Make your own free website on Tripod.com
                                                       
                      Muqoddimah AL-FAT'H Suroh ke-48 , 29 ayat
 
                                                                           

                                                                         


Surat ini bernama Al-Fat'h , yang berarti Kemenangan , yaitu suatu keadaan yang akan bertemu pada ayat yang pertama sekali ; " Sesungguhnya Kami telah memberikan kepada engkau kemenangan yang nyata sekali ". (Ayat 1).

Maka menilik kepada ayat itu dan dipertalikan dengan Surat yang baru saja selesai kita tafsirkan, yaitu Surat Muhammad, yang bernama juga Surat Al-Qitaal, atau surat pada menyatakan peperangan, sebagai Surat ke-47 dalam susunan Al-ur'an, maka Surat penyambutnya Surat ke-48 mulai saja dibuka tetah menyatakan terjadinya kemenangan yang nyata, kemenangan yang gilang gemilang.

Padahal kalau ditilik dalam sejatah Islam sendiri, kemenangan peperangan besar, peperangan yang bertempur hebat bukanlah terjadi di waktu itu. Sebab Surat ini diturunkan pada tahun keenam hijriyah, tahun keenam sesudah Nabi Muhammad saw , berpindah ke Madinah .

Adapun Nabi Muhammad berhijrah ke Madinah, yang berturut dengan turunnya Surat Muhammad yang disebut juga Surat Al-Qital ialah di tahun-tahun ketiga sesudah beliau itu hijrah. Dan sekira tiga tahun kemudian pula sesudah turunnya Surat Muhammad dengan disela-sela oleh turunnya Surat-surat yang lain, maka tiga tahu kemudiannya pula barulah turun Surat Al-Fat'h ini. Sebab itu dapatlah dikatakan bahwa sa nya Surat ini turun ialah setelah enam tahun Nabi saw. bersama shahabat-shahabat yang setia berhijrah ke Madinah.

Sesudah mencapai beberapa disiplin yang keras, komando yang teguh persatuan yang kokoh sesama sendiri dalam menghadapi setiap tantangan musuh, sampai terjadi apa yang kelak menjadi latar belak dari turunnya Surat AI-Fat'h ini.

Enam tahun lamanya Rasulullah saw. telah berhijrah dari tanah kelahiran beliau yang tercinta, yaitu tanah Makkah Al-Mukarramah tempat Ka'bah berdiri dan tempat yang sangat dihormati sejak purbakala, sejak zaman Nabi Ibrahim 'alaihis Salam. Meskipun selama ini terjadi pertengkaran, pertentangan dan permusuhan di antara persukuan Arab sesamanya, namun terhadap kepada Ka'bah dan Tanah Suci yang ada di kelilingnya, semua mereka itu tetap berlaku hormat dan tidak ada orang yang dihalangi jika hendak ziarah ke tempat itu .

Sebab melakukan ibadah hajji ,menghormati Rumah Allah ,Makam Ibrahim, Hajar Isma'il dan Batu Hitam (Al-Hajarul Aswad) tidaklah ada gangguan dan gugatan, sehingga walaupun dua kabilah bermusuhan keras sampai berbunuh-bunuhan, namun mereka akan berjumpa dan sama-sama beribadat di tempat-tempat yang dianggap suci itu.
Sehingga -tersebutlah di dalam Al-Qur'an sendiri, di dalam Surat ke-2, Al-Baqarah ayat tentang kedua bukit terkenal, bukit Shaffa dan Marwah. Diakui walaupun di zaman jahiliyah dan Agama Tauhid belum diterima orang, bahwa kedua bukit itu tetaplah syi'ar Allah yang patut dihormati, meskipun di antara kedua bukit itu telah banyak didirikan orang Jahiliyah berhala-berhala besar yang mereka puja. 

Maka dalam ayat itu tersebutlah sabda Tuhan:

"Sesungguhnya Shafaa dan Marwah itu adalah termasuk syi'ar­ syi'ar Allah; maka barangsiapa yang naik hajji atau melakukan 'umrah, tidaklah ada salahnya jika mereka thawaf (sa'yi) di antara kedua bukit itu".

Mengapa dikatakan " tidak ada salahnya jika sa'yi di antara keduanya ? ". Ialah karena ayat itu turun di Madinah, ketika kaum Muslimin masih belum leluasa buat datang kembali ke Mekkah, sebab mereka sudah hijrah. Meskipun mereka sudah hijrah, kalau ada kemungkinan dan mendapat peluang buat hajji atau buat 'umrah, kerjakan jugalah salah satu dari kedua kewajiban itu.

Tentu terasa akan sukar melakukan hajji atau 'umrah di masa itu bagi orang-orang yang telah menganut faham Tauhid, tidak menyembah berhala dan patung lagi.

Sedang di kiri kanan tempat sa'yi yang akan mereka jalani berdiri berhala yang besar-besar. Dikatakan orang bahwa berhala 'Uzzaa di antara bukit Shafaa dan Marwah itulah berdirinya. Maka ayat tadi memberi keterangan tidak ada salahnya bersa'yi atau berthawaf di tempat itu, meskipun di pinggir tempat sa'yi ditegakkan orang berhala besar. Kita kaum Muslimin sekali-kali tidak akan menyembah, bahkan menyentuh sedikit saja pun kita tidak. Kita akan sa'yi sebagai biasa, thawaf sebagai biasa, dengan tidak melengong dan tidak mengacuhkan berhala yang dijadikan orang tempat persembahan itu.

Tetapi meskipun demikian pendirian kaum Muslimin, sudah enam tahun mereka hijrah ke Madinah, hijrah karena keyakinan agama, tentulah ada keinginan hendak mengerjakan 'umrah sebagai biasa. meskipun ada permusuhan dengan penduduk Mekkah, 'umrah tentu tidak akan mereka halangi. Tetapi keinginan demikian tetap jadi keinginan saja! Berita sudah santer di mana-mana bahwa Muhammad bersama orang-orang yang berhijrah (muhajirin) mengikuti beliau sekali-kali tidak boleh ke Mekkah, tidak boleh walaupun 'umrah, tidak boleh, apa lagi naik hajji.

Bulan Rajab dan bulan Syawwal, Zulqa'idah dan ZuI-hijjah sampai kepada pangkal bulan Muharram, sejak zaman purbakala sudah dinamai bulan-bulan suci. Banyak orang dari pelosok-pelosok yang jauh pergi ke sana, untuk mengerjakan ziarah bagi membersihkan jiwa. Kadang-kadang di zaman jahiliyah dihubungkan dengan pertemuan umum di pasar 'Ukkaazh.

Perjalanan mereka tidak dihalangi oleh orang Quraisy, bahkan disambut dengan baik dan hormat, ada yang menyediakan minuman mereka (siqayah), ada yang menyediakan makanan dan tempat tinggal (rifadah), tetapi orang Muhajirin Madinah, yang berhijrah karena keyakinan dan pendirian agama, sekali-kali tidak boleh, tidak dibukakan pintu, padahal agama Tauhid yang mereka peluk bukanlah menghapuskan menghabiskan syari'at hajji malahan memperkuatnya.
Sudah enam tahun mereka hijrah, namun khabar berita "lampu hijau" ke izinan tidak juga mereka terima.

Tiba-tiba bermimpilah Nabi Muhammad saw. dalam tahun keenam itu, bahwa beliau bersama pengikutnya beramai-ramai telah dapat mengerjakan 'umrah ke Mekkah dengan selamat , tidak ada halangan dan rintangan , sampai selesai mengerjakan 'umrah , sampai melakukan menurut rukun yang dicukupkan, yaitu bercukur ataupun bergunting rambut , tandanya 'umrah telah selesai dengan baik.

Ketika mimpi ini disampaikan oleh Rasulullah saw. kepada shahabat-shahabat nya yg setia dan teguh beriman itu semuanya bergembira dan telah bersedia mendaftarkan buat ikut bersama 'Umrah dengan Rasulullah tidak kurang dari 1400-orang banyaknya.

Pada saat yang ditentukan mereka telah bersiap. Siap untuk beribadat, untuk 'umrah sebagai yang dikerjakan selama ini, walaupun di zaman jahiliyah. Mereka tidak membawa alat peperangan. Kalau ada bersenjata hanyalah senjata buat penjaga diri belaka. Yang banyak mereka bawa hanyalah kambing buat disembelih sesudah selesai mengerjakan ibadat itu. Persiapan berangkat itu ialah pada bulan Zulqa'idah, sesudah selesai peperangan Bani Mushthalaq. Banyak orang Arab yang datang mendaftarkan diri karena ingin hendak 'umrah bersama Rasulullah saw. Anshar ikut, Muhajirin ikut, tidak kurang dari 1400 jamaah banyaknya. Mereka bawa sekali kambing-kambing yang akan disembelih setelah selesai beribadat kelak, yang bernama Al-hadyu, sengaja semata-mata buat 'umrah, bukan buat berperang.

Az-Zuhriy menulis dalam catatan sejarahnya bahwa sesampai rombongan itu di tempat yang bernama 'Isfaan, antara Madinah dan Mekkah, tinggal 2 marhalah lagi akan sampai di Mekkah, sehingga Mekkah sudah lebih dekat dan Madinah sudah lebih jauh, datanglah seorang yang bernama Bisyr bin Sufyan Al-Ka'biy.

Dia mengatakan kepada Rasulullah: "Ya Rasulullah! Kaun Quraisy telah mendengar berita tentang maksud engkau hendak datang ke Mekkah. Mereka telah berkumpul semua, laki-laki dan perempuan, baik perempuan yang telah beranak, ataupun yang belum bersuami belum beranak, berkumpul semuanya di Zhi Thuaa; semuanya memakai kulit harimau, sebagai sanggahan dari kedatangan engkau. Mereka tidak izinkan engkau masuk Mekkah. Dan mereka pun telah mempersiapkan Khalid bin Al-Walid dengan naik kuda, untuk mencegat kedatangan ini di Kora'il Ghamiim!"

Nabi saw. menjawab: "Sayang kalian kaum Quraisy, mengapa sampai begitu? Selama ini telah berperang dengan saya, telah sengsara kalian karena perang. Sedang kedatangan saya ini bukan buat perang. Apalah gunanya terus menerus menantang saya! Biarkanlah orang lain melawanku, namun Quraisy diam sajalah. Sebab kalau masih saja mereka hendak memusuhi aku, dalam saat aku ingin beribadat seperti ini, tidaklah aku hendak melawan, karena maksudku kemari bukan buat itu. Kita harus dapat membedakan saat beribadat dengan saat berkelahi.

Kemudian itu Rasulullah bertanya dengan dihadapkan kepada pengikut-pengikutnya yang hadir: " Adakah di antara kamu yang suka mengikuti aku menempuh jalan lain menuju Mekkah ? " .
Seorang laki-laki dari Bani Aslam tampil ke muka seraya berkata: " Saya, ya Rasulullah ! " Maka mendakilah Rasulullah menuju jalan yang sukar di tepi tebing yang banyak batu-batu , yang jarang dilalui manusia dan diikuti oleh kaum Muslimin itu dengan sangat setia dan bercucur keringat. Akhirnya sampai jugalah mereka ke penyeberangan yang dituju di lembah yang datar di bawah.

Lalu mereka pun berkumpul dan Rasulullah mengajak agar semua jama'ah itu mengucapkan istighfar dan taubat kepada Allah, karena jalan sukar telah dapat di lampaui ! Semua pun mengucapkan Astagfirullah dan bertaubat dengan suara riuh. Lalu Nabi berkata: " inilah satu penyeberangan jalan yang kita telah lepas dari tempat yang sukar. Bani Israil dahulukala pun pernah selamat menempuh jalan sukar begini , namun mereka tidak mengucapkan apa-apa tanda bersyukur kepada Tuhan".

Az-Zuhriy mengatakan bahwa setelah terlepas dari tempat itu, Nabi saw. memerintahkan kepada jama'ah semuanya supaya mengambil jalan sebelah kanan, melalui tempat yang bernama Al­Hamadh, dalam perjalanan menuju perhentian yang bernama Syaniyatul Mirar, di tempat itulah terletak lembah Hudaibiyah, sebelah bawahan Mekkah.

Setelah Quraisy melihat bahwa jalan yang ditempuh Muhammad dan pengikutnya itu bukan jalan biasa, mereka pun kembali pulang memberi laporan tentang perubahan jalan yang ditempuh Muhammad itu, karena hendak menentukan sikap mereka bagaimana lagi.

Adapun Nabi Muhammad saw. dan para pengikutnya itu setelah sampai di tempat yang bernama Syaniyatul Mirar itu , onta-onta itu pun berhenti. Padahal jarang sekalilah onta berhenti berlepas lelah kalau tidak diberhentikan oleh yang membawanya berjalan , betapa pun jauh. Karena berhentinya onta itu berjalan, ada yang mengira bahwa dia berhenti lelah. Lalu dibantah oleh yang lain, dengan mengatakan bahwa onta-onta itu berhenti dan tertegun berjalan di sana, sebagaimana di zaman dahulu, diwaktu Angkatan Perang Raja; Abrahah yang bergajah datang hendak menyerang Mekkah, onta-onta itu tidak mau meneruskan perjalanannya. Dia berhenti sendiri terlebih dahulu sesampai di tempat itu.

Setelah onta-onta itu berhenti sendiri berkatalah Rasul saw. kepada shahabatnya, bahwa beliau bersedia menerima jika utusan Quraisy datang. Segala musyawarat yang baik, yang berpokok pada menghubungkan shilatur-rahmi yang telah terputus selama ini, beliau bersedia memikulnya. Artinya ialah jika mereka meminta dipotongkan ternak tanda berdamai, dan mereka dibolehkan masuk ke Mekkah beliau sedia melakukan.

Setelah itu beliau saw. mempersilakan jamaah itu semuanya turun dari ontanya masing-masing, berhenti, buat menunggu sikap apa yang akan dilakukan oleh kaum Quraisy dalam menunggu kedatangan mereka itu.

Seketika perintah itu telah dipersiapkan oleh Rasulullah menyuruh semuanya turun dari kendaraannya, berkatalah salah seorang yang hadir: "Ya Rasulullah! Mengapa di sini kami disuruh turun? Tempat ini tidak ada airnya!" Mendengar itu maka Rasulullah saw. mencabut salah satu dari panah yang terkumpul di punggung beliau lalu beliau perintahkan menancapkan panah itu di setumpak bumi 'yang kerendahan. Kelihatanlah bahwa bumi itu basah. Lalu mereka gali, maka terdapatlah air di sana, yaitu air bekas hujan di masa yang lampau .

Setelah Rasulullah dan shahabat-shahabatnya berhenti di tempat itu, tiba-tiba datanglah Budail bin Waraqaak dari Bani Khuza'ah, diiringi beberapa teman dari kabilahnya. Dia bertanya mengapa Rasulullah dan sahabat-sahabatnya berhenti di situ dan apa maksud beliau datang ke tempat itu? Lalu Rasulullah menjawab sebagaimana yang telah kejadian, bahwa beliau bermaksud hendak ziarah ke Mekkah, mengerjakan semata-mata 'umrah, memberi hormat membesarkan Rumah Allah yang suci, bukan hendak berperang bertumpah darah. Pendeknya beliau ulangkan kembali apa yang beliau katakan dahulu kepada Bisyr bin Sufyan dari Bani Ka'ab.

Mendengar berita setegas itu, maka Budail bin Waraqaak pun pergilah kepada kaum Quraisy menyatakan maksud Muhammad dan rombongannya itu, semata-mata hendak ziarah bagi kemuliaan Baitullah. Lalu dia berkata: "Mengapa kalian terburu-buru saja ; menghalangi kedatangan Muhammad ? Padahal dia datang bukan buat pergi berperang, dia hanya semata-mata hendak berziarah".

Bila mereka mendengar keterangan Budail bin Waraqaak itu, mereka menyambut dengan nafsu amarahnya. Mereka berkata: '"Meskipun dia mengatakan datang hanya semata-mata ziarah, bukan hendak berperang, maka demi Allah kami tidak setuju jika dia datang dengan secara tiba-tiba begini. Kami tidak mau menjadi buah mulut seluruh Arab."

Bani Khuza'ah yang diwakili oleh Budail bin Waraqaak itu , baik yang masih belum menerima Islam ataupun yang telah Muslim, umumnya bersikap dan bertetangga baik dengan kaum Muslimin , terutama dengan Rasulullah. Sebab itu mereka menyatakan simpati saja kepada Nabi dan tidak dapat berbuat apa-apa buat menentang kekerasan sikap kaum Quraisy itu.

Setelah itu datanglah Mikraz bin Hafsh bin Al-Akhyaf saudara Bani Amir bin Luayy. Setelah dia yang kelihatan datang, Rasulullah berbisik kepada shahabat-shahabatnya: "Orang ini tidak teguh memegang janji!" Setelah berhadapan dengan Rasulullah dia pun mulai pula bertanya apa sebab beliau berada di sana dan Nabi pun telah menjawab sebagaimana yang beliau jawabkan kepada Budail bin Waraqaak tadi juga, tidak pergi berperang, ingin menunaikan ziarah dan membesarkan Baitullah. Orang ini pun kembali kepada Quraisy menyampaikan apa maksud Nabi.

Sesudah itu kaum Quraisy memberi kesempatan pula kepada Al­Hullais Bin 'Alqammah. Dia adalah yang tertua dan disegani dari Banil Ahaabisy, penduduk suatu kampung Badwi. Dia ini adalah keturunan dari AI-1-12-fits bin 'Abdu Manaata bin Kinanah. Kaum ini terkenal agak kuat memegang istiadat ziarah ke Ka'bah.

Setelah dia kelihatan dari jauh, Nabi saw. membisikkan agar kambing-kambing yang telah disediakan buat jadi al-hadyu sesudah selesai 'umrah supaya diperlihatkan ke muka semua, sampai mereka lihat dan buktikan bahwa kita memang semata-mata hendak 'umrah. Utusan itu pun bertemu dengan Nabi dan melihat sendiri kambing-kambing yang telah diberi tanda di leher masing-masing bahwa mereka kelak akan disembelih kalau 'umrah telah selesai.

Al­Hullais pun kembali kepada yang mengutus dan memberitakan apa yang dia lihat. Namun dengan sikap murka Quraisy menyambut Al­Hullais dengan kata kasar: "Ah sudahlah! Engkau hanya seorang Badwi, kau tidak tahu apa-apa!" Mendengar perkataan kasar itu Al-Hullais pun menjawab dengan marahnya pula: "Hai Quraisy semua! Kita membuat janji bukanlah akan bersikap kasar begitu! Kita berkawan tidaklah hendak menunjukkan budi buruk! Fikirkanlah! Dengan alasan apa kalian hendak menghalangi orang yang datang hendak memuliakan Baitullah! Demi Tuhan yang AI-Hullais hidup dalam tangan-Nya! Kalau Muhammad datang menyerbu, kami sekaum akan membiarkannya saja, kami tidak akan membantu kalian! Mengerti?"

Mereka jawab : " Diam ! "

Akhirnya sekali orang Quriasy-lah yang merasa salah sendiri, karena cara mereka mengirimkan utusan dengan sikap yang kasar. Lalu mereka utuslah 'Urwah bin Mas'ud _dengan cara hubungan atau approach yang lebih baik dari utusan-utusan yang lampau.

Setelah bertemu dengan Nabi saw. berkatalah 'Urwah sebelum berangkat menemui Muhammad saw. kepada orang-orang yang mengutusnya itu: "Kaum Quraisy sekalian! Sebelum saya berangkat menemui Muhammad hendak saya jelaskan kepada kalian semuanya bahwa cara utusan-utusan yang telah lalu menemui Muhammad yang sangat kasar, menunjukkan budi yang tidak sopan, tidaklah akan memberikan hasil yang baik. Saya mengerti, kalian semua adalah bapak bagiku dan aku ini anak, (sebab 'Urwah keturunan dari pihak ibu dari 'Abdi Syams). Sekarang saya yang akan diutus menemui Muhammad! Saya akan pergi menemui dia bersama pengiring-pengiringku yang setia, tetapi saya minta dibebaskan menempuh jalan saya sendiri!"

Lalu menjawablah kepala-kepala Quraisy itu: "Kami percaya kepada engkau, kami tidak ragu kepada kesetiaan engkau! Pergilah!"

'Urwah pun pergilah sampai bertemu dengan Nabi Muhammad saw. Setelah bertemu dia duduk ke hadapan beliau lalu berkata: "Ya Muhammad! Mengapa engkau kumpulkan orang gagah-gagah, engkau bawa ke kampung halamanmu sendiri dan hendak engkau hancurkan kaum engkau dengan orang-orang yang engkau bawa itu! Perhatikanlah! Di seberang sana kaum Quraisy telah berkumpul, sampai perempuan-perempuan yang telah beranak, sampai gadis-gadis yang belum kawin, semuanya ikut; semuanya menyandang pakaian yang terdiri dari kulit macan. Mereka telah bersumpah, bahwa mereka tidak akan membiarkan engkau masuk ke dalamnegeri Mekkah dengan kekerasanmu. Dengan nama Allah aku katakan kepada Muhammad, bahwa besok pagi akan engkau lihat mereka itu semua! .

Abubakar Shiddiq yang duduk di belakang Rasulullah, orang yang selamanya biasa sabar., sekali itu tidak dapat menahan suaranya, lalu ; berkata: "Apakah kami akan melihat saja dari sini, atau kami akan menyerbu ke sana?" 'Urwah bertanya kepada Nabi: "Siapa orang ini Muhammad?" "Inilah Ibnu Abi Quhaafah!"

'Urwah berkata: "Kalau bukanlah ada hutang tangan engkau di atas diriku, niscaya saya belas kontan perkataanmu itu! Tetapi sebegini cukup dahulu!"

Kemudian dia bercakap terus diangkatnya tangannya, sampai nyaris-nyaris tersinggung janggut Rasulullah saw. Padahal Mughirah bin. Syu'bah berdiri sedang siap di belakang Nabi saw. mengawal beliau. Lalu dia berkata: "Jangan terlalu engkau angkat tanganmu sampai janggut Rasulullah engkau singgung-singgung. Karena kalau perbuatan itu tidak engkau hentikan, nanti engkau tidak akan bertangan lagi!"
'Urwah menyambut: "Mengapa engkau sekasar itu. Namun Rasulullah saw. tersenyum saja. Lalu 'Urwah bertanya pula: "Siapa orang ini ya Muhammad?"
Nabi menjawab: Dia ini adalah anak saudara engkau sendiri, 'Al­Mughiirah bin Syu'bah!" Lalu dengan penuh sinis 'Urwah menjawab: "Engkau hendak berbuat salah lagi? Bukankah engkau baru saja belajar mencuci kemaluanmu baru kemarin?"

Ibnu Hisyam menerangkan dalam catatan sejarahnya, bahwa Al­Mughiirah bin Syu'bah itu sebelum masuk Islam pernah membunuh tiga belas orang Bani Tsaqiif di Thaif, kampung asal 'Urwah, sampai keluarga orang-orang yang terbunuh menuntut ganti rugi terhadap kabilah Al-Mughiirah, maka membayarlah Al-Mughiirah 13 penggantian kerugian, yang kebetulan diterima oleh Urwah sendiri! Itulah yang dimaksud oleh 'Urwah bahwa Al-Mughiirah mencuci kemaluannya baru kemarin.

Begitu lantang dan pandainya 'Urwah membawakan pembicaraan, bercampur dengan yang kasar pun namun Nabi tetap pada keterangannya semula, bahwa maksudnya datang sekarang ini adalah semata-mata menziarahi Ka'bah, melakukan 'umrah, bukan bermaksud hendak berkelahi dan berperang.

Setelah mendengar jawab Nabi itu maka 'Urwah pun kembalilah menemui kaum Quraisy menyampaikan isi pembicaraan. Namun selama dia berada di tempat perhentian Nabi itu telah dilihatnya dengan matanya sendiri bagaimana rapat dan patuh setianya pengikut-pengikut beliau terhadap beliau. Jika dia berwudhu' berebut pengikutnya mengambilkan air, menyediakan timba, mengisikan air. Bahkan kalau meliau meludah, berebut pula menumpangkan ludahnya, dan kalau ada rambutnya yang jatuh, berebut memilihkan rambutnya. Ketika dia telah pulang kepada Quraisy yang mengutusnya itu, maka kesan yang dilihatnyalah yang diterangkannya lebih dahulu.

Dia berkata: "Wahai Quraisy sekalian! Saya pernah menghadap istana Kisra di Persia, istana Kaisar di Roma, istana Najaasyi (Negus) di Abessinia, namun Demi Allah tidaklah pernah saya melihat orang besar-besar dan pengawal raja-raja itu yang bersikap begitu cinta dan begitu patuh, melebihi dari pengikut Muhammad kepada Muhammad. Sehingga jika terjadi apa-apa, pastilah semua pengikutnya itu bersedia mati buat Muhammad!

Menurut Ibnu Ishaq dalam catatan sejarahnya, bahwa sehabis pertemuan dengan 'Urwah itu Nabi Muhammad mengutus pula Kharrasy bin Omayyah dari Bani Khuza'ah ke Mekkah mengendarai seekor onta, untuk menyampaikan lagi pesan Nabi bahwa beliau datang semata-mata hendak beribadat.

Tetapi kedatangan utusan Rasulullah yang bernama Kharrasy itu telah disambut dengan cara yang sangat kasar dan tidak patut. Yaitu bahwa onta yang ditunggangi oleh Kharrasy ditangkap lalu dipotong dan dimakan, padahal itu adalah onta Rasulullah sendiri, bahkan terdengar pula bisik desus bahwa Kharrasy hendak ditangkap akan dibunuh pula.

Tetapi sebagaimana kita ketahui terlebih dahulu dari berita Hullais dari orang Habsyi yang dijawab dengan kasar oleh penduduk Quraisy ketika Quraisy bersikap kasar kepada Nabi, mereka itu berada di Mekkah pada masa itu. Mereka yang menyuruh supaya Kharrasy lekas-lekas berangkat meninggalkan Mekkah, dengan berjalan kaki karena ontanya sudah dibantai orang.

Propokasi yang kasar pun dilakukan juga oleh orang Quraisy. Mereka utus sekira 40 orang pemuda berjalan dengan sembunyi­sembunyi malam hari ke tempat perhentian. Maksud mereka akan menculik kalau ada pengikut Nabi saw. yang 1500 orang itu yang tidur atau terlengah, Tetapi sebelum maksud mereka berhasil, merekalah yang tertangkap lebih dahulu karena shahabat-shahabat Rasulullah tidak ada yang tidur, siap siaga semua.

Setelah orang-orang itu tertangkap, langsung dibawa ke hadapan Rasulullah. Diberi ingat bahwa menurut peraturan perang, darah mereka halal, mereka keempat puluhnya bisa saja dibunuh. Tetapi sekarang mereka dibebaskan, dengan syarat senjata yang mereka bawa diambil semua oleh pihak Islam.

Setelah itu, karena sudah agak lama tidak ada perkembangan, Rasulullah mengajak shahabat-shahabat itu musyawarah, apakah tidak lebih baik kalau 'Umar bin Khaththaab diutus datang sendiri sebagai utusan ke negeri Mekkah, menemui pemuka-pemuka Quraisy itu dan memberitahukan dengan pasti maksud itu. Kalau Quraisy menghendaki bayaran, agar terdapat-perdamaian, Nabi saw. bersedia memenuhinya. Tetapi 'Umar bin Khaththaab mengemukakan cadangan beliau kepada Rasulullah.

Dia berkata bahwa perjalanannya barangkali tidak akan banyak berhasil, mungkin akan gagal pula. Sebab kabilah 'Umar yang akan melindungi beliau selama di Mekkah tidak ada, atau kecil sekali, yaitu kabilah 'Adiy bin Ka'ab. 'Umar bin Khaththaab mengusulkan orang lain yang rasanya akan lebih berhasil, yaitu 'Utsman bin 'Affan; keluarganya lebih besai di Mekkah dan banyak di antara mereka yang jadi penentang Rasulullah.

Usul 'Umar ini sangat disetujui oleh Rasulullah dan setelah usul ini disampaikan kepada 'Utsman, dta pun dengan segala senang hati pula menerimanya. Instruksi yang disampaikan kepada 'Utsman tetap tidak berubah; Muhmmad datang bukan buat perang, melainkan buat melakukan ziarah kepada Baitullah.

Utsman pun segera berangkat membawa tugasnya yang suci mulia itu. Di Mekkah dia menetap kepada keluarga terdekatnya, yaitu Aban bin Sa'id bin A-'Ash. Dia dijamin oleh Aban tinggal di rumahnya selama di Mekkah. Setelah dia sampai di Mekkah segera dia pergi menemui Abu Sufyan dan pemimpin-pemimpin Quraisy yang lain. Dia telah menerangkan kepada mereka bahwa Muhammad datang,bukan buat pergi berperang, hanya semata-mata menghormati Ka'bah rumah Allah yang mulia. 'Utsman mereka sambut dengan baik.

Setelah itu, karena sudah agak lama tidak ada perkembangan, Rasulullah mengajak shahabat-shahabat itu musyawarah, apakah tidak lebih baik kalau 'Umar bin Khaththaab diutus datang sendiri sebagai utusan ke negeri Mekkah, menemui pemuka-pemuka Quraisy itu dan memberitahukan dengan pasti maksud itu. Kalau Quraisy menghendaki bayaran, agar terdapat-perdamaian, Nabi saw. bersedia memenuhinya. Tetapi 'Umar bin Khaththaab mengemukakan cadangan beliau kepada Rasulullah.

Dia berkata bahwa perjalanannya barangkali tidak akan banyak berhasil, mungkin akan gagal pula. Sebab kabilah 'Umar yang akan melindungi beliau selama di Mekkah tidak ada, atau kecil sekali, yaitu kabilah 'Adiy bin Ka'ab. 'Umar bin Khaththaab mengusulkan orang lain yang rasanya akan lebih berhasil, yaitu 'Utsman bin 'Affan; keluarganya lebih besai di Mekkah dan banyak di antara mereka yang jadi penentang Rasulullah.

Usul 'Umar ini sangat disetujui oleh Rasulullah dan setelah usul ini disampaikan kepada 'Utsman, dta pun dengan segala senang hati pula menerimanya. Instruksi yang disampaikan kepada 'Utsman tetap tidak berubah; Muhmmad datang bukan buat perang, melainkan buat melakukan ziarah kepada Baitullah.

Utsman pun segera berangkat membawa tugasnya yang suci mulia itu. Di Mekkah dia menetap kepada keluarga terdekatnya, yaitu Aban bin Sa'id bin A-'Ash. Dia dijamin oleh Aban tinggal di rumahnya selama di Mekkah. Setelah dia sampai di Mekkah segera dia pergi menemui Abu Sufyan dan pemimpin-pemimpin Quraisy yang lain. Dia telah menerangkan kepada mereka bahwa Muhammad datang,bukan buat pergi berperang, hanya semata-mata menghormati Ka'bah rumah Allah yang mulia. 'Utsman mereka sambut dengan baik.

Setelah 'Utsman selesai menyampaikan tugas beliau pemuka-pemuka Quraisy itu berkata kepada beliau: "Jika engkau bermaksud hendak mengerjakan thawaf keliling Ka'bah, kami persilakan!" Beliau menjawab: "Saya tidak akan melakukan thawaf keliling Ka'bah, kalau Rasulullah saw. sendiri belum tuan-tuan izinkan".

Tetapi ketika 'Utsman bin 'Affan meminta izin hendak segera pulang ke tempat Rasulullah yang mengutusnya, mereka belum melepasnya pergi. Mereka masih menahannya saja, meskipun dengan segala hormat. Sehingga Rasulullah dan shahabat-shahabat beliau yang telah lama tertunggu-tunggu, 'Utsman belum juga datang jadi cemas, sehingga sampai berita selentingan bahwa 'Utsman bin 'Affan tertawan .

Mendengar berita ini, segeralah Rasulullah menyuruh berkumpul shahabat-shahabat pengiring beliau itu sekelilingnya, lalu beliau berkata: "Kita belum akan meninggalkan tempat ini, sebelum jelas kedudukan 'Utsman sekarang, hidupnya atau matinya".

Kemudian beliau ajak seluruh shahabat yang mengikuti beliau itu supaya membuat bai'at, yaitu janji setia. Jabir bin 'Abdullah salah seorang shahabat terkemuka menyatakan bahwa isi janji setia, atau bai'at itu ialah bahwa semuanya bersedia menghadapi segala kemungkinan dan tidak ada yang akan mundur walau selangkah , dan tidak akan ada yang lari.

Semua berduyun tampil ke muka menadahkan tangannya, tandanya menyetujui dan memberikan pengakuan bai'at. C'uma seorang saja yang ragu, yaitu Al-Jidd bin Qais dari Banu Salmah yang bersembunyi di belakang ontanya seketika semua orang telah tampil ke muka menyatakan bai'atnya.

Untuk menyatakan bahwa 'Utsman.sendiri masuk dalam bai'ah itu, Rasulullah sendiri meletakkan tangan dirinya ke atas tangan kanannya sambil berkata: "Yang ini adalah atas nama bai'at 'Utsman!"

Setelah selesai bai'at, tiba-tiba datang seorang utusan Quraisy bernama Suhail bin 'Amer dari Bani 'Amir bin Lu-aiy. Dia diiringkan oleh beberapa orang Quraisy yang lain dan 'Utsman bin 'Affan datang kembali bersama mereka dengan selamat.

Nama orang itu si Suhail. Arti Suhail ialah mudah!
Masih dari jauh dia, Nabi saw. sudah berbisik kepada teman­ teman dan shahabat-shahabat yang setia dan telah selesai mengucapkan bai'at masing-masing itu. Artinya bahwa semuanya sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan! Dengan suara setengah berbisik Nabi saw. berkata: "Itu si Suhail datang! Nampak­nampaknya dia datang mengusulkan perdamaian!" , suasana sudah agak tenang, sebab 'Utsman sudah ada.

Maka sampailah utusan itu ke hadapan Rasulullah dan memanglah bahwa apa yang disangka-sangka oleh Nabi saw. telah berlaku. Suhail telah memulai pembicaraannya, dijelaskannya bahwapada tahun di hadapan mereka dapat menziarahi negeri Mekkah dan mengerjakan ibadat menurut keyakinan mereka. Tetapi yang tahun ini seluruh Quraisy menyatakan keberatan menerima kedatangan Muhammad clan para pengikutnya. Setelah berbincang-bincang langsung dengan Rasulullah agak panjang, beliau menerima usulan utusan Quraisy itu dan akan dibuat suatu Surat Perjanjian.

Tetapi ketika surat akan dibuat, mulailah 'Umar bin Khaththaab melompat ke muka, bukan menemui Nabi saw. tetapi membisikkan perasaannya kepada Abubakar.

'Umar bertanya: "Hai Abubakar! Bukankah beliau Rasulullah?" Abubakar:”pasti”
'Umar: "Bukankah kita ini Muslim semua, yang telah menyerahkan diri kepada Allah". Abubakar: "Pasti!"
'Umar: "Bukankah orang-orang itu musyrik semua?" Abubakar: "Pasti!"
'Umar: "Kalau semuanya itu pasti, mengapa kita mesti merendahkan muka kepada mereka dalam hal agama kita?" Abubakar menjawab: "Tenangkan fikiranmu! Saya sendiri naik saksi bahwa Muhammad itu adalah Rasulullah, sedikit pun aku tidak ragu!"
'Umar pun menjawab: "Saya pun mengakui, dia memang Rasulullah!"

Tetapi 'Umar bukan 'Umar kalau perasaannya itu dibenamkannya dalam hatinya sendiri. Segera dia pergi ke hadapan Rasulullah saw. lalu bertanya pula: "Bukankah engkau Rasulullah?"
"Pasti!" kata Rasulullah pula.
'Umar: "Bukankah kita semua ini Muslim? Artinya yang telah menyerah bulat kepada Allah?" Nabi saw.: "Pasti!"
'Umar: "Bukankah mereka itu musyrik semua?" Nabi saw menjawab: "Pasti!"
'Umar: "Mengapa kita mesti menundukkan agama kita kepada mereka?"
Rasulullah menjawab : "Aku adalah hamba Allah dan aku adalah Rasul-Nya! Aku sekali-kali tidak boleh menentang apa vang dikehendaki oleh Tuhan. Dan Tuhan sekali-kali tidak akan , mengecewakan daku ! "

Inilah suatu jawaban yang tegas dan jantan dari seorang Nabi, seorang Rasul dan seorang yang bertanggung jawab penuh dalam urusan yang dia hadapi.

Bila teringat akan kejadian ini, selalu 'Umar berkata: "Selalu aku bershadaqah, selalu aku berpuasa dan sembahyang dan di mana ada, kesempatan aku pun memerdekakan budak-budak. Aku renungkan lama-lama, aku tahu perkataanku itu kasar, meskipun maksudku baik!"

Setelah putus bahwa perjanjian mesti dituliskan, dipanggil Nabi 'Ali bin Abi Thalib. Dia yang disuruh menulis. Mulai dia duduk, Nabi berkata: "Tulislah dan mulailah dengan Bismlahir Rahmanir Rahiim ! Tetapi baru saja Nabi saw. memulai perintah demikian, Suhail pun meningkah: "Kami tidak bisa memakai perkataan itu di awal surat. Kami hanya memakai "Bismika Allahumma" (Dengan nama Engkau, ya Tuhan)!" Maka bersabdalah Nabi saw. kepada Ali: "Tulislah Bismika Allahumma!" Lalu ditulis oleh Ali.

Setelah itu Rasulullah saw. menyuruh menulis lagi: "Tulislah 'Ali: Inilah perjanjian perdamaian di antara Muhammad Rasulullah dengan Suhail bin 'Amer ...". Sebelum 'Ali menuliskan, Suhail sekali lagi meningkah: "Kalau kami mengakui bahwa engkau Rasulullah, tentu kami tidak akan memerangi engkau!" Maka dengan segera pula Nabi saw. berkata kepada 'Ali: "Tuliskanlah 'Ali, menurut kehendaknya: Inilah perjanjian di antara Muhammad bin 'Abdullah dengan Suhail bin 'Amer...".

Seterusnya dituliskanlah dalam perjanjian itu apa yang telah disetujui, yaitu tidak akan berperang selama sepuluh tahun, sehingga orang-orang di kedua pihak sama-sama merasakan aman sentosa.

Kemudian tersebut lagi suatu syarat, yaitu kalau ada orang Quraisy datang kepada Muhammad, tidak seizin pemimpin-pemimpin Quraisy, maka orang Quraisy berhak menuntut supaya orang itu segera dipulangkan ke Mekkah. Tetapi sebaliknya jika ada orang pengikut Muhammad datang ke Mekkah, maka orang Mekkah tidak mempunyai kewajiban buat memulangkan mereka kembali ke Madinah.

Keduanya pun berjanji tidak akan ada kecurangan dan tidak akan ada khianat!
Dan dituliskan juga dalam Perjanjian bahwa suku-suku di luar Arab diberi kebebasan menulis surat keterangan ke pihak mana mereka akan berpihak. "Barangsiapa yang hendak ikut perjanjian persahabatan dengan Muhammad, bolehlah mereka teruskan.

Dan barangsiapa yang ingin mengadakan persahabatan dengan pihak Quraisy pun diberi pula kebebasan".
Kemudian ternyata bahwa Khuz'ah berebut membuat persahabatan dengan Muhammad s.a.w Banu Bakar memilih pula bersahabat dengan Quraisy.

Dengan catatan bahwa jika kedua suku yang telah dibebaskan memilih dengan pihak mana dia akan bersahabat itu, kalau kedua suku itu berkelahi atau berperang antara dia sama dia, misalnya Khuza'ah dengan Banu Bakar, maka kedua pihak yang mengakuinya bersahabat tidak boleh membantu pihak yang jadi sahabatnya. Dia harus berusaha mendamaikan, bukan menambah berkobarnya peperangan.

Baru saja selesai Surat Perjanjian itu ditulis, terjadilah suatu hal yang tidak disangka-sangka, sebagai ujian pertama dari perjanjian. Tiba-tiba datanglah seseorang yang bernama Abu Jundul bin Suhail bin 'Amer yang seluruh badannya penuh dengan ikatan belenggu besi.

Abu Jundul ini sudah lama menyatakan diri sebagai seorang Muslim. Dia datang karena ingin melihat wajah Rasulullah. Padahal dia sedang dalam tawanan Quraisy, karena baru saja masuk ke dalam kota Mekkah di luar izin penduduk Mekkah. Menurut Surat Perjanjian itu, dia mesti dikembalikan di saat itu juga. Padahal ayahnya ialah penanda tangan Perjajian dari pihak Quraisy.

Lalu Suhail berkata: "Mulai saja perjanjian kita perbuat, pelanggaran sudah terjadi!" Lalu ditariknya anaknya Abu Jundul itu, dipukulnya mukanya dan didorongnya ke tempat orang-orang Quraisy yang menyaksikan.

Lalu oleh orang-orang Quraisy Abu Jundul itu dipegang bersama dan ditarik akan dibawa ke Mekkah. Abu Jundul masih berteriak: "Hai kaum Muslimin! Akan kalian biarkankah saya jatuh ke tangan musyrikin, untuk mereka fitnah lagi saya dalam agama saya?"

Kaum Muslimin yang hadir pun ribut dan gelisah, sehingga nyaris tidak terkendalikan. Di waktu itulah Rasulullah berkata: "Abu Jundul! Kau harus sabar. Allah pasti akan menolong kau dan sekalian orang yang pernah dan teraniaya. Kami berat sekali buat melanggar janji yang sudah diikat. Kita pantang sekali mungkir janji!"

Lalu 'Umar bin Khathaab berdiri ke dekat Abu Jundul membujukkan lagi: "Turutkan dahulu hai Abu Jundul dan sabarlah. Mereka itu adalah kaum musyrikin. Darah mereka adalah darah anjing!"

Nyaris Abu Jundul menyerang ayahnya sendiri, Suhail bin 'Amer dengan pedangnya. Tetapi kesetiaannya kepada perintah Rasul, menyebabkan dia menitikkan air mata menahan marah hatinya!

Setelah itu beberapa orang menjadi saksi dan menandatangani pula perjanjian itu, yaitu Abubakar, 'Umar bin Khaththaab, Abdurrahman bin 'Auf, Abdullah bin Suhail bin 'Amer, Sa'ad bin Abi Waqash, Muhammad bin Muslimah, Mukriz bin Hafazh, 'Ali bin Abi Thalib yang merangkap sebagai penulis.

Setelah selesai perjanjian itu semua, jelaslah rasa kurang puas pada wajah beberapa shahabat. Meskipun demikian, Rasulullah pun menyampaikan sabda beliau: "Bersiaplah semua, potonglah kambing­kambing kamu dan cukurlah kepala kamu dan tanggalkanlah pakaian ihram kamu!".

Karena demikianlah yang mesti dilakukan karena mereka tidak jadi mengerjakan hajji. Namun perintah beliu sudah keluar, tetapi tidak seorang jua pun yang bergerak melaksanakan perintah itu. Sampai tiga kali beliau berulang-ulang menyatakan perintah itu, namun seorang pun tidak ada yang bergerak buat melaksanakannya sampai kelihatan wajah beliau mulai jengkel, sebab perintah beliau tidak dilaksanakan.

Lalu beliau masuk ke dalam khaimahnya dengan muka jelas nampak menunjukkan kecewa, sehingga bertanyalah isteri beliau, Ummu Salmah, mengapa beliau kelihatan kecewa pada wajahnya. Beliau menjawab bahwa perintah beliau tidak diacuhkan orang. Lalu berkatalah Ummi Salmah: "Rasulullah keluar sekarang juga dari khaimah! Ambil pisau, lalu sembelih binatang yang akan disembelih, dengan tangan sendiri, cukur rambut dan tanggalkan pakaian ihram, dengan tidak memerintahkan lagi!"

Mendengar anjuran isteri beliau yang demikian, langsunglah beliau kerjakan. Beliau ambil pisau dan beliau potonglah sembelihannya, beliau cukur rambutnya dan menanggalkan pakaian ihramnya, tandanya hajji tidak jadi tahun itu. Semuanya beliau kerjakan sendirian dengan tidak bercakap sepatah jua.

Melihat keadaan yang demikian, shahabat-shahabat yang banyak itu pun mengikutlah sebagai yang dikerjakan Rasulullah itu. Semua segera memotong, hewan kurbannya, mencukur rambut dan menanggalkan pakaian dan kembali memakai pakaian biasa, dan barulah semuanya kelihatan gembira.

Banyak yang bercukur dan ada juga yang hanya sekedar bergunting rambut. Maka bersabdalah beliau:

"Rahmat Allah bagi yang mencukur rambut!". Lalu ada yang menyela: "Juga yang menggunting saja, ya Rasulullah!" Beliau berkata sekali lagi: "Rahmat Allah bagi yang bercukur!" Yang lain menjawab pula: "Yang bergunting juga ya Rasulullah". Lalu beliau berkata lagi: "Rahmat Allahlah bagi yang bercukur". Yang lain,menjawab pula: "Juga bagi yang bergunting, ya Rasulullah!" Sesudah itu barulah beliau berkata: "Dan bagi orang-orang yang bergunting", menunjukkan bahwasanya bercukur lebih afdhal daripada semata bergunting.

Sesudah itu kami pun bersiaplah menuju pulang ke Madinah.
Menurut riwayat dalam perjalanan akan pulang itu turunlah Surat Al-Fat'h. Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad bin Hanbal dengan sanadnya, dari 'Umar bin Khaththaab bahwa beliau ini berceritera bahwa kami bersama-sama dengan Rasulullah dalam perjalanan menuju pulang ke Madinah.

Dalam perjalanan itu tiga kali saya sengaja mendekati beliau karena hendak menanyakan beberapa mas'alah, tetapi tidak ada yang beliau jawab. Lalu aku berkata kepada diriku sendiri: "Malang engkau hai Ibnul Khaththaab, sampai tiga kali engkau mendekati beliau hendak bertanya, tetapi tidak ada yang dapat jawaban", lalu aku pun menunggang kudaku agak menyisih ke tepi, meskipun aku tidak terlalu menjauhi beliau, karena masih mengharap moga-moga ada wahyu datang.

Namun tidak berapa lama kemudian terdengarlah orang berteriak memanggilku, mengatakan bahwa Rasulullah memanggil-manggil namaku. Dengan segera aku pun mendekati beliau. Aku menyangka kalau-kalau ada wahyu turun yang menyangkut atas salah langkahku.

Setelah aku berdiri dekat beliau, bersabdalah Rasulullah: "Hai 'Umar! Semalam telah turun sebuah surat yang paling aku cintai, melebihi daripada mencintai dunia dan segala isinya". Lalu beliau lanjutkan: "Surat ini ialah Inaa Fatahnaa laka Fat'han Mubiina."Sesungguhnya Kami telah memberikan kemenangan kepada engkau, kemenangan yang nyata. Karena akan Allah tutupi bagi , engkau apa yang telah terdahulu dari hasil usahamu dan apa pula yang terbelakang dan akan disempurnakannya nikmat-Nya atas engkau dan diberi-Nya engkau petunjuk jalan yang lurus, dan karena akan ditolong engkau oleh Allah, suatu pertolongan yang perkasa". Dirawikan oleh Al-Imam Al-Bukhari, At-Tarmidziy, An-Nasaa-iy  yang jalan haditsnya disampaikan oleh Al-Imam Malik.

Di dalam riwayat yang lain pula, bahwa dalam perjalanan pulang itu masih ada yang berdiam diri saja, memikirkan apa-apa hal yang telah kejadian itu, yang belum mengerti agaknya, apakah gerangan hasilnya Perjanjian Hudaibiyah itu.

Mungkin ada yang merasa tertekan batinnya karena penghinaan yang diterima Al-Mughiirah bin Syu'bah dari Suhail bin 'Amer sebelum menuliskan perjanjian. Mungkin juga ada yang mendongkol hatinya sebab Suhail tidak mau jika di surat perjanjian dituliskan "Muhammad Rasulullah", namun Nabi saw. setuju saja supaya ditukar dengan "Muhammad bin 'Abdillah atau "Bismillahir Rahmanir Rahim" ditukar dengan "Bismika Allahumma", namun Nabi tidak keberatan menuruti permintaan Suhail itu, sehingga Perjanjian berjalan dengan lancar.

Tetapi setelah sampai di tempat perhentian akan pulang, yang bernama Kura'il Ghumaim, Rasulullah menyuruh mereka berhenti. Setelah semua berhenti berlepas lelah, lalu Rasulullah membacakan ayat yang baru saja turun, yaitu ayat yang telah dibacakannya kepada 'Umar itu: "Inna Fatahnaa laka Fat'han Mubiina".
Setelah beberapa ayat itu selesai dibaca Nabi, masih ada seorang yang bertanya: "Apakah yang baru kita hadapi itu suatu kemenangan?"

Beliau menjawab dengan tegas: "Eee! Memang! Demi Tuhan yang badan diriku adalah dalam pegangan-Nya, yang baru kejadian itu adalah kemenangan sejati...!"

Kemenangan yang dijelaskan Nabi Muhammad saw. kepada 'Umar bin Khaththaab lebih beliau cintai daripada dunia dan segala isinya.
 


Back to mainPage       >>>>