan khianat. Tidak ada rasa syukur, tidak ada terima-kasih. Jahatnya lebih banyak dari baiknya. Kadang-kadang pandai dia menyembunyikan keadaan yang sebenarnya. Sampai dia mati keadaan tetap demikian.Tentu ini pasti mendapat pembalasan.

Di dunia ini yang ada hanya penilaian, tetapi tidak ada pembalasan manusia. Banyak manusia tercengang melihat orang zalim dan curang, tetapi oleh karena "pandainya" main, tidak berkesan meskipun orang tahu juga. Dan banyak pula orang yang jujur, berbuat baik, namun penghargaan tidak ada. Atau sengaja tidak dihargai karena pertarungan-pertarungan politik.

Di dunia ini tidak ada pembalasan yang sebenarnya dan di sini tidak ada perhitungan yang adil
Dan mata keridhaan gelap tidak melihat cacat sebagai juga mata kebencian hanya melihat yang buruk saja.

Maka apabila Ar-Rahrnan dan Ar-Rahim telah disambungkan dengan Maliki yaumiddin, barulah seimbang pengabdian dan pemujaan kita kepada Tuhan. Hidup tidalc berhenti hingga kini saja, akan ada sambungannya lagi, yaitu hari pembalasan, hari agama yang sebenarnya.

Kita memuji Allah pemelihara seluruh alam clan pendidiknya, kita memujiNya, karena Rahman dan RahimNya dan kitapun memujiNya, karena buruk clan baik yang kita kerjakan di dunia ini tidak terbuang percuma, melainkan akan diperhitungka.n dan dibalasi dengan adil di akhirat.

Kalau sudah kita rasai dan kita percaya bahwa Dia Maha Pemurah dan Penyayang, tetapi juga dapat berlaku keras kepada yang melanggar,sebab dia meziguasai penuh akan hari pembalasan, bagaimana sikap manusia lagi ? Dan kemana kita hendak membelok lagi ? Masih adakah Tuhan lain yang seperti ALLOH ? Tidak ada !

Kita mengharapkan kasih sayang dan kemurahanNya, dan kitapun takut akan pembalasanNya.
Jiwa kita terombang di antara Khauf, artinya takut, dan raja', artinya harap. Maka lanjutan bunyi ayat :

إياك نعبد و إياك نستعين
"Engkaulah yang kami sembah, Dan Engkaulah tempat kami memohon pertolongan. "(ayat 5)

Kalimat Iyyaka, kita artikan Engkaulah, atau boleh dilebih dekatkan lagi maknanya dengan menyebut hanya Engkau sajalah yang kami sembah. Di sini terdapat iyyaka dua kali ; hanya Engkau sajalah yang kami sembah dan hanya Engkau saja tempat kami memohonkan pertolongan. Kata Na'budu kita artikan, kami sembah dan Nasta 'inu kita artikan tempat kami memolion pertolongan.

Kalau ada lagi kata lain dalam bahasa kita yang lebih mendekati maksud yang terkandung di dalamnya, bolehlah kita usahakan juga. Sebab dalam hati sanubari kita sendiripun terasa bahwa arti itu belum tepat benar, meskipun sudah mendekati. Kata na'budu berpangkal dari kalimat ibadat dan nasta'inu berpangkal dari kalimat isti'anah.

Lebih murnilah kita rasakan maksudnya kalau kita sebut ibadat saja. Karena meskipun telah kita pakai arti dalam bahasa kita yaitu sembah atau kami sembah, namun hakikat ibadat hanya khusus kepada Allah, sedangkan dalam bahasa kita kalimat sembah itu terpakai juga kepada raja ; di Minangkabau kalau ahli-ahli pidato adat sambut menyambut pidato secara adat, mexeka namai juga sembah-menyembah. Jadi kalau kita artikan "Hanya kepada Engkau kami beribadat barangkali lebih tepat, apatah lagi kalimat ibadat itupun telah menjadi bahasa kita.

Kalimat Isti'anah pun menghendaki keterangan yang panjang. Kalau rnenurut bahasa saja, apabila kita meminta tolong kepada seorang teman menyampaikan pikiran kita kepada anak kita di tempat yang jauh, atau meminta tolong mengangkat lemari karena terlalu berat mengangkat sendiri, dalam bahasa di sebut Isti'anah juga, padahal yang demikian tidak terlarang oleh agama.

Kita bukakan hal ini untuk mengetahui betapa sukarnya menterjemahkan dari satu bahasa ke bahasa yang lain, terutama lagi bahasa agama, terutama lagi Arab dalam al-Qur'an yang turun sebagai Wahyu Ilahi. Makanya kita menguatkan pendapat sebagian besar Ulama agar disamping terjemah atau tafsir, tidak boleh tidak, hendaklah asli tulisan Arabnya dibawakan supaya orang lain yang mengerti dapat menyesuaikan maknanya dengan aslinya.

Di dalam ayat ini bertemulah kita dengan tujuan. Dengan ayat ini kita menyatakan pengakuan bahwa hanya kepadaNya saja kita memohonkan pertolongan; tiada kepada orang lain.

Sebagaimana telah kita maklumi pada keterangan di atas, .Allah adalah Tuhan Yang Mencipta dan Memelihara. Dia adalah Rabbun, sebab itu Dia adalah IIahi. Tidak ada Rah yang lain, melainkan Dia. Oleh karena Dia Yang Mencipta dan Memelihara, maka hanya Dia pula yang patut di sembah. Adalah satu hal yang tidak wajar, kalau Dia menjadikan dan memelihara, lalu kita menyembah kepada yang lain.
Oleh sebab itu, maka ayat yang 5 ini memperkuat lagi ayat yang kedua

"Segala puji pujian bagi Allah , Pemelihara dari sekalian alam".

Hanya Dia yang patut dipuji, karena hanya Dia sendiri yang menjadikan dan memelihara a1am, tidak bersekutu dangan yang lain. Alhamdu di atas didahulukan menyebutkan bahwa yang patut menerima pujian hanya Allah, sebab hanya Dia yang mencipta clan memelihara alam.

Sedang pada ayat Iyyaka rta'budu ini lebih jelas lagi, hanya kepadaNya dihadapkan sekalian persembahan dan ibadat, sebab hanya Dia sendiri saja, tidak bersekutu dengan yang lain, yang memelihara alam ini.

Maka mengakui bahwa yang patut disembah sebagai Ilah hanya Allah, dinamai Tauhid Uluhiyah. Dan mengakui yang patut untuk memohon pertolongan, sebagai Robbun hanya Allah, dinamai Tauhid Rububiyah.

Untuk misal yang mudah tentang Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Rububiyah ini ialah seumpama kita ditolong oleh seorang teman, dilepaskan dari satu kesulitan. Tentu kita mengucapkan terima-kasih kepadanya. Adakah pantas kalau kita ditolong misalnya oleh si Ahmad, lalu kita mengucapkan terima-kasih kepada si Hamid ? Maka orang yang mengakui bahwa yang menjadikan alam dan memelihara alam ialah Allah juga, tetapi menyembah kepada yang lain, adalah orang itu musyrik. Tauhidnya sendiri pecah belah; menerima nikmat dari Allah mengucapkan terima-kasih kepada berhala.


  01   02   03   04   05   06   Back to Main Page >>>>