Make your own free website on Tripod.com
                                                       
 
                                                    Tafsir Surat Al -Mujaadalah Ayat 7 - 10

                                                                   


أَ لَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ ما فِي السَّماواتِ وَ ما فِي الْأَرْضِ ما يَكُونُ مِنْ نَجْوى‏ ثَلاثَةٍ إِلاَّ هُوَ رابِعُهُمْ وَ لا خَمْسَةٍ إِلاَّ هُوَ سادِسُهُمْ وَ لا أَدْنى‏ مِنْ ذلِكَ وَ لا أَكْثَرَ إِلاَّ هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ ما كانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِما عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْ‏ءٍ عَليمٌ
7. Tidakkah engkau perhatikan, bahwa Allah itu mengetahui apa·apa yang ada di sekalian langit dan apa yang di bumi? Tiada pembicaraan rahasia di antara tiga orang. melainkan Dia-lah yang keampat, dan tidaklah berlima melainkan Dialah yang Kenam. Dan tidak pula kurang dari demikian dan tidak lebih banyak melain- kan Dia adaserta mereka di mana saja mereka ada. Kemudian itu aka Dia beritakan kepada mereka apa yang mereka kerjakan itu di hari qiyamat kelak. Sesungguhnya Allah atas tiap-iiap sesuatu adalah Maha Tahu .

أَ لَمْ تَرَ إِلَى الَّذينَ نُهُوا عَنِ النَّجْوى‏ ثُمَّ يَعُودُونَ لِما نُهُوا عَنْهُ وَ يَتَناجَوْنَ بِالْإِثْمِ وَ الْعُدْوانِ وَ مَعْصِيَةِ الرَّسُولِ وَ إِذا جاؤُكَ حَيَّوْكَ بِما لَمْ يُحَيِّكَ بِهِ اللَّهُ وَ يَقُولُونَ في‏ أَنْفُسِهِمْ لَوْ لا يُعَذِّبُنَا اللَّهُ بِما نَقُولُ حَسْبُهُمْ جَهَنَّمُ يَصْلَوْنَها فَبِئْسَ الْمَصير

8.Tidakkah engkau perhatikan orang·orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, kemudian mereka kembali kepada yang dilarang itu ? Dan mereka berbisik-bisik rahasia tentang dosa dan permusuhan dan mendurhakai Rasul . Dan jika mereka datang kepada engkau, mereka hormat engkau tidak dengan pemberian hormat yang diberikan Allah kepada engkau . Dan mereka katakan dalam hati mereka; Mengapa Allah tidak rnenyiksa kita dengan sebab apa yang telah kita katakan itu ? Cukuplah untuk mereka neraka jahanam. Dan itulah yang seburuk-buruh tempat kembali

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا إِذا تَناجَيْتُمْ فَلا تَتَناجَوْا بِالْإِثْمِ وَ الْعُدْوانِ وَ مَعْصِيَةِ الرَّسُولِ وَ تَناجَوْا بِالْبِرِّ وَ التَّقْوى‏ وَ اتَّقُوا اللَّهَ الَّذي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
9. Wahai orang-orang yang beriman ! Apabila kamu berbisik rahasia , janganlah berbisik rahasia dengan dosa dan permusuhan dan mendurhaka Rasul, tetapi berbisik rahasialah dengan kebaji kan dan taqwa ; Dan taqwalah kepada Allah , Yang kamu sekalian akan dikumpulkan.

إِنَّمَا النَّجْوى‏ مِنَ الشَّيْطانِ لِيَحْزُنَ الَّذينَ آمَنُوا وَ لَيْسَ بِضارِّهِمْ شَيْئاً إِلاَّ بِإِذْنِ اللَّهِ وَ عَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُون
10.Sesungguhnya lain tidak bisik rahasia itu adalah dari syaithan, untuk mendukakan hati orang yang beriman. Tetapi tidaklah mereka itu akan memberi bahaya kepada mereka [ yang beriman ] sesuatu juapun kecuali dengan izin Allah. Dan kepada Allah-lah hendaknya bertawakkal orang-orang yang beriman.”


AN - NAJWAA [ PERUNDINGAN RAHASIA ]

Pada ayat yang pertama saja sudah jelas bahwa Allah menidengar perkataan perempuan yang mangadukan halnya kepada Nabi dan membantah perkataan Nabi, mendengar juga akan do'anya kepada Tuhan dan mendengar juga sosl jawab perempuan itu dengan Nabi .

Dengan demikian teranglah bahwa di hadapan Tuhan tidak ada yang rahasia. Tuhan mengetahui sejak dari yang sebesar-besamya sampai kepada yang sekecil-kecilnya. Sebab itu janganlah mencoba hendak merahasiakan sesuatu dengan persangkaan tidak ada manusia yang
akan tahu. Meskipun manusia tidak tahu , namun Tuhan tahu.

أَ لَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ ما فِي السَّماواتِ وَ ما فِي الْأَرْضِ
"Tidakkah engkau perhatikan,bahwasannya Allah itu mengetahui apa-apa yang ada disekeliling langit dan apa yang di bumi." [Pangkal ayat 7].

Disebutkan dalam ayat yang lain bahwa langit itu terdiri daripada tujuh tingkat. Bumi ini hanya satu bintang saja di antara berjuta-juta bintang di bawah kolong langit yang pertama atau langit
dunia.Isi kesemua langit yang tujuh itu semuanya adalah dalam pengetahuan Tuhan. Demikianpun isi bumi ini ! Yang kita ketahui ialah bahwa bumi tempat kita berdiam ini sangat besar, mengandung lima benua dan pulau-pulau , sedang diantaranya hanyalah seperlima yang daratan, yang empat perlima adalah lautan belaka. Itupun tidak kita ketahui semua, apa rahasia yang terkandung dalam bumi ini. Hanya sedikit sekali yang baru kita ketahui.

Demikian pengetahuan Allah terhadap Alam-Nya yang besar. Maka pengetahuan Allah terhadap
alamnya yang kecil sama saja dengan pengetahuannya tentang alam yang besar itu;

ما يَكُونُ مِنْ نَجْوى‏ ثَلاثَةٍ إِلاَّ هُوَ رابِعُهُمْ وَ لا خَمْسَةٍ إِلاَّ هُوَ سادِسُهُمْ وَ لا أَدْنى‏ مِنْ ذلِكَ وَ لا أَكْثَرَ إِلاَّ هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ ما كانُوا
”Tiada pembicaraan rahasia di antara tiga orang melainkan Dialah Yang Keempat, dan tidaklah berlima melainkan Dialah Yang Keenam ! Dan tidak pula kurang dari demikian dan tidak pula lebih banyak, melainkan Dia ada beserta mereka di mana saja mereka berada”.

Ini adalah peringatan bagi manusia supaya dia berlaku jujur. Tidaklah terlarang bermusyawarat mamperkatakan sesuatu hal dengan terbatas, supaya jangan diketahui oleh orang lain sebelum terjadi.Karena banyak juga hal yang perlu dirahasiakan sebelum matang rencananya. Karena kalau gagal takut akan menimbulkan malu. Tatapi dalam pembicaraan yang tarbatas itu hendaklah barhati-hati.

Karena kalau pun manusia tidak mendengar , namun Tuhan tetap mengetahuinya. Kita berahasia bartiga , namun Tuhan ada hadir di situ sebagai yang ke empat. Kamu berahasia berlima, namun pertamuan itu adalah berenam dengan Tuhan. Bahkan kurang dari perhitungan itu , namun Tuhan hadir juga. Hanyak orang berrmusyawarat, sehingga tidak rahasia lagi , namun Tuhan mengetahui juga.

ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِما عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيامَةِ
” Kemudian itu akan Dia beritakan kepada mereka apa yang mereka kerjakan itu di hari qiyamat kelak." ( Ujung ayat 7 ).

Menjadi rahasia umum, bahwa di negeri- negeri totaliter sampai kepada penghidupan pribadi seseorang tldak lepas daripada intipan dan pengawasan pemerintah. Konon saorang Tamu Agung yang sangat dihormati di niagara-negara totaliter itu, walaupun telah berada seorang diri di dalam kamar yang terhormat, namun dia maslh tidak lepas dari incaran.

Dinding-dinding dipasang alat penangkap suara, atau tape recorrder dipasang pula tustel radio atau alat pemotret, sehingga segala gerak-geriknya, tutur katanya dan sikapnya tldak ada yang terlepas dari pengetahuan penguasa negeri yang mengundangnya sebagai Tamu Agung itu.

Tetapi kata orang lagi , telah didapat pula alat-alat untuk menangkis atau membakukan alat·alat penangkap itu, sehingga maksud meneliti itu tidak sama sekali berhasil. Namun bagi Allah
semuanya ini adalah mudah. Alat-alat ghaib kepunyaan Allah yang terdiri daripada Malaikat, dan Malaikat itu terjadi dari Nur, atau cahaya tidaklah dapat dibekukan oleh alat buatan manusia.
Se-bagaimana disebutkan dalam ayat 6 di atas tadi

"Tuhan menghitung dan menghimpun segala catatan tentang manusia, namun manusia telah lupa apa yang pemah dia kerjakan.”

إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْ‏ءٍ عَليمٌ
”Sesungguhnya Allah atas tiap-tiap sesuatu adalah Maha Tahu.” [Ujung ayat 7]

Ujung ayat ini adalah menguatkan lagi tentang meluasnya dan mendalamnya ilmu Allah Ta’ala.
Di dalam Ilmu Kalam disebutkan bahwa sifat Ma’ani dari Allah ialah 'Aalimun dan sifat ma'nawiyah ialah 'ilmun. Tentang Allah itu sendiri adalah ‘ilmu atau adala ber'ilmu adalah bahagian dari aqidah.

Maka mengenai ayat ini Imam Ahmad bin Hanbal meminta perhatian kita bahwa ayat dimulai
dengan ilmu diisudahi dengan ilmu . Kemudian itu Tuhan melanjutkan sabdanya ;

أَ لَمْ تَرَ إِلَى الَّذينَ نُهُوا عَنِ النَّجْوى‏ ثُمَّ يَعُودُونَ لِما نُهُوا عَنْهُ
"Tidakkah engkau perhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia , kemudian mereka kembali lagi kepada yang dilarang itu ? ” ( Pangkal ayat : 8 )

Dengan ayat 7 telah diberi peringatan bahwa segala bisik dan desus, segala pertemuan bagaimana pun rahasianya, namun Allah mengetahuinya. Sabab itu orang yang beriman akan berhati-hati dan akan menjaga keikhlasan mereka lahir bathin.

Tetapi sebagal kita ketahui surat ini adalah surat madinah. Di sana terdapat orang-orang yang bersifat munafiq ; pepat diluar pancung didalam, lain di mulut lain di hati. Mareka telah diberi peringatan supaya bergaul dengan jujur, mereka telah dilarang main sembunyi-sembunyian. Namun meraka dengan diam-diam , karena kemunafikannya telah melanggar larangan ini kembali.

وَ يَتَناجَوْنَ بِالْإِثْمِ وَ الْعُدْوانِ وَ مَعْصِيَةِ الرَّسُولِ
"Dan mereku telah berbisik-bisik rahasia dosa dan permusuhan dan mendurhakai Rasul.”

Itulah yang jadi buah mulut atau bisik rahasia di antara mereka yang munafik tau mamusuhi di balik belakangan itu, ataupun Yahudi yang manaruh dendam itu. Isi bisik desas-desus rahasia yang mereka perbisikkan tidak akan lebih daripada tiga perkara ;

1} dosa,
2) permusuhan dan
3) menentang Rasul

Mencari berbagai jalan bagaimana supaya kewibawaan Rasul itu dapat dirusakkan. Dalam dosa itu termasuklah memfitnah, mengadu-ada dan melepaskan sakit hati. Dalam permusuhan termasuklah mangatur siasat menantang lawan.

وَ إِذا جاؤُكَ حَيَّوْكَ بِما لَمْ يُحَيِّكَ بِهِ اللَّهُ
”Dan jika mereka datang kepada engkau mereka hormati engkau tidak dengan pemberian hormat yang diberikan Allah kepada engkau . ”

Sebagai hasil dari bisik-bisik, pertemuan rahasia yang penuh dendam dan dosa, memupuk permusuhan, ialah mereka sengaja menemui Rasulullah saw. bukan dengan maksud yang baik, melainkan karna hendak mempertontonkan rasa kebencian itu dengan mengucapkan kata-kata yang pada lahirnya memberi hormat, padahal dalam batinnya berisi penghinaan atau kutukan.

Tuhan telah memgajarkan bagaimana cara hormat menghormati di antara sesama manusia dan bagaimana pula mengucapkan selamat atau Salam kapada. seseorang yang patut dihormati. Contoh-contoh salam ini telah ditunjukkan oleh Rasulullah. Yang terknal ialah ”Assalaamu 'alaikum , " yang berarti moga-moga selamat sejahtera atau damai meliputi tuan !

Tetapi kata. Assalaam kalau disingkat dihilangkan Lam-nya tinggal Assaam menjadi buruklah artinya. Dia berarti celaka. Dia pun berarti mampus. Diapun berarti racun.

Ibnu Abi Hatimm meriwayatkan sebuah hadits yang berasal dari ’Aisyah ra, bahwa 'Aisyah pernah berkata; ”Pada suatu hari orang Yahudi masuk menemui Rasulullah saw. lalu di ucapkannya;

السام عليك يا ابا القاسم
"Assaamu 'alaika ya Abal Qasim ! "
Yang berarti; kecelakaan atas kamu ! ”

Lalu dijawab oleh 'Aisyah ; "Wa 'alaikumu Saam. ;" Yang berarti kamupun celaka pula

Dalam sebuah hadits yang dirawikan oleh Anas bin Malik , pada suatu hari datang pula seorang Yahudi ke dalam majlis Rasulullah yang sedang duduk dikelilingi oleh sahabat-sahabat beliau. Lalu Yahudii itu mengucapkan salam , Salam itu disambut oleh sahabat-sahabat Nabi itu dengan baik. Lalu Rasulullah saw. bertanya kepada mereka; "Merigertikah kalian apa yang dia ucapkan? " Mereka menjawab; "Dia mengucapkan salam, ya Rasulullahl"

Lalu nabi bersabda; "Bahkan dia mengucapkan Saam 'alaikum," (matilah kalian ! ) atau Celalkalah agama kalian! .

Maka Rasulullah menyuruh panggil orang Yahudi itu kembali dan beliau tanya; " Bukankah engkau mengucapkan Saam alaikum tadi ? " Yahudi itu menjawab, " Benar "

Kemudian bersabdalah Rasulullah saw kepada sahabat-sahabatnya;

اذا سلم عليكم احد من اهل الكتاب فقولوا عليك
"Apabila seorang ahli kitab mengucapkan salam kepadamu , jawablah " Alaika ! " [Atas engkau ! )

Hadits ini ; berasal dari riwayat Anas dalam bilangan hadits yang shahilh. Oleh sebab itu maka Imam Malik memfatwakan kalau ahlul-kitab mengucapkan salam bolehlah salamnya itu dijawab dengan "Alaika " atau " 'alaikum ".

وَ يَقُولُونَ في‏ أَنْفُسِهِمْ لَوْ لا يُعَذِّبُنَا اللَّهُ بِما نَقُولُ
" Dan mereka katakan dalam hati rnereka ; " Mengapa Allah tidak melenyiksa kita , dengan sebab yang telah kita katakan itu "

Artinya ialah bahwa mereka berkata dalam hati kalau memang Muhammad itu Nabi , tentu kehormatannya dijaga oleh Tuhan. Sekarang kita telah mengatakan kepadanya ucapan salam yang bukan salam. Pada lahhirnya ucapan sebagai tanda honnat pada batinnya dia mengutuk agar dia celaka atau mampus ! .

Kalau benar dia Nabi mengapa kita tidak disiksa Allah karena mengucapkan kata-kata seperti itu Mereka tidak tahu bahwa Allah sendiri pun dicela orang, Mengapa mau jadi Tuhan sendiri saja mengapa Tuhan tidak adil orang lain diberi kekayaan sedang aku dibiarkan tinggal miskin Namun Allah tidak segera rnenjatuhkan
siksaan kepada orang itu. Maka sebagai lanjutan ayat, sebagai sambutan kepada "kata dalam hati" yang mereka sangka Allah tidak mengetahuinya itu datanglah sambungan ayat;

حَسْبُهُمْ جَهَنَّمُ
"Cukuplah untuk mereka jahanam." Di situ akan mereka rasakan kelak ganjaran dari segala kejahatan itu;

يَصْلَوْنَها فَبِئْسَ الْمَصير
"Dan itulah yang seburuk-buruk tempat kembali " [Ujung ayat 8]

Demikian payah mereka berjuang hidup di dunia ini rnaka sudah sepatutnya mereka mendapat istirahat di akhirat , namun yang menyambut mereka bukan tempat istirahat. melainkan tempat menerima siksaan.

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا
"Wahai orang-orang yang beriman!" [Pangkal ayat :9].

Sekarang seruan Allah disampaikan kepada sekalian hamba-Nya yang telah mengakui percaya kepada Tuhan. Kepada mereka hendak diperingatkan, bagaimana pula mereka kalau karena sesuatu dan lain hal merasa perlu pula mengadakan najwa, atau musyawarat rahasia dalam bilangan terbatas.

إِذا تَناجَيْتُمْ فَلا تَتَناجَوْا بِالْإِثْمِ وَ الْعُدْوانِ وَ مَعْصِيَةِ الرَّسُولِ ‏
"Apabila kamuu berbisik-bisik rahasia, janganlah berahasia dengan dosa permusuhan dan mendurhaka Rasul " Janganlah meniru cara orang yang buruk daripada orang-orang kafir dan munafiq itu;

 وَ تَناجَوْا بِالْبِرِّ وَ التَّقْوى   

"tetapi berbisik rahasialah dengan kebajikan dan taqwa."

Karena kalau orang beriman bercakap terbatas secara rahasia, soal yang muslihat untuk hubungan dengan Allah tidaklah mengapa dirahasiakan sementara sebelum matang direncanakan. Berbuat kebaikan ialah dengan membuat jasa-jasa yang baik terhadap sesama manusia dan taqwa ialah merapatkan hubungan dengan Allah. Memang sudah sepantasnya orang yang beriman bersikap demikian ;

وَ اتَّقُوا اللَّهَ
" Dan bertaqwalah kepada Allah "
karena hanya jalan itulah satu-satunya yang sewajarnya ditempuh oleh orang-orang yang beriman ;

الَّذي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
" Yang kepada-Nya-lah kamu akan dikernbalikan. [ujung ayat 9] .
Di hadapan Allah itulah setiap oraang akan mempertanggung jawabkan segala amal dan usahanya.

إِنَّمَا النَّجْوى‏ مِنَ الشَّيْطانِ
" Lain tidak bisik rahasia itu adalah dari syaithan " [ pangkal ayat 10].
yang dimaksud dengan bisik rahasia dari syaithan ialah bisik rahasia yang diperbuat Oleh orang-orang yang penuh dosa, permusuhan dan ma'siyat terrhadap kepada Rasul itu. Karena bila mereka telah berkumpul ada-ada saja siasat yang mereka atur guna merugikan Nabi dan orang-orang yang beriman;

لِيَحْزُنَ الَّذينَ آمَنُوا
"Untuk mendukakan hati orang yang beriman "
Artinya apabila orang itu telah mulai menyisih-nyisih mengadakan pertemuan rahasia maka orang-orang yang beriman tumbuhlah curiga mengenangkan apa pula agaknya siasat buruk yang sedang diatur oleh orang-orang yang telah dipengaruhi syaithan ini. Tetapi Tuhan telah memberikan jaminan kepada orang-orang yang beriman itu dengan lanjutan sabda-Nya;

وَ لَيْسَ بِضارِّهِمْ شَيْئاً إِلاَّ بِإِذْنِ اللَّهِ
" Tetapi tidaklah mereka akan membahayakan kepada mereka [yang beriman] itu sedikit jua pun, kecuali dengan izin Allah."
Sebab Allah sendirilah tameng atau benteng atau pelindung dari orang yang beriman itu. Apa pun siasat yang diperbuat oleh musuh-rnusuh yang berbisik-bisik namun siasatnya akan digagalkan oleh Tuhan. Sebab tempat orang yang beriman berlindung ialah Tuhan sendiri, sedang maksud mereka merugikan orang yang beriman ialah karena mereka itu tidak ada hubungan mesra dalam taqwa kepada Tuhan. Sebab itu maka di ujung ayat dikuatkan lagi oleh Tuhan;

وَ عَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُون
"Dan kepada Allah-lah hendaknya bertawakkal orang-orang yang beriman." [ujung ayat 10].

Dengan ujung ayat menganjurkan orang yang beriman supaya tetap bertawakkal ini berambahlah hilang was-was menghadapi bahaya . Apalah yang akan ditakutkan oleh orang yang beriman akan bahaya yang didatangkan oleh manusia kalau misalnya maksud jahat yang hendak dilaksankan oleh musuh itu akan berhasil juga tidaklah seorang mukmin takut akan mati sekali pun.

Sebab mati dalam bertawakal kepada Tuhan adalah mati yang mulia dan mati yang jauh dari sikap ragu ragu. Oleh sebab itu bertawakal bukanlah semata-mata mengelakkan diri dari maut melainkan mener ima apa saja yang ditentukan Tuhan , baik hidup atau pun mati.

Lantaran itu maka dalam adab sopan santun ( etiketi ) Islam dijelaskan oleh Nabi saw. menurut sebuah hadits yang dirawikan oleh Bukhairi dan Muslim dari Abdullah bin Umar bahwa Nabi bersabda;

اذا كان ثلاثة فلايتناجى اثنان دون الواحد
" Apabila mereka ada bertiga , jaganlah menyisih bercakap berdua dengan meninggalkan yang seorang '

Artinya kalau kita berkawan-kawan , misalnya sampai bertiga orang, janganlah pergi herbisik-bisik berdua , lalu ditinggalkan kawan yang seorang berdiri seorang diri. Karena yang demikian pun akan membawa kepada duka hatinya seakan-akan dia disisihkan. Seakan-akan ada rupanya rahasia yang dia tidak boleh tahu.

Tetapi carilah waktu yang lain kalau dipandang pertemuan berdua itu sangat perlu.

Dan sebuah hadits lagi yang dirawikan oleh Imarn Ahmad bin Hanbal dari Abdullah bin Masud;

اذا كنتم ثلاثة فلا يتناجى اثنان دون صاحبهما فان ذلك يحزنه
" Berkata dia; Berkatalah Rasulullah saw ; "Apabila kamu ada bertiga janganlah menyisih berahasia berdua dengan meninggalkan kawannya, karena sikap begitu membuat hatinya duka."

Demikian pula seterusnya. Kalau berbisik berdua dengan meninggalkan orang seorang. Tentu lebih tidak boleh pergi berbisik berdua bertiga, berpuluh lalu ada kawan yang ditinggalkan kesepian seorang diri. Karena kalau yang dimufakatkan itu barang baik, mengapa yang disisihkan dari berbuat baik ?
Tentu saja sikap itu mengherankan dia bahkan boleh menyakitkan hatinya .